PYT 15

Di sebuah kamar mewah, terlihat pria bermanik hitam tengah menatap lukisan yang terpajang di dinding kamarnya. Matanya memerah menahan kesedihan mendalam yang masih diselimuti amarah sambil mengepalkan kedua tangannya, jika menatap lukisan kedua orang tuanya. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Leonardo Da Vichi.

"Kalian pasti bangga melihatku seperti ini. Orang-orang yang pernah menyakiti kalian sudah aku hancurkan." Leo menatap tajam lukisan tersebut yang merupakan lukisan mendiang orang tuanya dan berharap mereka mendukung semua kerja kerasnya selama ini untuk menghancurkan keluarga Matteo.

Leo mengusap wajahnya dengan kasar lalu meninju dinding kamarnya. Hatinya begitu hancur ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, saat dirinya masih kecil dan belum tahu apa-apa.

"Arrgghhh!" Leo berteriak keras sambil menjambak rambutnya dengan emosi tak mampu dia kontrol dengan baik jika sedang marah.

Leo lalu mengambil remote control di dalam laci dan langsung menekan remote control tersebut hingga seketika tirai terbuka di balik dinding dan menampilkan deretan foto para musuhnya selama ini terpampang jelas beserta namanya masing-masing. Salah satunya foto serumpun keluarga Matteo yang selalu menjadi incarannya selama ini.

Tanpa basa-basi Leo langsung mengambil vas bunga lalu melemparkannya tepat pada foto keluarga Matteo dan lemparannya tepat mengenai foto wanita cantik tersenyum manis bersama kakeknya, di dalam foto tersebut tidak lain adalah Anna dan kakeknya.

"Kalian yang sudah menghancurkan kehidupanku!" teriaknya dengan amarah menggebu-gebu. Leo langsung menarik kursi dan mendaratkan bokongnya di kursi lalu menatap deretan foto para musuhnya yang hampir sudah dia habisi tanpa ampun.

Hanya keheningan yang terjadi di dalam kamar mewah bernuansa hitam putih dengan pencahayaan agak redup, dimana sang pemilik kamar sedang termenung membayangkan kembali kenangan pahit yang dialaminya di masa lalu.

Flashback on

Sekitar dua puluh tahun lebih yang lalu.....

Terlihat anak laki-laki sedang bersiap-siap dibantu oleh ibunya di dalam kamar mewah. Hingga anak laki-laki itu terlihat begitu rapi dengan seragam sekolahnya. Karena tepatnya hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah guna untuk menuntut ilmu.

"Apa kamu sudah siap berangkat ke sekolah sayang?" tanya ibunya sembari memakaikan tas ransel kecil di balik punggungnya.

"Iya mom, Leo ingin cepat belajar supaya menjadi anak pintar Kelak bisa menjadi kebanggaan mom dan Daddy." jawabnya tersenyum dengan raut wajah polosnya.

Ya anak kecil itu adalah Leonardo Da Vichi yang terlahir dari pasangan suami istri Mario Nardo Da Vichi dan Kinanti Sisilia.

"Bagus, mommy senang mendengarnya sayang. Ya sudah, kita turun ke bawah, Daddy pasti sudah menunggu kita di meja makan untuk sarapan bersama." ucap ibunya lalu bergegas membawanya keluar kamar.

Kini keluarga kecil itu terlihat harmonis dan sangat bahagia yang sedang berkumpul di meja makan guna untuk sarapan bersama. Selesai sarapan bersama mereka berjalan bersama keluar rumah.

Anak kecil bernama Leo begitu antusias masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan di samping kemudi. Lalu disusul oleh ayah dan ibunya yang juga masuk ke dalam mobil. Ayahnya duduk di kursi kemudi bersebelahan dengannya, sedangkan ibunya duduk di kursi belakang sambil membawa bekalnya. Hingga mobil yang membawa mereka mulai melaju kencang meninggalkan kediamannya.

Hari ini adalah hari pertamanya ke sekolah, membuatnya begitu bersemangat untuk menjajal dunia barunya dan akan bertemu banyak teman-teman baru pastinya.

