PYT 6

Anna tak menyangka pertemuan pertama dengan calon suaminya membuat moodnya menjadi buruk. Lebih-lebih syarat pernikahan mereka yang tidak mencerminkan kesungguhan untuk menjalani hubungan rumah tangga yang bahagia.

Walau terpaksa menikah, seenggaknya calon suaminya memberikan kesan baik saat pertama kali bertemu, tapi malah sebaliknya, pikirnya.

"Pria yang berwajah dingin dan sangat menyebalkan. Memiliki aura seperti seorang pembunuh" ucap Anna setelah menilai sendiri calon suaminya dan mampu mengambil kesimpulan tentang pria yang akan menikahinya. Dari tatapan matanya saja membuat Anna menjadi gugup dan takut.

"Apa yang terjadi jika dia marah, tatapannya saja seolah ingin melahap ku habis-habis di ruangan ini" gumam Anna yang sudah bisa mengomel banyak ketika makhluk kutub itu sudah pergi.

Anna menghembuskan nafasnya dengan kasar yang masih menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tanpa ingin beranjak pergi dari restoran tersebut.

"Seperti inikah pria pilihanmu kakek. Walaupun ini hanya pertemuan pertama kami, tapi aura pria dingin itu sangat mencekam dan menakutkan bagiku" ucap Anna melipat tangannya di depan dada.

Pandangannya tertunduk hingga mampu mendengar ponselnya berbunyi di atas meja. Anna segera mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan masuk dari kakeknya.

"Halo Anna. Bagaimana pertemuan mu dengan cucu Hans?" tanya Kakeknya antusias.

"Berjalan Lancar Kakek. Kami sepakat untuk menikah esok lusa" ucap Anna dengan raut wajah masam tanpa adanya guratan wajah bahagia layaknya orang yang akan menikah pada umumnya.

"Oh baguslah nak, kakek setuju sekali karena hal baik harus disegerakan. Kakek yakin cucu Hans tidak sabar menikahimu nak, karena banyak pesaingnya diluaran sana yang antri ingin menikahi putri keluarga Matteo" ucap tuan Frans bersemangat.

"Ya kakek" ucap Anna mengerucutkan bibirnya yang tidak bersemangat membahas tentang pernikahannya.

"Ya sudah cepat pulang, Kakek ingin berbicara empat mata denganmu untuk mempersiapkan pernikahan kalian" ucap tuan Frans.

"Baik Kakek" ucap Anna dan panggilan pun terputus.

Anna menatap minuman dan aneka makanan tersaji di atas meja yang di pesan Leo dan sama sekali tak tersentuh oleh mereka. Anna berinisiatif untuk membungkus semua makanan itu dan memberikannya pada anak jalanan.

"Terima kasih mbak" ucap Anna mengambil paper bag berisi makanan yang dipesan Leo.

"Sama-sama nona" ucap karyawan restoran dengan ramahnya.

Anna keluar dari restoran mewah tersebut dan berjalan menuju mobilnya. Saat tiba di parkiran, Anna melihat beberapa anak jalanan yang sibuk mengamen di seberang jalan membuat Anna merasa kasihan dan bergegas menyebrang jalan untuk menghampirinya.

"Hai adik kecil" sapa Anna pada salah satu anak jalanan yang sedang duduk di trotoar.

Anak jalanan itu hanya menatap paper bag yang dibawa Anna hingga aroma khas makanan mampu tercium olehnya. Kemudian tiga anak jalanan lainnya segera bergabung dengan temannya.

"Ini ada sedikit makanan buat kalian, bagikan kepada teman-temanmu ya" ucap Anna pada salah satu anak jalanan.

"Terima kasih nyonya" ucapnya penuh semangat.

"Eeh satu lagi, ini ada sedikit rejeki buat kalian semoga bermanfaat ya" ucap Anna dan kembali memberikan uang tunai untuk mereka.

Anak jalanan itu begitu senang mendapatkan makanan dan uang pula dari wanita asing yang baik hati.

Kasihan sekali mereka, mengapa komunitas Budi bakti sosial belum turun membantu mereka. Batin Anna.

Pandangan Anna berkaca-kaca melihat anak jalanan begitu lahapnya memakan makanan pemberiannya. Lalu Anna pamit undur diri dari hadapan mereka dan kembali menyebrang jalan menuju mobilnya.

Anna langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut menuju kediaman kakeknya.

Sementara di tempat lain....

Leo baru saja tiba di kediamannya, wajahnya ditekuk sambil melempar jasnya sembarangan hingga mengenai wajah Jack. Sedangkan Jack sendiri harus ekstra sabar menghadapi tuannya, mengambil jas tuannya lalu menyandarkannya di kepala sofa.

"Dia membuat syarat yang begitu konyol. Memintaku untuk mencintainya, jelas-jelas aku ingin menikahinya hanya sekedar balas dendam kepada keluarga Matteo" sinis Leo mengambil minuman dingin di tangan Jack lalu membukanya dan meneguknya perlahan.

Jack hanya menundukkan pandangannya dan senantiasa mendengar ucapan tuannya.

"Kapan transaksi perdagangan senjata dilakukan?" tanya Leo pada tangan kanannya.

"Malam ini tuan, sekitar pukul 2 dini hari, mereka baru bisa bergerak di jam seperti itu" jawab Jack dengan penjelasan rincinya.

