Tiara mondar mandir di ruang tamu, sesekali ia melongok keluar rumah mencari sosok lelaki bernama Bayu. Ia gelisah, Bayu tak juga menjawab panggilannya ataupun pesan. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Bayu.
Suara adzan di mushola kecil dekat rumah kontrakannya terdengar berbunyi nyaring. Entah mengapa Tiara tak suka mendengarnya. Ia segera menutup pintu dan masuk ke kamar, menutupi kedua telinganya dengan bantal. Bagi Tiara suara adzan itu menyakiti dirinya.
Suara yang seharusnya terdengar indah karena mentasbihkan keagungan Yang Kuasa ke seluruh semesta terdengar seperti kaleng yang dipukul terus menerus. Menggema, menyakitkan, dan membuat Tiara gemetar.
"Aargh, lama-lama aku pindah juga dari sini! Kenapa sih adzan pake dilama-lamain, dipanjang panjangin segala!" gerutunya dari balik bantal.
Bayu hanya bisa tergelak mendengarnya. Dia memang telah ada di dekat Tiara sedari tadi. Memperhatikan dan mengawasi Tiara. Gadis itu kembali meluapkan rasa kesal dengan suara indah yang masih mengalun dari mushola. Tiara semakin menjauhkan dirinya dari Yang Kuasa.
"Berisik!" Tiara kembali mengumpat.
Sekali lagi Bayu tergelak, ia pun memutuskan untuk segera menemui Tiara. Bayu menampakkan dirinya, ia mengetuk pintu Tiara.
"Ra, Tiara!"
Tiara yang mendengar suara Bayu pun bergegas keluar kamar, dengan sumringah ia membuka pintu rumahnya. Wajah Bayu yang dinantikan muncul dengan senyuman tampan nan menawan.
"Bayu!" Tiara langsung memeluk Bayu, ia tak lagi peduli dengan apa yang akan Bayu pikirkan.
"Eh, ada apa ini?" Bayu yang membalas pelukan Tiara pura-pura bingung.
"Aku kangen, dari tadi hubungin kamu susah banget sih. Telpon nggak diangkat, pesan juga nggak dibales. Kamu kemana?" Tiara merajuk dengan wajah yang dibuat menggemaskan.
Bayu terkekeh melihatnya, ia tak menjawab dan memberi Tiara kecupan lembut di bibir. "Udah nggak kangen lagi kan?"
Ingin rasanya Tiara mengatakan 'Lagi!' tapi rasanya malu diucapkan, Tiara akhirnya memasang senyum manis dan menggeleng.
"Nggak, lagian kamu kemana sih bikin khawatir aja?"
"Ehm, kamu kemana, lagi ngapain, lagi sama siapa, kemana seharian, sibuk apa? Harus nya gitu kamu nanyanya, biar komplit!" goda Bayu yang membuat semburat kemerahan di pipi Tiara.
"Iiish, kamu gitu deh! Jadi salah ya aku nanya? Telepon kamu kok nggak bisa dihubungin sih? Kan jadi khawatir!"
"Iya, iya … sekarang sudah disini trus mau diapain?" Bayu kembali menggoda Tiara dengan tangan yang masih melingkar erat di pinggang.
Tiara tak menjawab, ia malah berbisik pada Bayu. Keduanya pun tergelak. Tiara tak menyadari jika ada dua pemuda yang melihat tingkah lakunya itu.
"Bro, kae kok mbak Tiara cengengesan dewe yo? Lagi kesambet opo pie to kui?!" tanya seorang pemuda pada temannya yang berambut nyaris plontos.
(Bro, itu kok mbak Tiara ketawa sendiri? Lagi kemasukan apa gimana ya?)
"He eh ik, nopo yo? Agek kumat, kesuwen rak nduwe yayang yae!" sahutnya sembari mengelus elus kepalanya.
(Iya ya, kenapa dia? Jangan-jangan kumat, kelamaan nggak punya yayang kayaknya!)
"Kae delok! Malah saiki ngguyu dewe, cekikian sisan! Positif sarap Bro!"
(Itu lihat, malah sekarang ketawa cekikikan lagi! Positif gila Bro!)
"Eh, liat tangane mbak Tiara kok koyok lagi ngerangkul. Wah, lha kok eman ayu-ayu edan!"
"Sakjane ji mbak Tiara ayu lho, aku yo seneng! Mung yo kuwi kurang perawatan, padahal bodine ndes …fiuuuuh, semok, mantap!"
Keduanya tertawa membayangkan Tiara dengan tubuh indahnya, Bayu yang mendengarnya menoleh ke arah kedua pemuda itu, matanya yang merah mengisyaratkan kemarahan. Dengan kekuatan lelembut yang dimilikinya, Bayu mengusir keduanya dengan halus.
"Bro, kok hawane ora enak yo?" Pemuda bernama Joni mengusap tengkuknya yang semakin berat.
Hal yang sama juga terjadi pada rekannya, " Ho oh Jon, merinding! Iki delok en wuluku ngantekan ngadeg kabeh!"
(Ini lihat buluku sampai berdiri semua!)
Suara berbisik terdengar di telinga keduanya, bisikan aneh yang tak jelas berkata apa.
"Bro, opo mau bro?" Joni menengok ke kanan dan kirinya tapi tak ada siapa pun.
"Walah Jon, kowe yo krungu to suarane? Medeni men Bro, yuklah bali omah! Wedi aku Jon!"
Kedua pemuda itu segera pergi, dan berhenti memata matai Tiara. Bayu tersenyum puas, ia kembali berbicara dengan Tiara.
"Masuk yuk, katanya kangen."
Tiara menarik tangan Bayu untuk segera masuk ke dalam. Secangkir kopi untuk Bayu sudah disiapkan Tiara.
"Wah, kamu beneran nungguin aku ya?"
"Iyalah, karena aku mau ceritain sesuatu ke kamu."
"Ohya, apa itu?" Bayu menyesap kopinya.
"Aku, nggak jadi keluar kerja!"
Bayu menatap Tiara dengan ekspresi heran, "Lho, bukannya kamu kemarin takut masuk kerja? Kok sekarang malah nggak jadi keluar?"
"Ehm karena … aku pindah bagian!" pekik bahagia keluar dari bibir tipis Tiara.
"Ohya, wah selamat ya! Pindah kemana nih?!"
"Pindah ke … hati kamu!" kali ini berganti Tiara yang menggoda Bayu.
Bayu menatap Tiara gemas, ia mendekatkan tubuhnya pada gadis incarannya. "Berani ngegombal nih ceritanya? Aku nggak tanggung jawab lho kalau nanti terjadi sesuatu!"
Suara Bayu berubah serak menahan gejolak, hasratnya mulai naik saat bibirnya menyentuh leher Tiara. Satu kecupan basah disertai gigitan meluncur menandai kulit putih Tiara. Er*angan dan d*sahan manja Tiara keluar dari bibirnya seiring dengan Bayu yang menghujaninya dengan ciuman lembut yang menyesatkan.
Tiara menggila, rasa rindunya pada Bayu tak bisa lagi terbendung. Ia duduk di pangkuan Bayu, mengulum lembut bibir Bayu melesakkan lidah ke dalam sana membuat sensasi liar yang bergelanyar di tubuhnya. Tangan Bayu yang menyusup ke dalam pakaian Tiara semakin aktif mer*m*s dan memilin benda kenyal yang terjamah tangan.
Tiara mengg*linjang dalam hasrat, gerakan Bayu yang semakin liar membuatnya terbang ke langit kepuasan tanpa batas. Ia terengah dalam n*fsu, merintih dalam kenikmatan. Tiara merasakan pelepasan yang tak berbatas mimpi meski masih berbalut kain tipis dibagian bawah sana.
"Sudah, nanti lagi."
Nafas Bayu terengah-engah memaksa hasratnya berhenti. Sementara Tiara wajahnya puas meski hanya mendapatkan pelepasan semu.
Ini belum saatnya Tiara, aku membutuhkan momen yang tepat untuk mengaktifkan kembali mantera yang ditanamkan Nyai Kembang padamu.
Batin Bayu yang sebenarnya telah menginginkan Tiara. Tapi semua itu berbatas pada waktu dan hitungan jam tertentu. Bayu diberikan kuasa untuk memilih hari dan waktu terbaik untuk ritual khusus yang harus dilakukan Tiara sebagai penerus Nyai Kembang.
"Maaf, aku menggila. Aku kangen banget sama kamu." Tiara menyesali tindakannya, hasratnya tanpa permisi muncul saat berdekatan dengan Bayu.
"Nggak apa-apa, aku juga kangen kamu. Udah kan, makan yuk aku lapar!" Bayu membantu Tiara turun dari pangkuannya.
"Ehm, gimana kalau kita ke tempat makan favorit aku? Nggak jauh kok dari sini!"
"Boleh, ayuk deh. Aku udah laper banget!"
Bayu membantu Tiara merapikan pakaiannya, sesekali tangannya menggoda bagian sensitif Tiara membuat Tiara menjerit kegelian. Begitu juga halnya Tiara, ia terus menggoda Bayu memancingnya kembali pada hasrat primitifnya.
Kewarasan Tiara sudah tak lagi berlaku. Di matanya Bayu adalah segalanya. Tempat berbagi dan bersandar saat ia sedih. Tiara sudah menggantungkan harapan masa depan pada lelaki tampan yang ia kenal kurang dari satu Minggu.
Pria tampan dari bangsa lelembut kuno, yang siap membawanya pada jurang gelap yang dibumbui dosa dan hasrat tak bertuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Kustri
skip" baca'a
2024-05-05
0
Ali B.U
next
2022-11-11
3
Ali B.U
wah ngeri ajakan Bayu
2022-11-11
4