10 menit berlalu. Bunyi bel yang menandakan jam pelajaran kedua telah dimulai. Artinya murid-murid yang dihukum karena telat sudah diperbolehkan kembali ke kelasnya masing-masing untuk mengikuti pembelajaran sebagaimana mestinya.
ceklek..
Dyxie berjalan dengan loyo ke arah tempat duduknya yang ada disamping Keyla. Dahinya berkeringat. Wajahnya sangat pucat. Tangannya juga gemetaran.
"Lo kenapa?" tanya Keyla yang kaget melihat kondisi sahabatnya.
Dyxie tidak menjawab pertanyaan Keyla, gadis itu hanya menggelengkan kepalanya kemudian duduk sambil menahan sakit diperutnya.
"Lo tadi gak sarapan?" tanya Aura yang duduk di belakang mereka.
"Nggak, gak sempat." jawab Dyxie.
Aura menghela napas berat. Kemudian dia merogoh bagian tasnya yang paling kecil. Gadis itu mengambilnya obat berwarna hijau muda, kemudian memberikannya kepada Dyxie. Aura sudah tahu jelas jika maag yang diderita sahabatnya sedang kambuh.
"Kita gak ada makanan disini, Lo masih kuat? Atau kita izin saja?" tanya Aura.
"Dia Bu Wanda, pasti ngira kita bakal bolos" jawab Dyxie.
"Gapapa, biar dia kena karma kalau gak percaya" cetus Keyla.
Mendengar itu Dyxie tertawa kecil. Akhirnya dia memilih izin karena memang sakit. "Izin saja, gak kuat gue.."
Setelah mendengar jawaban Dyxie, walaupun sebelumnya sempat ragu tapi Aura langsung mengangkat tangannya untuk meminta izin pergi ke UKS mengantar Dyxie.
"Ya? Ada apa?"
"Bu, izin ke UKS. Maag-nya Dyxie kambuh" jawab Aura.
"Gak boleh! Ini pasti akal-akalan kalian kan biar bisa bolos?!" tebak Bu Wanda sambil berkacak pinggang.
"Astagaaa... serius Bu. Bibir Dyxie pucat nih Bu!" protes Keyla.
"Bisa saja itu cuma makeup"
"Guru gak berperasaan! Kita memang nakal Bu, tapi kita gak pernah bermain-main dengan yang namanya kesehatan!" ucap Aura dengan suara lantang dan tatapan tajam ke gurunya. Sesaat Aura mengalihkan pandangannya ke Dyxie yang tersenyum tipis tapi lemah. Kemudian ia menatap Bu Wanda lebih tajam dari sebelumnya. "Kita gak butuh izin dari guru gak berperasaan! Ayo ke UKS!"
"Jaga bicaramu Aura Axelyn!!!" bentak Bu Wanda
Aura hanya menatap remeh gurunya, ia sama sekali tidak menghiraukan gurunya yang naik pitam dibuatnya. Gadis itu segera memapah Dyxie dibantu oleh Keyla keluar kelas. Tapi ketika belum sampai di UKS, Dyxie pingsan di depan kelas 3-1 tepatnya kelas dimana Raksha dkk berada.
"Dyxie!!!" pekik Keyla yang khawatir melihat Dyxie pingsan.
Itu menarik perhatian seisi kelas 3-1 untuk melihat apa yang terjadi diluar kelasnya. Termasuk Raksha, Oliver dan juga Galang. Ada yang senang melihat Dyxie seperti itu karena benci. Ada juga yang kasihan.
Salah satu yang kasihan melihat Dyxie pingsan adalah seorang gadis manis yang sederhana. Tubuhnya mungil, rambutnya di kuncir satu, tanpa ada jepitan yang menghiasi. Gadis tersebut mendekati 3 sahabat itu.
"Dia kenapa?" tanya salah satu siswi kelas itu.
"Maag-nya kambuh.." jawab Aura.
"Lo kuat gendong dia gak?" tanya Keyla.
Gadis itu tersenyum kikuk, mana mungkin dirinya yang lebih kecil dari Dyxie sanggup menggendongnya sampai UKS. Gadis itu menoleh ke arah teman-temannya berharap ada yang mau membantu. Tapi tidak ada yang mau keluar kelas.
Ceklek... akhirnya ada satu cowok yang keluar kelas. Dia adalah Raksha, si ketua OSIS. Ternyata dia tidak sendiri. Oliver dan juga Galang mengekor dibelakang Raksha.
"Lo aja yang gendong." cetus Galang.
"Gak kuat gue. Lo aja Lang" jawab Oliver, malah balik menyuruh Galang. Tapi anehnya tatapannya mengarah ke Raksha.
