Vechia keluar dari kamar yang merias dirinya dan duduk agak dekat ke arah Arkan duduk.
Di kursi itu mereka akan melangsungkan pernikahan dengan khusyuk dan keikhlasan hati.
Meskipun yang sangat menginginkan pernikahan ini dan mengharapkan pulau cinta yang sangat indah hanya Arkan sendiri.
Tak apa, meski rasanya hanya pernikahan sendiri, Arkan tetap senang karena menikah wanita yang dia cintai.
Arkan sempat terpesona oleh kecantikan Vechia yang dirias dengan sangat cantik dan anggun dengan balutan baju pengantin berwarna putih yang terlihat simpel tapi sangat sangat cantik dan cocok di pakai oleh Vechia.
"Ar.. jangan kelamaan lihatnya, dia belum sah menjadi milikmu" tegur Romi yang melihat Arkan terpesona hingga panggilan dari penghulu di abaikan.
Arkan sedikit tersentak, kemudian memfokuskan pandangannya kembali ke arah depan.
"Seperti nya calon pengantin pria kita sudah tidak sabar ingin segera menghalalkan wanita cantik ini" goda penghulu tersebut.
Arkan terlihat tersenyum senyum malu mendengar celetuk pak penghulu.
"Cih... dasar pria menjijikkan, kelakuan nya tidak ada yang berkelas sedikitpun" batin Ve menatap tak suka melihat kelakuan calon suami yang di anggap sangat membuat nya malu.
Sah!!!
Ijab qobul telah terucapkan, tibalah saat nya kedua pasangan suami istri tersebut bersalaman dan pengantin pria akan mencium kening sang mempelai wanita.
"Ya Allah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk kami. Bukakanlah pintu hati istriku agar bisa menerima aku sebagai suaminya. Tolong bantu aku ya Allah" batin Arkan berdoa saat mencium kening sang istri.
"Cih... dia ini kenapa lama sekali menciumi keningku, apa dia tidak tau kalau kelakuan nya ini sangat menjijikkan. Cih.. jangan kau mengira aku tidak tau niat busukmu ketika ingin menikah dengan ku. Aku tau kau ingin menguasai seluruh harta keluarga ku. Aku tau pasti dengan pemikiran orang miskin seperti mu" batin Vechia menggerutu kesal terhadap pria yang sudah menjadi suaminya.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka sah mendapatkan gelar sepasang suami istri.
Kedua pengantin itu sedang melangsungkan foto bersama di atas pelaminan nya.
Dekor pelaminan yang sangat sederhana namun cantik dengan nuansa Melayu dan lebih dominasi dengan warna putih.
"Pengantin wanita nya tolong lebih dekat lagi" pinta fotografer tersebut.
Vechia mendekat meskipun sedikit tidak nyaman berada di dekat orang yang di bencinya.
"Kepalanya menyandar di dada pengantin pria nya dan tersenyum" pinta fotografer itu lagi.
Vechia mendekat seperti permintaan sang fotografer.
"Jangan terlalu jauh, nanti mereka semakin curiga terhadap kita. Katamu kamu akan menang dalam pernikahan ini, kamu tidak mau kalah kan. Makanya kerjakan akting mu dengan sempurna" bisik Arkan pada Vechia.
Momen itu menjadi momen yang bagus bagi fotografer tersebut untuk mengambil gambar.
Orang orang sekitar menganggap itu sebagai bentuk keromantisan antar pasangan suami istri. mereka tampak seperti pasangan bahagia dengan senyuman di kedua bibir mereka.
Bunyi keriuhan memenuhi ruangan tersebut.
Vechia sudah cukup kesal dengan perkataan Arkan di tambah lagi dengan tepuk tangan tamu. Terpaksa ia menekan rasa kesalnya dan hanya menyisakan senyuman manis.
"Semoga kak Ve tidak menyakiti hati kak Arkan, aku sangat kasian jika itu terjadi" batin Nadya.
"Melihat mu seperti itu membuat ku sangat tidak percaya jika kamu tidak terpesona dengan keindahan wajah suami mu itu Ve" batin Rita tersenyum.
"Semoga yang aku khawatir tidak terjadi Ar, kamu itu pria baik. Semoga Allah memberikan kebahagiaan terhadap pernikahan kalian" batin Romi.
Kembali kepada pasangan pengantin. Kedua mempelai melangsungkan foto keluarga. Di sana Arkan sedikit sendu menatap hanya sang ayah yang berdiri dengan nya.
Ibu Arkan baru saja dua tahun lalu karena penyakit jantung yang tiba-tiba muncul.
Arkan sedikit berkaca-kaca matanya dan menghela nafasnya dengan pelan.
"Pengantin pria nya jangan menunduk terus, kita hari berfoto dengan bahagia " ujar sang fotografer.
Entah dorongan dari mana, Vechia menatap iba pada sang suami. Vechia tau betul bagaimana rasanya tidak memiliki ibu di sisi kita.
Tanpa di sadari oleh Vechia ia menggenggam erat tangan sang suami. Arkan sedikit tersentak dan menatap ke arah Vechia.
Tatapan yang Vechia berikan kepada Arkan seakan mengatakan bahwa ia tidak sendirian, di sini ada dia yang telah menjadi istrinya.
Arkan merasakan kehangatan akan genggaman tangan istrinya. Arkan tersenyum dan mengangguk pelan.
Arkan kembali fokus menghadap ke depan untuk melanjutkan sesi foto bersama tanpa melepaskan genggaman tangan istrinya.
Tiga jam berlalu, para tamu undangan telah ramai mengosongkan diri dari ruangan acara tersebut.
Tinggallah pihak keluarga dan sahabat kedua pengantin baru.
"Selamat ya kak, akhirnya kak Arkan menjadi kakak iparku. Aku senang sekali, nanti aku bisa minta ke kakak cara mengerjakan tugas kuliah ku yang tidak bisa aku kerjakan" ujar Nadya dengan antusias.
"Iya Nad, Kakak pasti akan mengajarkan mu" balas Arkan mengacak acak rambut Nadya dengan gemasnya.
"Cih.. satu penjilat satu anak tak tau diri, seharusnya mereka yang menikah lagian mereka terlihat cocok untuk kalangan kotor seperti itu" batin Vechia menatap interaksi kedua orang tersebut.
Nadya sangat dekat dengan Arkan sejak dia di bawa ke rumah papa Dirga dulu. Papa Dirga sangat dengan Arkan.
Karena biar bagaimanapun Dirga adalah anak dari mantan sopir papa Dirga. Arkan sudah di anggap sebagai anak angkat oleh papa Dirga.
Perbedaan status tidak menjadi hal yang membuat papa Dirga memandang rendah terhadap keluarga Arkan.
Semenjak kecil Ve sangat dekat pada Arkan karena telah menganggap Arkan sebagai kakaknya.
Arkan adalah pria pintar di bidang bisnis, ia sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaan papa Dirga. Kegiatannya mengajar sebagai dosen di fakultas ekonomi hanya terjadi di hari Kamis.
Meskipun Arkan hanya mengajar satu hari dan memiliki dua kelas namun hal itu tidak menurunkan kepopuleran nya di kampus.
Arkan tetap di nobatkan sebagai dosen tertampan di kampus dan menjadi ikon idola kampus dari cabang dosen.
Namun, kekaguman itu sirna sudah saat kejadian di malam panas itu hingga membuat Vechia harus menerima pernikahan terpaksa dengan Arkan.
Kejadian karena tertangkap basah itulah yang membuat Vechia menghentikan kekagumannya pada sang suami yang dinilai sangat sempurna untuk menjadi suaminya.
Padahal tanpa di ketahui oleh Vechia ada rahasia yang di sembunyikan Arkan dan sang papa.
"Selamat ya nak Arkan, terimakasih telah menikah dengan putri papa yang satu ini. Putri papa ini memang sedikit keras kepala jadi kamu mau ya sedikit mengalah dengannya. Tapi papa yakin putri papa adalah wanita yang baik nak"
"Jika suatu saat kalian ada perbedaan pendapat hendaklah kalian bicarakan dengan cara yang baik tanpa ada melukai hati salah satu di antara kalian berdua. Semoga kalian berbahagia dan semoga papa juga cepat menggendong cucu yang lucu dari kalian berdua" nasehat papa Dirga pada Arkan.
Arkan mengangguk kepalanya dan memeluk sebentar sang papa mertua.
"Vechia sayang, kamu harus menerima baik buruk suami mu. Jangan sekali kali kamu membantah ucapannya. Ingat nasehat papa ya nak" lanjutnya pada Vechia dan memeluk sang putri.
"Nak Ve,, terima kasih telah menerima anak ayah, maafkan segala kekurangan yang ada pada anak ayah ya nak. Jika suatu saat Arkan menyakiti mu maka kamu harus katakan pada ayah biar ayah menghukum nya" Ujar pak Haris sang ayah.
"Iya yah,, terima kasih ayah telah menyayangi Ve" Be memeluk sang ayah mertua.
Tidak terbesit sedikit kebencian di hati Ve terhadap keluarga Arkan. Ia hanya membenci Arkan bukan keluarga nya.
"Kamu juga Ar, telah menjadi suami untuk Ve. Lindungi, sayangi dan jaga dia seperti kamu menjaga ibumu dulu nak. Jangan kamu sakiti dia, ayah dan ibu akan sangat membenci hal itu" nasehat ayah ada Arkan.
"Iya yah, Arkan akan menuruti ucapan ayah untuk selalu menjaga Vechia sebagai istri Arkan" balas Arkan memeluk sang ayah.
Suasana penuh haru akhirnya selesai dan kembali lah mereka ke rumah masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
վմղíα | HV💕
cieee malam pertama
2023-03-18
0