Sudah tiga hari Ayana dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Gibran selaku adik iparnya terus menjaga dan menemaninya di sana, sedangkan Zidan tidak pernah kembali lagi.
Ia sudah tahu jika sang suami tengah menikmati waktunya bersama Bella. Ia hanya bisa pasrah pada keadaan dan menerima apa yang hendak terjadi.
Pintu ruang inap dibuka menampilkan seorang pria tinggi, tegap masuk ke dalam. Gibran kembali lagi sambil membawa sekeranjang buah.
Ia mengulas senyum saat melihat Ayana sama seperti kemarin, hanya duduk diam di atas ranjang sambil memandang ke arah luar.
"Mbak Ayana aku datang membawa banyak buah. Ada apel juga kesukaan Mbak," ucap Gibran seraya mendaratkan diri di kursi sebelah sang kakak ipar.
"Mbak." Panggilnya lagi.
"Mbak Ayana."
"MBAK!"
Gibran terus memanggil Ayana, tetapi sekalipun sang pemilik nama tidak menggubrisnya. Ia mulai jengah dan kemudian duduk di atas brankar tepat di depan kakak ipar.
Mendengar ranjang yang berderit, Ayana pun menoleh singkat dan kembali memandang luar di mana langit tengah cerah siang ini.
"Bukankah langitnya sangat cantik? Sangat indah untuk seorang bayi hadir di dunia ini," lirih Ayana.
Setetes air mata menitik membasahi baju pasiennya. Senyum lemah hadir memandangi awan berarak di atas sana.
"Maaf... Mamah benar-benar minta maaf. Seharusnya kamu bisa melihat indahnya dunia ini. Maafkan Mamah sudah menyakitimu. Mamah minta maaf." Ayana terus mengucap kata maaf berulang kali.
Badan ringkih nya bergetar hebat teringat akan rasa sakit kehilangan sang buah hati. Ia terus menangis dan menangis setiap kali Gibran menjenguknya.
Gibran pun tidak bisa mengatakan kabar duka tersebut kepada kedua orang tuanya. Mereka baru saja tiba di negara tujuan tidak mungkin untuk kembali. Ia berharap sebelum ayah dan ibunya mengetahui hal menyedihkan ini, sang kakak sudah menyesali perbuatannya.
Namun, itu hanyalah angan belaka. Ia sadar jika Zidan tidak akan semudah itu mengubah pendirian. Ia sangat mengenali watak sang kakak.
"Sudah Mbak jangan menangis lagi, relakan kepergiannya dan jangan menyalahkan diri sendiri. Allah sangat menyayanginya jadi Dia mengambilnya kembali. Jangan bersedih Allah juga pasti sudah menyiapkan yang terbaik untuk Mbak," tutur Gibran menguatkan.
Ayana kembali diam tanpa menjawab sepatah kata. Hatinya sudah lelah dengan luka yang terus tumbuh setiap hari. Tidak ada kebahagiaan sedikitpun dirasakannya dalam pernikahan tersebut. Sang suami, tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
"Lebih baik Mbak istirahat, dokter bilang sore nanti Mbak sudah bisa pulang," lanjut Gibran membantu Ayana untuk berbaring.
"Kalau begitu aku pergi dulu nanti kembali lagi untuk menjemput Mbak," katanya dan langsung melangkahkan kaki dari sana.
Hening lagi-lagi menyapa begitu kuat, Ayana terus memandang langit-langit ruangan di mana kejadian demi kejadian hinggap dalam ingatan.
Bak film klasik yang diputar lagi menayangkan kenangan pahit menyapa relung hati terdalam. Ayana mencengkram kuat selimut yang membungkus dirinya.
"Aku sudah tidak sanggup lagi," lirihnya menahan isak tangis.
Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, sore hari Ayana pun sudah bisa pulang. Bukan suaminya yang menjemput ia di rumah sakit, melainkan sang adik ipar. Gibran begitu cekatan membantu istri dari kakaknya turun dari mobil.
"Hati-hati, Mbak," ucap Gibran hangat.
Perlahan Ayana pun masuk ke dalam rumah memandang ke sekitar di mana sudah enam tahun dirinya bernaung di sana.
Pintu kayu jati terbuka lebar, hal pertama tertangkap pandangan adalah sang suami yang tengah digandeng mesra oleh madunya.
Wanita mana yang tidak terluka di saat terpuruk ia begitu membutuhkan pendamping di sisinya, tetapi sang suami lebih memilih bersama wanita lain? Sungguh pemandangan yang sangat ironi.
"Oh, kamu sudah pulang? Syukurlah," ucap Bella memandanginya.
"Masuk ke kamarmu," titah Zidan dingin.
Ayana langsung melengos dari hadapan mereka tanpa mengucapkan satu kata pun. Hatinya sudah terlalu sakit dan terluka atas perlakuan yang mereka berikan.
"Mas memang tidak punya hati. Istrimu baru saja kehilangan bayinya dan bisa-bisanya kalian bersama seperti ini? Hati kalian sudah benar-benar mati." Gibran geram memandangi keduanya dengan tajam dan pergi dari kediaman sang kakak.
"Dasar dia itu tidak punya sopan santun kepada kakak sendiri," ucap Bella.
Zidan melepaskan rangkulan tangannya dan berjalan menuju ruang kerja. Wanita itu menoleh ke belakang memandangi kepergiannya. Senyum kemenangan pun tercetak di wajah cantik itu.
"Oh ini sangat menarik," gumamnya.
...***...
Malam kembali datang, sedari kepulangannya, Ayana menghabiskan waktu berada di studionya sendiri. Garis demi garis membentuk sebuah gambar indah yang mengundang air mata.
Lelehan liquid bening menganak bagaikan sungai di kedua pipi mengantarkan perasaan terdalam seorang ibu.
Ayana melukis seorang bayi yang tengah terpejam dan dikelilingi awan. Gradasi warna putih dan peach sedang memperlihatkan kerinduan serta kehilangannya kepada sang buah hati.
"Mamah minta maaf, tidak bisa menjagamu dengan baik," lirihnya.
Tidak lama berselang pintu studio dibuka seseorang, buru-buru Ayana menghapus air mata dan mengabaikan kedatangannya.
Suara langkah kaki semakin mendekat, aroma manis menyapu penciuman. Tanpa melihat ke belakang ia tahu siapa gerangan orang yang mengganggu ketenangan.
"Mau apa kamu ke sini?" tanyanya dingin.
"Ayana, Sayang kamu jangan cuek seperti itu. Aku inikan teman sekolahmu, jadi seharusnya kamu memperlakukanku dengan baik," ujarnya.
Jengah, Ayana pun membalikan badan dan mendongak bersitatap dengan lawan bicara.
"Apa yang kamu inginkan, Bella?"
"Aku ingin memberitahumu sesuatu." Bella pun semakin berjalan mendekat, tubuh semampai nya merunduk dan mendekatkan bibir ke daun telinga Ayana.
"Kamu tahu... sebenarnya aku yang sudah menyuruh suami kita untuk berhubungan intim denganmu secara berlebihan. Agar kamu kehilangan bayi sialan itu, secara tidak langsung Mas Zidan lah yang sudah membunuh anaknya sendiri," jelasnya lalu menarik diri lagi.
"Bukankah kamu melihatnya sendiri apa yang aku perintahkan pada Mas Zidan hari itu?" lanjut Bella menegaskan.
Ayana bangkit dari duduk, kuas yang sedari tadi digunakan untuk melukis terlepas dalam genggaman. Air mata yang sudah mengering keluar lagi tanpa bisa dicegah.
Melihat reaksinya yang sungguh luar biasa, Bella tergelak dan menepuk pundak Ayana pelan.
"Mas Zidan memang tidak mau mempunyai anak darimu, Ayana. Karena dia sama sekali tidak mencintaimu. Dia sangat mencintaiku, jadi kita tidak sama. Sampai jumpa lagi semoga kamu bisa berpikir jernih."
Bella pun meninggalkan sejuta rasa pedih yang menusuknya secara bersamaan. Anak panah itu terus melesat ke hatinya mengoyak perasaan.
Ayana menangis dengan dada naik turun menahan sesak. Ia mengepalkan tangan erat, kedua matanya memerah serta emosi membuncah.
Tanpa mengindahkan apa pun ia mengamuk merusak semua lukisan yang sudah dibuatnya. Cat minyak tumpah berserakan, peralatan melukis dibantingnya kuat ke dinding menghasilkan bunyi berdentum.
Gamis putihnya tertimpa banyak sekali warna yang bercampur air mata. Hanya satu lukisan tersisa di sana, yaitu gambar seorang bayi yang baru selesai dibuatnya.
Ayana yang berdiri di tengah-tengah ruangan menoleh ke samping kanan dengan sorot mata tajam menatap lukisan tersebut.
"Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," benaknya menumbuhkan tekad kuat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments