Bak petir menyambar di siang bolong menelusup ke dalam dada, kini kenyataan menamparnya kuat. Tepat di depan kedua matanya Ayana melihat dua orang tua Zidan bersama adik laki-lakinya tengah makan bersama di meja makan.
Dengan gembira Zidan menyajikan sarapan buatannya sendiri. Ayana mematung di ujung tangga, bola matanya bergetar dan terus memandang ke arah sang suami.
Semalam hanyalah mimpi manis penuh kepalsuan. Tidak ada ketulusan dari seorang Zidan untuknya, semua ia lakukan hanyalah akting guna membiasakan hidup harmonis tepat di depan keluarga utama.
Ayana mendengus pelan menertawakan diri sendiri terlalu terlena atas permainan suaminya. Pria itu pandai bersilat lidah seperti serigala berbulu domba.
"Aku seharusnya tahu kenapa dia bersikap manis padaku tadi malam. Aku terlalu bodoh masuk ke dalam perangkapnya," batin Ayana.
"Sayang." Panggilan itu mengejutkannya dari lamunan.
Ayana mendongak melihat Zidan berjalan mendekat dan dengan hati-hati pria berstatus suaminya tersebut membimbing ia ke meja makan.
Ketiga orang di sana seketika menyambutnya ramah. Ayana yang diperlakukan hangat pun langsung menyalami tangan kedua mertuanya.
Pria yang dua tahun lebih muda dari sang suami pun menyalami tangannya singkat. Gibran Ashraf, adik kandung Zidan tersenyum hangat.
"Mbak, aku sangat merindukanmu," ucapnya jujur.
Ayana mengangguk pelan dan menyunggingkan senyum hangat. "Mbak juga sangat merindukanmu."
Acara melepas kerinduan pun berakhir singkat, Ayana duduk di samping suami yang begitu cekatan memberikan sarapan untuknya.
Ia terus memperhatikan Zidan dan menyadari jika semua itu hanyalah sandiwara belaka. Tidak ada ketulusan dan hanya menyisipkan sebuah kepedihan.
"Terima kasih," cicit Ayana.
Zidan mengulas senyum dan memberikan kecupan hangat di puncak kepalanya.
"Ah, kalian berdua manis sekali. Aku jadi ingin cepat-cepat menikah," ungkap Gibran melihat kemesraan pasangan muda tepat di hadapannya.
Ayana tersenyum simpul mendengar perkataan sang adik ipar. Jauh dari lubuk hatinya paling dalam ia memendam kepedihan di baliknya.
"Kamu salah... ini tidak seperti yang terlihat. Jika kamu tahu yang sebenarnya, mungkin akan mempertimbangkan lagi ucapan itu," lanjutnya membatin.
"Mamah senang bisa melihat hubungan kalian membaik," ucap Lina, sang ibu mertua.
"Ayah juga senang, semoga kalian bisa awet sampai kakak nenek. Ah tidak sampai jannah-Nya," lanjut tuan besar, Arshan Arshaf.
"Aamiin," balas Zidan begitu saja, sedangkan Ayana hanya mengulas senyum lagi.
"Mamah senang saat mendengar kamu hamil, Sayang. Tiga hari yang lalu Dokter Hana memberitahu kami jika kamu tengah mengandung dan-"
"Dan ibu menyuruh aku dan Ayah untuk pulang secepatnya. Aku senang karena bisa melihat Mbak Ayana lagi. Aku rindu dengan masakan Mbak," potong Gibran menyambar ucapan ibunya cepat.
Lina mengusap puncak kepala putra bungsunya pelan. "Ayah, Mamah, dan Gibran mengharapkan kebahagiaan kalian. Setelah melihatnya pagi ini kami tidak perlu khawatir lagi. Karena Zidan sudah sangat mencintaimu."
"Iya Mah, terima kasih," balas Ayana begitu saja.
Kehangatan yang ia rasakan mengandung empedu, kepahitan menyebar menyadarkannya kuat jika dusta tengah menari dalam bayang.
Ayana tidak tahu apa ayah dan ibu Zidan mengetahui keberadaan Bella? Rasa penasaran itu pun semakin menyeruak kala tidak melihat sang madu dari tadi malam.
"Ke mana Mas Zidan menyembunyikan wanita itu?" benaknya memandangi sekitar.
Bak aktor papan atas, Zidan melakoni tugas sebagai suami penyayang istri. Ia begitu perhatian nan baik melayani Ayana seperti pasangan kebanyakan.
Layaknya ada cinta di antara mereka, Zidan memperlakukan Ayana sebagai istri sesungguhnya. Namun, semua itu hanya kebohongan.
