Tiara kembali tertidur setelah mengecek semua pintu dan jendela dalam posisi terkunci. Ia meyakinkan dirinya jika Bayu memang tidak berbuat apa pun padanya. Entah berapa lama Tiara tertidur yang jelas hari masih gelap.
Rasa lelah yang menderanya ditambah perasaan tak nyaman di bagian bawah tubuhnya membuat Tiara tidur dengan lelap. Ia baru terbangun saat ketukan keras terdengar nyaring di telinganya.
"Tiara, Tiara buka pintunya!"
Tiara yang semula enggan membuka mata, mengerjap perlahan. Ia mendengarkan kembali suara yang memanggilnya.
"Tiara …," suaranya terdengar parau dan putus asa.
"Rendra?" Tiara bergegas bangun dan membukakan pintu.
Ia terkejut mendapati kakak lelakinya datang dengan wajah babak belur serta darah kering menghiasi bibir dan juga hidungnya.
"A-ada apa Ren?"
Tiara yang bingung segera membantu Rendra yang kepayahan berdiri. Tiara membimbing Rendra duduk di ruang tengah. Rendra berkali kali menyentuh perutnya, luka goresan memanjang juga terlihat di lengan.
Tiara dengan sabar dan hati-hati membantu Rendra membuka pakaian. Ia terkejut melihat beberapa memar di tubuh kakaknya itu.
"Ren, kamu berantem?"
Rendra hanya melirik Tiara sepintas lalu memilih memejamkan mata. Mulutnya bungkam seribu bahasa.
"Ren, jawab! Siapa yang ngelakuin ini?!" Tiara mengguncangkan tubuh Rendra yang terpaku dalam diam. Rendra tak ingin membicarakan masalahnya. Ia aku ingin adik sekaligus keluarga satu satunya itu mencemaskan dirinya.
"Kamu nggak perlu tahu!"
"Nggak perlu tahu gimana? Kamu kakakku, kalau kamu ada masalah kamu cerita dong! Siapa tahu aku bisa bantu!" Tiara kembali mendesak Rendra untuk bicara.
"Aku lapar, ada makanan nggak?" Rendra justru menjawab lain, dari semalam ia memang belum makan perutnya pun lapar.
Tiara berdecak kesal, ia segera pergi ke dapur membuatkan makanan ala kadarnya. Dalam waktu singkat, mie instan dengan telur goreng dan nasi putih sudah terhidang di depan Rendra.
"Cuma ini?"
"Adanya ini, cepat nggak ribet dan yang penting bisa ganjel perut kita! Udah nggak usah rewel tinggal makan aja!" Tiara mendengus kesal, tak ada waktu untuk mereka mengeluh. Yang terpenting perut mereka terisi makanan.
Rendra menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dengan susah payah ia membuka mulut, luka sobek di salah satu sudut bibir membuatnya kesakitan. Perutnya yang keroncongan memaksanya membuka mulut dan tidak sampai sepuluh menit makanan pun tandas dimakannya.
Tiara mengompres lebam dan bengkak di tubuh Rendra dengan telaten. Rendra hanya berbaring di kursi dengan tumpukan bantal mengganjal kepalanya. Sesekali ia melirik ke arah adiknya. Rasa sakit yang dirasakannya tidak sesakit hatinya kini.
Sebagai kakak, Rendra ingin melindungi Tiara. Apalagi Bu Fani, ibu mereka semasa hidup selalu berpesan untuk menjaga Tiara apapun yang terjadi.
Tapi apa yang terjadi sekarang, Rendra merasa gagal menjadi kakak yang baik untuk Tiara. Kegemarannya berjudi membuatnya terbelit hutang pada salah satu preman kampung. Hutang yang semakin menumpuk membuat Rendra kesulitan untuk melunasinya.
Janji demi janji diucapkan Rendra pada Toni, preman nomor satu di kampung sebelah. Hingga akhirnya kesabaran Toni habis, Rendra disekap dan dihajar habis-habisan. Ia hanya bisa pasrah, mau melunasi pun tak sanggup. Hingga akhirnya Toni mengajukan satu permintaan konyol untuk melunasi hutang Rendra. Tiara.
Toni meminta Rendra menyerahkan keperawanan Tiara padanya. Sudah sejak lama Toni memperhatikan Tiara, dan ia menginginkan Tiara untuk melayani hasratnya. Rendra yang sudah tidak bisa berpikir lagi menyanggupi permintaan Toni, dalam pikiran Rendra saat itu adalah keselamatan dirinya.
Dan disinilah Rendra sekarang, kembali ke rumah kontrakan kecil untuk bertemu dengan Tiara, adik perempuan satu satunya. Rendra menatap Tiara, ada rasa penyesalan di wajahnya.
"Ra, maafin aku ya?"
Tiara hanya melirik tidak meresponnya dengan ucapan. Ia membubuhkan salep antiseptik pada beberapa luka Rendra, lalu menutupnya dengan plester penutup luka.
"Aku belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu." Rendra terdiam sejenak menghela nafasnya dengan berat.
"Aku belum bisa bahagiain kamu," matanya menerawang menatap langit rumah yang terlihat mulai lapuk.
"Cck, ngomong opo to kamu itu? Udah istirahat! Tidur, pikirin besok lagi aja!"
Tiara membereskan piring dan kotak obat. Rendra menarik tangannya, ia ingin berbicara dari hati ke hati untuk terakhir kali sebelum dirinya pergi.
"Ra, aku harus pergi!"
Tiara duduk disebelah kakaknya, ia menatap Rendra dengan penuh tanya. "Pergi? Pergi kemana? Dengan badan begitu?"
Rendra menunduk, berat baginya meninggalkan Tiara tapi ia masih sayang dengan nyawanya sendiri. Walaupun Toni datang ke rumahnya dan mengambil Tiara, Rendra yakin Toni tidak akan melukai Tiara.
Toni sebenarnya jatuh hati pada Tiara tapi karena Toni sudah beristri dua, ia harus pintar mengatur waktu dan siasat agar Tiara menjadi miliknya. Hal inilah yang mendasari Rendra berniat kabur dan bersembunyi.
"Aku mau sembunyi Ra," sahut Rendra lirih,
"Sembunyi? Dari siapa?"
"Toni," Rendra menatap lurus ke depan tak ada pilihan lain baginya saat ini.
Tiara terbelalak kaget mendengar nama preman kampung sebelah yang terkenal sadis itu disebut. "Kamu ngapain urusan sama dia? Kamu gila ya?!"
Rendra menghela nafas pendek, ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. "Aku, aku kejebak Ra!"
"Kejebak gimana? Aku nggak ngerti!"
Rendra mendengus, ia menatap adiknya. "Aku main judi dan berhutang banyak sama dia."
Tiara kembali dikejutkan dengan ucapan Rendra. "Kamu cari masalah Ren, nggak mikir dulu apa kamu?!"
"Ya aku terpaksa Ra!"
"Terpaksa? Kamu bodoh tau nggak sih, hidup kita tuh udah susah Ren! Malah kamu main judi, kamu pikir judi bisa bikin kita kaya?!"
"Aku tahu, aku emang bodoh. Waktu itu awalnya aku menang banyak, tapi setelahnya aku kalah terus sampai aku hutang sana sini, gali lobang tutup lobang! Sampai aku juga dipecat."
"Apa! Dipecat! Trus gimana cara kita bayar kontrakan kalo gini coba!" Tiara panik dan juga kesal.
Rendra hanya terdiam, menyesal sudah terlambat. Ia membiarkan Tiara meluapkan kekesalan dan amarahnya.
"Kamu gila Ren, beneran gila banget! Hidup kita udah susah, malah main judi pake utang segala. Otak kamu sudah pindah ke dengkul, hah!"
Rendra berdiri dari duduknya dan berlalu masuk ke kamarnya, tak lama kemudian ia keluar dengan membawa tas ransel berisi pakaian. "Aku pergi Ra, kamu jaga diri baik-baik. Toni pasti bakal kesini cariin aku dan juga … kamu,"
"Mau pergi kemana kamu? Dia pasti bakal nemuin kamu juga nanti!"
"Entah, yang penting jauh dari sini!"
Mereka saling menatap sejenak, rasa sedih, bingung, kecewa, dan marah bercampur aduk di hati Tiara. Ia kehabisan kata-kata, mau mencegah pun rasanya percuma. Rendra susah membulatkan tekadnya untuk pergi.
Rendra memeluk erat Tiara sebelum pergi, "Maafkan kakakmu yang nggak berguna ini, jaga diri kamu baik-baik, jangan lupa makan." bisiknya lirih di telinga Tiara.
Tiara tak kuasa menahan air matanya, ia terisak. Bagaimanapun Rendra adalah satu satunya keluarga yang ia miliki. Meski tak jarang mereka bertengkar tapi memiliki Rendra adalah hal yang paling berharga untuknya melebihi apa pun di dunia.
"Kamu juga, jaga nyawa kamu! Diluar sana dunia sangat kejam, hukum rimba berlaku," ucap Tiara disela isakannya.
Rendra mengacak kasar rambut adiknya nya, mengusap air mata Tiara yang terjatuh karenanya. "Aku pergi,"
Tanpa menunggu lama lagi Rendra pun pergi, dan menghilang dengan cepat. Matahari masih belum menampakkan diri, hanya semburat jingga yang terlihat di ufuk timur. Rendra melangkahkan kakinya dengan berat, ia tak tega untuk mengatakan pada Tiara jika Toni akan segera datang untuk mengambil bayarannya. Tubuh Tiara.
"Maaf, maafin aku!" Bulir bening menghiasi sudut mata Rendra. Ia hanya berharap bisa menemukan jalan untuk keluar dari masalah yang dihadapinya.
...----------------...
Tiara menangis dan terduduk lemas di lantai. Rendra satu satunya keluarga yang dimiliki kini pergi meninggalkannya. Ia bingung harus berbuat apa setelah ini. Tak ada teman yang setia membantunya, tak ada pula keluarga yang siap mendukungnya.
Tiara merasa sendiri dan kesepian. Ia menarik tubuhnya merapat dinding dingin rumah. Membenamkan kepala di antara kedua lengan yang terlipat diatas lutut. Menangis dengan suara tertahan. Ia lelah dengan hidupnya, lelah dengan ujian yang terus menerus datang dan pergi tanpa permisi.
Bayu berdiri menatap Tiara yang menangis dalam pilu. Senyum mengembang di bibir Bayu, celah baru baginya untuk memasuki kehidupan Tiara. Bayu pun menghilang, dan bersiap datang dengan ilusi lain untuk merengkuh Tiara yang rapuh dalam jerat cintanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yulius Lius
aq penggemar kk lia n kak al bgt deehhh
2023-01-10
1
★Ambil 5 Bayar 3★
bayu beraninya maen ilusi nih... 😌😌😌
2022-12-12
1
Ema Erma
q reader baru, dan alhamdulillah udah baca smw karya kak lia sama kak al 😂, semangatt berkarya kak. suka banget sama cerita2nya
2022-11-03
5