Setelah pergumulan panas yang terus berulang sepanjang malam, Tiara pun kembali lelap dalam tidur. Bayu tersenyum puas, tanpa Tiara sadari empat dari tujuh titik di tubuh Tiara telah terbuka. Itu artinya Bayu bisa dengan mudah menguasai raga Tiara.
"Tumbal pertama harus disiapkan dua Minggu dari sekarang, jangan sampai terlambat!" Nyai kembang mengingatkan Bayu.
"Dia akan siap sebelum itu," senyum licik Bayu tersungging di sudut bibirnya.
Tepat sebelum adzan subuh berkumandang, Bayu menghilang. Tiara masih lelap dalam tidurnya hingga bunyi alarm di ponselnya berdering memekakkan telinga. Matanya masih terpejam, seperti biasa ia mencari keberadaan Bayu.
"Hhm, udah pergi aja dia." Tiara menggerutu dengan mata terpejam.
Dengan malas Tiara menegakkan tubuhnya yang polos, ia tersenyum membayangkan malam panas bersama Bayu. Tak pernah dibayangkan sebelumnya jika Tiara bisa memiliki seorang kekasih, apalagi tampan dan sangat memuaskan di ranjang.
Ponsel Tiara kembali berbunyi, nomor tak dikenal. Kening Tiara berkerut, "Siapa ya?"
Dengan ragu ia pun menjawab, "Ya, siapa ini?"
"Mbak Tiara ya, saya Arka?" sahut suara diseberang sana, Tiara kembali mengernyit.
"Arka siapa?"
"Wah mbak Tiara, kita kemarin baru kenalan lho masa udah lupa?" suara diseberang sana terdengar kecewa.
Tiara mencoba mengingat tapi memang dia lupa siapa Arka tapi dengan sopan ia pun menjawab, "Maaf mas Arka saya beneran lupa. Maaf ya saya harus siap-siap kerja, udah dulu ya!"
Tanpa basa basi Tiara menutup teleponnya. "Pagi-pagi nggak ada kerjaan apa ni orang! Ganggu orang ngelamun aja!"
Dengan bersungut-sungut Tiara masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa pergumulan panas bersama Bayu.
"Lebamnya kok ada lagi sih, apa aku terlalu capek ya?" gumamnya sambil mengeringkan rambut, ia memperhatikan warna biru keunguan yang muncul membayang di permukaan kulit.
Tiara mematut dirinya di cermin, kemarin untuk kali pertama Tiara merasa bahagia sebagai seorang wanita. Mata para pria selalu menatapnya takjub. Perhatian kaum Adam yang selama ini selalu diinginkan. Matanya tertuju pada kotak kuno di meja, ada secarik kertas yang terselip di bawah kotak itu.
"Surat lagi? Bayu?" Tiara membacanya dengan perlahan.
Pagi bidadariku, sudah mandi pasti kan?
Maaf aku pergi tanpa pamit, ada keperluan mendadak tadi. Maaf juga karena nggak sempat kasih hadiah kejutan langsung. Aku diburu waktu.
Kamu suka kan sama hadiahnya, itu hadiah spesial untuk bidadariku tersayang. Bedak itu barang langka yang susah banget dapetnya jadi pakai terus ya setiap hari. Aku spesial kasih bedak ini karena bedak ini bukan sembarang bedak. Ini warisan leluhurku.
Bedak ini bisa bantu kamu dapatin semua keinginan yang kamu mau. Bedak ini juga bisa bikin pemiliknya sangat cantik, aura kamu yang tersembunyi bisa dikeluarkan kalau kamu pakai dengan teratur.
Tiara berhenti membaca sejenak lalu mengambil bedak dari tasnya. "Oh, pantesan aja kemarin rasanya beda pakai bedak ini. Mungkin kemarin auraku langsung kebuka ya,"
Tiara kembali melanjutkan membaca surat Bayu.
Ada syarat yang harus kamu kerjakan untuk menyempurnakan khasiat bedak ini. Aku harap kamu bisa melakukannya. Setiap malam Selasa Kliwon dan pada hari pasaran kelahiran mu berendam lah dengan air bunga tujuh rupa yang sudah diberi wewangian khusus. Basahi seluruh tubuhmu dengan air bunga itu.
"Hhm, berendam di air bunga? Oke, itu gampang kok."
Saat memakai bedak di wajahmu ucapkan mantra ini sebanyak tiga kali.
Aku titise Dewi Sri
……
Esemku kadya Sri Widara
…,.....
Teko welas teko lutut teko asih
……
Tiara menirukannya dengan mudah, memori di dalam pikirannya muncul ke permukaan dengan sendirinya.
"Aneh, aku kok hafal? Ah sudahlah yang penting ini bedak bawa hoki buat aku! Kapan lagi aku dapat perhatian dari orang banyak terutama, laki-laki!"
