Hasrat Tiara

Bayu dan Tiara berjalan menembus malam, mencari amunisi perut yang mulai kosong termakan hasrat. Sepanjang jalan keduanya bersenda gurau hingga sampai ke tempat angkringan favorit Tiara. Cuaca lumayan cerah meski tak berbintang setelah gerimis mengguyur Semarang sore tadi.

Tiara mengambil tempat di tikar kosong yang ada persis di dekat tanah lapang. 

"Kamu mau pesan apa?" Tiara bertanya setelah Bayu duduk di tikar, berhadapan dengannya.

"Apa aja terserah."

"Oke, bentar ya!"

Tiara mendekati si penjual, pemuda eksotik berambut cepak dengan tato menghiasi lehernya. Cukup nyentrik untuk penampilan seorang penjual angkringan.

"Mas, jahe susu dua, nasi, sate puyuh, ati ampela, sama ususnya sekalian masing- masing empat. Nggak pake lama mas laper!"

Pemilik angkringan dan asistennya, saling berpandangan. Mata keduanya mengisyaratkan satu pertanyaan tanpa suara 'Mbaknya nggak waras?'

Tanpa menunggu jawaban Tiara kembali pada Bayu dengan berseri seri. Sementara pemuda pemilik angkringan menatap heran.

"Mas, kamu dengernya tu si mbak pesen dua kan? Lah mana temennya?"

"Iya, aku dengernya dua. Mungkin temannya belum datang!" sahut pemuda bertato sambil melirik lagi ke arah Tiara yang kini terlihat asik bicara sendiri.

"Mbak'e stres tibak e mas! Lihat tuh kenapa ngomong sendirian!"

Pemuda bertato dan bertindik telinga pun menghentikan kegiatannya. Ia menatap intens ke arah Tiara, memastikan kebenaran perkataan rekannya itu.

Terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang. "Mbak'e kena sawan, udah biarin aja! Yang penting dia bayar pake duit asli! Kerja neh, ora usah mbok gagas!"

"Eh, mas'e ndelok opo? Waduh apes men, ayu - ayu sawanen to?!"

(Eh, mas liat apa? Waduh kok apes bener, cantik-cantik kena sawan?!)

Pemuda bertato bernama Raka itu hanya tersenyum sinis, energi Bayu bisa ia rasakan. Lelembut berbulu serupa lelaki tampan di dunia manusia itu juga merasakan hal yang sama. Bayu menatap Raka dengan tajam, mata merahnya menyala bak api yang siap membakar tempat itu.

"Jangan ganggu kami, dan kau akan selamat!" Bayu mengancam Raka, sementara yang diancam tersenyum balas menatap.

"Aku nggak minat campuri urusan kalian! Jangan cari masalah disini, dan pergilah!" 

Raka membuat garis batas gaib untuk melindungi para tamu yang lain. Ia tak ingin ada kejadian aneh yang membuat para pelanggannya ketakutan. 

Apa sebenarnya yang mbaknya itu lakukan sampai si jelek berbulu terus menempel pada tubuhnya? Aku kasihan sama dia. Ujar Raka dalam hati.

Raka melanjutkan kembali pekerjaan, membuatkan pesanan para pelanggan yang lain. Tapi khusus untuk Tiara dan teman berbulunya itu, dia akan mengantarnya sendiri. 

"Ini pesanannya mbak," sapa Raka pada Tiara, Bayu menatapnya tajam. Ia merasakan ancaman dari energi Raka. 

"Mbak, temennya namanya siapa? Saya boleh kenalan?" senyum Raka mengembang, ia meletakkan segelas susu jahe hangat di depan Tiara.

"Bayu mas, boleh lah masa nggak sih! Kali aja kalian bisa berteman juga."

Raka tersenyum masam, ia kembali melirik Bayu yang di mata Raka ada dalam bentuk sejatinya. Raka berpura pura melihat Bayu seperti apa yang dilihat Tiara.

"Salam kenal mas Bayu, saya Raka!" 

Ia mengulurkan tangan, tapi tak disambut Bayu. Hanya geraman kasar yang terdengar di telinga Raka disertai mata merah menyala yang mengerikan. Raka tak peduli, ia ingin menekankan pada Bayu untuk segera pergi.

"Segera selesaikan urusan kalian dan pergilah! Jangan bikin takut yang lain!" ujar Raka setengah mengancam.

Tentu saja perkataan Raka tidak terdengar Tiara, Raka menulikan pendengaran gadis ayu itu. Ia asyik menyantap makanannya, pada penglihatannya kedua lelaki itu sedang asik mengobrol. Mata batin Tiara belum terbuka sepenuhnya, apa yang ia lihat hanya sebatas ilusi semu.

Setelah beberapa lama saling mengancam akhirnya Raka berpamitan. Tabir tipis tercipta sesaat setelah Raka melangkah pergi. Tabir untuk menutup pandangan yang lain dari sosok lelembut berbulu. 

"Pie mas, aman?" tanya asisten sekaligus adik kandung Raka, Tegar.

"Aman, bentar lagi juga pergi! Aku udah kasih dia peringatan."

"Sopo to mas kancane mbak'e?" tanya Tegar penasaran.

Raka mengulas senyum tangannya sibuk menuangkan air panas ke beberapa gelas, "Mas Wowo!"

"Heladalah, diamput! Cen si Wowo ki senenge mbek cah wedok ayu!" Tegar geleng-geleng kepala, mengambil baki besar dan kembali mengantar makanan pada pelanggannya.

Raka terus mengawasi Tiara dan Bayu. Hingga akhirnya mereka selesai makan dan membayar sejumlah uang. 

"Ini uangnya mas, maturnuwun enak banget lho seperti biasanya!" cengiran Tiara mengundang iba dari Raka.

"Mbak, yakin teman mbak baik?"

"Yakinlah, eh kenapa masnya nanya gitu?"

"Nggak!" Raka tersenyum masam, Bayu tengah menatapnya tak suka.

"Mas-nya main aja sama dia kan tadi udah kenalan, tukeran nomor telepon kali aja bisa sahabatan." 

"Nggak deh mbak, makasih!"

Tiara hendak pergi saat tangan Raka menghentikannya, ia menyelipkan secarik kertas. "Mbak bisa hubungi saya kalau ada apa-apa!"

Tiara bingung, tapi melihat kediapan mata Raka ia pun terdiam. "Jangan biarkan dia menguasai mbak, bahaya!"

Tiara diam berusaha mencerna kata-kata Raka. "Ini," ia menatap secarik kertas yang diselipkan Raka.

Raka menggeleng dan mengisyaratkan untuk diam. Entah bagaimana hati kecil Tiara menuruti perintah Raka, ia percaya pada Raka meski tak mengenalnya baik. Anggukan lemah kepala Tiara mengakhiri pembicaraan keduanya.

"Kenapa mas?" Tegar bertanya setelah Tiara berlalu.

"Aku kasihan sama dia, semoga nggak terjadi apa yang aku takutkan!" Raka menatap sepasang makhluk berbeda alam itu, ia sangat berharap Tiara akan menghubunginya lagi.

Setibanya di rumah, suara guruh mulai terdengar lagi tanda hujan akan segera turun. 

"Nah kan, baru aja cerah sebentar udah mau hujan lagi aja!" gerutu Tiara, ia cemas karena harus sendirian di rumah.

"Cuaca lagi nggak bersahabat." sahut Bayu menatap ke luar.

Tiara menatap Bayu, ia ingin Bayu menemaninya malam ini. Wajah Bayu terlihat begitu tampan saat ini. 

"Aku pulang ya," Bayu menoleh ke arah Tiara dan mendapati gadis ayu itu sedang menatapnya dengan aneh.

"Kamu jangan pulang, temani aku disini. Kayaknya mau hujan juga, aku … takut sendirian." tanpa malu malu Tiara langsung mengatakan keinginannya.

Bayu tersenyum, ia tahu gejolak hasrat Tiara mulai muncul. "Serius? Aku nggak tanggung jawab ya kalau ada apa-apa sama kamu."

Tiara diam, wajahnya mendekat ke arah Bayu, nafasnya mulai terdengar berat. "Nggak apa kok, malah ngarep!"

