Berita mengenai Ayana yang sudah meninggal dunia sampai ke telinga kedua mertuanya. Orang tua Zidan dan Gibran pun langsung bertandang kembali ke tanah air.
Mereka langsung mendatangi sang putra menuntut penjelasan. Dengan air mata berlinang Lina menampar pipi Zidan kuat.
Wajah putih itu tercetak bekas tamparan merah padam, bercak darah pun mencuat membuat telinganya berdengung. Zidan menangkup pipi kanannya dan memandangi sang ibu dengan tatapan sayu.
"Mamah tidak menyangka jika selama ini kamu sudah membohongi kami? Apa yang salah dengan Ayana? Kenapa kamu memperlakukannya seperti itu, hah? Mamah sudah tahu semuanya dari Gibran, kamu ... kamu memang pria yang tidak tahu diuntung."
"Allah sudah memberikan istri sebaik Ayana, tapi kamu lebih memilih wanita seperti dia?" Lina menunjuk Bella yang berada di belakang putranya.
Sang ibu menghela napas kasar masih mendongak menatap ke dalam mata merah buah hatinya. "Mamah menyesal sudah membuat Ayana menikah dengan pria brengsek. Lihat saja nanti kamu akan menyesal karena sudah menyianyiakan wanita baik, wanita sholehah, seperti Ayana. Kamu akan menerima akibatnya telah membuat Ayana pergi."
"DIA MENINGGAL ... DIA MENINGGAL KARENA KEBODOHANMU!" Lina berteriak kencang sampai urat-urat lehernya menonjol dan terus menunjuk buah hatinya.
Seketika itu juga sang ibu memukul-mukul dada bidang anak pertamanya menyalurkan kekesalan dan juga kepedihan dalam hati.
Kepergian sang menantu menjadi pukulan telak bagi Lina. Nyonya Ashraf itu tidak menyangka kehilangan Ayana di usianya yang masih sangat muda.
Air mata mengalir tak tertahankan, isak tangis begitu memilukan membuat Gibran turun tangan menenangkan ibunya.
"Mamah tidak pernah mendidikmu menjadi seorang pria pecundang. Kamu bahkan membunuh darah dagingmu sendiri demi wanita sialan itu? Maka nikmatilah penyesalan yang akan menggerogoti hatimu. Mamah tidak sudi menganggapmu anak lagi."
"Ma-Mamah," cicit Zidan terkejut.
"Jangan pernah memanggilku dengan mulut kotormu itu." Lina menunjuk lagi tepat di depan wajahnya.
Zidan terkejut bukan main, wanita yang sangat dirinya hormati, cintai, dan sayangi sudah memutuskan hubungan dengannya. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar semua kata-kata sang ibu.
Ia tidak bisa mengelak ataupun membela diri, apa yang Lina katakan memang benar adanya. Ia sudah melakukan kesalahan yang amat besar.
Setelah itu Lina pergi dari kediaman sang putra dengan hati tercabik-cabik. Sang ayah, memandanginya dalam diam. Arshan hanya menggelengkan kepala dan memberikan tatapan kecewa. Tuan besar itu menghela napas dan memandangi putra pertamanya lekat.
"Kami menikahkanmu dengan Ayana ... karena kami tahu dia wanita yang sangat baik. Ayah juga menyesal sudah menikahkan kalian. Mulai saat ini aset yang kamu miliki akan Ayah tarik kembali. Nikmati penyesalan dengan rasa bersalahmu. Ingat, Allah tidak pernah tidur. Dia akan memperlihatkan kebenarannya." Arshan pun pergi meninggalkan berjuta kepedihan dalam dada.
Zidan masih membungkam mulut rapat menyaksikan orang-orang yang berharga di hidupnya perlahan menjauh. Ia benar-benar sudah melakukan hal yang sangat salah dan fatal.
"Sudah meninggal pun Ayana masih menyusahkanmu. Bahkan sekarang lebih parah, ayah dan mamah memperlakukanmu dengan sangat buruk. Mas-" Belum sempat ia meraih lengan sang suami, Zidan pun berbalik dan pergi begitu saja.
"Biarkan aku sendiri," katanya.
Bella menarik sebelah sudut bibirnya memandangi Zidan menaiki tangga. Ia melipat tangan di depan dada dan menganggukkan kepala beberapa kali.
"Jadi, dia benar-benar sudah meninggal? Aku tidak percaya dia pergi begitu cepat, tapi itu sangat menguntungkan. Aku bisa lebih leluasa mengatur keluarga ini," bisiknya.