Senyum bahagia menghiasi wajah Tiara, ia melakukan apa yang diperintahkan Bayu. Melapisi wajahnya dengan bedak ajaib sebanyak tiga kali sembari melafalkan mantra. Keajaiban memang terjadi, wajah Tiara memancarkan aura magis yang tak biasa. Bersih mulus dan begitu memikat. Hampir tak ada cela yang terlihat dari wajah ayunya.
Dengan penuh percaya diri Tiara pergi bekerja. Hal yang sama seperti kemarin terjadi lagi. Tiara hanya tersenyum dan merona saat pujian, godaan, dan teriakan nakal dilontarkan untuknya. Tiara merasa di atas awang-awang dan menikmati kondisinya sekarang.
Setibanya di booth, Tiara terkejut dengan empat pot bunga yang berjajar rapi. Anita tengah asik mengagumi keindahan bunga yang ditata dalam pot-pot kecil.
"Ada acara apa nih mbak, tumben banyak bunga?"
"Nah ini dia yang punya bunga dateng!" sahut Anita dengan senyuman.
"Maksudnya gimana?"
"Cck, bunga-bunga ini semua dikirim buat lo! Gitu aja nggak paham sih!" Rio berkata dengan sinis.
"Buat aku? Siapa yang kirim?" Tiara terperangah dan melihat kartu yang masih terselip diantara kuntum bunga. "Arka,"
"Dari siapa Ra?" Anita mendekati Tiara dan ikut membaca, "Wiih, baru sehari kerja penggemarnya nggak nguatin aja nih!"
Tiara hanya tersenyum, ia tidak nyaman dengan sindiran Anita. "Ya nggak tahu mbak, siapa tahu ini salah kirim." jawabnya datar, Tiara memindahkan pot-pot bunga itu ke sisi lain booth agar tidak menghalangi pandangan.
"Salah kirim gimana? Yang nerima gue, dari si Arka langsung katanya buat Tiara. Nama lo Tiara kan?" Rio bertanya dengan sarkas, dan lagi-lagi Tiara hanya bisa tersenyum masam.
Sejak hari pertama Tiara bekerja di bagian informasi, Rio memang selalu bersikap tak menyenangkan. Lebih banyak diam dan memperhatikan Tiara. Berbeda dengan Anita yang lebih enak diajak bicara.
"Ra, kamu liat bapak-bapak itu nggak sih dari kemarin?" Anita tiba-tiba saja mencolek tangan Tiara, ia mengedikkan kepala menunjuk ke arah salah satu pilar besar di sayap kiri mall.
Mata Tiara terbelalak, "Pak Amrin?"
"Pak Amrin siapa Ra? Kamu kenal?" Anita penasaran pada sosok lelaki yang ia lihat dari kemarin mondar mandir di depan booth.
"Kepala bagian di tempat aku dulu mbak! Dia juga yang jadi alasan aku pindah kesini!"
"Eeh, kenapa emangnya?"
"Hhm, ditolak cinta sama saya mbak!" Tiara terkekeh geli berusaha menutupi kejadian sebenarnya.
"Iiish seriusan nih! Masa sih dia suka sama kamu? Udah tua bangka gitu juga, mending ganteng lha ini bangkotan!" ujar Anita yang ikut tertawa geli.
"Halah, bangkotan kalo duitnya banyak juga lo doyan Ta!" Rio menimpali, tangannya asik memainkan game di ponselnya.
"Kamu sih sukanya nyamber kayak geledek! Jangan main game terus di skors lagi tahu rasa kamu!" Anita bersungut kesal.
Tiara hanya tersenyum melihat kedua rekannya. Matanya kembali menatap ke arah pak Amrin yang masih berdiri di tempatnya. "Ngapain sih dia masih disitu?!" gumamnya kesal.
Tiara mengabaikan pak Amrin yang masih berdiri di tempatnya, sebuah panggilan penting untuk seorang ibu mengalihkan pandangannya. Tiara memilih kembali bekerja. Mengabaikan kehadiran pak Amrin yang memendam amarah.
"Awas kau Tiara, aku akan mendapatkanmu apapun caranya!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Namika
calon tumbal pertama wo bayu noh 😱😱
2022-12-11
4
Ali B.U
next
2022-11-17
2
Ali B.U
baca ini pak Amrin ketika mau tidur tapi harus dalam keadan suci " y nuron nuri ya mudab biron umri baliq ani rucha ...( nama orang yang di tuju ) ... wa azwaja ala.. ( nama orang yang di tuju ) ... tackiyatan wasalam" biar Tiara langsung klepek-klepek dan om Wowo langsung minggat انشا الله
2022-11-17
6