Arkan akhirnya menghabiskan waktunya ke perusahaan. Istri cantiknya tidak ada di rumah, maka Arkan akan bekerja saja dari pada bosan sendiri.
"Tuan??" tanya sang asisten.
Roy sang asisten sangat terkejut dengan kehadiran Arkan. Pasalnya baru tadi pagi Arkan mengatakan akan cuti hari ini. Namun, apa yang di lihat Roy bahwa tuanya ada di kantor.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Arkan.
"Apa kamu tidak senang saya kembali ke kantor?" tanya Arkan kembali.
"Eh.. bukan begitu Tuan. Bukannya tadi pagi tuan bilang tidak akan ke kantor?" tanya Roy
Arkan hanya mengedik bahunya. "Pak Dirga mana? eh.. maksud ku papa Dirga apa hari ini ke kantor?" tanya Arkan yang sejak tadi pagi juga tidak melihat sang ayah mertua di mansion mewah barunya.
"Itu.. tuan besar sedang mengadakan rapat yang seharusnya di pimpin anda tuan hari ini. Tuan besar berpesan tadi katanya anda tidak masuk kerja hari ini. Maka nya yang menghandle semua rapat itu sekretaris Tuan besar" jelas Roy.
"Owh... begitu. apa rapatnya masih lama?" tanya Arkan.
"Mungkin sekitar satu jam lagi " jawab Roy
"Baiklah.. nanti jika papa Dirga sudah selesai rapatnya kabari aku. Aku akan menemui nya"pesan Arkan.
"Baik tuan"
Arkan segera beranjak menuju ruangan nya. Ia kembali mengerjakan tugas yang sempat tertinggal karena pernikahan kemarin.
Huuff...
Satu jam berlalu, Arkan telah selesai mengerjakan pekerjaan nya.
"Apa yang sedang di lakukan Ve?" tanya Arkan sendiri. ia benar-benar ingin mengetahui semua kegiatan istrinya.
"mengapa hatinya sangat sulit untuk aku gapai?
"Rasanya sakit sekali saat bibir nya malah mengeluarkan kata kata mutiara itu"
"Tapi aku tidak akan menyerah, aku harus membuatnya jatuh cinta padaku. aku tidak akan menyerah hingga dia sendiri menyuruh ku pergi." lirih Arkan pada dirinya sendiri.
Arkan menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya sembari menatap langit langit ruangan dan menghela nafas berat.
tok!!!
tok!!!
tok!!!
Bunyi pintu yang di ketuk membuat Arkan menoleh dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya.
"Masuk" ujar Arkan.
Yang masuk adalah sang ayah mertua. Papa Dirga masuk dengan mengerutkan keningnya.
"Kan?? kenapa masuk kantor? papa kira tadi Roy asisten mu bercanda" tanya papa Dirga
"Eh.. papa.. Masuk dan duduklah" silahkan Arkan.
"Ada apa Arkan? kenapa kamu masuk kerja?"
"Em.. begini pa.." arkan mencoba menjelaskan dengan baik.
"Apa Vechia tidak di rumah? dia kembali bekerja?" potong papa Dirga cepat.
"Iya pa.. tapi dia sudah minta izin padaku pa. Ada urusan mendesak yang tidak bisa di tinggalkan pa" ujar Arkan yang tidak ingin istri nanti kena semprot papanya.
"iya.. tapi kan hari ini hari pertama kalian menjadi suami istri. Ve benar benar keterlaluan. Maafkan sifat putri papa ya Ar. Dia manja karena dulu almarhum ibunya terlalu memanjakan nya. Tapi papa mohon kamu jangan tinggalkan dia ya kan, papa yakin hanya kamu yang bisa mengubah sikap buruknya. papa yakin sama kamu" pinta Papa Dirga lirih
"Iya pa" hanya kata terima yang di ucapkan oleh Arkan.
"Aku tau ini sulit, tapi aku yakin aku bisa menaklukkan hati yang keras itu Ve" ucap Arkan dal hati.
...****************...
Di tempat lain
"Nenek..." teriak Ve pada sang nenek di kediaman mewah itu.
