Satu persatu kebenaran itu terungkap, selama itu pula Zidan semakin merasakan perubahan signifikan dalam dirinya.
Rasa kehilangan terus menerus menerjang membuat ia tak tentu arah. Setiap hari ia menyibukkan diri dengan berlatih piano, melampiaskan rasa rindunya yang tertahan.
Ia juga sudah tidak mempedulikan lagi mengenai Bella. Ia telah menyewa pengacara untuk mengurus perpisahan mereka.
Kejadian yang datang terus menerus menerpa dirinya semakin menimbulkan penyesalan. Sesekali ia kembali teringat pada mendiang istrinya, Ayana.
Seperti malam ini, sejak sore tadi Zidan tidak pernah berhenti memainkan alat musik klasik tersebut. Deretan note yang bertengger di depannya merupakan sebuah lagu ciptaannya sendiri.
Dentingan nada-nada lembut menggetarkan jiwa mengalirkan air mata. Kelopak yang masih menutup meneteskan cairan bening mengalir di pipi.
Suasana melankolis tersebut menambah kerinduan akan sosok Ayana sudah menghilang dalam pandangan.
"Ayana ... maafkan aku."
...***...
Di sudut desa yang tidak terjamah oleh orang luar, memperlihatkan seorang wanita berhijab panjang tengah melukis di pekarangan. Sesekali angin pagi menyambut, menyapanya dengan sapuan pada wajah cantiknya.
Hijab panjang yang terulur serta gamis putih yang terbentang tersapu angin menerjang. Keberadaannya bagaikan lukisan hidup yang memiliki arti kesendirian dalam keheningan.
Lukisan matahari terbit tercetak jelas menyamai apa yang tengah di pandangnya saat ini. Tanpa ekspresi berarti ia terus menyapukan kuas ke atas kanvas mengutarakan perasaan terdalam.
"Ini, kamu mendapatkan undangan." Tiba-tiba saja seseorang datang dan mengulurkan undangan berwarna emas padanya.
"Mas Danieal, sudah berapa kali aku bilang? Jangan datang tiba-tiba, lihat ini ... gambarku jadi berantakan," katanya mengeluh.
Danieal berjalan ke sebelahnya dan melihat lukisan itu baik-baik saja. "Kamu memang mengada-ngada, Ayana."
Ayana, wanita berhijab itu langsung menoleh memberikan tatapan nyalang. "Jangan sebut aku dengan nama itu lagi. Ghazella ... itu nama belakangku."
Danieal tergelak lalu menjauhkan diri takut terkena terkaman wanita yang selama kurang lebih empat bulan ini berada dalam penanganannya.
"Baiklah ... baiklah, Ghazella. Susah sekali, aku lebih nyaman memanggilmu Ayana."
Ayana berdecak lalu menyelesaikan lukisannya. Danieal melipat tangan di depan dada seraya memperhatikan sang pasien yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
"Jadi, apa kamu akan pergi ke undangan itu?" tanyanya kembali pada topik.
"Belum saatnya," kata Ayana menjelaskan.
"Mau sampai kapan? Kamu tahu orang yang aku sewa untuk memberikan informasi pada suamimu sudah percaya jika ... kamu telah meninggal. Beruntung aku mempunyai rekan yang bisa bekerja sama. Dokter forensik, dokter di ibu kota, serta korban meninggal merupakan rencana kita yang sempurna."
"Tidak mudah meyakinkan mereka. Karena itu bisa melanggar kode etik kedokteran, tapi yah ... namanya juga hidup harus ada kejutan. Beruntung mereka mau membantumu, Ayana. Sekarang kamu memang lebih dikenal sebagai Ghazella, bahkan lukisanmu juga sudah sangat laku di ibu kota."
"Banyak pengusaha, artis terkenal, sampai orang-orang ternama pun membeli lukisanmu. Apa yang kamu tunggu untuk menunjukan jati dirimu pada khalayak ramai?" tutur Danieal panjang lebar mengingat kembali apa yang sudah mereka berdua lakukan.
Beberapa bulan lalu Ayana mengidap depresi cukup parah. Setiap hari ia terus mengamuk dan mengamuk tidak peduli pada sekitar.
Ia merusak barang-barang, berteriak, dan kadang menyakiti diri sendiri. Terdapat bekas luka sayatan di pergelangan tangan kirinya.
Tanpa Danieal sadari waktu itu Ayana menyayat urat nadinya sendiri dengan darah berceceran di mana-mana. Beruntung ada salah satu perawat yang menemukannya hingga pada akhirnya ia bisa diselamatkan.
