Masa akan tetap memberikan kejutan meskipun tidak diharapkan kedatangannya. Apa pun yang terjadi sudah menjadi ketentuan Allah semata. Baik dan buruk, suka ataupun tidak, itu telah menjadi suratan takdir yang tertulis.
Allah tidak pernah salah memberikan cobaan pada setiap hamba. Apa pun yang dilakukan pasti mendapatkan balasannya sendiri.
Begitu pun dengan yang dirasakan Zidan. Sepeninggalan Ayana hidupnya kosong, hampa tanpa arah tujuan. Ia terlambat mengakui jika perasaan asing itu menetap dalam jiwa.
Ia sudah tidak peduli lagi keberadaan istri kedua, sebab selama pengobatan berjalan Bella sama sekali tidak pernah menemui ataupun menemaninya. Wanita itu seperti menghilang tanpa jejak serta datang dan pergi seenaknya.
"Aku dengar Mas diundang di festival musik klasik di gedung putih? Kenapa Mas tidak memberitahuku?" tanya Bella yang baru pulang saat dini hari tadi.
Zidan yang tengah duduk di ruangan pribadinya pun menoleh sekilas dan fokus kepada kertas-kertas di hadapannya. Ia tengah menyiapkan musik yang akan dibawakannya satu bulan lagi.
"Bagaimana aku memberitahumu? Kamu juga tidak pernah menemuiku? Selama tiga bulan ini kamu ke mana? Tidak pernah datang ke rumah sakit menemuiku," ungkapnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.
Bella tersadar dan berubah menjadi kikuk. "I-itu ... aku sibuk dengan panggilan konser, Mas. Kamu tahu sendiri, kan kalau aku butuh banyak latihan untuk memberikan performance yang bagus. Aku tidak ingin penggemarku kecewa yah ... sebab permainan pianoku tidak sebagus kamu, Mas."
Zidan meletakan pensil yang sedari tadi terus bermain di atas kertas. Ia mendongak menatap ke dalam manik berlensa abu istrinya.
"Aku kecewa padamu."
"Eh? Apa? Kenapa Mas kecewa padaku?" tanya Bella mencondongkan tubuh ke depan seraya mencengkram meja kuat.
Zidan semakin mendongak melihat wajah mulus pasangannya. "Selama tiga bulan ini aku mengalami depresi dan halusinasi, tapi ... kamu sebagai istriku tidak pernah ada untuk menemani. Aku berjuang sendirian dan melewati itu semua tanpa dorongan siapa pun."
"Ayana pergi menyisakan penyesalan yang entah sampai kapan aku rasakan. Kamu ikut andil dalam permasalahan ini. Karena kamu yang sudah memberiku ide untuk melenyapkan darah dagingku sendiri. Aku menyesal sudah membunuh anakku sampai membuat Ayana meninggal."
Kedua mata Zidan memerah menahan air mata yang mencoba merengsek keluar. Bella terperangah menyaksikan penyesalan di sana, ia lalu menarik tubuhnya lagi dan melipat tangan di depan dada.
"Bukannya dari awal Mas tidak mencintai Ayana? Kenapa sekarang jadi bawa-bawa aku? Aku di sini hanya membantumu saja. Ingat yah Mas, kamu sudah berjanji akan melakukan apa pun untukku. Kamu-"
Suara gebrakan meja membuat perhatian Bella sepenuhnya pada Zidan. Sang suami bangkit dari duduk memberikan tatapan nyalang bersama emosi membuncah.
Jantungnya berdegup kencang saat Zidan menyodorkan selembar foto dan beberapa dokumen ke hadapannya. Di sana memperlihatkan Bella tengah bersama Arfan yang saling merangkul mesra sembari tertawa bahagia.
"Siapa pria ini? Siapa dia?" gertak Zidan menahan emosi.
"Apa maksudmu? Dia temanku ... pria itu sahabatku dari bangku kuliah," balas Bella meyakinkan.
"Aku tanya sekali lagi, siapa pria ini Bella?"
Bella menghentakkan kakinya kesal, "apa kamu tuli? Aku sudah mengatakan jika dia-"
"DIA ADALAH PACAR GELAPMU. SELAMA INI KAMU SUDAH BERSELINGKUH DI BELAKANGKU, KAN?" Zidan naik pitam dengan suara menggelegar.
Bella terbelalak kala rahasianya terbongkar. Ia mundur ke belakang saat Zidan berjalan mendekat.
