Rembulan bersinar terang dengan cahayanya yang begitu mendominasi langit malam. Bintang-bintang pun ikut bersinar terang mengelilinginya menghiasi langit malam. Hingga membuat seorang wanita tak berpaling menatap keindahan langit malam.
Wanita berambut panjang itu sedang berdiri di balkon kamar menatap keindahan langit malam yang mampu menyejukkan pikirannya. Tangan lentiknya sesekali menggosok kedua tangannya untuk mengurangi kadar dingin yang menyeruak masuk ke permukaan kulitnya.
Sweater yang di pakainya selalu saja dieratkan ke tubuhnya dan sesekali memeluk tubuhnya sendiri. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai melambai-lambai di terpa angin. Hingga perhatiannya teralihkan saat mendengar ponselnya berbunyi di atas meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Tak ingin mengacuhkannya, wanita itu bergerak mengambil ponselnya guna untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Gea" ucapnya tersenyum manis hingga lesung pipinya tampak indah diwajahnya. Matanya fokus melihat nama yang tertera di layar ponselnya lalu segera menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.
Percakapan via telepon.
"Halo nona Anna" ucap seseorang diseberang sana yang bernama Gea.
"Ya Gea, ada apa menelpon ku malam-malam" ucap Anna tersenyum.
Kurasa dia sudah menemukan informasi yang ku minta. Gea kau memang bisa diandalkan.
Sehabis makan malam bersama keluarga, Anna segera mengirim pesan kepada sekretarisnya yang bernama Gea untuk mencari tahu identitas dan segala informasi tentang Leonardo Da Vichi. Karena hanya Gea sekretaris yang patut dia andalkan.
"Begini nona Anna_"ucap Gea dengan suara berat di ujung telepon yang sedang menjeda ucapannya.
"Kenapa Gea, ada masalah?" potong Anna cepat kepada sekretarisnya.
"Begini nona Anna...."
Emm gimana ya jelasinnya.
Anna begitu antusias untuk mendengarkan ucapan sekretarisnya yang tak kunjung berbicara jelas.
"Gea!"
"Nona Anna, saya minta maaf. Emmm, saya tidak dapat menemukan apapun sesuai yang anda minta. Identitas pria yang anda maksud tidak bisa ditemukan apalagi di lacak dengan mudah. Tapi, tenang nona, karena para IT sedang bekerja keras untuk meretas data-data termasuk identitas pria yang anda maksud" ucap Gea menjelaskan.
"Astaga, ya sudah beristirahatlah Gea. Kamu sudah bekerja keras. Selamat malam" ucap Anna lembut dan memilih mengakhiri pembicaraannya.
Anna menggigit kuku nya yang sedang dilanda perasaan cemas dan pikiran tak tenang. Dia kebiasaan menggigit kuku-kukunya jika mengalami hal itu, dan kebiasaan itu terjadi dari kecil.
"Apa yang harus kulakukan Mommy, Daddy? Apakah kalian setuju jika aku menikah dengan pria pilihan kakek?" tanya Anna menatap bintang di langit. Dimana ucapannya mampu didengarkan oleh mendiang kedua orang tuanya di atas sana.
"Sanggupkah aku menjalani semua ini, sementara bibi Rose dan Viona terus berusaha menghancurkan hidupku. Terpaksa menikah dengan pria yang tidak kucintai akan memperburuk kehidupanku. Bagaimana hubungan kami kedepannya? hubungan tidak didasari rasa cinta akan menimbulkan mati rasa dan hubungan akan runtuh seketika."
Anna mengeluarkan unek-uneknya kepada mendiang kedua orang tuanya (Tuan Dante Monroe dan Nyonya Maira Cassandra Matteo) agar mendengar keluh kesahnya di atas sana.