Kondisi tersebut membuat Danieal penasaran akan masa lalu yang sudah Ayana lewati. Ia berpikir tidak mungkin jika wanita itu sangat depresi akibat kejadian pria tua yang hampir melecehkannya saja.
Setelah mendekati Ayana secara halus, ia pun terbuka dan menceritakan semuanya pada Danieal. Dokter yang merangkap sebagai psikolog itu pun memahami dan turut prihatin dengan keadaannya.
Pengkhianatan, kebohongan, bahkan sampai menghilangkan nyawa anaknya sendiri menjadi pukulan telak yang tidak bisa dengan mudah diterima begitu saja. Alhasil depresi serta trauma menjadi buah akibat kejadian yang terus menimpa.
Tenggang rasa dokter itu pun mendorongnya untuk membantu. Danieal merupakan anak pertama dari keluarga Arsyad. Ia adalah pewaris tunggal rumah sakit terbesar di ibu kota, tetapi keberadaannya sangat dirahasiakan.
Karena orang tuanya ingin Danieal merintis perjuangan itu dari bawah sampai bisa menerima tanggung jawab sebagai kepala rumah sakit. Dulu ia sempat mempunyai seorang adik perempuan, tetapi meninggal saat usianya menginjak dua puluh tahun.
Adiknya bernama Eliza Arsyad mengalami depresi. Karena mengalami peristiwa mengerikan. Baru saja ia duduk di bangku kuliah, seorang pengajar yang namanya sudah besar memperkosanya terus menerus.
Kondisi tersebut membuat Eliza terpuruk dan tidak mempunyai semangat hidup lagi. Ia tidak mau makan ataupun minum yang membuat keadaannya semakin memperihatinkan.
Setiap hari Danieal terus mendengar teriakan memilukan adik kecilnya. Dokter ternama sampai psikolog pun sudah didatangkan. Namun, sayang tidak ada perubahan yang terjadi pada Eliza sampai pada akhirnya ia pun meninggal.
Perasaan tersebut membuat Danieal tidak ingin melihat siapa pun orang yang depresi mengalami hal serupa. Pertemuan pertamanya dengan Ayana waktu itu, ia tidak sengaja melihatnya tengah berjalan di gang sempit.
Rasa penasaran timbul membuat ia membuntuti mereka dan kecurigaannya pun benar. Ayana hampir di lecehkan, beruntung saat itu Danieal mengawasinya dan menggagalkan tindakan tidak senonoh pria tua tersebut.
Sejak saat itulah ia membantu Ayana untuk terbebas dari depresinya. Ia juga meminta bantuan dari orang tuanya dan mereka pun mengizinkan. Karena entah sadar atau tidak keberadaan Ayana seperti obat atas kehilangan Eliza enam tahun lalu.
Seperti takdir yang sudah dirancang, Eliza dan Ayana lahir di tahun yang sama. Mereka juga memiliki kemiripan yaitu landing di pipi sebelah kiri.
"Aku harap kamu bisa menghadapinya ... aku tidak ingin kamu bernasib sama seperti Eliza," ucap Danieal setelah mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Pandangannya pun jatuh pada pergelangan tangan kiri Ayana.
Ayana mendongak lalu mengikuti arah pandangnya. Ia menurunkan kedua tangan di atas pangkuan dan mencengkram pergelangan kirinya kuat.
"Tenang saja, aku memang sempat melakukan hal konyal, tetapi Allah sudah menyadarkan aku jika hidup ... tidak selamanya berjalan lurus. Ujian itu datang sebab hanya aku yang bisa melewatinya. Terima kasih Mas, selama ini sudah sabar untuk membantuku," kata Ayana menatap ke dalam lukisannya sendiri.
Danieal mengangguk, selama satu bulan ini Ayana sudah berhasil bangkit dan mengasah bakatnya menjadi seorang pelukis.
Karya-karyanya sudah banyak diminati para penikmat seni dengan harga tinggi. Danieal bersyukur Ayana sudah tidak menangis lagi dan lebih tegar menjalani kehidupan.
Kegiatan positif itu membuat ia bisa bangkit dari keterpurukan. Ia juga tidak menyangka jika Ayana memiliki bakat melukis yang luar biasa.
"Aku tidak sabar melihatmu bersinar, Ayana," benak Danieal kemudian menatap Ayana lekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Bunda Liah
si othor, yg satu Arshaf, yang satu Arsyad untung aja othor ga ada typo, mirip amat thor
2023-02-04
0