Bab 15

Di ruang tamu sebuah rumah minimalis. Dua remaja duduk di sofa dengan buku-buku di sekelilingnya. Mereka berdua fokus membaca bukunya masing masing-masing. Walau salah satu diantara mereka ada yang terus mengeluh

"Bosen anjg!" umpat Dyxie sambil melempar buku matematika di tangannya.

"Lo dari tadi baca buku satu belum selesai, ngeluh mulu!" ucap Raksha sambil memukul pelan kepala Dyxie menggunakan buku yang sedang dia baca.

"Lo hobi baca! Gue hobi tawuran! Yakali buku gue ajak tawuran isinya bisa masuk otak?!"

"Terserah. Buruan baca! Jangan harap Lo boleh Istirahat kalau satu buku belum selesai Lo pelajari!" ancam Raksha.

"Bawel!" sewot Dyxie sambil mengambil buku yang ia lempar tadi kemudian kembali membacanya walau gak paham.

Kenapa Raksha ikutan belajar? Jangan salah gess, memang posisi Raksha mengikuti OSN bidang Matematika di ambil Dyxie. Akan tetapi, cowok itu tetap ikut OSN bidang Kimia. Anjay, keren gak tuh.

Waktu berlalu, jam menunjukkan pukul 18.00. Tetapi mereka tetap belajar. Raksha sudah selesai membaca 2 buku, kini akan lanjut buku ke-3. Sedangkan Dyxie baru akan lanjut buku ke-2.

"Udah nih!" kata Dyxie sambil meletakkan buku matematika.

"Lanjut lah!" perintah Raksha.

"Lapar blok! Lo sendiri juga lapar kan?!" tebak Dyxie.

"Sotoy Lo!"

Cowok itu meletakkan bukunya, kemudian masuk kedalam. Tidak terlalu lama mungkin hanya 10 menit. Cowok itu keluar lagi sambil membawa biskuit dan teh hangat, serta dua buku tipis. Oh bukan, lebih tepatnya mirip kliping.

"Nih..."

"Baik juga Lo." puji Dyxie.

"Gak usah Lo makan! Gue kasih racun sianida!" celetuk Raksha.

"Asu! Lo kira gue tikus?!"

Raksha tertawa mendengarnya. Dia akui cewek di depannya ini cukup kocak. Tapi tetap saja, dia masih ingin membalas perbuatan Dyxie kemarin sore.

"Makan kalau lapar! Kalau nggak ya gue habisin sendiri." kata Raksha sambil mencomot satu biskuit dan memasukkannya kedalam mulutnya.

"Kampret!" cewek itu segera ikut mengambil biskuit dan memakannya.

Hingga pada saat yang ditunggu-tunggu Raksha. Yaitu meminum teh hangat yang Raksha buatkan. Raksha tersenyum miring, melihat Dyxie belum sadar dengan apa yang ada di minumannya.

Ketika Dyxie sudah meminum tehnya, sisa setengah barulah Dyxie sadar apa yang ada di dalam teh tersebut karena sesuatu yang Raksha masukkan ke dalam teh masuk ke mulut Dyxie sebagian.

"Bangshat!! Raksha!!!" pekik Dyxie sambil meletakkan gelas teh dengan kasar.

Sedangkan Raksha tertawa puas.

"Lo mau bunuh gue?!"

Lagi-lagi Raksha tertawa. Di dalam teh tersebut ternyata ada cicak yang sudah tidak bergerak. Dan parahnya cicak itu sampai masuk ke mulut Dyxie. Eits, tapi tunggu dulu. Raksha malah mengambil cicak tersebut dan memakannya tanpa jijik.

"Jorok goblok!!"

"Apaan? Cuma permen?" jawab Raksha dengan santainya sambil memakan permen bentuk cicak tersebut.

"Mana mungkin cuma permen?! Empuk gitu teksturnya!" protes Dyxie.

Raksha tertawa lagi, kemudian dia mengeluarkan bungkus permen yang bermerk Yupi dan menaruhnya di atas meja. Ternyata itu permen berbentuk cicak, yang dicat menggunakan pewarna makanan agar semakin mirip dengan aslinya.

"Fuckk you!!" umpat Dyxie sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Raksha.

"Balasan kejadian kemarin sore." jawab Raksha

Gila memang, itu benar-benar sukses membuat jantung gadis itu hampir copot. Dyxie kira dia benar

Setelah itu Raksha memberikan apa yang ia bawa tadi kepada Dyxie, dan menyuruhnya untuk pulang.

"Apaan nih?"

