Jerat Mimpi

Pintu rumah Tiara tertutup rapat, matahari sudah tepat diatas kepala saat Bu Rus dan Bu Irah duduk-duduk di teras. Menikmati semilir angin ditemani rujak buah dengan bumbu manis pedas.

"Jeng, itu lihat si Tiara ngapain coba keluar masuk rumah udah kek orang bingung!" kata Bu Rus sambil memasukkan potongan buah jambu ke dalam mulutnya.

"Lah iya, tadi aku lihat dia malah ngomong sendiri sama senyum senyum sendiri gitu lho. Soyo suwe kok ketoke Tiara ngedyan!" Mulut bu Irah asik mengunyah potongan buah mangga yang baru saja dipotongnya kecil kecil. (lama kelamaan kok Tiara gila!)

"Aku ki sakjane(sebenarnya) pengen ngerti lho bapake si Tiara kayak apa! Denger-denger dia itu bos retail yang di plaza anu itu ya? Bener nggak sih?" Bu Rus meminum es teh yang sengaja mereka buat sebagai pendamping rujak.

"Lha mbuh, aku yo gak weruh jeng! Lha wong ibue dulu  juga nggak pernah cerita sama aku!" jawab Bu Irah santai, ia asik memotong jambu merah untuk tambahan buah dipiring.

"Lha sampeyan dulu deket to sama Bu Fani?"

"Ya nggak sih, cuma deket bentar abis itu dia meninggal to!"

Kedua ibu tetangga Tiara itu melanjutkan kembali percakapan sambil menikmati semilirnya angin siang. Seorang wanita paruh baya berdaster dan rambut penuh roll rambut tergopoh-gopoh mendekat. Ia celingukan melihat situasi.

"Eeh jeng Irma, ada apaan sih kek baru ketemu setan aja?!" Bu Rus bertanya sambil terus mengunyah buah di mulutnya.

Ia terlihat mengintai rumah kontrakan Tiara lalu ikut duduk bersama Bu Rus dan Bu Irah. 

"Eh kalian tahu nggak semalem ada kejadian aneh di halte sana!" mata Bu Irma mendelik mengisyaratkan sesuatu yang luar biasa.

"Opo to kok heboh men!" Bu Rus mulai penasaran.

"Itu jeng katanya semalam ada penampakan bus hantu dan kalian tahu nggak yang keluar dari bus siapa, ya si Tiara itu!"

"Eh, serius jeng?! Trus gimana?" Bu Irah ikut nimbrung bertanya.

"Anakku dikasih tahu temannya, mereka lihat sama mata kepala sendiri si Tiara itu beneran turun dari bus medeni (nakutin) itu lho jeng!" tangan Bu Irma mencomot potongan buah yang diberi sambal.

"Bukan itu aja jeng, jarene ki si Tiara koyo wong gemblung! Ngomong dewe karo cengar cengir rak nggenah tekan omah kuwi!" lanjut Bu Irma lagi.

"Hah!" Bu Rus dan Bu Irah kompak terkejut, mereka saling memandang.

"Tenane ki jeng, ora ngapusi to?" Bu Rus mencoba memastikan kebenaran cerita Bu Irma. (beneran ini jeng, nggak bohongan kan?)

"Healah sumpah disamber geledek aku jeng! Saksi matane itu banyak nggak cuma teman anakku!"

"Walah, itu si Tiara emang agak-agak! Wes koyok ibue, ora nggenah!"

"Lha kok dadi nggowo ibue to jeng!" Bu Irma kembali mencomot potongan buah dan menuangkan es teh ke gelas kosong.

"Lha iya, ibue kan juga rodok nganu! Sampai mau dijadikan istri simpanan bos, nyatane mana? Sugih yo ora malah melarat iya! Akhirnya kan kasian dah tuh anak-anak mereka. Diaku nggak, ditelantarin iya!" Bu Irah mencibir keluarga Tiara tanpa henti.

Bu Irah berceloteh tentang banyak hal yang ia dengar dari tetangga Tiara di tempat sebelumnya. Mereka tak peduli bagaimana seandainya Tiara mendengarnya. Tak ada anak yang meminta dilahirkan dalam keadaan seperti Tiara. Garis takdir terkadang berjalan tidak sesuai keinginan manusia.

"Eh, Kayaknya tadi aku lihat dia ada tamu ya?" Bu Irma teringat maksud kedatangannya tadi sebelum asik bergosip.

"Tamu? Masa sih, kita dari tadi duduk disini nggak lihat tuh ada orang datang. Memang sih tadi dia buka pintu tapi trus … eh iya, cengengesan dewe to jeng Rus? Liat nggak tadi?" Bu Irah bertanya pada Bu Rus sembari mengingat kejadian tadi.

"Walah iya, Tiara cengengesan terus masuk lagi ke rumah." sahut Bu Rus.

Ketiganya saling memandang sejenak, lalu kembali bergosip tanpa henti. Mereka tidak menyadari dari kejauhan ada sosok tak kasat mata yang memperhatikan mereka. Mata merahnya nyalang menantang, menanti saat yang tepat untuk membalas perbuatan mereka.

Bayu tidak terima jika Tiara dijadikan bahan gunjingan para ibu-ibu kurang kerjaan itu. Ia menggeram dari balik gelap dan berjanji akan membalas ketiganya. Tak ada yang boleh menyakiti kekasihnya, tak seorangpun.

...----------------...

Pintu rumah Tiara terkunci dari dalam, Bayu yang melakukannya. Ia ingin menjaga Tiara dengan caranya sendiri. Menggoda dan mendapatkan hati Tiara untuk mendapatkan sukma manusia sebagai kekuatannya.

Bayu memandang wajah Tiara yang baginya terlihat sangat cantik dan menggairahkan. Hasratnya menggebu hanya dengan menyentuh Tiara. Nafasnya yang berat terdengar berhembus kasar. Bayu berniat kembali menggoda Tiara di alam bawah sadarnya.

Bayu menarik Tiara dalam pelukan hasratnya. Dalam mimpinya Tiara memang bertemu Bayu, mereka berlarian di padang rumput luas dengan senja menawan. Suasana romantis sengaja dibuat Bayu agar Tiara larut dalam ilusinya.

"Tiara, kamu cantik sekali." puji Bayu saat keduanya lelah berlari.

Tiara tersenyum dan membingkai wajah tampan Bayu. "Kamu juga tampan sekali."

Mata bertemu mata yang akhirnya turun mengagumi kesempurnaan semu yang diciptakan Bayu. Kecupan menggoda diberikan Bayu di sudut bibir Tiara. Kecupan yang awalnya lembut berubah menjadi liar dan menuntut. Bayu dengan lihai mengeksplor posesif bibir lembut Tiara.

Tangan Bayu mulai menggoda dan menjelajah bagian depan tubuh Tiara. Menyusup ke balik kain tipis yang menutupi tubuh Tiara. Satu ******* lolos dari mulut Tiara. Kenikmatan yang belum pernah ia rasakan.

Tiara semakin dalam mencium Bayu menekan kepala belakang Bayu agar semakin dalam menjelajah dengan permainan lidahnya. Deru nafas memburu dari keduanya, menikmati setiap sensasi gairah yang meletup ke permukaan.

Bayu mulai melepaskan kain penutup tubuh Tiara, begitu juga dengan Tiara yang dengan agresif melakukan hal yang sama pada Bayu. Mereka bergumul, menyentuh, mengusap dan membelai titik-titik sensitif yang semakin membakar gairah keduanya. Hingga keduanya pun mendapatkan pelepasannya masing-masing.

Tiara terlena dalam hasrat yang diciptakan Bayu. Ia mengikuti apapun kemauan Bayu, melakukannya lagi dan lagi tanpa lelah. Dalam mimpinya Tiara berkali-kali mendapatkan pelepasan yang tak pernah dirasakannya, ia terus mend*s*h dan menger*ng nikmat di bawah kungkungan Bayu. Tiara terjebak dalam kenikmatan alam bawah sadarnya.

Beberapa jam kemudian, Tiara terbangun dengan rasa lelah yang luar biasa. Selimut yang menutupi tubuhnya terlempar sedikit jauh darinya. Pakaiannya berantakan dan ada rasa sedikit tak nyaman di bawah sana. 

"Aku mimpi basah lagi? Bayu?" Tiara mencari keberadaan Bayu. Tapi tak ada siapapun di rumah selain dirinya.

"Apa yang terjadi? Apa mungkin Bayu melakukannya sebelum pergi?" 

Tiara duduk lemas, ia merasa dibodohi Bayu. Ia takut Bayu memberinya sesuatu hingga tertidur lelap dan Bayu melakukan hal yang tidak seharusnya. Tapi kecurigaaan Tiara pada Bayu terpatahkan.

"Pintunya kekunci dari dalam, dirumah nggak ada siapa-siapa. Berarti aku yang mengunci pintu kan?"

Tiara mencoba mengingat tapi tak mampu. Ia meraba tubuhnya sendiri, "Sentuhan itu terasa begitu nyata,"

Ia menyentuh bagian bawah tubuhnya yang basah, "Basah beneran, mimpi yang begitu nyata."

Selarik senyum terbit di bibir tipis Tiara. Meski hanya mimpi tapi Tiara menikmatinya. Tiara yang kesepian, Tiara yang malang.

Ia tak lagi peduli dengan lebam-lebam yang muncul dan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa waktu. Pikirannya larut dalam pesona Bayu yang menyapanya nakal di alam mimpi.

Bayu tersenyum melihat Tiara kebingungan. Gadis itu kini menjadi miliknya. "Sedikit lagi kamu akan terikat padaku selamanya!"

Terpopuler

Comments

pocecipnya mulai keluar. habisi para ibu ibu rese itu, bro. hahaha.

2024-05-02

0

ini baru beneran bahasa Semarangan.

2024-05-02

0

Astiah Harjito

Astiah Harjito

Kok pengulangan2 sih

2023-01-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!