Alana terkikik sendirian mengingat wajah Edo dan Tisa tadi saat di cafe. Bagaimana kedua orang itu menatap dirinya begitu marah, kala Alana melayangkan tamparan di wajah Tisa, dan menyiramkan segelas jus alpukat di kepala Edo.
Alana kembali terbahak, ia merasa sangat senang meski hatinya belum cukup puas untuk membalas rasa sakit hatinya.
"Itu akibatnya karena berani mengkhianati aku. Lihat saja, balasan yang akan kalian terima. Hari ini aku boleh hancur, tapi kedepannya kalian pasti akan ku buat menyesal," seru Alana sambil meneguk wine di depannya.
Suara hentakan musik yang dimainkan oleh DJ terkenal membuat Alana larut dalam kebahagiaan dan kesedihannya. Di tempat inilah Alana melampiaskan kekesalan, kekecewaan dan kegundahan hatinya akibat pengkhianatan yang dilakukan kedua orang terdekatnya.
Setelah sebelumnya Alana berteriak, menari, dan berpesta riang demi melupakan kesedihannya. Sebelumnya, Alana memang jarang masuk ke tempat seperti itu. Tapi kali ini ia nekat datang kesana, tempat di mana Silvi bekerja. Awalnya Silvi sempat menolak, karena ia takut Alana kebablasan mabuk. Tapi, karena Alana terus memaksa Silvi pun mengijinkannya.
Aksi Alana tak lepas dari tatapan pria yang duduk bersama temannya di sofa panjang. Pria tampan memiliki garis rahang yang tegas itu sejak tadi terus memperhatikan Alana.
"Tuan, apa anda mengenal gadis itu?" tanya sang Asisten.
"Tidak!"
"Gadis itu sejak tadi heboh sendiri, seperti orang yang baru patah hati," lanjut sang Asisten, membuat sang atasan tersenyum penuh arti.
Alana kembali menuangkan minuman ke dalam gelasnya, saat ia hendak kembali meminumnya, tiba-tiba gelasnya seperti di tahan oleh seseorang.
"Silvi aku mohon," pinta Alana saat menyadari Silvi lah yang menyerobot gelasnya.
Gadis dengan pakaian pelayan bar itu menggeleng. "Tidak Al. Aku tidak mengijinkan kamu minum lebih banyak. Kau bisa mabuk, kau tidak biasa mengkonsumsi minuman seperti ini Alana," pungkas Silvi yang kembali menjauhkan gelas itu dari jangkauan Alana.
"Aku mohon, Vi. Kali ini saja, aku ingin minum yang banyak, demi melupakan pengkhianat itu. Kasihani aku yang terlihat menyedihkan ini," rengek Alana.
Silvi menggeleng dengan kekeh. "Kalau kau mabuk, aku jauh lebih kasihan padamu. Kau tidak perlulah merusak dirimu demi mereka Alana."
Alana menggeleng. "Kau tidak tau apa yang aku rasakan, Vi. Tadi aku juga baru bertemu mereka, mereka kembali menghinaku. Aku harus apa? Aku ingin membalas perbuatan mereka. Aku juga ingin menunjukkan jika aku lebih baik dari mereka. Aku bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dan segalanya dari Edo. Tapi kau tau sendiri, bagaimana aku bisa mendapatkan lelaki seperti itu? Aku pusing Vi memikirkan rencana reuni bulan depan, aku harus membawa siapa kesana," keluh Alana seraya menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Silvi terdiam meresapi keluhan sahabatnya itu. "Alana sudah ku katakan jika-"
"Saya bisa membantu anda, Nona!" Seorang pria tampan berkulit putih, dalam balutan jas hitam rapi, dengan belahan rambut samping tiba-tiba menimpali ucapan Silvi. Perempuan itu bukannya marah justru terkesima kala menatap lelaki tampan dihadapannya kini. Lelaki itu tersenyum tipis ke arahnya, membuat Silvi menelan ludahnya gugup, wajahnya merona bahkan salah tingkah.
"Kenalkan nama saya, Zain Prasaja asisten dari Tuan Dave Dirgantara," seru Zain membungkuk hormat pada keduanya saat memperkenalkan diri. Membuat keduanya terdiam, Silvi masih terkesima dibuatnya.
"Aku Silvi dan ini sahabatku Alana," seru Silvi.
Zain mengangguk.
"Tadi anda bisa bilang bisa membantuku. Membantu apa maksudnya?" tanya Silvi kemudian dengan heran.
"Maksudnya membantu sahabat anda ini, Nona." Zain mengalihkan tatapannya pada Alana.
Alana mengerutkan keningnya tak mengerti. "Ku dengar anda tengah membutuhkan pasangan dalam acara reuni?"
Alana mengangguk sambil berfikir apakah lelaki itu hendak menawarkan dirinya untuk menjadi pasangannya.
"Apakah anda-"
"Bukan... Bukan saya. Tapi, atasan Tuan. Dave." Zain memotong ucapan Alana dengan cepat. Hal itu membuat Silvi menghela nafasnya.
"Atasan anda?"
Zain mengangguk, kemudian meminta keduanya untuk mengikuti dirinya ke sofa. Di mana di sana terdapat seorang pria tampan tengah duduk sambil memainkan iPad di tangannya. Tampaknya lelaki itu adalah tipikal orang yang sibuk. Melihat kedatangan mereka, lelaki itu menoleh hingga tatapan Alana dan Dave saling terkunci. Alana merasa tak asing dengan lelaki itu.
"Tuan... Ini Nona Alana yang tadi kita sempat bicarakan. Tampaknya ia bisa menolong anda," ujar Zain menjelaskan. Alana dan Silvi semakin tak mengerti.
Dave mengangguk. "Kenalkan namaku Dave," ucapnya seraya mengulurkan tangannya. Alana membalasnya.
"Aku akan membantumu dalam segala hal. memberikan apa pun yang kau. Asalkan itu masih dalam batas hal yang wajar, kecuali cinta. Fasilitas materi tentu akan aku berikan.”
Alana terperangah mendengarnya, apa ia tengah bermimpi.
"Tapi dengan satu syarat," lanjut Dave kemudian.
"Apa?"
"Menikahlah denganku, Nona Alana!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
°^^Jun Natalie^^°
udh berkali kali baca novel ini ,dgn aku. yg berbeda 🤩saya sangat suka ceritanya Alana dan Dave
2025-01-07
0
Mebang Huyang M
nak alana, itu namanya pucuk di cinta calon yayangnya udh tiba wkwkwk.
2024-02-24
0
FATIMAH INGGERIYANY BANGUN
reuni aza yg dipikirkan Alana.... gmna ya. kurang Ok aza kyknya. krena mmikirkan reuni terus alasannya...
2023-04-01
3