"Itu kisi-kisi soal buat Olimpiade minggu depan." jawab Raksha.

"Jadi gue harus mempelajari ini juga?"

"Iyalah."

Dyxie memutar bola matanya malas, kemudian mengatakan "Ogah!" sambil pergi dari rumah tersebut.

Brak!!

Raksha cuma geleng-geleng melihat cewek itu menutup pintu rumahnya dengan kasar. Rumahnya? Iya rumahnya. Raksha itu punya rumah sendiri yang dibeli dari tabungannya sejak masih SD. Jadi Raksha tinggal sendiri di rumah itu. Mama papanya tinggal di rumah utama.

Setelah beberapa menit Raksha berdiam di sofa. Mengamati sekelilingnya mendadak sepi. Itu hal yang wajar, jika ada tamu yang rusuh dan tamu tersebut pulang pasti suasananya jadi kosong dan sepi. Matanya beralih ke bungkus permen tadi, ia tertawa sendiri mengingat bagaimana cewek sialan tadi kaget dengan ulahnya. Cowok itu sangat puas dengan hal tadi.

Tidak mau berlama-lama kayak orang gila, Raksha segera membereskan ruang tamu rumahnya yang sedikit berantakan dengan buku-buku berserakan dimana-mana. Cowok itu membawa buku-buku tersebut ke kamarnya dan menatanya di rak buku. Tapi karena tidak hati-hati, lengannya menyenggol sebuah pigura.

Prak! Pigura tersebut jatuh, untungnya tidak pecah. Raksha mengambil pigura tersebut dan melihatnya. Itu adalah fotonya saat masih berseragam biru-putih. Dia tersenyum bahagia dipeluk mama dan papanya di foto tersebut. Tetapi beda dengan ekspresi yang ditampilkan Raksha saat ini, bibirnya tersenyum tipis tetapi tersirat kesedihan dimatanya melihat foto tersebut.

"Fuc*k it!" gumam cowok itu sambil meletakkan pigura tersebut dengan kasar kemudian cowok itu berbaring sambil memijat dahinya sendiri. Matanya terpejam karena panas, sesekali saat membuka matanya terlihat matanya yang memerah. Perlahan cairan bening keluar dari mata cowok galak itu.

*

Sedangkan Dyxie baru saja sampai di rumah. Dia melemparkan tasnya ke sembarang tempat dan langsung berbaring di sofa ruang tamu.

"Astaga Dyxie! Ganti baju dulu susahnya apa sih? Anak gadis kok tingkahnya kayak gini?!" omel maminya melihat Dyxie.

"Nanti mamiku sayang, Dyxie capek nih matanya dari tadi lihat angka melulu." kata Dyxie.

Maminya langsung membelalakkan mata mendengar jawaban Dyxie. Dia tidak menyangka bahwa anak gadisnya akan menurut kali ini. Biasanya dia pasti akan membangkang.

"Serius? Terus gimana?" tanya maminya.

"Gimana apanya?

"Ya belajarnya seru nggak?"

"Nggak! Dikerjain anak orang Dyxie! Udah capek-capek belajar dikasih makan sama minum eh di minumannya dikasih cicak! Bukan juga sih, cuma permen bentuk cicak! Tapi kan ya jijik mamii" rengek gadis itu.

Mendengar celotehan anak perempuannya, Indah hanya bisa tertawa. Karena jarang Dyxie mau menceritakan kegiatannya sehari-hari.

"Mami!" panggil Dyxie.

"Apa?"

"Makan malam sudah siap belum? Dyxie lapar, tadi cuma makan biskuit."

"Sudah kok, sana mandi ganti baju dulu. Terus baru makan bareng."

"Sama papi juga?"

"Enggak, papi sudah berangkat tadi siang."

Senyum Dyxie seketika luntur, padahal Dyxie masih kangen dengan papinya tersebut. Tidak bisa dipungkiri, sekalipun Dyxie anak bandel dan papinya juga tergolong tegas. Dyxie sangat menyayangi papinya. Karena hanya saat bersama papinya dia diperlakukan layaknya tuan putri.

"Gapapa, suatu saat kalau masalah kerjaan papi sudah beres semua papi bakal kerja di perusahaan pusat kok. Jadi gak perlu ke luar kota." tutur maminya sambil mengusap kepala Dyxie.

"Iya mih.."

...***...

...Bersambung......

Terpopuler

Comments

Mrinpur

Mrinpur

behhh,,,ons kimia kayak ny otak raksha mirip air encer banget,,,😅😅😅

2022-11-09

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!