"Sudah sehat? Mau balik kerja, Al?" tanya Silvi pada Alana yang nampak sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
Alana mengangguk. "Iya dong. Benar kata kamu, aku harus semangat masih ada ibu yang masih membutuhkanku."
Silvi mengacungkan dua jempolnya. "Bagus!"
"Titip ibu ya, Vi. Tadi sih aku lihat masih tidur. Nanti kalau ada apa-apa telpon aku aja," ujar Alana sambil mengeluarkan motor miliknya. Silvi hanya mengiyakannya, lalu melambaikan tangannya ketika motor Alana berlalu meninggalkan pekarangan rumah.
Tiba di kantor Alana langsung disambut hangat oleh teman-teman kerjanya. Ruangan besar yang terdiri dari dua puluh orang di dalamnya. "Alana ya ampun. Kamu sudah sehat beneran?" Fara salah satu teman kerjanya menghampiri dirinya dan menyapa.
"Sudah!"
"Kok bisa sih sampai sakit?" timpal Yuli.
Alana meletakkan tas miliknya di atas kursi. "Bisalah namanya juga manusia masa sehat terus? Kadang kala tubuh juga butuh istirahat," kilah Alana. Ia tak akan menampilkan wajah sedihnya akibat putus dari Edo. Dia harus bersinar, bersemangat. Meski hatinya boleh hancur tapi senyumannya tak boleh luntur. Ia tidak mau Edo dan Tisa menertawakan dirinya. Kemarin ia sudah menghabiskan waktunya untuk menangisi Edo, mengisi waktu kesedihannya dengan memakan banyaknya coklat. Jika ia tak sigap sikat gigi, pastilah bisa timbul sakit gigi.
"Sudah, sudah ayo bekerja nanti keburu Pak Bram datang, kita pada kena omel!" ujar Alana menakuti teman-temannya yang berkerumun di mejanya, dengan menyebut nama managernya. Hal itu berhasil membuat membuat semuanya bubar.
"Yah padahal aku ingin mengobrol banyak denganmu Al," ujar Fara.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Alana akhirnya ia melihat arloji di tangannya masih ada sisa waktu sebelum Pak Bram datang.
"Tentang reuni? Apa kau punya rencana baru Al?"
Alana menghentikan gerakan tangannya yang bermain di atas keyboard komputernya. Lalu mengepalkan kedua tangannya, mengingat acara itu membuat Alana pusing kala memikirkan pasangan yang harus ia bawa saat di acara itu nanti.
Alana menggigit bibir bawahnya, lalu menghela nafasnya. "Aku tidak punya siapa-siapa untuk di bawa," keluhnya.
Fara terdiam memikirkan ide untuk Alana. Namun, belum sempat ia membuka mulutnya, teriakan Pak Bram sudah memenuhi ruangan itu. Membuat Fara buru-buru kembali ke mejanya dan berpura-pura sibuk.
"Pagi Alana?" sapa Pak Bram tersenyum manis, membuat Fara merasa mual. Lelaki itu terlihat galak, tapi selalu carper pada Alana, tau saja perempuan cantik.
'Dasar tua-tua keladi,' umpat Fara.
"Pagi juga pak?" jawab Alana.
"Kamu sudah sehat?" tanya Pak Bram yang saat ini berdiri di depan meja Alana.
"Sudah, Pak!"
Fara memutar bola matanya jengah, kalau belum sehat untuk apa Alana masuk. Dasar Pak Tua itu memang suka sekali modus.
"Ya sudah saya permisi dulu, Alana." Pak Bram pamit berlalu pergi, seraya memberikan senyum terbaiknya pada Alana.
"Al, kamu gak mual?" tanya Fara kemudian.
Alana mengerjap bingung. "Enggak. Kan aku udah sehat."
"Mendengar ucapannya Pak Tua itu aku jadi mual Al."
"Huss!"
Fara hanya menanggapinya dengan cekikikan kecil. Alana hanya takut dirinya yang kerap menyebut Pak Bram Pak Tua itu kedengaran oleh sang pemilik nama.
****
"Alana, sambil turun ke bawah makan siang. Kamu antarkan berkas ini ya ke Mbak Yayuk bagian humas," perintah Pak Bram sambil menyerahkan berkas yang di bungkus map berwarna biru muda.
"Baik, Pak!"
Alana berlalu bersama Fara, turun menuju lantai dua. Karena ruangan dirinya memang berada di lantai tujuh.
Sampai di lantai dua, Alana langsung menuju ke ruangan mbak Yayuk dan menyerahkan titipan Pak Bram.
"Makasih ya, Al. Ini memang masih perlu saya cek lagi. Kayaknya banyak kesalahan."
"Ya mbak!"
Alana kembali melanjutkan niatnya untuk makan siang bersama Fara. Keduanya turun ke loby, karena Alana berniat untuk makan di restoran depan kantornya.
Bruk!!
"Maaf. Maaf pak saya tidak sengaja," ujar Alana ketika dirinya menabrak tubuh seseorang akibat terlalu bersemangat mengejar Fara yang sudah lari lebih dulu. Alana menunduk mengambil berkas yang di bawa lelaki di depannya.
Orang itu sigap mengambil berkas dalam tangan Alana, lalu berlalu tanpa mengucapkan terimakasih.
"Dia siapa?"
"Alana, bagian marketing."
"Bagaimana kinerjanya?"
"Bagus kok. Dia selalu memenuhi target penjualan."
"Hemm menarik!"
Sampai di restoran depan, Alana yang berniat untuk makan siang mendadak kehilangan seleranya saat melihat kedua pengkhianat tengah makan juga di sana. Dan sialnya keduanya sudah menoleh ke arahnya.
"Hallo Alana. Wah dia sudah sehat, ku kira dia akan terus menangisi kamu sayang?" ujar Tisa seraya mengusap pipi kekasihnya. Sengaja untuk membuat hati Alana panas.
Edo mengambil tangan Tisa lalu mengecupnya tanpa bersuara. Hal itu membuat hati Alana panas namun muak. "Menjadi pengkhianat aja bangga!" sergah Alana.
"Apa kamu bilang?" Seloroh Tisa seraya bangkit dari kursinya. Alana hanya tersenyum mengejek, meski hatinya terasa hancur lebur.
"Dengar ya perempuan seperti kamu itu memang pantas dikhianati. Sudah sok suci, belagu, sok cantik, apalagi ibumu yang gila itu. Halah siapa yang mau dengan perempuan yang memiliki ibu penyakit gangguan jiwa!"
Plak!!
"Kau boleh menghinaku, tapi jika kau menghina ibuku dengan mulut kotormu itu. Bukan hanya tanganku yang hanya mendarat di pipimu seperti saat ini," kecam Alana menatap sengit mantan sahabatnya itu, yang saat ini tengah memegang pipinya.
"Alana?"
"Apa?" Sentak Alana pada Edo. Melihat lelaki itu bertambah geram hatinya, ia dengan cepat mengambil jus alpukat yang berada di depannya, lalu menuangkannya tepat di kepala Edo.
"Alana!!" teriak Edo dan Tisa bebarengan.
Alana hanya tersenyum sinis, kemudian berlalu pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Mebang Huyang M
mantap alana. hajar aja mrk.
2024-02-24
0
Siti Sahara
bagus alana...kenapa wkt mereka bercibta gak direkam trus sebarkan biar mampus tu para pengkhianat
2024-02-17
0
Susillah
puas puaaass....banged rasanya 😂😂😂👍🏻
2023-05-28
0