Rayuan Bayu

Tiara terkejut dengan kedatangan Bayu, ia tak menyangka lelaki tampan yang semalam mengantarnya pulang sekarang sudah ada di depan pintu rumahnya. "Bayu,"

"Hai, boleh aku masuk?" senyum Bayu begitu manis dan kembali membius Tiara.

Tiara masih termangu tak menjawab, perkataan Bayu semalam benar-benar ia buktikan. Yah, semalam ketika akan berpamitan pulang Bayu memang berjanji akan datang menengok Tiara. Meski Tiara melarangnya untuk datang.

Lain dihati lain juga yang diucapkan. Sejujurnya Tiara memang berharap Bayu datang, siapa yang tidak suka mendapat perhatian lelaki tampan seperti Bayu.

"Hallo, Tiara? Kamu nggak apa-apa?" Bayu menyentuh lengan Tiara membuat Tiara tergagap.

"Eh, iya. Kamu ngapain datang kesini?"

"Lho kan semalam aku udah bilang mau datang kan? Kamu lupa?"

"Oh iya, tapi aku kan …,"

"Nggak baik lho nolak tamu yang udah datang dan rela bawain kamu makanan." Bayu mengangkat tangannya menunjukan bungkusan plastik yang aromanya menggoda perut Tiara.

"Aku,"

"Udah, aku tahu kamu laper! Yuk kita makan sama-sama!"

Bayu menarik tangan Tiara untuk kembali masuk ke dalam rumah. Dengan cekatan Bayu mengeluarkan bungkusan berisi nasi Padang dan membukanya untuk Tiara.

"Aku nggak tahu kamu sukanya apa, jadi aku belikan ini." 

Tiara bingung harus berkata apalagi. Rasanya seperti bermimpi, bertemu dan diperhatikan lelaki tampan bernama Bayu. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah ini hanya ilusinya semata. Ia terus menatap dan memperhatikan makhluk tampan yang duduk disebelahnya.

"Lho kok malah bengong, kamu nggak laper? Perut kamu bunyi lho daritadi."

"Eh, aduh. Iya, kamu denger ya?" Tiara tersipu.

"Nggak kok, cuma nebak aja suara apa barusan." Bayu terkekeh.

Tiara pun tergelak, wajahnya merona mendapat tatapan lembut Bayu. Tapi tawanya terhenti ketika telapak tangan Bayu menyentuh keningnya.

"Kayaknya udah baikan, nggak sepanas semalam."

Dengan gugup Tiara menjawab, "Iya, mungkin cuma butuh istirahat sebentar."

"Makan dulu, keburu nggak enak nanti." 

Tiara mengangguk, jantungnya berdebar kencang. Selama 22 tahun hidupnya baru kali ini ia berdekatan dengan seorang pria. Sebagai gadis normal ia juga pernah jatuh hati pada teman satu kelasnya dulu, tapi keadaan dirinya membuat Tiara hanya bisa mengubur rasa itu dalam diam.

Tiara yang rendah diri, hidup pas-pasan ditambah lagi cibiran yang sering ia dapatkan dari tetangga kanan kiri dan juga temannya membuat ia tak punya nyali untuk mencintai seseorang. 

Dan sekarang, Bayu datang bak pangeran berkuda yang keluar dari hutan gelap. Rasanya seperti mimpi bagi Tiara, ia tak menyangka akhirnya ada juga lelaki yang mau dekat dengannya.

Butuh waktu cukup lama bagi Tiara untuk menghabiskan makanan yang dibawa Bayu. Tatapan dan senyum yang tak pernah lepas dari Bayu membuat Tiara kesulitan menelan makanan.

"Tadi kamu mau kemana, istirahat aja kan masih demam." 

"Ehm, nggak kemana mana kok. Tadi itu kan cuma mau cari makan aja." jawab Tiara.

"Oh kirain kamu mau kemana. Off hari ini?" Bayu bertanya, tangannya mengusap sudut bibir Tiara dengan tisu. Tiara terkejut, tersipu dengan perlakuan manis Bayu.

"Eh, ehm iya. Aku ijin." jawabnya singkat, jika saja ada jurang yang terbuka lebar dihatinya mungkin saat ini jantung Tiara sudah terjun melompat ke dalam jurang.

Bayu tersenyum melihat rona merah di pipi Tiara. Ia semakin berani menyelipkan sejumput rambut Tiara ke balik telinga.

"Kamu cantik,"

Tiara kembali dikejutkan dengan kata-kata Bayu, ia tertawa kecil dan memperlihatkan cekungan di pipi kanannya.

"Cantik? Mata kamu burem kayaknya, cantik darimana?"

"Lho emang kamu cantik, siapa yang bilang kamu jelek?" Bayu menatap Tiara, ekspresi nya berubah serius.

"Aku, barusan," senyum masam terlihat sedikit dipaksakan Tiara.

"Emang kamu nggak liat, jerawat dimuka aku, kusam, noda hitam, berminyak pula. Aku nggak pernah perawatan kayak cewek lainnya, nggak sempat dan … nggak ada uang juga." Tiara mengucapkannya dengan getir, mana pernah terlintas dibenaknya untuk masuk ke dalam salon kecantikan.

 Melakukan perawatan atau apa pun itu yang namanya me time. Ia tak pernah merasakan nikmatnya menjalani facial, nyamannya dilulur dan dipijat ala spa atau hanya sekedar melakukan creambath simple di salon.

Baginya bisa mencukupi kebutuhan hidup dan makan sehari tiga kali itu sudah cukup. Berkah yang tiada duanya. Apalagi pekerjaannya sebagai cleaning service tidak menuntut dirinya untuk tampil cantik mempesona seperti layaknya para BA ( Beauty Advisor) di stand kosmetik.

Bayu tersenyum, ia menarik tangan Tiara dalam genggamannya. "Cantik bukan hanya dilihat dari fisik semata, tapi juga dari hati. Aku lihat kecantikan kamu yang tersembunyi."

"Aku nggak pernah melihat wanita hanya dari penampilannya saja, tapi hati dan tingkah laku mereka." Lanjutnya lagi meyakinkan Tiara dengan perkataan sebelumnya.

Ah Bayu, lelembut jenis satu ini benar-benar melancarkan jurus mautnya dengan jitu. Tiara pun dibuat terlena.

"Kamu punya pacar?" tanya Tiara dengan rasa was-was, Bayu menggeleng.

"Belum, lagi pendekatan."

"Oh, apa dia … cantik?" tanya Tiara dengan hati-hati, jujur saja ia sedikit cemburu.

"Cantik,"

"Oh, baik hati dan perilakunya menyenangkan?" Tiara kembali mengajukan pertanyaan.

"Ehm, entahlah. Aku belum memastikannya, tapi sepertinya dia baik."

"Oh, begitu." ada rasa kecewa di hati Tiara, harusnya ia tidak bertanya.

Bayu tersenyum, umpannya berhasil. Tiara mulai jatuh hati padanya, tinggal menunggu waktu yang tepat saja.

"Kok mikir, kenapa emangnya?"

"Eh nggak, aku nggak mikir apa-apa kok!" Tiara mengelak, ia tak ingin terlihat konyol dengan pertanyaan tadi.

"Minum dulu," Bayu menyodorkan sebotol air mineral untuk Tiara.

"Muka kamu kok merah gitu, demam lagi kayaknya." Bayu kembali memberikan Tiara sentuhan di keningnya, membuat aliran darah Tiara bak rollercoaster.

"Hhm, iya sepertinya gitu. Mulai menggigil lagi." 

"Tidurlah, istirahat. Obat kamu dimana?"

"Dikamar,"

Bayu meninggalkan Tiara, masuk ke dalam kamar dan kembali dengan satu bantal lengkap dengan selimut dan juga obat penurun panas. Tiara tak menyadari keanehan, bagaimana Bayu bisa tahu dimana letak kamarnya meski Tiara tak memberitahukannya?

Tiara bahkan mengabaikan wewangian aneh yang selalu muncul saat Bayu datang. Bayu terlalu mempesona Tiara hingga ia mengabaikan beberapa hal aneh ketika berada dekat dengan Bayu.

Bayu sudah hafal dengan kamar dan dimana Tiara menyimpan obat, karena dirinya tak pernah jauh dari Tiara. Bayu selalu ada disamping Tiara, melihatnya dari dekat pada setiap jengkal tubuhnya.

"Diminum obatnya terus tidur,"

"Masa ada tamu aku tinggal tidur, nggak enak lah." sahut Tiara, ia menerima obat yang diberikan Bayu dan segera meminumnya.

"Aku jagain kamu," jawaban Bayu membuat Tiara menatapnya aneh. "Tenang, tangan diatas nggak kemana mana kok. Kamu kan lagi sakit." 

"Oh, jadi kalo aku nggak sakit tangan kamu bisa kemana mana gitu?" Tiara terkekeh membayangkan, ia tak pernah berpikir akan berkata seperti itu pada lelaki yang baru dikenalnya.

"Ya nggak gitu sih," Bayu menjeda kalimatnya, ia meletakkan bantal dibawah kepala Tiara lalu menyelimuti Tiara.

"Tanganku ini bisa kemana mana itu tergantung kamu juga, kalo kasih ijin mungkin dia dengan sukacita menjelajahi …,"

"Iiish, kamu! Udah ah!" Tiara memotong perkataan Bayu yang membuat demamnya semakin panas.

Bayu tergelak, menaikkan selimut hingga ke dada Tiara. Ia duduk disebelah Tiara, mengusap lembut pipinya lalu berkata, "Tidurlah, aku jagain kamu disini."

Tiara masih menatap tak percaya ke arah Bayu. 'Apa aku bermimpi?'

"Percaya sama aku, ok?" ucap Bayu lagi sembari mengusap lembut rambut Tiara.

"Janji ya, jangan pergi kemana mana dan juga … tangan diatas!" 

Keduanya tergelak, tak berapa lama Tiara pun terlelap dalam tidurnya. Senyum Bayu yang sedari tadi tak berhenti terbit di wajahnya berubah dingin dan menakutkan.

 Pintu tertutup dengan sendirinya. Tubuhnya yang atletis is perlahan berubah ke wujud asli. Penuh bulu dan bertaring, nafasnya menderu kasar. Tangan berbulunya membingkai wajah Tiara yang tertidur pulas.

 "Wajahmu akan selalu cantik bagiku, Tiara."

Terpopuler

Comments

jangan salah .. kaum jin kalau sudah jatuh cinta sama manusia, bucinnya akut. agak berbahaya karena akan sangat posesif ke manusia yang dicintai.

2024-05-02

1

Kustri

Kustri

rendra kmn? dibikin ngilang

2024-04-03

0

Namika

Namika

😔

2022-11-24

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!