"Cucuku.." panggil nenek Risma
Kedua manusia beda usia itu akhirnya berpelukan dengan hangat.
"Ya Ampun sayang, sudah lama kamu tidak mengunjungi nenek tua ini" keluh nenek Risma cemberut.
"Ih.. nenek.. aku baru tiga hari tidak mengunjungi mu. lagian ya nenek tidak seru karena tidak datang di acara kemarin" ujar Ve tidak terima di salahkan.
"Nenek kan sudah bilang tidak akan menyetujui pernikahan mu dengan anak rendahan seperti itu. aku sangat membenci nya. Dan aku heran bagaimana bisa ayah mu dengan mudahnya menyetujuinya. Maafkan nenek tidak bisa hadir di sana" jelas nenek Risma
"Iya nek.. aku juga sepemikiran denganmu. nenek tenang saja, aku tidak membenci nenek karena tidak hadir kemarin"
"Lagian juga acara tidak terlalu besar, pria sialan seperti dia itu tidak akan mampu membuat acara yang mewah nenek"
"Benar sekali sayang. Seharusnya kamu menikah dengan pandu dan sekarang pasti kamu sudah bahagia dengannya"
"Nenek jangan menyebut nama laki laki yang aku benci itu. Dia itu sama saja dengan Arkan sialan itu nek. Mereka sama-sama menghancurkan kehidupan ku. Yang satu ku beri cinta dia beri ku luka, satu lagi dengan gilanya mencoba meraup semua harta kekayaan ku nenek"
"Dan ku ingatkan, nenek jangan pernah menyebutnya lagi"
"Em.. iya sayang.. maafkan nenekmu ini "
"Iya nenek Risma tercinta" ujar Ve memeluk nenek nya kembali dan mengecup hangat kening sang nenek.
Nenek Risma adalah ibu dari mamah Melissa, ibunya Vechia. Nenek Risma memang sejak dulu tidak menyukai keberadaan Arkan dan keluarga nya yang bekerja di rumah papa Dirga.
Nenek Risma juga memandang keluarga Arkan tidak sepadan dengan nya. Nenek Risma bilang seseorang itu akan di hargai dan di hormati karena kasta nya. orang yang memiliki kasta tertinggi sudah akan sepatutnya berperilaku baik.
itulah pemikiran yang selalu membuat nenek Risma membenci kasta terendah. menurut nenek Risma orang yang kasta terendah tidak akan bisa menandingi mereka yang berkasta tinggi.
Entahlah.. entah mengapa begitu tertutup pemikiran nenek Risma.
...****************...
"Sudah menunjukkan jam hampir sore, aku harus segera pulang dan menjemput istri ku" gumam Arkan segera bangkit dari kursi kerjanya.
"Tuan.." panggil Roy.
"Iya Roy, aku mau pulang. nanti jika ada hal lain mengenai perubahan kamu kirim email saja" pesan Arkan.
"Iya tuan. selamat jalan. hati hati tuan" ujar Roy menunduk sopan.
Arkan mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang dan melaju ke butik istrinya.
Dari tadi Arkan terlihat senyum senyum sendiri membayangkan akan menemui orang tercinta nya.
Aduh.. rasanya Arkan benar benar bahagia akan melihat wajah istri nya yang sejak tadi pagi dirindukannya.
Wajah cantik istri nya yang selalu saja berhasil berputar putar di otaknya.
Namun, semuanya terasa menguap di udara mana kala Arkan melihat sang istri keluar dari mobil seseorang pria dan tersenyum manis pada pria itu.
Arkan tidak tau menahu tentang pria itu. Arkan tersenyum miris, senyuman yang di tampilkan oleh istrinya pada pria itu sangat berbeda dan tidak pernah ia dapatkan dari istrinya.
Tak ingin terbawa emosi sendiri, Arkan mencoba menenangkan dirinya sebelum keluar dari mobilnya dan menghampiri sang istri.
"Aku tidak boleh berpikiran buruk pada nya, biar bagaimanapun aku harus mendengarkan ucapannya"
ujar Arkan sendiri.
Setelah merasa tenang barulah Arkan keluar dari mobil.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments