Kehilangan merupakan satu-satunya hal yang tidak diinginkan di dunia ini. Keberadaannya yang selalu melengkapi setiap perjalanan menyuguhkan kenangan tak bertepi.
Kehadiran seseorang yang begitu baik dan selalu membantu di setiap langkah menjadi pukulan telak kala sosoknya menghilang.
Itulah yang tengah Gibran rasakan, putra kedua dari keluarga Ashraf merasakan kehilangan begitu mendalam.
Sang kakak ipar sudah pergi satu bulan lamanya. Selama itu pula ia tidak mendapati kabar apa pun dari Ayana.
Bak ditelan bumi, sosoknya menghilang tanpa jejak. Hal tersebut membuat Gibran terpukul, pasalnya sang kakak ipar begitu baik.
Ayana selalu memperlakukannya seperti adik kandung sendiri. Kasih sayangnya, perhatiannya, bahkan melebih Zidan yang notabene adalah kakak kandungnya.
Setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu, Gibran akan menyempatkan diri mencari keberadaan Ayana. Namun, di setiap sudut kota keberadaannya tidak pernah berhasil di temukan.
Dua benda yang beberapa minggu lalu ditemukan menjadi satu-satunya petunjuk. Namun, hal itu juga tidak menunjukan keberadaan sang pemilik.
"Lagi? kamu lagi-lagi tidak bisa menemukan jejaknya sedikit pun? Apa benar organisasi kalian bisa menemukan orang hilang? Saya sudah membayar kalian mahal yah, tapi inikah pekerjaan yang bisa kamu lakukan?" geram Gibran seraya menggebrak meja di hadapannya.
Ia bangkit dari duduk menatap nyalang pria berjas hitam di sana. "Apa kamu tidak melakukan apa yang sudah saya perintahkan?"
Pria bertubuh kekar itu pun menunduk seraya menggenggam pergelangan tangan. "Saya minta maaf, Tuan. Saya dan beberapa anak buah sudah mencoba mencari nyonya Ayana ke segala sudut kota bahkan sampai ke pelosok desa sekalipun, tetapi ... kami sama sekali tidak bisa menemukannya."
Gibran mengusap wajah gusar dan pandangannya pun beralih pada benda pintar yang tergeletak di atas meja. Ia menghela napas kasar dan berkacak pinggang menenangkan diri dari segala kepelikkan yang terjadi.
"Baiklah, kamu bisa pergi. Lakukan terus pencarian, laporkan sedikitpun bukti yang kalian temukan," titahnya.
Pria itu mengangguk singkat dan melangkahkan kaki dari ruangan. Gibran menghempaskan tubuh lelah ke kursi kebesarannya.
Ia memijit pelipisnya pelan yang berdenyut kala kembali tidak menemukan sedikit saja petunjuk di mana keberadaaan sang kakak ipar.
"Mbak Ayana? Apa Mbak baik-baik saja? Apa Mbak masih hidup dengan sehat sampai sekarang? Aku ingin tahu apa tidak terjadi apa-apa padamu, Mbak? Aku hanya mengkhawatirkan mbak saja. Apalagi Mbak sudah kehilangan calon anak kalian."
"Mbak tahu, Mas Zidan semakin mesra dengan Bella. Aku tahu bagaimana perasaan mbak jika tahu keadaan mereka. Aku sangat menyesal sudah mendukung kalian menikah waktu itu."
"Jika kejadiannya akan seperti ini, aku... aku akan menentang hubungan kalian. Tidak peduli seberapa cinta mbak Ayana pada mas Zidan... aku akan menghentikannya. Aku tidak mau melihat Mbak terus terpuruk atas kebejadan yang dilakukan Mas Zidan."
"Pria itu... yah pria itu adalah kakakku sendiri, tetapi aku sangat membencinya yang sudah menyia-nyiakan istri sebaik mu, Mbak. Aku mohon jika memang mbak masih hidup... berikan petunjuk. Ya Allah berikanlah petunjuk-Mu. Namun, jika Mbak sudah tidak ada-" racauan nya seketika terhenti.
Gibran menggeleng-gelengkan kepala dan mendongak menatap langit-langit ruangan. Setetes air mata mengalir tak tertahankan. Entah sudah ke berapa kali ia menangis atas kepergian kakak iparnya.
"Tidak mungkin... aku yakin mbak masih hidup dan sehat. Di manapun mbak berada semoga... Mbak baik-baik saja," gumamnya lagi.
Ia menutup kedua mata menggunakan lengannya dan kembali berteman dengan sepi.