Kedua wanita iblis berada di kediaman yang sama dengannya, yakni bibi nya dan sepupu perempuannya yang terus saja cari masalah dengannya. Anna tak tahu mengapa mereka terus membencinya bahkan tak segan-segan ingin menghancurkannya. Padahal mereka adalah keluarga dan patutnya menyayanginya.
Semenjak berada di kediaman kakeknya, Anna selalu saja mendapatkan perlakuan buruk dari Bibi nya dan juga sepupunya. Berkali-kali mereka meracuni makanan Anna tanpa sepengetahuan sang kakek hingga Anna hampir tewas dalam sekejap. Namun, masih ada Tuhan yang menyelamatkan nyawa Anna karena Anna adalah wanita yang baik.
Bukan tanpa sebab mereka melakukan semua itu. Harta, tahta dan kekuasaan di mansion mewah itu yang menjadi biduk permasalahan utama di keluarga Matteo. Sementara sang kakek tidak serta-merta membiarkan mereka berbuat semena-mena dan melakukan hal sesukanya. Ancaman mematikan pun selalu mereka dapatkan, tapi entah seperti apa ancamannya, karena Anna tak pernah tahu dan tak ingin tahu permasalahan mereka dengan sang kakek.
*
*
*
Tidak hanya Anna yang sibuk mencari identitas Leonardo Da Vichi. Bibi Rose dan Viona juga tampak sibuk mencari-cari identitas pria yang akan menikah dengan Anna melalui artikel, media sosial dan majalah bisnis.
"Mom kurasa pria yang akan menikahi Anna hanyalah orang biasa. Namanya sama sekali tak ada yang tercantum di artikel dan majalah bisnis. Jadi, apa yang perlu dikhawatirkan mom" ucap Viona tersenyum meremehkan pria yang akan menikahi Anna, wanita dibencinya.
"Betul sayang, tapi kita tak boleh lengah sedikitpun. Max yang akan mengurusnya" ucap Rose menyeringai. Karena harapannya tak sesuai kenyataan bahwa pria yang akan menikahi Anna dari kalangan pebisnis.
"Uuh kasihan sekali nasibmu Anna. Kalau aku menjadi dirimu secepatnya aku kabur dari rumah dan tak pernah menginjakkan kaki di rumah ini selamanya sampai kakek tua membatalkan pernikahannya" oceh Viona tersenyum kemenangan di hadapan ibunya.
"Jangan berkata seperti itu Viona. Biasa saja kakek tua juga merencanakan pernikahanmu." Ibunya menegur ucapannya dengan tatapan sulit diartikan.
"Mom, aku tidak akan mengikuti perintahnya sampai kapan pun. Aku bukan Anna yang penurut. Mom...Bukankah setengah saham Perusahaan Matteo group sudah berada di tangan kita. Jadi untuk apa lagi kita mengais-ngais di kaki kakek tua itu" bantah Viona dengan raut wajah kesalnya.
"Sampai kita berhasil menghancurkan Anna! sedari dulu ibu tak ada tempat di keluarga ini. Ibu Anna selalu mendapatkan segalanya dan dipuja-puja seperti tuan putri oleh kakek tua itu. Sedangkan Ibu terus saja dicaci maki dan tak pernah dianggap. Maka dari itu, ibu akan membalas dendam kepada Maira lewat putrinya" ucap Rose dengan dendam membara di relung hatinya.
"Aku mendukungmu mom" ucap Viona lalu memeluk ibunya.
🍁🍁🍁🍁
Pagi kembali menyapa, tampak Anna bersiap-siap berangkat ke kantor. Penampilannya begitu rapi dan selalu saja memukau membuat siapa saja terpesona akan kecantikannya. Sehingga tak salah lagi jika dirinya di sebut sebagai primadona kantor, apalagi menjadi CEO di perusahaan ternama di negaranya.
Anna berdiri sambil menenteng tas kerjanya di depan pintu utama menunggu supir pribadinya yang masih memanaskan mesin mobil. Sementara di dalam sana, keluarganya sedang sarapan bersama tanpa kehadirannya. Dikarenakan Anna tak pernah lagi bergabung bersama mereka hanya sekedar sarapan bersama di ruang makan dan hal itu sang kakek sangat memakluminya.
Terlihat penampilan Anna sangat elegan dengan pakaian kantornya. Kemeja putih dipadukan blazer krem dan bawahan nya berupa rok sepan berwarna krem sebatas lutut melekat sempurna di tubuh rampingnya. Riasan wajahnya tampak natural tanpa polesan make up tebal. Rambutnya dicepol agar tampak rapi dan tak menggangu penampilannya.
"Silahkan masuk nona" ucap supir pribadinya membukakan pintu mobil untuknya.
"Terima kasih pak" Anna bergegas masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang dengan tenang.
Mobil yang membawanya melaju meninggalkan kediamannya menuju perusahaan Matteo group.
"Selamat pagi nona Matteo" sapa Gea menghampiri atasannya yang baru saja turun dari mobil.
"Pagi Gea" ucap Anna tersenyum sambil merapikan blazer nya lalu melangkah memasuki gedung pencakar langit yang merupakan kantor sekaligus tempat untuk menambah pundi-pundi uang.
"Jadwal anda pagi ini, meeting dengan klien perusahaan Antara Group, lanjut makan siang dengan kolega bisnis anda. Lalu dilanjutkan dengan melakukan bakti sosial di rumah sakit Matteo Sehati" ucap Gea melapalkan jadwal atasannya hari ini sambil bergerak membuka pintu ruangan atasannya dan tak lupa mempersilahkannya masuk.
"Ya Gea, jadwalku cukup padat hari ini" ucap Anna tersenyum masuk ke ruangannya.
Anna langsung menduduki sofa di dalam ruangannya dan bersamaan pula Gea menata sarapan untuknya di atas meja yang sempat di pesan untuk atasannya.
"Terima kasih Gea, kau bisa lanjutkan pekerjaanmu" ucap Anna tersenyum dan Gea langsung undur diri keluar dari ruangan atasannya.
Anna segera memakan sarapannya terlebih dahulu sebelum memulai aktivitasnya. Setelah itu, barulah dia bergelut dengan berkas penting dan mengikuti seluruh jadwal hari ini.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain, tampak seorang pria baru saja selesai berolahraga di ruangan gym di kediamannya. Kaos hitam yang melekat di tubuh atletisnya sudah dibanjiri keringat. Dia pun bergegas membuka baju kaosnya hingga roti sobek nampak jelas di perut sixpack nya.
Tangannya cekatan memegang handuk melap keringatnya hingga perhatiannya teralihkan saat mendengar langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya.
"Jack, kau selalu saja masuk tak mengetuk pintu" tegurnya kepada tangan kanannya.
"Maaf tuan Leo, pintu ruangan anda sedikit terbuka" ucap Jack membela diri.
"Kau sudah membawanya?" tanya Leo sambil mengalihkan pandangannya ke arah Jack.
Jack hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya lalu meletakkan amplop coklat di atas meja yang tersedia di ruangan tersebut. Leo mendekat mengambil amplop coklat tersebut lalu membukanya.
Hal pertama yang mampu dia liat adalah foto seorang wanita cantik tampak tersenyum merekah dengan lesung pipi menghiasi wajahnya, membuat pria bermanik hitam itu mengepalkan tangannya.
"Tuan" tegur Jack untuk mengalihkan dunia tuannya sesaat.
"Ya!" Leo meremas foto wanita itu hingga koyak lalu memeriksa berkas lainnya.
Aku tidak sabar membalaskan dendam ku kepadamu.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya BESTie 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Junaidi
lanjut semangat thor
2022-10-30
0
Fatma
lanjut
2022-10-30
0
ara alvaro vivo
semangat thor,,lanjut dong💪💪💪💪💪
2022-10-28
1