"Apa yang sudah kamu mainkan di belakangku? Apa ucapan Gibran waktu itu benar jika kamu hanya memanfaatkan ku saja? Oh, atau jangan-jangan kamu menyalahkan ku atas kejadian yang menimpa orang tuamu?" Zidan semakin memojokkannya sampai punggung Bella menyentuh tembok.
Sorot mata penuh amarah dengan emosi yang tertahan membuat Zidan terus mendesak Bella. Ia tidak peduli jika wanita itu sudah gemetar ketakutan.
"A-apa yang kamu katakana? Aku tidak mengerti."
"Tidak mengerti katamu?" Seketika itu juga Zidan melemparkan foto dan berkas-berkas dalam genggamannya tepat di depan wajah Bella.
Kertas-kertas itu pun beterbangan, Bella menengadah melihat potret demi potret dirinya bersama Arfan diabadikan. Sampai kedua benda itu berserakan tepat di bawah kakinya.
Kepala bersurai hitam lembutnya menunduk melihat tulisan tertuang di atas kertas. Napasnya tercekat, dadanya naik turun, saat berita beberapa tahun ke belakang tertangkap pandangan.
"Apa yang kamu lakukan? APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN SAMPAI MEMBUKA BERITA INI LAGI?" Bella meninggikan suaranya dan kembali menatap lekat sang suami.
"Berani kamu membentak suamimu sendiri? Dengar yah Bella, selama kamu pergi satu bulan yang lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengawasi mu. Aku mencari semua informasi terkait denganmu dan ... seperti yang kamu lihat sekarang. Aku mendapatkan rahasia yang selama ini kamu sembunyikan."
"Kamu mendekatiku karena ingin balas dendam iya kan? Kamu pikir aku yang sudah menggeser posisi orang tuamu dari dunia musik? Dengar yah Bella, kejadian tiga tahun lalu murni kecelakaan. Waktu itu ada salah satu staf yang tidak sengaja memotong kabel hingga membuat permainan orang tuamu berantakan. Lalu dengan praduga kalian, aku yang sudah melakukan semua itu. Karena aku hanyalah anak berusia sepuluh tahun yang tidak pantas bersanding dengan dua orang hebat."
"Kamu tahu siapa orang yang sudah memotivasi ku untuk menjadi seorang pianis? Mereka adalah Arsa dan Aruna."
Bella terdiam mencerna baik-baik perkataan Zidan. Ia tidak menyangka jika selama ini praduganya mengenai peristiwa yang terjadi pada ayah dan ibunya murni sebab kecelakaan.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan jika ayah dan ibuku memplagiat note-note pendatang baru?" tanya Bella sambil mengalirkan air mata.
"Masalah itu aku tidak tahu. Karena kebenaran ada pada orang tuamu. Selama ini kamu sudah memanfaatkan ku untuk menjadi seorang pianis, kan?"
"Aku sama sekali tidak keberatan, tetapi jika pengkhianatan tidak ada kata maaf untuk pelakunya."
Bella tertawa mendengar kata-kata yang tercetus dari celah bibir pria di hadapannya ini.
"Kata-kata itu aku kembalikan padamu. Bukankah kamu tidak jauh berbeda denganku? Kamu sudah mengkhianati Ayana dan bahkan sudah membunuh anak kalian."
Mendengar kata itu lagi membuat telinga Zidan berdengung. Ia mundur beberapa langkah ke belakang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa? Kamu tidak terima jika aku sebut seorang pembunuh? Kamu memang seorang pembunuh, ayah yang tidak becus menjaga anaknya sendiri."
Zidan kelimpungan dengan keringat dingin bermunculan di pelipisnya. Ia menabrak meja membuat barang-barang yang ada di atasnya berjatuhan.
Ia semakin ketakutan kala bayangan yang tidak nyata hinggap lagi dalam pandangan. Melihat keadaan suaminya seperti itu Bella menyeringai dan berlalu begitu saja.
Ia sudah puas melihat kehancuran keluarga Ashraf. "Aku tidak peduli meskipun kejadiannya seperti itu ... aku terlanjur muak pada mereka," geramnya.
Di dalam sana Zidan merintih ketakutan mencoba mengenyahkan halusinasi pada sosok yang tidak ada. Ia mencoba bertahan dan menyadarkan diri sendiri atas keadaan yang merenggut kesadarannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Asti
ngaca 🥱
2023-10-03
0