Tidak ada ketulusan maupun keikhlasan yang dirasakan. Ia hanya menyimpan pedih di balik senyum baik-baik saja.
Ia tidak ingin merusak momen bahagia dengan sakit yang terus menggantung dalam dada. Ia sangat bersyukur mempunyai ayah, ibu mertua, serta adik ipar baik hati, meskipun sang suami memperlakukannya sangat buruk.
...***...
Setelah sarapan, Ayana memutuskan untuk beristirahat di kamar. Mual serta pusing yang masih melanda membuat ia tidak bisa bergerak bebas.
Ia berbaring di tempat tidur seraya menatap langit-langit kamar. Banyak sekali pikiran yang berseliweran dalam kepala. Tentang apa yang dilakukan sang suami di belakangnya membuat ia sangat tidak tenang.
"Di mana Mas Zidan menyembunyikan Bella? Apa dia-" ucapannya terpotong saat samar-samar mendengar suara aneh.
"Suara apa itu? Ke-kenapa sangat dekat?" Ayana pun bangkit menajamkan pendengaran ke sekitar.
Ia turun dan melangkah perlahan menuju rak buku yang tidak jauh dari ranjang. Semakin ia mendekat maka suara itu terdengar begitu jelas.
Ia lalu mengarahkan daun telinga dan seketika terkejut jika suara itu berasal di baliknya. Ia mencoba menggerakkannya dan perlahan rak buku tersebut terbuka memberikan celah kecil akses bagi Ayana melihat ke dalam.
Seketika itu juga maniknya melebar sempurna menyaksikan adegan intim tepat di depan kepala matanya sendiri.
Degup jantung bertalu kencang, bak ditimpa batu berton-ton, Ayana tidak sanggup bergerak sedikit pun. Ia mematung melihat sang suami tengah melempar kehangatan bersama sang madu.
Ciuman penuh gairah nan memabukkan itu mengalirkan air mata tak berkesudahan. Hatinya sangat sakit memandangi suami yang dicintainya bermesraan bersama wanita lain.
Dadanya begitu sesak seolah pasokan oksigen di sekitar direnggut paksa membuat napasnya naik turun. Ayana tidak menyangka Zidan membuat ruangan rahasia di kamar mereka.
Hati yang telah sakit itu semakin hancur kala mendengar penuturan mereka setelah melepaskan pautannya.
"Apa yang akan Mas lakukan sekarang? Orang tua dan adikmu sudah pulang, apa Mas berencana membiarkan Ayana terus mengandung anak itu? Apa Mas tidak menginginkan anak dariku lagi?"
"Apa yang kamu bicarakan, Sayang? Aku tetap ingin anak darimu bukan dari Ayana."
"Jadi, apa Mas mau menggugurkannya? Aku punya ide bagus," jelas Bella membisikan sesuatu di telinganya.
Ayana tidak tahu apa yang dibicarakan Bella kepada Zidan. Namun, firasatnya sebagai calon ibu memberi sinyal jika hal tersebut membahayakan sang buah hati.
Mendengar sendiri jika Zidan tidak menginginkan anak yang dikandungnya meruntuhkan semua pertahanan.
Ayana menangis sejadi-jadinya dan melarikan dari sana begitu saja, tanpa ia sadari di balik punggung Zidan, Bella tersenyum lebar menyaksikan kepergiannya.
"Aku tidak bisa membiarkan dia merebut semua perhatian Mas Zidan. Aku tidak ingin kehadiran anak itu membuatnya luluh dan melupakan semua perjuanganku selama ini untuk merebutnya," benak Bella seraya menunduk melihat sang suami.
Zidan lalu melepaskan pelukan dan memandangi istri keduanya lekat. "Apa kamu tidak masalah jika aku melakukan itu?"
"Aku tidak keberatan, karena bagaimanapun juga kamu masih menjadi suaminya. Berhubungan dengan istri sendiri itu adalah kewajiban," ucap Bella sambil menangkup pipinya.
Zidan tersenyum singkat dan membubuhkan ciuman hangat di dahinya.
"Aku harus menjadi satu-satunya Nyonya muda di rumah ini. Aku juga ingin diakui oleh orang tuanya, tetapi keberadaan Gibran... aku harus bisa membuatnya keluar dari sini," lanjut batinnya lagi.
Bella tidak bisa melakukan hal seenaknya jika orang tua Zidan pulang. Karena mereka hanya menganggapnya sebagai pasangan pianis yang harmonis, bukan sebagai suami istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Andi Fitri
Zidan tunggu penyesalanmu kelak..
2023-03-27
0