"Oh baguslah, sangat gampang untuk menangkap si kutu penghianat" ucap Leo sambil meremas kaleng soda hingga remuk.

"Aku mau ke kamar untuk beristirahat. Bangunkan aku setelah dua jam. Karena kita harus ke markas untuk mempersiapkan penyerangan."

"Baik tuan."

Leo sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sementara Jack memilih berlalu keluar menuju ruangan bawah tanah yang tersembunyi di kediaman tuannya.

Mendorong keras pintu kamarnya lalu membantingnya yang masih di selimut kekesalan atas pertemuan pertama dengan calon istrinya.

"Aku pastikan dia akan menangis darah setelah terikat denganku!" ucap Leo dengan tatapan tajam dan tanpa basa-basi langsung meninju tembok dengan kesalnya.

Kejadian kelam yang dialaminya dan mendarah daging dalam dirinya membuatnya menjadi pria dingin dan kejam tanpa ampun. Bebas melakukan keinginannya termasuk membalas dendam pada orang-orang yang sudah mengusik hidupnya.

Leo mengusap wajahnya dengan kasar lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Seluruh pakaiannya sudah dia tanggalkan dan kini berdiri di bawah guyuran air shower menikmati dinginnya air dingin dan mampu mendinginkan seluruh tubuh dan pikirannya.

Lagi-lagi Leo meninju dinding kamar mandi berulangkali hingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar mengalir begitu saja, bersamaan pula dengan air dari shower yang mengalir di seluruh tubuhnya.

"Arghh!"

Dendamnya begitu berapi-api sambil mencengkram erat dinding kaca transparan yang berembun, pembatas kamar mandi disebelahnya. Karena dalam kamarnya memiliki dua kamar mandi sekaligus.

Selesai mandi, Leo menyambar jubah mandinya lalu memakainya dan bergegas keluar menuju ruang ganti untuk mengenakan pakaian santainya.

Leo tampak segar dengan kaos hitam dan celana pendek berjalan santai keluar dari ruang ganti. Tangannya masih sibuk mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk kecil.

Setelah beres, dia pun melempar handuk kecil di atas sofa lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuknya guna beristirahat sebentar. Dikarenakan masih banyak misinya yang harus dia selesaikan malam ini.

🍁🍁🍁🍁

Di kediaman keluarga Matteo...

Anna sudah sampai sekitar satu jam yang lalu dan kini terlihat segar dengan pakaian santainya yang habis mandi. Anna mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hairdryer sebelum turun makan malam bersama dengan kakeknya.

Kini Anna dan keluarganya makan malam bersama dengan tenang tanpa adanya obrolan di meja makan, hal itu menjadi aturan yang berlaku di keluarga Matteo. Dan seperti biasa dua pasang mata menatapnya dengan tatapan kebencian.

Selesai makan malam bersama, Anna dan kakeknya berjalan bersama-sama menuju ruang kerja kakeknya.

"Apa yang ingin kakek bicarakan?" tanya Anna yang sudah duduk berhadapan dengan kakeknya.

Tampak pria tua itu menghela nafas berat menatap hangat cucu kesayangannya.

"Sebelum kamu menikah, kakek ingin memberitahumu bahwa keluarga kita pernah bermusuhan dengan keluarga Da Vichi, calon suamimu. Tapi itu masa lalu yang sudah berlalu dan sekarang sudah damai berkat kehadiran kalian" ucap tuan Frans lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.

Anna membulatkan matanya mendengar ucapan kakeknya.

"Terus mengapa Anna harus menikah dengannya kakek, jika pria yang akan menjadi calon suami Anna adalah musuh lama keluarga kita" bantah Anna dan merasa tidak masuk akal dengan ucapan sang kakek. Masa musuh harus menikah.

"Ha ha ha jangan dianggap serius nak, itu masa lalu dan sekarang sudah beda lagi. Kami berdamai karena saling membutuhkan, ditambah lahirnya para penerus keluarga yaitu kamu membuat kita sepakat untuk menikahkan kalian kelak, jika sudah dewasa" ucap tuan Frans dengan candaannya yang berbicara panjang lebar.

"Dan kakek percaya itu? bagaimana jika keluarga mereka masih menaruh dendam kepada keluarga kita kakek" tegas Anna dan merasa janggal dengan ucapan kakeknya.

"Tentu saja nak kakek percaya, karena kita sudah menjalin hubungan persahabatan dan sebentar lagi kamu menjadi bukti perdamaian kami" ucapnya dengan penuh keyakinan.

Anna menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan semua penjelasan kakeknya. Bagaimana mungkin keluarga bermusuhan sepakat untuk menjodohkan cucu mereka sebagai tanda perdamaian, pikirnya tak masuk akal.

Di samping itu mereka terpaksa menikah dan akan menjalaninya dalam keadaan terpaksa tanpa adanya cinta. Bukankah itu sama saja membuka dendam lama yang belum terselesaikan lewat perjodohan.

Bersambung.....

Jangan lupa, like, love, komen dan vote ya teman-teman 🙏🤗

Terpopuler

Comments

Rina Yulianti

Rina Yulianti

lanjut

2023-09-12

0

Kaizar Kaizar

Kaizar Kaizar

bagus thor

2023-07-11

0

Ros

Ros

belum up 😥

2022-11-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!