Tiara menghabiskan malam dengan pergumulan panas bersama sosok Bayu. Dunia Tiara kini terfokus pada sosok lelembut berbulu yang terus menghimpitnya dalam jejak kenikmatan. Ia kelelahan, tubuhnya remuk dihajar Bayu hingga beberapa kali pelepasan. Tiara pun tertidur dalam dekapan Bayu. Senyum mengembang di bibir Tiara saat wajahnya dibenamkan pada ceruk leher Bayu.
"I love you Bayu," dengkuran halus terdengar seiring dengan nafas Tiara yang semakin teratur.
Bayu tersenyum, menatap tubuh polos Tiara yang begitu indah memeluk dirinya dengan kepasrahan. Diusapnya pipi Tiara dengan lembut, "Waktunya tiba sayang, aku akan memberimu kekuatan dan kau akan menyediakan sukma bagiku."
Bayu berbisik pelan di telinga Tiara, sebuah mantra menyempurnakan barisan kalimat sakti lain yang telah ditanamkan Nyai Kembang. Tiara gelisah dalam tidurnya, ia merasakan sesuatu yang mulai menyusup dalam aliran darah. Merespon mantra kegelapan yang perlahan mulai mengambil alih tubuhnya.
"Dia sudah siap Nyai," Bayu menjura hormat pada sosok lain yang muncul dari balik gelap.
Wanita berambut hitam legam itu tersenyum licik, sepasang taring kecil muncul dari belahan lembut sewarna merah jambu. Parasnya tertutup bagian kegelapan abadi dan hanya menyisakan bagian tubuh atas yang sedikit terekspos cahaya.
Rambut panjangnya menutupi bagian dada yang tidak terbalut kain, kulitnya putih bersih seperti batu pualam. Hanya kain Jarik parang yang terlihat membalut tubuh indah bagian bawah. Seuntai kalung emas bertumpuk dengan bebatuan indah menghiasi, terlihat mengisi relung kosong dari dua gundukan menonjol yang membulat indah.
"Dia pengganti nyai kembang yang sempurna," wanita itu mendekati Tiara, menyusuri wajah dan tubuh molek Tiara yang polos.
"Kau pandai memilih Nyai, setidaknya kau membuktikan jika dirimu abdi setiaku yang berguna," wanita itu melirik ke arah Nyai Kembang yang menundukkan kepala saat disebut namanya.
Wanita cantik dengan tanda aneh di antara kedua keningnya itu mendekati Nyai Kembang, tangannya mengulurkan kotak kayu dengan ukiran unik berwarna coklat kehitaman. Nyai Kembang menerimanya tanpa bicara, ia kembali menunduk.
"Berikan apa yang dia mau, dan buat dia menjadi pengabdi setiaku!" sekali lagi wanita ayu itu melirik pada abdi setianya yang lain, Bayu.
"Ya Nyai!" Bayu menjawab dan kembali menjura pada junjungannya.
Wanita ayu setengah t*l*njang itu kembali menatap Tiara, senyumnya terkembang samar. "Kita akan bertemu lagi cah ayu, dan saat itu aku pastikan dirimu dalam keadaan berbeda."
Ia menghilang menembus batas dimensi manusia dan kegaiban yang hanya setipis kulit ari, kembali ke singgasana gelap tempatnya berkuasa. Satu lagi pengikutnya bertambah diantara ribuan kesesatan yang ia tebarkan. Wanita ayu yang selalu dipuja dan diagungkan oleh mereka yang menginginkan kejayaan, kecantikan, kekuasaan, dan kemakmuran dalam balutan hasrat keduniawian.
Nyai Kembang menatap Tiara, dengan wajah tenang nyaris tanpa ekspresi ia mendekati gadis malang itu. Kehidupannya yang sulit membuat secuil dari hati Tiara menjadi gelap dan tak percaya lagi dengan kekuatan Yang Kuasa. Bayu berhasil mempengaruhi Tiara, memanfaatkan sisi gelap itu untuk mendapatkan kekuatan.
Sukmaning sejati, ……
Asmara wulan rahiku,.....
Yen Siro weruho
Kepileng kepa sikep asmaragama
………
………
Kanakna kang nagarungu
………lanang sejati
Nyai Kembang berbisik di telinga Tiara yang masih terlelap tidur, bisikan merdu yang mengalun bak kidung penidur. Nyai Kembang membangkitkan mantra yang terpendam dalam memori Tiara menyempurnakan mantra yang Bayu bisikkan sebelumnya.
...----------------...
Tiara terjaga saat dering ponselnya berbunyi terus menerus. Ia meraih ponselnya dengan mata tertutup, dan saat melihat layar matanya terbelalak dengan segera ia menjawab panggilan dengan gugup.
"Y-ya Bu,"
"Tiara, syukurlah! Ibu khawatir sama keadaan kamu!"
"Khawatir Bu?" Tiara heran dengan sikap Bu Ratih, tak biasanya Bu Ratih menghubungi ponsel Tiara.
"Salah satu staff kasih tau ke saya, mereka bilang pak Amrin marah-marah dengan sumpah serapah dan menyebut nama kamu terus. Saya khawatir jadinya ya saya telepon kamu!"
"Oh, iya Bu. Saya baik-baik saja kok."
"Benarkah? Lega saya, dari awal saya kurang setuju dengan penempatan pak Amrin di sana. Tapi sudahlah, jangan lupa hari ini kamu shift siang."
"I-iya Bu,"
Bu Ratih menutup panggilannya, Tiara menghela nafas panjang. Diliriknya jam usang di dinding, "Jam sembilan? Aku tidur apa pingsan ya?"
Tiara mengeluh pelan, tubuhnya ngilu saat digerakkan. "Aduh, kenapa badanku begini amat rasanya?"
Ia menatap tubuh polosnya yang tertutup selimut tipis. Tiara tersenyum membayangkan pergumulan panasnya semalam. Desiran aneh di hatinya muncul saat ia mengingat setiap sentuhan Bayu pada bagian sensitifnya.
Tiara menatap tubuh polos dengan lebam di tubuhnya yang tersebar pada beberapa bagian. Tiara tak lagi terkejut, ia mulai terbiasa dengan kondisi itu, ia juga terbiasa dengan Bayu yang selalu menghilang disaat pagi. Meski masih ada pertanyaan yang timbul di hatinya tapi Tiara tak peduli. Didalam pikiran Tiara, Bayu adalah lelaki yang telah memiliki dirinya dengan utuh.
Ia memaksa tubuhnya untuk bergerak meski rasanya tak karuan. Bahkan bekerja hampir 24 jam pun tidak akan membuat tubuh Tiara remuk seperti saat ini. Tak ada waktu buat mengeluh, ia harus bergegas mandi dan bersiap-siap.
Usai mandi dan masih berbalut handuk, Tiara dikejutkan dengan sebuah kotak kayu di tepi ranjang. Ia celingukan, penasaran sekaligus bingung darimana kotak itu.
"Ini apa ya? Siapa yang taruh disini? Perasaan tadi nggak ada deh."
Tiara membiarkan rambutnya yang masih basah jatuh di bahu putihnya. Ia tak tahu jika Bayu ada disampingnya saat ini. Menahan liurnya yang hampir menetes saat melihat tubuh Tiara yang segar sehabis mandi.
"Ini pasti hadiah dari Bayu, jahat dia. Kenapa pake sembunyi sembunyi ngasihinnya? Kemana dia ya, apa masih didepan?"
Tiara berbalik dan berjalan menembus sosok fana Bayu. Ia mencari lelaki yang kini telah mengisi hatinya, tapi Tiara tak menemukannya. Ia berdecak kesal dan kembali ke dalam kamar. Melepaskan handuk sembarangan dan membiarkan tubuh polosnya terekspos.
Dengus nafas Bayu menerpa tengkuk Tiara. "Apa ini?"
Bayu kembali mempermainkan pikiran Tiara. Memberikan Tiara sentuhan ke bagian sensitifnya, membawa Tiara kembali berada dalam kontrol Bayu, ia membayangkan berada di pangkuan Bayu. Tanpa disadari tangan Tiara mulai mengeksplorasi dirinya sendiri.
Mer*m*s dan memilin puncak dada, merasakan kenikmatan yang semalam Bayu berikan. Tiara kembali larut dalam hasrat yang ditimbulkan Bayu. Jarinya asik bermain di bagian bawah tubuhnya, mencari kenikmatan yang sama seperti yang Bayu berikan. Tiara menggila dalam hasrat, hingga akhirnya merasakan pelepasan meski tak serupa dengan yang Bayu berikan.
Bayu juga merasakan kepuasan dengan melihat wajah Tiara yang melenguh dan menyebutkan namanya dengan gerakan erotis. Baginya itu sudah cukup untuk sementara waktu. Tiara yang lelah, merebahkan tubuhnya kembali di ranjang, berusaha menetralkan ledakan primitif dalam dirinya.
Tiara kini telah bersiap dan mematut dirinya dengan seragam baru di depan cermin.
"Cantik juga aku," gumamnya sendiri sambil memutar tubuhnya.
Kotak kayu yang masih tergeletak di sisi ranjang kini ada ditangan Tiara. Ia membukanya perlahan dan menemukan surat bertuliskan tangan.
'Hadiah kecil untuk bidadari ku.'
Tiara tersenyum, ia semakin yakin kotak itu adalah pemberian Bayu.
"Apa ini?"
Wadah kecil dari bahan kuningan dengan ukiran unik. Seunik ukiran pada kotak kayu. Saat menyentuhnya Tiara seperti tersengat sesuatu yang membuatnya terkejut. Rasa penasaran membuat Tiara kembali menyentuh dan membukanya.
"Bedak?"
Matanya berbinar mengetahui isi pemberian Bayu. Tanpa menunggu lagi Tiara memakai bedak berwarna kuning gading itu. Memulasnya rata ke wajah dan juga lehernya. Tiara tersenyum sendiri menatap wajahnya yang perlahan berubah menjadi cantik.
Ia mengabaikan sensasi aneh yang dirasakan pada wajahnya. Sedikit gatal, perih dan panas tapi perlahan sensasi itu menghilang digantikan dengan rasa dingin yang menyejukkan. Tanpa sadar Tiara mengucapkan barisan kalimat mantra.
……
Rupaku Dewi Ratih
Teko welas teko lutut teko asih
Sapa kang ndulu badan saliraku….
……
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
𝚝𝚒𝚊𝚛𝚊 𝚒𝚖𝚊𝚗𝚎 𝚔𝚞𝚛𝚊𝚗𝚐 , 𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚛𝚗 𝚍𝚋𝚎𝚛𝚒 𝚞𝚓𝚒𝚊𝚗 𝚕𝚊𝚗𝚝𝚊𝚜 𝚖𝚗𝚢𝚕𝚑𝚔𝚗 𝚃𝚞𝚑𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚕𝚐𝚔𝚑 𝚋𝚐𝚒𝚗𝚒 𝚖𝚗 𝚍𝚐𝚊𝚞𝚕𝚒 𝚜𝚖 𝚐𝚎𝚗𝚍𝚛𝚞𝚠𝚘 𝚜𝚊𝚊𝚔𝚎...𝚐𝚒𝚕𝚊𝚗𝚢 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚎𝚛 𝚜𝚞𝚊𝚛𝚊 𝚊𝚍𝚣𝚊𝚗 𝚖𝚛𝚜𝚊 𝚝𝚛𝚐𝚊𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚐 𝚜𝚕𝚑 𝚔𝚕 𝚝𝚛𝚓𝚎𝚋𝚊𝚔
2024-05-04
0
Ganuwa Gunawan
aku mh biar lah buluk ge..
yg penting masih beriman dn bertaqwa thor
2022-11-24
1
Wawa Sidoarjo
lanjut...
2022-11-15
1