Bayu

Tiara masih dalam pelukan lelaki muda nan tampan itu. Mereka saling menatap, entah berapa lama mereka melakukannya yang jelas Tiara tak mendengar suara apapun di sekitarnya. Ia hanya mendengar suara nafas teratur dan detak jantungnya sendiri.

"Hhm, apa aku sudah bisa melepaskan pelukan?" Lelaki muda itu bertanya dengan senyuman yang sangat manis.

Tiara terhipnotis mata dan senyumannya, ia menjawab lirih tanpa melepaskan pandangan mata.

"Iya, boleh."

Lelaki muda itu membantu Tiara berdiri dengan benar lalu menunggunya duduk. Setelah memastikan Tiara mendapat posisi duduk nyaman, ia kemudian duduk tepat di sebelah Tiara.

"Hai, aku Bayu." ujarnya dengan mengulurkan tangan pada Tiara.

"Tiara," Tiara tersipu dan menyambut tangan Bayu.

"Kamu demam? Kok panas bener badannya!" Bayu menyentuh kening Tiara dengan punggung tangan.

Tiara tersenyum masam, "Sedikit."

"Rumah kamu dimana, masih jauh?" tanya Bayu lagi tanpa mengedipkan matanya pada Tiara.

Merasa diperhatikan dengan lawan jenis yang baru kali ini dirasakan, Tiara pun salah tingkah. Ia menjawab dengan gugup, "Ehm, itu di halte depan aku turun."

Bayu mengulas senyum, ia memalingkan wajahnya mengikuti arah yang ditunjuk Tiara. Matanya tajam menusuk, saat berpaling dari Tiara. 

Satu sosok lain duduk di deretan kursi tak jauh dari ari keduanya duduk. Sosok itu memakai kebaya merah dengan rambut digelung, bunga mawar merah tampak disematkan di sisi kanan dan kiri gelungan ditambah dengan roncean melati yang menghiasi sisi atas rambut. Wajahnya begitu cantik, memancar sempurna dengan bibir tersapu warna merah menyala.

Dialah, Nyai Kembang. Anggukan samar terlihat saat Bayu dan sang Nyai bersitatap. Sesaat kemudian sang Nyai pun menghilang.

 Bayu kembali menoleh ke arah Tiara. Hujan terlihat semakin deras, Tiara berdecak kesal. Ia mengutuk alam yang selalu tak bersahabat dengannya.

"Tambah deras hujannya,"

"Kamu nggak bawa payung atau jas hujan?" suara Bayu mengagetkan dirinya.

"Nggak, tadi siang panas mana tahu kalo malam jadi hujan begini!" keluh Tiara yang kembali menatap luar.

"Ya, begitulah cuaca sekarang tidak bisa ketebak panas hujannya." 

Tiara mengangguk membenarkan perkataan Bayu. Ia tidak menyadari ada keanehan di dalam bus. Tak ada penumpang lain disana selain Tiara dan Bayu, jika diperhatikan suasana didalam bus juga sedikit aneh.

Lampu temaram, kursi yang terlihat usang dengan noda-noda seperti arang. Bau Bauan aneh yang disamarkan angin, perpaduan antara bunga, bau anyir dan busuk. Derit engsel yang bergesekan juga menyakitkan telinga, belum lagi beberapa lubang dilantai bus hingga menampakkan ruas jalan dibawahnya.

Tapi Tiara sama sekali tidak merasakan atau mencium bau-bauan aneh itu, ia bahkan tak menyadarinya. Matanya terfokus pada cuaca diluar. 

Di mata Tiara bus yang ditumpangi normal, dan ada beberapa penumpang yang ikut didalamnya. Padahal sesungguhnya semua itu hanya ilusi yang sengaja dimunculkan sosok Bayu untuk mendekati Tiara. Malangnya Tiara, ia kembali terjebak dalam dimensi lain tanpa disadari.

Tiara memberi kode pada sopir bus untuk berhenti di halte depan. "Maaf aku duluan ya," Tiara mengulas senyum sebelum turun.

Ia berlari ke halte, menutupi kepalanya dengan tas. "Duh, hujannya kok tambah deras.

Beberapa orang di halte berbisik dengan wajah ketakutan, mereka menjauhi Tiara dan menatapnya aneh. 

"Eh, tu cewek keluar dari sana kan?" tanya seorang lelaki muda kepada temannya.

"Elu juga liat bro?" jawab yang lain sambil mengusap matanya tak percaya.

"Lihatlah, kalian lihat juga nggak sih?" Lelaki muda itu kali ini bertanya pada yang lainnya. Pertanyaannya pun ditanggapi dengan anggukan.

"Astaghfirullah, itu kan bus hantu bukan sih?! Yang kalo keluar malem, tapi ini kok keluar masih sore?" Teman lelaki muda yang bertopi hitam menyahut.

"Sumpah bro lu liat kan tu bus isinya apaan?!" Lelaki muda itu kembali bertanya.

"I-iya, pocong bukan sih, rada-rada burem gue liatnya! Orang kacanya juga kotor bener kek nggak dicuci setahun!" 

"Bener bro, gue juga liatnya itu sama putihnya lah! Mana tu bus karat semua lagi, jalan jauhan dikit ambrol dah tuh body!"

"Heran gue, tu si mbak kagak liat apa gimana sih! Siwer kali tu mata!"

"Ho oh, keknya siwer, apa katarak kali! Masa nggak liat apa tu bus kagak normal!"

"Hush, jangan bilang gitu! Itu namanya keselong kali bro! Yang dia lihat lain sama yang kita lihat!" Kali ini temannya mengingatkan seraya berbisik.

"Bener juga, kali dia liatnya bagus! Apes bener tuh si mbaknya!"

"Sayang, anyeb coba kalo cantikan dikit mau dah gue tolongin!"

"Huu, elu mah mikir cewe cakep mulu! Kasian juga si mbaknya, tapi manis juga dilihat lihat."

"Ya udah sono deketin, kali aja mau sama Lo bro!"

"Ogah, takut gue. Paling dia udah dijilat sama demit!"

"Hush, mulut lemes bener omongan! Ati-ati ni lagi ujan lho takut ada demit seliweran mampus lu!" 

Angin berhembus ke arah mereka membawa hawa dingin tak biasa seolah tak ingin mereka melanjutkan percakapan di belakang Tiara.

"Nah kan, bulu-bulu gue merinding semua bro! Lu sih ngomong kagak pake aturan!" Lelaki bertopi hitam itu menggerutu pada si lelaki muda disampingnya.

"Iya bro, merinding gue! Udah ah kagak usah diliatin bisa-bisa apesnya nular lagi ke kita. Hiii serem!" lelaki muda itu juga meraba tengkuknya dan merapatkan jaket hitam yang dikenakannya.

Obrolan mereka sedikit terdengar Tiara, ia pun menoleh heran ke arah mereka. Dirinya sama sekali tidak memahami apa maksud perkataan mereka.

"Cck, apaan sih tuh orang? Rese banget deh! Bus hantu apaan, sok tau bener!" 

Tiara yang merasa tak nyaman akhirnya memutuskan untuk pergi meski hujan masih cukup deras. Dengan setengah berlari dan menutupi kepalanya dari serbuan hujan, Tiara menembus malam.

Setelah beberapa langkah sedikit jauh dari halte bus, terjadi keanehan. "Lho kok hujannya berhenti!" 

"Bukan berhenti tapi aku yang payungin kamu!" Suara itu terdengar tak asing di telinga Tiara, ia pun menoleh ke kiri dan menemukan sosok Bayu dengan senyuman.

"Lho, kamu kok disini! Bukannya tadi nggak ikut turun!" Tiara kebingungan ia menatap ke arah bus yang ditumpanginya tadi menghilang.

"Aku putusin untuk turun di depan sana. Kasian sama kamu, lagi demam malah hujan-hujanan."

Tiara menatap tak percaya, baru kali ini ia menerima perlakuan manis. "Apa? Kamu gila ya, kita kan baru ketemu! Kok baik banget!"

"Memang nggak boleh ya, kamu udah punya pacar?" Bayu meraih tangan Tiara, menariknya untuk segera pergi dari tempat itu. Memaksa Tiara mengikuti langkahnya.

"A-aku, belum." jawab Tiara lirih, ia sedikit tersipu. Wajahnya merona entah karena demam atau malu.

Bayu tersenyum, langkah awal mendekati Tiara berhasil. Ia harus cepat sebelum hari itu datang. Bayu membutuhkan Tiara untuk mendapatkan sukma baru, jika tidak maka dirinya akan semakin lemah dan terus bersembunyi dalam gelap.

Sepanjang perjalanan, Bayu dan Tiara mengobrol ringan. Pertanyaan seputar pekerjaan dan pribadi pun mengalir begitu saja. Tiara tidak menyadari siapa yang berdiri di sebelahnya. Bayu membiusnya dalam pesona mistis. Tiara yang polos terjebak dalam lingkaran yang nantinya akan dia sesali.

Terpopuler

Comments

ini setting nya di Semarang tapi pakai bahasa elu gue 😅

2024-05-02

1

Michelle Ardina

Michelle Ardina

pocooon bayu😁

2023-12-18

0

Eny Agustina

Eny Agustina

Loh loh.. ini Bayu idolanya Gia bukan kak?!? Kiiihihihihihiiii

2022-12-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!