Galang tentunya paham maksud Oliver. "Sha, Lo aja dah yang gendong dia. Kan Lo yang paling sering nge-gym" kata Galang sambil menaik turunkan alisnya.
"Malu sama sixpack Lo!"
"Nusuk banget dah omongan Lo Sha" ucap Galang dramatis.
Raksha jongkok di samping Dyxie, bukannya segera menggendongnya tapi Raksha malah mengajaknya bicara.
"Bangun Lo!"
Samar-samar Dyxie mendengar ada yang memanggil dirinya. Tapi dia tidak bisa membuka mata. Sekalinya bisa membuka mata sedikit, pandangannya malah buram. Tapi dia tahu jelas jika cowok didepannya itu si Ketos yang galak. Matanya pun menyorotkan aura permusuhan.
"Ogah gue gendong dia." ucap Raksha, kemudian kembali ke kelas.
"Njir, gak ada hati nurani!" kata Oliver.
Akhirnya Galang yang menggendong Dyxie ke UKS. Ya, walaupun Dyxie suka membuat onar.. Mereka sebagai sesama murid tetap wajib menolongnya. Lagian mereka tidak membenci Dyxie.
*
Setelah sekian lama akhirnya Dyxie sadar. Gadis itu melihat sekelilingnya yang dikelilingi gorden putih. Ia sudah bisa menebak tempat apa itu.
Srekk... seseorang membuka gorden. Itu adalah Keyla dan Aura. Mereka tadi keluar sebentar, untuk pergi ke kantin membeli makanan untuk Dyxie.
"Lo udah sadar?!"
"Gimana keadaan Lo?"
"Perut Lo masih sakit?"
"Perlu ke rumah sakit nggak?"
Dyxie langsung dihujani pertanyaan dari Aura dan Keyla. Kepanikan tercetak jelas di wajah mereka. Bukan karena apa, Dyxie memang memiliki penyakit maag. Tapi baru kali ini Dyxie sampai pingsan. Siapa yang tidak khawatir?
"Udah ih, gue gapapa. " kata Dyxie sambil cengengesan.
"Sini makanannya, lapar gue. Itu buat gue kan?" katanya lagi.
"Nih.." Aura memberikan sebungkus nasi kuning dan juga air minum.
"Kok bisa pingsan?" tiba-tiba Keyla bertanya.
"Mana gue tau. Tanya sana sama Tuhan, kenapa gue pingsan?!" celetuk Dyxie.
"Udah, gak usah ribut! Nanti pulang sekolah gak usah keluyuran dulu! Istirahat di rumah atau kalau nggak ke rumah sakit saja, cari obat." tutur Aura panjang lebar.
"Gue sih pengennya langsung balik, tapi nanti pasti gue dicegat sama si Raksasa di depan kelas" jawab Dyxie sambil memutar bola matanya malas.
Aura dan Keyla saling tatap, mereka tahu pasti mengapa Raksha akan menunggu Dyxie di depan kelas. Karena jika tidak pasti Dyxie akan kabur. Kedua gadis itu sepakat akan menggantikan Dyxie menyapu halaman sekolah.
"Yaudah kita bantuin." ujar Aura dan Keyla bersamaan.
*
Waktu berlalu. Jam menunjukkan pukul 3 sore. Bel pulang juga sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Dyxie dan sahabatnya segera bergegas pergi dari ruang UKS, dan menuju halaman sekolah. Upss.. apa ini? Ternyata bolos lagi ges, nggak kapok mereka.
Sesampainya di sana, tanpa berlama-lama tiga bersahabat itu segera menyambar sapu masing-masing. Mereka menyapu halaman bersama-sama. Jika kemarin Dyxie pulang sekitar setengah 5 sore. Kali ini hukumannya selesai lebih cepat karena dibantu 2 sahabatnya.
"Akhirnya kelar!" ucap mereka bersamaan. Kemudian tertawa bersama. Bagi mereka hal menyenangkan itu sederhana. Jika dilakukan bersama-sama semua pasti menyenangkan. Setelah mengembalikan sapu ke tempat semula, mereka menaiki motornya masing-masing dan meninggalkan sekolah.
Tapi, tanpa mereka sadari. Ternyata sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka bertiga. Dia tersenyum tipis setelah ketiga gadis itu keluar gerbang sekolah, kemudian meninggalkan sekolah yang sudah sepi.
...***...
...Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Ayys
like dulu ya thor, bacanya nanti
2022-12-07
1
Arfadhila Oktari
lanjut tor
2022-11-03
2