...***...
Satu minggu berlalu begitu cepat, jenazah Ayana sudah berada di ibu kota. Mendapatkan informasi tersebut Zidan langsung melenggang pergi ke rumah sakit pusat.
Di sana ia mendapati ibu, ayah, dan juga adiknya tengah menunggu di depan ruangan jenazah. Ia berjalan lunglai berharap salah satu dari mereka bisa menanggapi keberadaannya.
Namun, ketika ia tiba di dekat mereka, baik orang tua maupun adiknya sama sekali tidak mengindahkan kedatangannya.
Baru saja ia hendak menyapa, dokter keluar dan memandangi keempat orang itu bergantian.
"Seperti yang dikonfirmasi oleh tim forensik jika jenazah tersebut memang Ayana. Beliau sudah meninggal sejak tiga minggu yang lalu. Diduga almarhumah mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke jurang."
Mendengar penjelasan sang dokter Lina tidak kuasa membendung kesedihan. Nyonya besar itu menangis sesenggukan, Gibran pun langsung memeluk sang ibu dan mengusap bahunya pelan.
"Ya Allah, Ayana," bisiknya.
Gibran pun tidak bisa menahan air matanya lagi dan menangis dalam diam. Arshan yang berusaha tegar mengangguk dan menghadapi dokter.
"Apa kami bisa melihatnya, Dok?" tanyanya kemudian.
Dokter berkacamata itu pun mengangguk dan mempersilakan mereka masuk ke ruang jenazah. Di sana hanya ada satu mayat yang terbaring dan itu adalah keluarga mereka, Ayana.
Dengan langkah pelan Zidan masuk ke dalam dan melihat sang ibu membuka penutup wajahnya. Seketika sesak dalam dada naik ke permukaan. Ia tidak menyangka jika wanita yang terbaring kaku di sana adalah istrinya.
"A-Ayana," cicitnya.
Mendengar hal itu atensi Lina pun beralih kepada sang anak dan berjalan cepat lalu mencengkram kerah kemeja Zidan.
"Puas kamu hah? Puas kamu melihat istrimu sekarang berbaring kaku di sana? Dia sudah meninggal, AYANA SUDAH MENINGGAL," teriak ibunya kencang.
"Sudah Mah jangan membahas hal itu di sini. Kita harus menghormati almarhumah mbak Ayana. Kita juga harus mengurusi pemakamannya dan membawa mbak Ayana dari sini," kata Gibran menangkup kedua bahu sang ibu dan menariknya pelan menjauhi Zidan.
Sekali lagi Lina memberikan tatapan nyalang kepada putra pertamanya. Setelah itu mereka bertiga pergi menyisakan Zidan dan jenazah di sana.
Ia tidak kuasa menahan sesak dalam dada dan menangis begitu pilu lalu mendekati jenazah istrinya. Kedua tangan tegap itu terulur menangkup pipi dingin Ayana.
Wajah yang semula selalu menunjukan senyum hangat kini semakin dingin dan sudah tidak terbentuk lagi. Tubuh yang awalnya menebarkan aroma vanilla kini berubah menjadi tidak sedap.
Namun, Zidan tidak menyurutkan dirinya untuk terus mendekat. Ia membubuhkan kecupan hangat di dahi lebar sang istri.
"Maafkan aku," katanya lirih.
Air mata semakin menetes membasahi wajah tampannya. Zidan tidak menyangka pemandangan menggetarkan jiwa nyata adanya.
Ia menangis dan menangis saat tahu jika Ayana tidak akan pernah kembali lagi ke sisinya. Tanpa ia ketahui Gibran melihatnya di luar ruangan.
Ia mengepalkan kedua tangan dan menatap tajam ke arah sang kakak.
"Aku harap Mas akan menyesali perbuatan yang sudah dilakukan pada mbak Ayana. Semoga setelah ini Mas menyadari kesalahanmu. Semoga Allah membukakan kebenarannya, jika Bella ... wanita itu sama sekali bukan wanita yang baik untukmu. Dia hanya memanfaatkanmu saja tanpa adanya cinta," geramnya.
Selama ini Gibran sudah mencari tahu maksud dan tujuan Bella mendekati sang kakak. Tanpa ia duga wanita itu sangat licik layaknya serigala berbulu domba. Namun, ia tidak bisa mengatakan apa pun pada kakaknya. Karena ia tahu jika Zidan tidak akan pernah percaya, cinta sudah membutakan mata hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Echy Aurelia
wah ayana diumpetin thor nih,semangat thor. 🤗
2023-01-26
0