Bab 9

Malam hari di rumah Dyxie, seperti biasa bukannya belajar Dyxie akan duduk didepan laptop dan menonton film dengan genre favoritnya. Yaitu genre thriller. Baginya dengan menonton film bergenre thriller akan membantu dalam kegiatan sehari-harinya.

"Dyxie!!! Besok ada PR nggak?!!" teriak maminya dapur. Setiap hari memang seperti itu. Setiap malam, maminya akan mengingatkan Dyxie dengan PR dan menyuruh gadis itu belajar. Persis ibu-ibu yang memarahi anak TK dan menyuruhnya belajar.

Brak..

"Bukannya belajar malah liat film!"

"Nanti mi, lagian gada PR." jawab Dyxie.

Maminya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya. Oh iya, jangan tanya kemana papinya Dyxie. Papinya Dyxie jarang dirumah. Dia biasanya pergi ke luar negeri selama berbulan-bulan untuk mengurus cabang perusahaan. Maminya menyerah menasihati anak gadisnya malam ini.

Pada malam ini Dyxie asik dengan dunianya sendiri. Dia menonton film hingga larut malam. Dan baru tidur sekitar pukul 2 dini hari.

"Huah jam berapa nih?"

"Si Anjir!! Jam 2?!!" Dyxie membelalakkan matanya kaget setelah melihat angka di layar hpnya yang menunjukkan pukul 02.00 AM.

"Gila, bisa terlambat gue nanti!"

Dengan cepat Dyxie pergi tidur, berbagai posisi dicobanya. Terlentang, miring kanan, miring ke kiri sampai tengkurap ia coba. Bahkan cara konyol yang di ajarkan neneknya dulu yaitu menghitung angka sebanyak-banyaknya juga dia coba. Tapi tetap saja gadis itu tidak bisa tidur.

"Fix! Besok gue pasti terlambat!"

Benar saja. Keesokan harinya Dyxie benar-benar telat bangun. Bahkan suara alam yang memekakkan telinga pun tidak mampu membangunkan gadis itu.

Ceklek.

"ASTAGA DYXIE!!! BANGUN HEH!!"

Bruakk..

"Aishh... mamii.. ngagetin tahu!" keluh Dyxie yang kaget hingga jatuh dari ranjang karena maminya membangun dia dengan suara yang ibarat toa masjid.

"Ini nih akibatnya! Semalam disuruh belajar asik nonton film! Terus begadang sampai subuh!"

"Sekarang telat bangun kan?? Telat bangun jadi buru-buru! Gak sarapan! Sampai sekolah telat! Dihukum lagi! Belum lagi kalau maag kamu kambuh!"

Gadis itu cuma mengusap-usap telinganya saat di omeli maminya pagi-pagi. Tak lupa dengan ekspresinya yang sangat menjengkelkan.

"Yaudah, biar gak telat mami keluar dulu. Jangan ngomel. Dyxie mau mandi!" ucapnya sesaat sebelum berlari masuk kamar mandi.

Sesuai yang dikatakan maminya, Dyxie benar-benar tidak sarapan karena takut terlambat datang ke sekolah. Jika terlambat biasanya siswa atau siswi akan dihukum hormat ke bendera sampai jam pelajaran ke-2. Mana mau Dyxie melakukan itu.

"Damn!! Gue beneran terlambat!"

Beruntung sekali satpam tidak ada di pos, karena dia sedang menghukum anak-anak lain yang terlambat di lapangan upacara. Itu memberikan kesempatan Dyxie untuk kabur meninggalkan pos satpam dan pergi ke belakang sekolah. Apa yang akan dia lakukan? Tentu saja memanjat.

Bruk..

"Hehe.. beruntung banget Lo Dyxie.." puji Dyxie pada dirinya sendiri.

Baru saja Dyxie mengatakan bahwa dirinya beruntung, tetapi ternyata tidak seberuntung itu. Setelah ia turun dari tembok belakang sekolah, gadis itu sudah disambut tatapan tajam si Ketua OSIS yang mengawasi dirinya melaksanakan hukuman kemarin.

"Kecepatan gue kayaknya bilang beruntung." gumam Dyxie.

"Ekhem.." cowok itu masih saja menatap datar Dyxie sambil bersedekap dada.

Menyadari dirinya masih ditatap tajam oleh si Ketos, yang tadinya ekspresi Dyxie menyebalkan seketika berubah drastis. Saat ini gadis itu menampilkan cengiran khas miliknya. Sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Ke lapangan!" titah cowok itu tanpa mengubah ekspresinya.

"Bacot Lo Raksasa!" seketika Dyxie merubah ekspresinya lagi ketika Raksha menyuruhnya mengikuti hukuman. Tanpa menghiraukan Raksha, cewek tomboi itu berlalu begitu saja.

Entah ada daya tarik apa si Dyxie. Pada dasarnya Raksha tipikal orang yang cuek terhadap urusan orang lain. Tapi untuk gadis ini sepertinya berbeda. Bahkan dia mau membelikan alat pengobatan untuk Dyxie kemarin. Hari ini, Raksha yang biasanya tidak mau ikut-ikutan menghukum murid yang terlambat, kali ini dia malah menyuruh Dyxie mengikuti hukuman.

Melihat dirinya tidak dihiraukan gadis pembuat onar tersebut, Raksha berjalan agak cepat supaya bisa mengejar Dyxie. Kemudian ia menarik tas Dyxie hingga gadis itu hampir terjungkal.

"Sial Lo! Gak ada cara lain apa selain tarik tas?!" protes gadis itu.

"Serah gue lah." jawab cowok itu menirukan perkataan Dyxie kemarin.

"O-G-A-H! Ogah!" setelah mengatakan itu Dyxie ingin beranjak pergi, tapi Raksha lebih dulu menyeret dirinya ke lapangan dengan menarik tasnya.

*

Sesampainya di lapangan, barulah Raksha melepaskan Dyxie.

"Dia terlambat" ucapnya dengan santai.

Oliver yang bertugas menghukum murid-murid yang terlambat, seketika cengo ketika melihat Raksha yang membawa Dyxie kelapangan.

"Tumben? Biasanya bodoamat?" tanyanya.

"Biar gak buat onar mulu" jawab Raksha, kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada Dyxie yang mencoba kabur dari lapangan. "Mau kemana Lo?!"

"Sialan.."

Pada akhirnya Dyxie tetap harus mengikuti hukuman bersama murid-murid yang terlambat lainnya dengan hormat kepada bendera sampai jam pelajaran ke dua.

Baru 30 menit gadis itu menjalankan hukumannya, tapi perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Sejak tadi perutnya berbunyi nyaring karena lapar. Kini perutnya malah sakit, sudah pasti maag-nya kambuh.

"Sial banget gue hari ini.."

Ya, walaupun kesialan itu bermula dari dirinya sendiri. Tapi ia memang sangat sial hari ini. Terlambat bangun, jatuh dari ranjang, diomeli maminya, telat datang ke sekolah, dihukum, kelaparan, sekarang maag yang dideritanya kambuh karena tadi tidak sarapan.

"Oke, Dyxie.. 10 menit lagi jam kedua.. semangat!" Dyxie menyemangati dirinya sendiri.

Dari lantai 3, dua sahabatnya tidak fokus mengikuti pembelajaran karena melihat Dyxie yang dihukum di lapangan. Ingin rasanya mereka ikut keluar dan menjalankan hukuman bersama Dyxie. Di lantai yang sama juga, namun beda ruangan kelas, seorang cowok berdiri di dekat jendela kelasnya sambil melihat satu-persatu 10 murid yang sedang dihukum. Tapi sebagian besar fokusnya tertuju pada si gadis pembuat onar.

"Dilihat terus, jangan-jangan beneran naksir Lo?"

"Diam Lo Oli!" celetuk Raksha yang kesal diledek Oliver.

"Kenapa orang tua gue harus ngasih gue nama Oliver?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil tersenyum pasrah.

"Tapi bener loh, jarang Lo perhatiin cewek sampai segitunya. " timpal Galang membenarkan perkataan Oliver.

"Nggak, gue cuma tertarik buat ngasih pelajaran sama tuh cewek. Biar kapok." jawab Raksha dengan jujur.

"Ah masa??" Oliver dan Galang terus saja meledek ketua OSIS itu.

"Mulut Lo berdua kayaknya perlu dilakban pakai koyo!" ucap Raksha sambil melayangkan tatapan jahil ke dua sahabatnya.

Mendapatkan tatapan seperti itu membuat Oliver dan Galang lari dan kembali ke tempat duduknya masing-masing sambil tertawa sekaligus takut jika mulut mereka benar-benar dilakban pakai koyo.

"Kurang kerjaan." cowok itu memfokuskan pandangannya lagi kepada Dyxie yang masih menjalankan hukuman. Tapi jika dia perhatikan lebih teliti, terlihat jelas gadis yang diamatinya itu meringis karena kesakitan.

"Kenapa lagi tuh cewek?" gumam Raksha.

...***...

...Bersambung......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!