...***...
Di tempat berbeda, di kediaman megah seorang Zidan Ashraf, sang penghuni tengah menikmati sarapan pagi bersama istri tercintanya.
Sesekali ia menoleh pada kursi sebelahnya yang satu bulan ke belakang di tempati istri pertama. Bayangan itu seolah mengejeknya kala perasaan asing tiba-tiba saja menyeruak.
"Mas, bulan depan aku ada konser. Apa Mas mau menemaniku? Aku tidak bisa bermain jika tanpa keberadaan mu. Para penonton pun pasti mengharapkan kita berdua bermain piano bersama," kata Bella seraya memasukan sepotong roti panggang ke dalam mulut.
Zidan tidak menanggapi dan terus menatap ke arah kursi tersebut. Bella yang memandanginya lekat mengerutkan dahi. Ia lalu mengikuti arah pandang sang suami dan memutar bola mata jengah.
"MAS!" gertaknya sambil menggebrak meja.
"Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan? Kamu membuatku terkejut," jawabnya menoleh pada istri kedua.
"Apa yang Mas pikirkan? Apa Mas memikirkan Ayana yang sudah pergi? Mas dengar yah, ini sudah satu bulan lamanya, Ayana pasti telah menghilang. Iya, mungkin dia juga sudah mati," katanya dingin sambil terus menikmati sarapannya.
Zidan membola tidak percaya mendengar kata-kata yang diutarakan Bella. "Apa kamu bilang? Ayana sudah mati? Kenapa kamu tiba-tiba saja bisa berkata seperti itu?"
Bella menghela napas dan meletakan pisau dan garpu di kedua sisi piring. "Iya itu bisa saja terjadi. Buktinya adik kamu menemukan ponsel dan barang-barangnya saja, sedangkan tubuhnya? Sampai sekarang kita tidak tahu di mana."
"Kenapa kamu bisa tahu kalau Gibran menemukan ponsel dan barang pribadi Ayana? Aku sendiri saja tidak tahu, apa yang sedang kamu sembunyikan dariku?" Zidan menyipitkan kedua mata menatap nyalang istrinya.
Bella menggulirkan bola mata ke segala arah menghindari tatapan suaminya. Ia sudah keceplosan jika selama ini dirinya tengah mengawasi Gibran. Ia tidak mau keberadaan adik dari Zidan merusak rumah tangganya.
"A-aku mendengarnya. Apa Gibran tidak memberitahumu jika selama ini dia mencari keberadaan Ayana?" tanya balik Bella mengalihkan perhatian.
Zidan menyapukan pandangan ke bawah. Ia tidak tahu satu bulan ini adik kandungnya mencari keberadaan sang istri.
"Apa mungkin Gibran ingin menemukan Ayana dan menikahinya? Mas tahu sendiri kan bagaimana sikap adikmu kepada Ayana? Perhatiannya itu terlihat tidak wajar, bahkan dia sampai berani memukulmu, kakak kandungnya sendiri." Bella semakin memanas-manasi nya.
"Apa benar seperti itu?" tanya balik Zidan.
"Sudah pasti seperti itu, apalagi yang Gibran inginkan kalau bukan melihat Mas hancur."
Mendengar itu Zidan langsung menggebrak meja dan beranjak dari duduk. Tanpa mengatakan sepatah kata, ia melenggang pergi begitu saja.
Bella menyeringai menatap sang suami yang semakin menjauh. Kepala bersurai hitam panjangnya mengangguk-angguk seraya berkata, "Permainan ini semakin menarik. Aku tidak sabar melihat kehancuran keluarga ini. Sayang sekali, aku harus memanfaatkan mu dulu sebelum menghancurkan mu," bisik nya lalu kembali memasukan potongan terakhir roti panggang nya.
Zidan terus berjalan dengan langkah tegap menuju pekarangan. Sesampainya di sana ia langsung masuk ke dalam mobil hendak menemui adiknya.
Dengan napas memburu dan dada naik turun ia melajukan kendaraannya begitu cepat. Tidak peduli jika saat ini pengendara lain memaki atau memberinya sumpah serapah, ia hanya ingin segera bertemu Gibran.
"Jadi, benar jika selama ini dia mengincar kakak iparnya sendiri? Sungguh picik sekali pemikirannya itu," geramnya sambil mencengkram stir kuat.
Jalanan pagi ini terlihat lengang, ia pun tidak segan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Perasaannya semakin tidak menentu kala perkataan Bella terus terngiang dalam pendengaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments