Di sudut ibu kota seorang wanita belia tengah tersenyum pongah memandangi beberapa foto yang tersebar di atas meja.
Rambut panjangnya tergerai indah menutupi sebelah pundak yang terbuka. Ia lalu menopang dagu menatap pria tinggi di depannya.
"Kerja bagus, awasi terus dia jangan sampai ketahuan. Aku harus terus mengamati mereka, kalau begitu kamu bisa kembali," ujarnya. Pria itu pun mengangguk singkat dan berlalu dari hadapannya.
Sang penghuni ruangan menggerakkan kursi kebesarannya ke kiri dan ke kanan seraya menggenggam foto yang memperlihatkan seorang pasien di rumah sakit.
"Aku tidak bisa membiarkanmu menderita. Kamu harus sembuh sayang, agar bisa melihat kehancuran kalian dengan baik," gumamnya.
Tidak lama berselang pintu kembali dibuka, kali ini seorang pria bertubuh tinggi tegap memakai jas lengkap masuk ke dalam.
"Sayang, kamu datang?" Wanita itu beranjak dari duduk dan berjalan mendekat.
"Sayang, aku sangat merindukanmu," balas sang pria.
Mereka berpelukan mesra melepas rindu satu sama lain. "Bella, sampai kapan kamu mau terus menerus menjadi istri pria itu? Aku juga ingin menikahimu."
Bella mendongak di tengah pelukan. "Mas Arfan tenang saja, setelah mendapatkan apa yang aku mau ... aku akan langsung meninggalkan dia. Sebenarnya aku juga sudah jengah terus menerus bersikap menjadi istri yang baik."
"Mas tenang saja aku sudah membuat keluarga mereka hancur. Mas Zidan juga kehilangan istri yang telah dia sia-siakan. Sungguh pria bodoh, bagaimana bisa dia tertipu dengan cinta? Sungguh sangat naif."
"Jadi, istri pertamanya sudah meninggal?" tanya Arfan menunduk melihat sang kekasih.
Bella mengangguk dan semakin mengeratkan pelukan. "Kamu tahu Mas, awalnya aku berteman dengan Ayana. Siapa yang tahu jika dia sudah mengenal mas Zidan dan mengenalkannya padaku."
"Waktu itu aku terkejut dan tidak menyangka jika dia bisa dekat dengan keluarganya. Saat aku mencari tahu ternyata orang tua Ayana adalah orang kepercayaan ayah dan ibu mas Zidan. Mereka pun meminta dia untuk menikahi Ayana."
"Beberapa tahun ke belakang keluarga Ashraf pernah mempermalukan orang tuaku. Di saat ayah dan ibu melakukan konser tiba-tiba saja semua permainan berhenti. Orang-orang yang datang watu itu bergunjing satu sama lain dan mengatakan jika orang tuaku curang untuk mendapatkan penghargaan."
"Cacian dan makian yang mereka layangkan terus menerus membuat mereka tidak tahan dan mengasingkan diri keluar negeri. Aku waktu itu masih berusia delapan tahun dan tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, seiring tahun berganti aku tahu jika ... orang tua mas Zidan lah memanipulasi semuanya. Karena anak mereka yang kata orang-orang jenius ... harus disandingkan dengan dua orang dewasa yang sudah tidak punya kesempatan apa pun."
"Sejak saat itu aku bertekad untuk menjadi seorang pianis juga. Meskipun aku tahu ... kemampuan yang aku miliki tidak sama dengan ayah dan ibu, tetapi ... aku harus merebut kembali apa yang sudah mereka ambil," kata Bella panjang lebar menceritakan apa yang sudah terjadi.
Arfan memeluknya erat dan mengusap puncak kepala sang terkasih pelan. Ia sudah menemani Bella sejak di bangku kuliah dan mengerti bagaimana keadaan wanita tercintanya.
Ia begitu mencintai dan menyayangi Bella hingga rela melihatnya bersanding dengan pria lain untuk mencapai tujuan. Dari dulu Arfan sudah melihat bagaimana perjuangan Bella agar bisa menjadi seorang pianis hebat.
Namun, meskipun lahir dari musisi hebat tanah air kemampuan mereka tidak menurun padanya. Bella selalu mendapatkan skor rendah kala memperlihatkan permainan pianonya.
Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Zidan, seorang pianis muda berbakat yang namanya digandrungi banyak orang.
Zidan sudah lihai bermain piano sejak usianya lima tahun. Ia juga sudah banyak mengikuti perlombaan dan mendapatkan penghargaan di usia sepuluh tahun. Bersamaan dengan itu kejadian pada orang tua Bella pun terjadi.
Di saat usianya memasuki kepala dua ia bertemu Bella untuk pertama kalinya, ketika Zidan di undang oleh pihak universitas dan menjadi guru pembimbing di satu semester.
Kecantikan serta keanggunan Bella sudah menghipnotisnya. Bella yang dari awal sudah tahu siapa Zidan sebenarnya memanfaatkan keadaan tersebut.
Namun, siapa sangka teman masa sekolahnya yaitu Ayana memperkenalkan mereka kembali. Di saat itulah hubungan keduanya semakin dekat dan dekat.
Sampai Ayana menikah dengan Zidan pun mereka berdua sudah menjalin hubungan. Hingga tahun berganti, Zidan dan Bella menikah secara diam-diam di belakang Ayana.
Itulah kejadian yang terus berputar dalam ingatan. Bella tidak menyangka jika takdir bisa bermain begitu mudah di dalam kehidupannya.
"Aku akan menghancurkan mas Zidan dan membuat namanya buruk di masyarakat. Aku tidak bisa melihat ayah dan ibu terus berada di sana tanpa bisa kembali ke tanah air. Sudah bertahun-tahun mereka menetap di luar negeri dan mencoba menyembuhkan traumanya."
"Aku mengerti, Sayang. Kamu wanita kuat yang sudah banyak berkorban untuk orang tuamu," ucapnya lagi.
"Aku juga sangat membenci Ayana yang terus menyanjung keluarga mereka. Aku tidak bisa membiarkannya bahagia bersama mas Zidan. Untuk itu aku melakukan semua ini, karena aku tidak akan pernah bisa melihat mereka bahagia."
"Aku tidak rela sampai mas Zidan jatuh cinta pada Ayana dan membuat pernikahan mereka baik-baik saja. Keluarga mereka harus hancur dan merasakan apa yang ayah dan ibuku rasakan."
Arfan hanya bisa mengangguk-anggukan kepala dan mengusap punggung kekasihnya pelan. Bella menangis di dada bidangnya mengeluarkan sesak yang begitu menumpuk.
Bertahun-tahun ia harus melakoni tugas untuk membuat mereka semua hancur. Ia tidak bisa dan tidak akan membiarkan siapa pun bahagia, terutama Zidan. Karena baginya keberadaan pria itulah yang sudah membuat keluarganya hancur berantakan.
Ia pun harus menjadi bahan gunjingan di antara teman-teman, karena tidak mempunyai bakat seperti orang tuanya. Mereka mengatakan jika hal tersebut merupakan karma yang telah ayah dan ibunya lakukan.
Namun, tanpa ia sadari sosok Ayana tidak ada hubungan apa pun dengan urusannya. Ia sudah bermain seorang diri dan mengakibatkan seseorang kehilangan harapan.
"Dari dulu aku membenci Ayana. Ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Aku tidak bisa melihat dia juga lancar dengan hubungan percintaan. Dengan adanya aku di dalam pernikahan mereka bukankah itu sudah menjelaskan bagaimana keadaannya sekarang? Dia pergi karena kesalahannya sendiri, karena sudah masuk ke dalam permainanku. Kamu mencintai orang yang salah dan aku ... sangat membencimu, Ayana," benaknya geram.
Permasalahan mereka semakin runyam dan ruwet, Bella rela menahan kekesalan dalam diri pada Zidan guna melancarkan aksinya.
Selama bertahun-tahun ia memanfaatkan Zidan dalam popularitasnya sebagai seorang pianis. Dulu ia sering disebut tidak mempunyai bakat dan sejak kolaborasinya bersama Zidan, nama Bella semakin disanjung.
Ia akan mengangkat pria itu semakin tinggi dan jika waktunya sudah tiba, Bella sendiri yang menjatuhkannya. Sampai masanya datang ia akan bertahan dan terus menyingkirkan orang-orang yang mengganggu tujuannya, termasuk Ayana dan Gibran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments