Kegilaan Pak Amrin

Bayu memeluk Tiara dalam dinginnya hujan. Membawanya pulang ke rumah dengan sebuah harapan kelegaan. Tiara ingin berbagi cerita dengan seseorang dan itu Bayu. 

Hujan deras masih mengguyur kota, meski memakai payung tapi pakaian Tiara tetap basah kuyup. Terang saja, karena apa yang Tiara lihat hanyalah sebuah ilusi. Tak ada Bayu dan tak ada payung yang melindunginya dari hujan. 

Tiara hanya terlihat oleh mata normal sedang berbicara sendiri dalam derasnya hujan. Ia bahkan berjalan menghalangi laju kendaraan lain.

"Gila tuh cewek dari tadi jalan ngalangin melulu, udah tabrak aja kenapa sih!" 

Seorang lelaki berdasi kesal dengan tingkah Tiara. Bunyi klakson berkali-kali terdengar tapi Tiara sama sekali tak mengindahkan. Ia pun memerintahkan pada sang sopir untuk melaju mendahului Tiara.

 Kaca mobil diturunkan, ia siap memaki saat matanya menangkap sosok tak biasa yang mengerikan ada di sebelah Tiara. Sosok bermata merah dengan seringai mengerikan bertaring tajam, menatap ke arahnya. Matanya seperti jilatan api yang membara, lelaki berdasi itu pun gemetaran.

Apalagi ketika sosok itu kemudian menjulang tinggi hingga dua kali lipat dari tinggi normal. 

"Ce-cepat per-pergi!" titahnya tergagap pada sang sopir, tanpa menunggu lama mereka pun tancap gas berlalu melewati Tiara dengan cepat.

Tangan Bayu yang besar dan berkuku panjang kehitaman melindungi Tiara dari cipratan air yang menggenang. Dengan mudahnya ia memindahkan tubuh Tiara agar sedikit bergeser ke pinggir jalan. Bayu tak ingin kejadian serupa terulang dan menyakiti Tiara, gadis yang perlahan ia cintai.

Tiara sampai juga di rumah kontrakannya yang hangat. Ia segera berganti pakaian, menyiapkan dua gelas teh manis untuk menghangatkan badan.

"Makasih," ucap Tiara singkat.

"Untuk apa?" Bayu bertanya sambil menatap wajah sendu Tiara, ia merapikan rambut Tiara yang basah dan sedikit acak acakan.

"Untuk selalu ada, saat aku butuh teman." jawab Tiara, matanya merebak kemerahan.

Dagu Tiara terangkat lembut, Bayu menariknya dalam satu kecupan singkat di bibir. "Ceritain, ada apa?"

Bibir Tiara gemetar menahan tangisnya. "Hidup rasanya berlaku tak adil padaku,"

"Kenapa kamu bilang begitu?"

Lelehan air mata akhirnya tak lagi mampu dibendung, Tiara berada di titik lemahnya. Ia pun bercerita tentang harinya pada Bayu. Tentang pak Amrin yang hendak memperistri Tiara sampai Rendra yang menyerahkannya pada Toni sebagai jaminan hutang. Bayu mendengarkannya dengan sabar.

"Apa kamu yakin dengan ucapan pak Amrin? Bisa aja kan dia bohong, demi dapetin kamu?"

"Mungkin sih, tapi dia nggak akan berani berlaku begitu kalau nggak tahu sesuatu kan?"

Tiara menghela nafasnya dengan berat, tangisnya sudah mereda berganti dengan kelegaan. Ia menatap Bayu yang terlihat begitu tampan dengan wangi tubuh anehnya. Hidung Tiara mencium wangi bunga yang tak biasa.

 "Parfum kamu apa sih, baunya kok … enak." Tiara sedikit ragu dengan pertanyaannya. Ia baru menyadari aroma ini setelah beberapa kali bertemu.

"Kenapa, kamu suka? Ini wangi yang khusus di racik dan jadi aroma khas warisan turun temurun."

Tiara tidak menjawab lagi, tatapan mata Bayu menghipnotis dirinya untuk mendekati Bayu. Perlahan tapi pasti wajah keduanya mendekat, Tiara mencium bibir Bayu. Ia tersipu malu karena mengambil inisiatif terlebih dahulu.

"Maaf, ini ucapan terima kasih ku."

Wajah Tiara membayang di mata Bayu yang jernih, Bayu tak menjawab tapi langsung menariknya dalam ciuman hangat yang menuntut. Bayu mengusap punggung Tiara memberikan sensasi membakar pada tubuh Tiara.

Malam yang dingin dan hanya berdua di dalam rumah membuat Tiara berani membalas setiap tindakan Bayu. Tiara mendambakan Bayu setelah mimpi basahnya kemarin. Ia ingin merasakan yang sesungguhnya di dunia nyata.

Nafas keduanya menderu, suara erangan dan ******* berhasil dikeluarkan Tiara memenuhi ruangan sempit di rumahnya saat Bayu memperlakukan puncak dadanya dengan penuh hasrat. Meninggalkan jejak kemerahan bertebaran pada leher dan dada putihnya.

Saat Tiara hampir membuka seluruh pakaiannya, Bayu berhenti.

 "Cukup Tiara," ia mengatur nafasnya dan Tiara pun kecewa. Hormon wanitanya sudah berada di puncak, ia ingin mendapatkan pelepasan seperti dalam mimpinya.

"Maaf," satu kata penyesalan lolos dari mulut Tiara, ia bertingkah layaknya gadis kesepian yang berhasrat liar. 

Bayu mengusap wajah Tiara lembut, "Akan ada waktunya nanti, tapi tidak sekarang."

Wajah Tiara merona menyadari kesalahannya. Bayu benar mungkin mereka harus menikah terlebih dahulu atau mungkin menjalin hubungan sebelum melakukan hal yang lebih intim.

Tiara yang malang, cintanya hanyalah semu. Tapi sejujurnya Bayu mulai menyukai Tiara, selama 24 jam ia ada di sisi Tiara menjaga dan mengawasinya. Apalagi perannya sebagai penjaga bedak Nyai Kembang yang harus membuat sang pemilik jatuh hati padanya.

Bayu membantu Tiara berpakaian, tak ada kata yang keluar dari bibir Tiara hanya senyum malu saat Bayu ikut mengancingkan kemejanya.

"Apa rencana kamu habis ini? Kamu terima tawaran pak Amrin atau …,"

"Aku nggak mau jadi istrinya. Aku masih waras." tukas Tiara cepat.

"Terus?"

"Aku tetap masuk kerja besok, kalau dia lapor ya aku hadapin. Manajer juga harus tahu kalau aku nggak salah. Tapi, aku takut kalo pak Amrin macam-macam ke aku."

"Aku bakal jagain kamu kok, tenang aja."

"Gimana caranya? Kamu kan nggak bisa di dekatku terus terusan. Kamu juga harus kerja."

Bayu tersenyum, menyugar rambut Tiara lembut. "Aku sudah janji bakal jagain kamu kan, dan itu akan aku tepati. Percaya sama aku, sayang."

"Sayang?" hati Tiara menghangat mendengarnya.

"Kamu keberatan sama panggilan itu?"

Tiara menggeleng cepat, "Nggak, aku suka."

Bayu tersenyum lalu kembali mencium bibir lembut Tiara hingga gadis malang itu kehabisan nafas. "Kamu cantik, sangat cantik."

*****

Keesokan harinya, Tiara berangkat kerja seperti biasanya. Semalam Bayu pergi begitu saja saat Tiara tertidur, hanya ada pesan penyemangat untuknya dari Bayu pagi ini. Tiara tak lagi mempermasalahkan kedatangan Bayu yang datang dan pergi tanpa permisi.

Ia menghentikan langkahnya sejenak saat berada di depan mall. Tiara memperhatikan sekitar, ia takut jika orang suruhan Toni benar-benar datang mengejarnya. Ia pun menarik nafas panjang dan melangkah dengan berat. Jantungnya berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya. Sebisa mungkin ia ingin menghindari pak Amrin.

Setibanya di ruang ganti, Tiara bergegas melepas pakaiannya. Santi belum datang jadi ia harus segera siap dan memulai pekerjaannya sendiri. Satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya dilepas dan hanya menyisakan baju dalamnya saja.

Sepasang mata menatap Tiara dari tempat yang tersembunyi. Nafasnya menderu saat melihat tubuh molek Tiara. Sebenarnya Tiara tidak jelek juga, kecantikannya tersembunyi dengan wajah lelah dan kusamnya. Tubuhnya juga tak kalah seksi dari model yang melenggak lenggok di catwalk, sintal dan berisi.

Tiara tak menyadari ada pengintip di salah satu sudut ruangan. Ia berganti pakaian dengan cepat dan segera keluar. Pak Amrin, si pengintip keluar dari persembunyiannya. 

"Aku akan mendapatkan mu Tiara!" 

Jakunnya naik turun membayangkan tubuh Tiara di ranjangnya. Miliknya yang tersembunyi di dalam celana mengeras dengan cepat, dan pak Amrin bertekad melepas ketegangan itu pada Tiara nanti.

Untuk sementara ia hanya bisa mengusap kejantanan miliknya sendiri, membayangkan gerakan erotis Tiara menari diatas tubuhnya dan menggoyang kejantanan pak Amrin dengan lembut. Pak Amrin melakukannya sendiri sembari menciumi pakaian Tiara di dalam loker, mencecap aroma tubuh Tiara yang terasa membakar hasratnya.

Oh, Tiara …,

Terpopuler

Comments

penuh tipu daya . hmmm .. apakah patut ditiru ? 😅

2024-05-03

0

apa saja komposisinya ? 🤔

2024-05-03

1

Namika

Namika

penjahat kelamin😡

2022-12-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!