Bab 11

Malam hari di rumah Dyxie, ralat tengah malam. Gadis itu mengendap-endap keluar rumah. Rumahnya yang tidak dipasang CCTV memudahkan dirinya untuk kabur dari rumah malam itu. Untuk apa?

Brrmm... brrmm.. brrmmm... Suara motor bersahut-sahutan di jalanan yang sepi. Disekelilingnya ada beberapa anak remaja yang melihat di pinggir jalan. Di tengah jalan, ada 2 motor yang berjajar di belakang sebuah garis putih. Sudah bisa ditebak bukan? Apa yang dilakukan Dyxie? Yap, balap liar.

"Siap kalah nona muda Dyxie?" tanya Viola dengan angkuh.

"Hm, taruhan?" Dyxie hanya menanggapinya dengan santai.

Viola mengepalkan tangannya erat-erat. Dia benar-benar membenci lawan balapnya malam ini. Karena dia sudah kalah berulang kali dari Dyxie.

"Gue menang motor Lo milik gue!" ucap Viola sambil menunjuk motor yang dipakai Dyxie.

Dyxie tertawa mengejek. Kemudian menatap sinis Viola. "Kenapa? Motor Lo burik ya? Ga bisa ngalahin motor gue?" tanya Dyxie sambil tertawa. "Gue menang, transfer 50 juta ke rekening gue!" lanjutnya kemudian.

Brrmm.. brrmm... brrmmm...

Seorang gadis cantik menggunakan kaos putih, dan celana jeans pendek berjalan ke depan motor Dyxie dan Viola sambil membawa bendera. Yang nantinya bendera itu akan dijatuhkan sebagai pertanda balapan dimulai. "Ready?? Go!" teriak gadis yang membawa bendera tadi sambil menjatuhkan benderanya.

Brummm. Baik Dyxie maupun Viola memutar gasnya dengan cepat. Motor mereka melaju bagaikan angin. Tetapi, seperti sebelumnya Dyxie selalu memimpin. Dyxie berada jauh di depan Viola. Karena memang skill balapan cewek itu tidak main-main.

"Ckckck... kasian 50 juta.." gumam Dyxie yang tahu jika Viola jauh tertinggal dibelakangnya, kemudian mempercepat laju motornya lagi.

Sedangkan Viola di belakang, dengan nafsu yang menggebu-gebu ingin mengalahkan Dyxie segera memutar gasnya sekuat-kuatnya. Dia tidak ingin kalah dari Dyxie malam ini. "Gue gak akan kalah malam ini!" kata Gadis itu dengan sorot mata kebencian.

Kita kembali ke Dyxie. Gadis tomboi itu melirik ke spion motornya sekali lagi memastikan bahwa Viola masih jauh tertinggal dibelakang dirinya. Tetapi salah, Viola bisa menyusul Dyxie. Tidak akan membiarkan kemenangannya berturut-turut hilang, Dyxie memutar gasnya lagi dan melaju lebih cepat dari sebelumnya.

"Apa.. bagaimana bisa?!" gumam Viola ketika melihat betapa cepatnya Dyxie melaju.

Lagi. Malam ini Dyxie berhasil mengalahkan Viola untuk yang kesekian kalinya. Sekitar 2 detik setelah Dyxie melewati garis finish barulah Viola melewatinya.

"Jangan lupa 50 juta ya cantik..."

Viola mendengus kesal. Ingin rasanya gadis itu memukul wajah Dyxie yang menyebalkan. Tetapi jika ia memukulnya ia akan terlihat semakin memalukan. Sudah kalah, dan malah memukul lawannya karena tidak bisa menerima kekalahan. Viola terlihat mengutak-atik hpnya dengan ekstrak yang masih kesal. Setelah itu Viola menunjukkan layar hpnya ke Dyxie. "Puas?!"

Dyxie terkekeh, kemungkinan mengatakan "Sangat puas." sambil mengacungkan 2 jempolnya ke arah Viola yang di detik berikutnya ia membalik jempolnya disertai bibirnya yang tersenyum miring.

Tidak mau membuat dirinya semakin malu, Viola segera memutar gasnya dan melesat pergi dari sana di ikuti sikembar goblok. Cika dan Ciki.

"Congrats bestiee!!!" teriak Aura dengan heboh saat menghampiri Dyxie.

"Gila, kece banget Lo!" puji Keyla.

"Gimana? Shopping?" tanya Dyxie sambil menaik turunkan alisnya.

"Gass!!!" jawab Aura dan Keyla bersamaan.

Kemudian ketiga gadis itu mengendarai motornya secepat kilat di jalanan malam yang sepi.

*

Keesokan harinya, Dyxie, Aura dan juga Keyla berangkat bersama. Pagi ini mereka cukup santai karena baru jam setengah tujuh. Memang aneh sih, jika Dyxie bergadang karena menonton film dia akan telat bangun. Tapi jika Dyxie bergadang karena balapan, dia akan semangat dan tidak pernah terlambat bangun keesokan harinya.

Ketika memasuki area sekolah seluruh siswa ataupun siswi menatap mereka bertiga. Banyak yang menggosipkan Dyxie karena ia pingsan kemarin. Tapi Dyxie tetap bodoamat, omongan orang cuma di anggap angin lalu.

"Kurang kerjaan banget ngomongin orang!" ucap Aura sewot.

"Biarin, ntar kalau capek juga diam. Atau," Dyxie menggantung kalimatnya sambil tersenyum miring. Itu membuat Aura dan Keyla penasaran. "Kita bisa membalikkan keadaan." sambungnya.

"Hah?" Aura dan Keyla tidak paham dengan perkataan Dyxie.

"Kalian gak sadar? Mereka yang menggosipkan kita, sebagian besar adalah pendukung Viola dan dua anteknya itu" jelas Dyxie.

"Lalu?" tanya Keyla karena masih tidak paham.

"Bego banget sih Lo!" cetus Aura sambil menoyor kepala Keyla. "Ya berarti, kalau kita bisa menyingkirkan trio setan itu maka seluruh siswa dan siswi yang mendukungnya akan berpindah ke pihak kita. Kemudian mereka berbalik mengolok-olok Viola, serta Cika dan Ciki." terang Aura panjang lebar demi menjelaskan perkataan Dyxie kepada Keyla yang kapasitas otaknya terlalu minim untuk memahaminya sendiri.

Sedangkan Keyla cuma mengangguk walau masih gak paham.

"Yaudah ayo ke kelas" ajak Keyla.

"Bolos saja lah, malas gue hari ini masih ada pelajarannya Bu Wanda." ajak Dyxie.

"Gass! Gue juga malas diceramahin!" ujar Aura.

"Bolos dimana dong? Rooftop lagi? Bosan gue, masa tiap bolos selalu kesitu." tutur Keyla.

"Noh, cafe belakang sekolah." jawab Dyxie dengan santainya.

"Berarti lewat tembok belakang kan? Soalnya gak mungkin kalau lewat depan, pasti di cegat sama pak satpam gendut" ujar Aura.

Seketika Keyla dan Dyxie meledakkan tawanya, memang benar satpam sekolah mereka itu badannya gemuk. Pipinya tembam, dan perutnya buncit. Ditambah tompel di pipi kirinya dan juga rambut kribonya. Mengingatnya sekilas saja bisa membuat tertawa.

Sebelum jam pelajaran pertama berbunyi, mereka bertiga berlari menuju belakang sekolahnya. Walaupun sekolah itu terkenal sekolah elit tapi belakang sekolahnya sama saja dengan sekolah lainnya, kotor dan banyak rumput liar. Tembok pembatasnya saja ditumbuhi lumut yang sudah kering.

Keyla disuruh memanjat terlebih dahulu karena dia yang paling muda diantara mereka bertiga. Kemudian disusul Aura. Tetapi tiba saatnya Dyxie yang memanjat, bahkan belum sempat lompat dari tembok tiba-tiba seorang cowok meneriaki dirinya.

"Mau kemana Lo?!"

Mendengar suara cowok yang tidak asing di telinganya, Dyxie menoleh. Terlihat Raksha dibawah sana yang melotot ke arahnya.

"Hish, titisan sasaeng.." gumam Dyxie.

"Turun Lo!" perintah Raksha.

"Ogah! Siapa Lo nyuruh gue?!" setelah mengatakan itu Dyxie melompat ke luar sekolah.

"Damn.. bakal kena lagi gue.." umpat cowok itu kemudian pergi dari sana.

Di seberang tembok.

"Ada apa tadi?" tanya Keyla kepo.

"Itu si Raksha?" tanya Aura.

"Hm, titisan sasaeng spek raksasa."

"Njirr" Aura dan Keyla tertawa ngakak mendengar perkataan Dyxie barusan.

"Udah ah, males gue bahas dia. Ke cafe kuy!!" ajak Dyxie.

"Ini kita bolos cuma jamnya Bu Wanda kan?" tanya Keyla.

"Iyaaa!" sahut Dyxie dan Aura bersamaan.

Setelah itu mereka bertiga pergi ke cafe yang Dyxie maksud.

Sedangkan Raksha masih kesal dengan Dyxie, bukan karena apa. Jika ketahuan 'dia' bahwa Dyxie membolos maka Raksha juga akan kena akibatnya. Wow, ada hubungan apa Raksha ini dengan Dyxie? Dan siapa yang dimaksud dengan 'dia'?

...***...

...Bersambung......

Terpopuler

Comments

Arfadhila Oktari

Arfadhila Oktari

memang anak motor antum

2022-11-05

5

Hyura-ya

Hyura-ya

lanjut Thor!😁

2022-11-04

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!