Tiara melingkar kan tangan pada leher Bayu, menatapnya dari jarak sangat dekat lalu berbisik. "Bolehkah aku menginginkan kamu sekarang,"

Bayu tersenyum licik, "Waktunya sudah sesuai sayang, kamu mau melakukannya?"

Tiara mengecup sudut bibir Bayu dan mengangguk, hasratnya menggebu hanya dengan merasakan nafas Bayu yang menyapu wajahnya. Ia mencium Bayu lembut dan berubah menjadi liar dengan belitan lidah keduanya yang menimbulkan sensasi memabukkan.

Bayu melepaskan ciumannya setelah memberikan gigitan kecil di bibir Tiara. Ia lalu menggendong tubuh Tiara dengan mudah, membawanya masuk ke dalam kamar. Menurunkan Tiara diatas ranjang. Hasrat Tiara semakin tak tertahankan.

Ia kembali menyesap manisnya bibir Bayu yang bertaut liar, tangannya mengusap lembut punggung Bayu dan membukanya perlahan. Bayu juga bergerilya di dalam pakaian Tiara. Mengusap lembut punggung, menekan kepala Tiara agar semakin dalam menciumnya, m*r*mas salah satu dari bagian depan Tiara dengan lembut.

Dua gundukan cantik Tiara terlepas dari penutupnya bersamaan dengan lolosnya pakaian Tiara. Dengan cepat Bayu menghimpit Tiara, menyesap lembut pucuk dada yang menegang, memberinya sensasi gelenyar nikmat. Erangan kenikmatan dirasakan Tiara setelah sekian lama menahan hasratnya pada Bayu.

Apalagi Bayu memperlakukan Tiara dengan lembut, memanjakan Tiara dengan sentuhan manis di bagian bawah sana. Tiara merenggangkan kedua kakinya, membiarkan Bayu mengeksplorasi dirinya dengan puas. Ia menjerit dalam nikmat setelah mendapat pelepasan luar biasa dari lidah Bayu yang nakal menggoda.

"Beri aku semuanya, aku menginginkanmu Bayu!" suaranya parau, ia tak tahan lagi ingin merasakan Bayu di kedalaman basahnya.

"Kamu yakin sayang?" tanya Bayu kembali menelusuri leher Tiara menggigitnya sedikit membuat Tiara mel*ng*h nikmat.

Tiara yang mengangguk pelan, matanya terpejam saat Bayu kembali menyentuh bagian bawahnya yang semakin basah. Bayu memberinya sentuhan kenikmatan yang ia impikan. Tak perlu waktu lama, sesuatu yang keras dan panjang menghujam tubuh Tiara, ia menjerit kesakitan, bagian paling primitif dari tubuh Bayu terasa menyesaki tubuhnya. Rasanya sedikit sakit tapi Tiara menikmatinya.

Bayu menggoyang pinggulnya dengan intens, membuat tubuh bagian atas Tiara bergoyang dengan indah ditambah dengan suara ajaib yang memenuhi kamar gelapnya.

Akhirnya Tiara mendapatkan pelepasan sempurna berkali kali. Kejantanan Bayu membuatnya ketagihan, dan ia sangat menikmati permainan Bayu yang terkadang kasar dan sesekali lembut.

Malam itu Tiara memasrahkan diri sepenuhnya pada Bayu. Makhluk halus yang menyaru sebagai pria tampan. Ia tak menyadari Bayu memanfaatkan kesepian dan pengingkarannya pada Yang Kuasa. Menipu Tiara dalam jerat hasrat yang memabukkan. 

Tiara oh Tiara …,

...🍀🍀🍀🍀🍀...

...kok panas padahal dingin 🙈meng anu sekali malam ini...maap yaa kalo rada anu atau kurang anu😅othornya rada2 niih..otw minum panadol dah...

...semoga terhibur yaa...

Terpopuler

Comments

fire on fire .

2024-05-03

0

ada bau bau kemunculan pemeran utama pria bernama Raka.

2024-05-03

0

kalau di Semarang disebutnya kucingan.

2024-05-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!