Hari ini Tiara kembali bekerja. Membuang semua pikiran rumitnya ke tong sampah, dan kembali memasang topeng bahagia. Siapa yang peduli dengan kondisinya, keadaannya, dan hatinya saat ini. Tak ada, selain Bayu.
Tiara yang malang, lagi-lagi Bayu hadir dalam pikiran dan juga hatinya. Gadis malang yang kesepian, tipu daya Bayu mengalihkan kewarasannya berpikir. Banyak pertanda yang Tiara abaikan dari kehadiran Bayu. Andai ia tahu siapa sebenarnya Bayu.
Tiara melangkah dengan pasti memasuki ruang ganti karyawan. Hari masih pagi dan mall baru akan buka di jam delapan, itu pun baru sebagian. Toko yang lain biasanya baru akan membuka gerai di jam sepuluh. Tiara harus cepat karena hari ini banyak tempat yang harus dibersihkan.
"Lho Ra, udah baikan? Kok udah masuk?" suara Santi menyapa Tiara dari belakang.
"Iyalah, nggak enak juga udah tiga hari bolos San. Gimana, aman kan selama aku nggak masuk?" Tiara dengan santai membuka pakaiannya di depan Santi, toh tidak ada orang lain juga di ruang ganti. Begitu pikir Tiara.
Santi tidak menjawab pertanyaan Tiara. Ia dibuat terkejut dengan begitu banyak lebam pada tubuh Tiara. "Ra, ini kenapa? Kok lebamnya banyak bener? Kamu abis dipukulin orang?"
Santi memeriksa tubuh Tiara dari bagian depan dan belakang. Tiara menggelengkan pelan lalu menjawab, " Nggak tahu juga San, bangun tidur kok banyak bener lebam begini. Aku kecapean kali, atau mungkin efek demam kemarin."
Santi menggeleng cepat, "Bukan, ini bukan lebam capek! Jujur deh kamu kenapa? Rendra yang ngelakuin?" Ia mendesak Tiara untuk bicara.
Tiara yang tak nyaman dengan pertanyaan Santi hanya menghela nafas panjang. "San, beneran aku nggak apa-apa! Lebam ini muncul abis aku bangun tidur kemarin. Ini juga bentar lagi ilang kok, nih yang dua hari lalu juga mulai menghilang kan?!"
Tiara menunjukkan lebam di tangannya yang mulai memudar. Santi mengerutkan kening. "Bangun tidur?"
"Iya bangun tidur," Tiara menutup pakaiannya dan mengikat rambutnya dengan rapi, ia mengabaikan tatapan Santi yang menyelidik.
"Kamu mimpi aneh?"
Tiara menutup lokernya lalu menoleh ke arah Santi. "San, kamu ini … aku nggak apa-apa, jangan berlebihan deh. Kalo soal mimpi, iya aku memang mimpi aneh. Mimpi basah!"
"Eeh, mimpi basah? Maksud kamu Ra?"
"Iya itu, mimpi begituan. Rasanya kayak beneran lho sampai basah!" kali ini Tiara menjawab dengan cengiran jenaka.
Santi tak menanggapi seringai jenaka Tiara, ia malah menatap tajam ke arahnya. "Kamu lihat siapa orangnya yang ajak begituan kamu?"
"Ehm, yang pertama sih nggak tapi yang kedua iya. Jelas banget malah." Tiara tersipu, wajahnya merona mengingat mimpinya bersama Bayu.
Santi mencondongkan wajahnya ke arah Tiara yang sedang tersipu malu. "Kamu yakin?"
"Iish, apaan sih kamu San! Aku jadi malu, udah deh nggak usah bahas!"
Tiara hendak berlalu tapi Santi mencegahnya. "Kamu digoda genderuwo itu Ra!"
Tiara terkejut dengan perkataan Santi,"Eh, apa genderuwo? Cckk, ngaco kamu San!"
Tiara mengabaikan perkataan Santi, ia duduk di kursi kayu panjang membetulkan tali sepatunya yang lepas.
"Aku serius Ra, kemungkinan mimpi kamu itu karena diganggu sama sosok itu! Buktinya kamu bangun lebam-lebam gini." Santi duduk di sebelah Tiara, ia menarik tangan Tiara dan menunjuk satu lebam besar di lengan atas.
"San, nggak usah mengada ada deh, mana mungkin kejadian seperti itu ada! Lagian mana doyan genderuwo sama cewek jelek kayak aku, orang manusia aja nggak doyan liat muka aku!" Tiara menanggapinya dengan santai.
"Ada, sepupu aku ngalamin kejadian itu! Dia malah sampai hamil anak genderuwo!" Santi berkata dengan ekspresi serius.
Kali ini Santi berhasil membuat Tiara tergelak, "San, mana ada manusia bercinta sama genderuwo bisa hasilkan anak? Nggak usah aneh-aneh deh! Jenisnya aja beda, spesies lain, genus apalagi, manusia tanah si Wowo itu api, mana bisa jadi anak! Ngehalunya kejauhan deh sepupu kamu itu!"
"Yaelah, dibilangin nggak percaya kamu. Sumpah Ra, aku lihat sendiri tu anak kayak anak manusia tapi punya kelainan, dia pinter, sensitif sama barang halus, indigo lah kata orang!"
"Jadi semua anak indigo dan anak-anak sensitif lainnya itu anak jin sama manusia? Gila kamu San, kalo mikir gitu! Udah ah, kerja nanti kena semprot pak Amrin lagi!"
Tiara segera berlalu, malas membicarakan hal yang tidak masuk logikanya itu. Sementara Santi menggerutu kesal, "Ni anak dibilangin nggak percaya, liat aja nanti kalo sampai bener dia diganggu sama genderuwo tahu rasa dia!"
Tiba-tiba saja angin dingin bertiup di tengkuk Santi, diikuti bau aneh yang menyengat. Bulu kuduk Santi meremang seketika, "Astaghfirullah, kan malah aku juga yang kena. Hiii, udah ah kerja lagi!"
Santi menyusul Tiara yang sudah lebih dulu keluar, sementara satu sosok berbulu dengan mata merah menatapnya tak suka dengan geraman yang mengerikan.
Tiara mengepel lantai di salah satu sudut mall sendirian. Sementara Santi ada di area lain dari lantai yang sama. Beberapa orang karyawan mall dan toko yang berada di mall mulai berdatangan. Kadang ada yang menyapa Tiara tapi banyak juga yang datang dengan cibiran saat menatapnya.
"Kerjanya yang bener mbak, masa ngepel sampai basah gitu sih!"
"Pake papan peringatan dong, bisa kepleset nanti saya!"
"Bersih-bersih gitu aja nggak bisa! Lelet!"
Begitulah perkataan yang sering Tiara dapat. Tiara hanya bisa tersenyum dan mengelus dada. Pekerjaannya selalu dipandang sebelah mata. Tiara selalu menganggap perkataan ejekan dan sindiran mereka hanyalah pengingat agar bekerja lebih baik.
Sedang asyiknya mengepel, Tiara sampai tidak menyadari kehadiran pak Amrin di dekatnya. Pak Amrin sedari tadi memperhatikan cara kerja Tiara. Pria dengan perut gendut dan rambut klimis itu terus menatap Tiara dari ujung kepala hingga kaki, sampai akhirnya memanggil Tiara lantang.
"Tiara!"
Tiara yang terkejut dibuat gugup dengan suara pak Amrin. "Ya pak!"
"Ikut saya ke ruangan!" tatapan mata pak Amrin sangat tidak bersahabat. Ia menunggu Tiara untuk mengikutinya.
"Duh, ada apalagi ini! Semoga bukan kabar jelek."
Tiara masuk ke ruangan pak Amrin, ruangan yang berada paling ujung di lorong yang sempit segaris dengan ruang istirahat karyawan. Dengan was-was Tiara duduk di hadapan Pak Amrin.
"Kamu baru masuk kerja lagi hari ini?"
"Iya pak, demam saya baru membaik."
"Harusnya cuti kan cuma dua hari kenapa jadi tambah sehari?!" suara pak Amrin terdengar meninggi membuat ciut nyali Tiara.
"Tapi saya kan masih demam pak kemarin, masa iya harus masuk juga?!" tanya Tiara memelas.
"Kamu nggak bikin surat keterangan dari dokter!" Bisa bisanya kamu nawar tambah hari. Kan bisa aja kamu bohongin saya!"
Tiara mulai kesal, ia terpancing emosi. "Pak, yang bener aja dong! Karyawan sakit masa tetep masuk kerja! Nanti kalau nularin yang lain gimana, kan bisa saya itu bawa virus, bawa penyakit mematikan pak!"
"Surat dokter!" Pak Amrin mengetuk ngetukkan jari di mejanya.
Tiara tak menjawab ia menatap wajah pak Amrin yang begitu menyebalkan dimatanya. Jangankan pergi ke dokter, minum obat rumahan aja Tiara sudah sangat bersyukur.
"Saya harus melaporkan tindakan ngawur kamu ini ke pak Sofyan dan Bu Ratih! Kamu sudah menyalahi prosedur!"
"Pak jangan gitu dong pak, ini kan cuma masalah kecil pak! Masa iya dilaporkan ke manager langsung," Tiara sedikit merendahkan nada bicaranya, memohon belas kasihan pak Amrin.
"Kamu bayangin aja ya, kalau semua karyawan nyepelein gini cuma karena demam yang nggak jelas juntrungannya gitu, bisa rugi kita bayarin gaji kalian!"
"Tapi kan saya baru kali ini pak ijin, karena sakit juga. Sebelumnya kan belum pernah, masa nggak ada keringanan dikit sih pak." Tiara kembali memohon pada Pak Amrin.
"Kalau semua minta keringanan, terus saya gimana? Bisa dipecat manager karena dianggap nggak becus mengatasi bawahan!" mata pak Amrin menatap tajam Tiara.
Tiara bingung, ia tak tahu harus bicara apa lagi. "Tapi pak kesalahan saya kan ringan, kalau bapak mau saya bikin surat dokter ya saya siap bikin kok pak. Asal jangan laporkan saya ke manager apalagi pecat saya pak."
Mata Tiara terasa panas, nyalinya ciut mendengar kata pemecatan. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri menahan tangisan agar tidak meluncur keluar. Tiara tidak menyadari perubahan ekspresi pak Amrin. Senyuman licik mengembang di bibirnya.
"Saya bisa membantu kamu, tapi ada syaratnya!"
"Syarat? Apa syaratnya pak, apapun deh pak asal saya nggak dipecat!" kepala Tiara mendongak, matanya yang hampir menumpahkan air mata kembali bersinar.
"Kamu harus menjadi … istri saya."
"Hah, apa? Istri?"
" … "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
sepengetahuan aku kalau sampai punya anak di alam nyata ga bisa. kalau di alam ghaib bisa.
2024-05-03
0
Yuni Fitriaty
miris banget nasib ny Tiara dr lahir Thor? dari ayah,ibu nya, Abang ny sampai nasib Tiara sendiri sangat miris.apa emang begini ceritanya sampai akhir. aku takut baper n Ndak kuat😂. hanya Santi yg karakter ny baik di sini. sayang ny. Tiara sangat bodoh
2023-08-14
1
Sri Bayoe
🤣🤣🤣🤣
2023-02-11
0