Mobil yang membawa mereka terus melaju kencang membelah jalanan menuju pusat kota. Kebetulan rumah mereka terbilang cukup jauh dari pusat kota karena keinginan pasangan itu sendiri yang ingin membangun bahtera rumah tangga jauh dari kata keramaian dan hanya ingin hidup tenang dengan suasana sejuk setiap harinya.

Sesekali mereka bercanda gurau dan mengobrol bersama di dalam mobil yang sedang membahas sekolah favorit yang akan menjadi tempat menambah ilmu anaknya kedepannya.

Di pertengahan jalan yang sepi tanpa perumahan sekitar hanya ada pepohonan rindang di sepanjang jalan, tepatnya di sebuah persimpangan jalan, terdapat tiga unit mobil menghadang mobil mereka dari arah berlawanan.

Sang ayah yang fokus mengemudikan mobilnya terkejut melihat mobil terparkir sembarangan di jalan yang sedang menghalangi jalan mereka.

"Mas, sepertinya sedang terjadi sesuatu di depan. Lihatlah mobil terparkir sembarangan di jalan. Hati-hati mas, sebaiknya kita putar arah saja." istrinya ikut terkejut melihat mobil di depannya dan memberinya usulan agar putar balik.

"Daddy, mobil mereka menghalangi jalan kita." timpal anak kecil itu yang sepertinya mengerti situasi di depannya. Seketika ayahnya menghentikan laju mobilnya.

"Tenang, kalian jangan panik. Daddy akan mengecek sendiri situasinya. Tetaplah di dalam mobil, jangan ada yang turun." ucap ayahnya tersenyum tipis lalu bergegas turun dari mobil.

Saat akan menutup pintu mobilnya, Leo kecil segera berpesan kepada ayahnya hal itu membuat ayahnya berhenti sejenak untuk mendengar ucapan jagoannya. "Daddy, hati-hati, jangan sampai mereka orang jahat."

"Iya sayang, Daddy akan selalu hati-hati. Jaga mommy mu ya." Ayahnya tersenyum lalu bergerak memeluknya dengan penuh kasih sayang dan memberikan ciuman di puncak kepalanya. Ada rasa tidak rela dari relung hatinya yang terdalam meninggalkan jagoan kecilnya.

"Baik Daddy." balasnya tersenyum disertai anggukan kepala dan anak kecil itu merasakan hal aneh melihat tatapan aneh dari ayahnya. Tidak biasanya dia melihat tatapan seperti itu.

Ayahnya langsung menutup pintu mobilnya lalu melangkah menghampiri mobil di depannya. Di luar dugaan orang-orang langsung berhamburan turun dari mobilnya. Beberapa diantaranya membawa pistol dan tongkat baseball.

"Habisi dia!" teriak seseorang berkacamata hitam dari dalam sebuah mobil mewah, memberi instruksi kepada orangnya.

Ayahnya sudah di kepung di segala arah dan tak bisa lagi lari. Namun begitu, ayahnya terlihat waspada tanpa kenal takut sedikitpun melihat mereka semua yang berjumlah delapan orang dengan wajah beringas menatapnya.

Dan mau tak mau ayahnya harus siap melawan mereka semua. Dua orang pria bertubuh kekar maju lebih dulu untuk melawan ayahnya hingga perkelahian pun terjadi.

Sementara Leo kecil bersama ibunya di dalam mobil hanya mampu saling berpelukan yang mulai dilanda panik dan ketakutan. Ibunya dengan cepat mengunci pintu mobilnya takutnya para penjahat itu balik menyerangnya.

"Daddy." Leo kecil terus saja menangis memanggil nama ayahnya saat melihat ayahnya sedang melawan para penjahat. Setiap kali ayahnya melayangkan pukulannya ke arah lawannya, tiba-tiba saja yang lainnya memukuli tubuh ayahnya dengan tongkat baseball. Orang-orang tak di kenal, begitu leluasanya melakukan pengeroyokan terhadap ayahnya.

Bersambung.....

Jangan lupa dukungannya teman-teman 🤧

Terpopuler

Comments

kim

kim

😥😥😥

2022-11-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!