Bab 8

Saat pulang sekolah Dyxie berniat kabur tanpa melaksanakan hukumannya. Sepertinya dia lupa dengan ancaman maminya yang akan mengurungnya di kamar selama setahun. Tapi niatnya tidak bisa berjalan dengan mulus. Saat keluar kelas, cewek itu sudah disambut si ketua OSIS galak yang memang menunggunya keluar kelas untuk mengawasi Dyxie melaksanakan hukumannya.

"Lo lagi Lo lagi.."

"Lo kayaknya naksir banget ya sama gue? Kemana-mana Lo ikutin!" celetuk Dyxie.

Melihat perkataannya tidak direspon oleh Raksha, Dyxie berjalan meninggalkan Raksha. Tapi tidak disangka cowok itu malah mengikutinya dari belakang.

"Mereka kenapa sih?" tanya Keyla kepada Aura dengan berbisik.

"PDKT dengan cara yang unik menurut gue" jawab Aura.

Dyxie semakin kesal karena ia tahu bahwa cowok yang dianggapnya menyebalkan itu terus mengikutinya hingga ke luar gedung sekolah.

"Lo ngapain sih anjir?!"

"Ngikutin Lo." jawab Raksha santai

"Kurang kerjaan!"

Dyxie hendak berjalan lagi menuju tempat parkir. Melihat hal itu Raksha langsung paham, cewek ini tidak berniat melaksanakan hukumannya. Ia langsung menarik tas Dyxie dari belakang hingga membuat cewek itu hampir terjungkal.

"Bangshat!" umpat Dyxie.

"Mau kemana Lo?!"

"Pulang lah! Siapa juga yang mau di ikuti cowok titisan sasaeng kayak Lo!" cetus Dyxie.

"Bersihin halaman dulu, baru balik!" perintah Raksha

"Idih, ngapain Lo nyuruh gue? Bersihin aja sendiri sana!"

"Gue yang dapat tugas buat ngawasin Lo!" jawab Raksha dengan ekspresi datar.

Seketika Dyxie bergidik ngeri ketika ingat dengan ancaman maminya. Terpaksa gadis itu harus menurut dan membersihkan halaman sekolah yang sangat luas.

Sedangkan para sahabatnya yang menyaksikan dari kejauhan malah asik menggosipkan ketua gengnya masing-masing. Jadi di SMA itu sistem pertemanannya berkelompok. Yang kaya sama yang kaya. Pick me sama pick me. Perundung sama perundung. Siswa berprestasi sama yang berprestasi juga. Dan yang miskin ditindas perundung.

"Sejak kapan Raksha mau ngurusin begituan?" tanya Oliver.

"Bau-baunya bakal ada kisah benci jadi cinta nih." ucap Galang.

"Setuju sih, gue bakal naik kapal mereka!" sambung Keyla.

"Lo ngapain ikut-ikutan mereka?! Lo kan gak dekat sama mereka." Aura kesal dengan Keyla yang malah sok akrab dengan anak OSIS yang pada dasarnya mereka tidak saling mengenal kecuali tahu na doang.

"Gapapa, ghibah tuh gak perlu dekat. Asal nyambung boleh kok join ghibah" kata Galang sambil mengacungkan jari jempolnya disertai cengiran yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.

"Tuhh, boleh tuh.. gass ghibah bareng!"

"Serah dah.." akhirnya Aura memilih mengalah.

Lupakan dulu para sahabatnya yang menggosipkan mereka. Kita lihat dulu bagaimana interaksi dua orang dengan kepribadian yang bertolak belakang ini.

"Udah ah, cape gue!" ucap Dyxie sambil membanting sapunya.

Ulahnya itu sukses membuat sang ketua OSIS geram hingga memelototi Dyxie.

"Gak usah melotot gitu. Mata Lo copot ntar Lo minta mata gue lagi"

"Ya makanya jangan buat onar!" jawab Raksha.

"Serah gue lah"

"Nyapu yang benar!" perintah Raksha.

Dengan terpaksa Dyxie melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sama sekali seumur hidupnya. Ini bahkan pertama kalinya ia memegang benda yang bernama sapu. Dahulu, jika membuat onar tidak pernah dihukum menyapu. Ia hanya dihukum hormat kepada bendera sampai waktu yang ditentukan. Jika melakukan hal yang gila paling hanya di skors atau yang parah dikeluarkan.

"Lo cewek apaan sih? Pegang sapu aja gak bisa?!" omel Raksha.

"Bodoamat! Nih kalau gak benar sapuin!" ucap Dyxie sambil menyodorkan sapu lidi ke Raksha.

"Ogah banget."

1 jam berlalu. Sekarang sekolah sudah sepi. Teman-temannya sudah pulang semua. Setengah halaman sekolah sudah disapu oleh Dyxie. Tanpa ia sadari tangan kirinya yang terbalut perban mengeluarkan darah. Yap, luka yang ia dapatkan saat membantu ibu-ibu kemarin belum kering. Karena terlalu banyak gerak akhirnya darah keluar lagi dan merembes.

Dyxie melihat tangan kirinya yang mengeluarkan darah, perban putih itu sekarang berubah menjadi berwarna merah akibat terkena darah Dyxie. "Sial.." umpat Dyxie saat melihat kondisi tangannya itu. Tapi dia tidak menghiraukan hal itu. Cewek itu segera lanjut menyapu tanpa mempedulikan tangannya yang terluka. Yang ada di otaknya saat ini adalah hukumannya cepat selesai.

Berbeda dengan Raksha. Sekalipun Raksha orangnya galak dan tegas, dia masih memiliki hati nurani. Cowok itu merasa penasaran sekaligus kasihan melihat tangan Dyxie yang mengeluarkan darah. Cowok yang tadinya bersandar di pohon mangga mengawasi Dyxie, berjalan menghampiri cewek itu.

"Tetap disini, selesaikan hukumannya." kata Raksha sebelum pergi meninggalkan Dyxie. Tidak lupa Raksha juga membawa kunci motor Dyxie.

"Pergi aja saja! Gak usah balik sekalian!" jawab Dyxie sewot.

Raksha pergi kira-kira selama 30 menit. Setelah Raksha kembali, ia tidak menemukan Dyxie yang sedang menyapu. Awalnya dia sudah berpikir kalau cewek itu kabur dari hukumannya. Matanya segera menyapu seluruh area sekolah. Dilihatnya Dyxie yang tertidur dengan posisi duduk di bawah pohon mangga tempatnya bersandar tadi.

"Disuruh nyapu malah ngorok!"

Mata Raksha bergulir ke arah tangan Dyxie yang terluka. Kemudian ia mengalihkan pandangannya melihat halaman sekolah yang sudah bersih. "Kirain belum selesai.." batin Raksha. Setelah melihat pekerjaan Dyxie sudah selesai. Cowok itu meletakkan barang yang ia beli dan kunci motor Dyxie tadi diatas pangkuan Dyxie. Kemudian dia pergi meninggalkan sekolah.

Kira-kira 10 menit setelah Raksha meninggalkan area sekolah Dyxie terbangun.

"Hng? Apaan nih?" tanya Dyxie heran melihat barang-barang di pangkuannya.

Barang-barang itu adalah perban, obat merah, kapas, dan lainnya. Sudah jelas itu digunakan untuk mengobati tangan Dyxie yang terluka. Tapi.. siapa yang memberikan itu kepadanya? Itu pertanyaan yang berputar di kepala Dyxie.

"Mana mungkin dia yang ngasih.."

Tidak mau ambil pusing. Dyxie segera membuka perbannya. Setelah itu ia obati dan memasang perban yang baru dan masih bersih.

Setelah itu Dyxie pergi ke parkiran motor karena sudah sangat sore. Bahkan hampir malam. Di parkiran itu hanya tinggal motornya sendiri. Bisa dipastikan saat ini hanya dia yang ada di sekolah. Sejenak gadis itu memperhatikan seluruh area sekolahnya.

"Hii.. lama-lama ngeri juga.." gumam Dyxie saat melihat pemandangan sekolahnya yang mendadak jadi seram karena sudah sore hari. Semburat oranye ditambah keadaan yang sudah sepi itulah yang membuat sekolah itu terkesan horor Dimata Dyxie. Beda sekali dengan suasana sekolahnya dipagi hari.

"Bekas kuburan nih pasti!" celetuk Dyxie ngawur sebelum mengendarai motornya untuk pulang.

...***...

...Bersambung......

Terpopuler

Comments

ᥫ᭡ 𝐊𝐢𝐜𝐤𝐥𝐢 ᥫ᭡

ᥫ᭡ 𝐊𝐢𝐜𝐤𝐥𝐢 ᥫ᭡

mampir nihh, gak kalah seru ninh

2022-11-02

4

Arfadhila Oktari

Arfadhila Oktari

cie pdkt

2022-11-02

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!