Hidup kadang kala berada di antara dua pilihan. Bertahan di situasi menyedihkan atau pergi untuk berubah menjadi lebih baik.
Malam yang gelap sudah datang, awan kelabu semakin membuatnya mencekam. Angin bergemuruh menemani kesendirian.
Di tengah keheningan Ayana duduk di halte bus seraya menghubungi seseorang. Jawaban yang ia pikir akan ada sedikit sebuah harapan nyatanya menutup semua kemungkinan.
"Mas, aku pergi. Aku tidak tahu kapan kembali, apa kamu akan menunggu?" ujarnya disela-sela kepedihan.
"Bagus kalau kamu pergi, dan jika bisa tidak usah kembali. Kamu hanya pembawa sial dalam kehidupanku. Kamu tidak pantas menjadi seorang ibu ataupun istri. Pergi saja, sana!" Panggilan pun berakhir secara sepihak.
Lagi dan lagi air mata harus mengalir meredam kepedihan dalam dada. Hilang sudah semua mimpi untuk mendapatan cinta dari sang suami.
Perkataan tersebut sudah menguatkannya untuk tetap pergi dan menghilang. Tanpa siapa pun di sisinya, Ayana menangis kembali menahan sesak yang terus merenggut semua kebahagiaan.
Perlahan isak pun terdengar bersama gemuruh langit. Tidak lama berselang hujan datang begitu deras meredam tangisan Ayana yang memilukan.
Ia mencengkram tas yang dibawanya guna menyalurkan rasa sakit. Kehilangan sang buah hati yang disengaja oleh suaminya sendiri, diperlakukan layaknya bayangan, dihempaskan kenyataan, tidak dianggap seperti istri, dan dituduh tidak bisa menjadi ibu yang baik, menjadi kenyataan pahit diterima Ayana.
Ia pergi membawa segudang rasa sakit yang mengendap di relung hati paling dalam. Tanpa mempedulikan udara dingin ataupun hujan yang membasahi diri, Ayana terus meraung, menumpahkan segala rasa sakit dalam rumah tangganya.
Ponsel Ayana kembali bergetar, sang empunya yang masih bergelombang dalam perasaan menyesakan menoleh sekilas. Tertera nama Gibran di sana, dengan ragu ia pun menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke daun telinga.
"Assalamu'alaikum Mbak? Mbak di mana? Mbak di luar?" tanyanya beruntun.
Lama Ayana tidak menyahuti perkataan sang adik ipar membuat Gibran terus memanggil-manggil namanya.
"Mbak pergi, sampai jumpa. Sampaikan terima kasih kepada Ayah dan Mamah."
Ayana pun langsung mematikan sambungan telepon dan menggenggam benda pintar itu erat, hingga membuat kuku-kukunya memutih.
Bunga air mata kembali bersedih. Durinya begitu tajam mengeluarkan perih teramat dalam. Kelopaknya pun satu persatu berguguran menyisakan putik sendirian.
Di tempat berbeda, Gibran terkejut saat mendapati studio gambar sang kakak ipar sudah hancur berantakan. Ia pun buru-buru menghubunginya dan mendapati jawaban tidak mengenakan.
Tanpa basa basi ia langsung mendatangi kakak kandungnya yang tengah bersantai di ruang keluarga.
Zidan yang tengah menikmati buah anggur dikejutkan dengan pukulan untuk kedua kali dari Gibran. Ia pun langsung bangkit dari duduk dan menatapnya nyalang.
"Apa yang kamu lakukan, hah? Kamu sebagai adik tidak ada sopan-sopannya pada kakakmu sendiri!" geram Zidan.
"Untuk apa aku bertingkah sopan pada seorang kakak yang tidak pernah menghargai istrinya! Apa Mas tahu Mbak Ayana pergi? Dia sangat terluka sampai merusak semua lukisannya. Apa Mas tidak khawatir? Di luar hujan deras, Mbak-"
"Aku sama sekali tidak peduli. Jika kamu memang mengkhawatirkannya kenapa tidak mencari dan melindunginya? Teruslah bermain sebagai seorang pahlawan. Karena Mas tahu kamu menyukai kakak ipar mu sendiri."
"Brengsek!" Lagi dan lagi Gibran melayangkan pukulan telak berkali-kali di wajah tampan sang kakak. Darah segar pun mulai merembes dari luka robekan di sudut bibir.
"Aku memang menyukainya... aku yang akan melindunginya, tapi hanya sebatas seorang kakak. Jangan salahkan aku jika nanti perasaan itu berubah. Mas jangan lupa jika karma itu pasti datang, sampai waktu itu tiba Mas jangan menyesal. Hiduplah dalam penyesalan!"
Setelah mengatakan itu Gibran pergi meninggalkan sejuta kepelikan. Zidan menghela napas kasar dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Dari ruang makan, Bella melihat semua adegan tersebut. Sambil memegang sekeranjang buah kedua sudut bibirnya melengkung membentuk kurva sempurna.
"Bagus, semuanya berjalan lancar," gumamnya penuh muslihat.
...***...
Perjalanan yang dibutuhkan untuk meninggalkan semua rasa sakit di ibu kota sangatlah panjang. Ayana terbangun dari tidur melihat embun menemani kekosongan hati. Ia keluar dari bus dan berjalan menuju ke sebuah bukit.
Semalam setelah menangis begitu hebat ia menaiki kendaraan umum untuk pergi keluar kota. Entah ke mana tujuannya ia tidak peduli ke mana sang supir akan membawanya. Ia ingin pergi sejauh yang dirinya bisa.
Terlalu banyak air mata keluar selama enam tahun pernikahan. Tidak ada kebahagiaan yang ia rasakan, semua kebaikan sang suami hanyalah dusta semata.
Cinta, jauh dari kehidupan seorang Ayana Ghazella. Ia terus disiksa secara verbal tanpa merasakan kasih sayang tulus. Ia pikir jika dengan menikah sikap Zidan akan berubah, tetapi pada kenyataannya lebih parah.
Pria itu sering menyalahkan keberadaannya. Tanpa ia ketahui Zidan memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Bella.
Bella adalah teman masa sekolah menengah atas dan ia memintanya untuk dikenalkan pada Zaidan.
Bella tahu jika Ayana dekat dengan pianis muda berbakat tersebut. Mau tidak mau, suka atau tidak, ia pun memperkenalkan mereka.
Tanpa sadar orang ketiga hadir meskipun mereka belum menikah. Pernikahan itu terjadi disebabkan orang tua Zidan percaya jika Ayana bisa menjadi pendamping bagi putra pertamanya.
Ayana yang sudah jatuh cinta pada pesona sang pianis tidak bisa menolak, terlebih orang tua Zidan begitu baik dan sudah membantunya selama ini.
Awal pernikahan memang berjalan mulus, honey moon begitu terasa manis layaknya madu. Namun, semua itu tidak bertahan lama. Malapetaka datang saat Zidan mengatakan, "Aku tidak mencintaimu. Aku melakukan semua ini, karena Ayah dan Mamah yang memaksa. Jika aku tidak menikah denganmu maka aset keluarga tidak bisa jatuh padaku. Kamu hanya pembawa sial!"
Di tambah sang suami menghadirkan Bella ke hadapannya meruntuhkan semua harapan, "Aku tidak bisa menikahi dia berkat keberadaan mu. Iyah, aku juga harus berterima kasih. Karena mu aku bisa bertemu wanita yang aku cintai."
"Maaf yah Ayana, aku tidak bisa menahan perasaan itu. Em, sementara aku pergi keluar negeri kamu tolong jaga priaku baik-baik. Sampai waktunya kembali aku akan membawanya lagi."
Itulah kata-kata yang mereka katakan membuat Ayana sadar jika pernikahan yang dilakukannya hanya di atas kertas.
Sejak saat itu pula sikap Zidan berubah, sang suami mulai mengatainya dengan kata-kata tidak mengenakan. Berbeda sekali kala dirinya berada di atas panggung, tuts-tuts piano yang dimainkannya begitu mengalunkan nada penuh cinta.
Namun, nada-nada tersebut bertolak belakang dengan kenyataan. Musik yang menandakan kerinduan itu pun bukanlah untuknya.
"Aku mengingat itu lagi, seharusnya aku melupakannya saja. Tidak ada tempat di hatinya untukku, kata kita... tidak akan pernah ada aku, hanya kamu dan dirinya saja. Ya Allah sakit sekali," benaknya.
Air mata kembali jatuh bersamaan dengan matahari terbit. Sinarnya menemani ia dalam perjalanan untuk membuka lembaran baru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments