Hampir seharian Ayana menghabiskan waktu di perjalanan. Tenaganya terkuras habis untuk menangis dan menangis. Namun, hal itu akan ia yakini sebagai tangisan terakhir.
Sepi, hampa, kosong, berantakan, layaknya kapal diterjang badai. Sang nahkoda membiarkan penumpangnya hanyut dan tergulung ombak besar.
Ayana hancur perjalanan rumah tangganya hanya diterpa hujan air mata. Tidak ada kebahagiaan maupun kesenangan yang dirasakannya. Meskipun sang suami memberikan hal tersebut itu hanyalah kepalsuan.
Dusta serta kebohongan terus menari mengejek perasaan tulusnya pada seorang pria bernama Zidan Ashraf. Sang pianis yang selalu memberikan lantunan lagu lewat nada-nada menggetarkan jiwa, nyatanya hanya mempermainkan perasaan pada istrinya sendiri.
Ayana pun tiba di suatu desa yang belum pernah diketahuinya. Tempat itu terasa hening, dipenuhi sawah serta pegunungan.
Udara dingin seketika menyambut, membalut tubuh ringkihnya lekat. Tidak ada siapa pun yang dikenalnya di sana dan ia hanya berteman dengan sepi.
"Meskipun sekarang aku kesannya sendirian ... akan aku buktikan jika aku, bisa berdiri dengan kakiku sendiri!" ujar Ayana seraya mengusap air mata kasar.
Manik jelaga yang semula sayu perlahan memancarkan ketegasan serta keyakinan. Kedua tangan mengepal kuat seraya memandangi pemandangan alam di puncak bukit.
"Aku akan memulai hidup baru di sini," gumamnya lagi. "Tapi sebelum itu aku-" Ia pun menarik tangannya dan diulurkan ke depan.
Cincin pernikahan masih melingkar nyaman di jari manis. Ia pun menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri lalu seketika cahaya matahari memantul mengenai iris cokelat beningnya. Ia menyipit seraya terus memperhatikan perhiasan pemberian sang suami.
"Aku harus melepaskannya," lanjut Ayana lalu menarik cincin tersebut dan memasukannya ke dalam saku gamis.
"Sebelum itu aku perlu tempat tinggal. Aku harus segera menemukannya." Buru-buru Ayana berjalan menuruni bukit.
Jalanan di sana sedikit lembab dan becek mengingat semalam hujan turun begitu deras sepanjang ia pergi meninggalkan ibu kota.
Desa yang tidak diketahui menjadi pilihan utama bagi Ayana untuk menetap. Ia terus menelusuri bangunan demi bangunan guna menemukan tempat tinggal.
Namun, ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Ada saja orang yang menolaknya atau bahkan mengata-ngatainya. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat Ayana untuk terus mencari atap.
Hampir setengah hari ia terus berjalan tanpa arah, tetapi tidak ada satupun orang yang mau memberitahunya mengenai bangunan kosong sebagai tempat tinggal.
Ia pun berhenti sejenak disebuah jembatan yang di bawahnya terdapat aliran sungai. Ia duduk di sana melepaskan dahaga sambil menikmati hembusan angin membelai wajah putihnya lagi.
"Aku tidak boleh menyerah, perjalanan ini masih sangat panjang," gumamnya.
"Permisi, Nak apa kamu tahu alamat ini?" Tiba-tiba saja seseorang mendekat.
Ayana mendongak dan mendapati pria paruh baya menjulurkan secarik kertas. Buru-buru ia bangkit lalu melihat tulisan di atasnya.
"Maaf, Kakek. Saya orang baru di sini dan tidak tahu alamat yang Kakek maksud," tolak Ayana halus.
"Sayang sekali, padahal Kakek ingin bertemu cucu," keluh sang kakek seraya menghela napas lelah.
Ayana yang tidak tega terhadap orang lain pun merasa tergugah. Ia pun melebarkan senyum sambil mengambil kertas dalam genggaman sang kakek.
"Bagaimana jika kita mencarinya bersama? Kebetulan saya juga sedang mencari tempat tinggal," usul Ayana.
Kakek berperawakan sedang itu mengangguk setuju. Mereka berjalan bersama menyusuri jembatan yang menghubungkannya ke desa lain.
Mereka terus berjalan dan berjalan menelusuri persawahan serta hutan. Ayana mengerutkan dahi tidak mengerti dengan rute yang dipilih sang kakek. Jika pria tua itu tahu kenapa harus meminta bantuan? Pikirnya gamang.
Ayana mengikuti si kakek yang berjalan melewati gang sempit di tengah-tengah dua bangunan. Ia kembali menautkan alis dalam tidak mengerti.
Di tengah gang Ayana menghentikan langkah seraya berkata, "Kek, sepertinya saya tidak bisa membantu kakek lebih jauh. Saya harus segera menemukan tempat tinggal, sebentar lagi malam."
Kakek itu pun juga berhenti beberapa saat lalu membalikan badan menyisakan senyum misterius di wajah keriputnya.
Merasakan firasat buruk, Ayana menarik kaki ke belakang secara perlahan dan bergantian. Melihat hal tersebut kakek itu pun menyeringai dan mendekat ke arah wanita muda di hadapannya.
"Kenapa kamu menghindariku? Nona kecil, apa kamu tidak mau membantu orang tua ini, hm?" tuturnya.
Ayana menggeleng-gelengkan kepala saat tahu sorot mata pria baya tersebut. "Berhenti jangan mendekat. Jika Kakek mendekat aku akan berteriak."
Seketika suara tawa pun menggelegar, kakek tanpa identitas itu terbahak mendengat penuturan Ayana. "Silakan kalau kamu memang ingin berteriak sekencang apa pun. Asal kamu tahu, tidak akan ada seorang pun yang bisa menolongmu. Karena apa? Karena di sini kita hidup masing-masing."
Ayana semakin ketakutan kala menyaksikan kilatan napsu berkobar di mata redup pria baya itu. Ia terus bergerak ke belakang yang terasa panjang untuk menyelamatkan diri.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Ayana berbalik dan berusaha lari sekencang-kencangnya. Namun, sayang kakek itu mencengkram pergelangan tangannya kuat hingga membuat ia kembali berbalik.
"Nona kecil kamu mau pergi ke mana, hm? Apa kamu tidak kasihan kepada pria tua ini?" Kakek kurang ajar itu pun mulai melakukan aksinya.
Ayana berusaha berontak dan melepaskan genggamannya. Berkali-kali ia berhasil menghempaskan tangan pria baya itu, tetapi berkali-kali pula sang kakek mendapatkannya lagi.
Air mata turun tak tertahankan. Ayana tidak menyangka mendapatkan kejadian mengerikan setibanya di sana. Ia pikir akan mendapatkan kebahagiaan setelah meninggalkan ibu kota, tetapi nyatanya malapetaka lain pun hadir.
"Ya Allah, lindungilah hamba," benaknya seraya terus merapalkan do'a.
"Lepaskan saya!" Ayana kembali berontak mencoba melepaskan cengkraman pria tua itu.
"Kenapa? Aku akan memberikan yang kamu inginkan." Si kakek semakin melancarkan aksi bejadnya.
Ayana menggeleng-gelengkan kepala lagi saat tangan ringkih itu hendak menggapai dadanya. Namun, keadaan tersebut digagalkan oleh teriakan seseorang.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Dasar tua bangka sialan!"
Si kakek itu pun langsung melepaskan cengkeramannya membuat Ayana jatuh dan sekujur tubuhnya lemas. Wajah ayu itu seketika pucat pasi dengan degup jantung bertalu begitu kencang.
Pandangannya perlahan buram dan hal terakhir yang dilihatnya adalah punggung tegap seseorang dan mencoba mengejar pria tua itu. Sedetik kemudian kegelapan menyambut dan Ayana tidak sadarkan diri.
...***...
Awan kelabu membentuk bulir demi bulir air jatuh dari langit. Guntur saling bersahutan dan sesekali kilat menyambar memberikan cahaya menyeramkan.
Kejadian mengerikan untuk kesekian kali kembali hadir membentuk rasa sakit kian menetap dalam dada. Perlahan kelopak mata itu terbuka memperlihatkan kembali manik bening di dalamnya.
Hal pertama tertangkap pandangan adalah langit-langit ruangan asing. Bau disinfektan pun begitu menusuk indera penciuman.
Di sebelah tangan kanannya tertancap infus yang memberikan rasa nyeri membuat ia sadar.
"Kamu sudah bangun?" Suara berat menyapa indera pendengaran.
Ayana menolehkan kepala ke samping kanan melihat pria berjas putih tengah menyunggingkan senyum. Tanpa mengatakan sepatah kata ia menatap lurus ke depan lagi.
Air mata berjatuhan menyaingi hujan di luar sana. Dokter bername tag Danieal Arsyad mengerutkan dahi memahami keadaan sang pasien.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Fitri Yani
pusing deh nangis terus
2024-11-11
0
Echy Aurelia
wah daniel siapanya zidan ya,makin seru nih ceritanya🤭
2023-01-26
0