"Apa Dok, sa-saya hamil?"
Pemberitahuan dari dokter membuat Ayana tidak percaya. Sudah enam tahun lamanya ia menunggu kehadiran sang buah hati, tetapi saat ini keberadaannya begitu sulit diterima. Ia bukan tidak bersyukur, hanya saja di keadaan sekarang tidak memungkinkan berita bahagia menjadi kebaikan.
"Itu benar Nyonya Ayana, Anda tengah mengandung dan usianya baru tiga minggu," jelas Dokter Hana mengembangkan senyum.
Ayana terdiam beberapa saat memandangi tulisan yang menjelaskan kondisinya saat ini. Ia mendongak membalas tatapan dokter kandungan di hadapannya.
"Te-terima kasih," gugupnya.
"Selamat yah, kamu akan menjadi seorang ibu. Lain kali silakan datang bersama Zidan, semoga kalian berdua menjadi orang tua yang berbahagia menantikan si malaikat kecil," ujar Dokter Hana riang selaku dokter pribadi keluarga Ashraf. "Kamu juga jangan terlalu capek dan stres, itu bisa berpengaruh pada perkembangan janin," lanjutnya.
Ayana hanya bisa mengangguk pelan dan kembali berterima kasih. Setelah itu ia pun keluar sambil menggenggam surat hasil tesnya.
Helaan napas berat terdengar kala ia sudah meninggalkan gedung rumah sakit. Menapaki jalanan seperti melangkah di atas pecahan kaca.
Air mata menitik, entah itu karena ia bahagia bisa mendapatkan kabar atas kehamilannya atau kepedihan mengenai situasinya saat ini.
Tiga puluh lima menit berselang, Ayana tiba di bangunan megah yang ditinggalinya bersama sang suami. Ia menengadah memandangi rumah yang sudah enam tahun menaungi dirinya. Sekarang ada penghuni baru di sana, ia enggan untuk masuk dan melihat kebersamaan mereka.
"Apa aku harus memberitahu Mas Zidan mengenai anak ini?" lirihnya, ia menunduk ke bawah melihat perut yang masih rata.
Tangan kananya terangkat membelai permukaannya pelan, "Sayang, apa kamu mau memberitahu Ayah mengenai kehadiranmu di dalam sini? Apa Ayah akan memperlakukan kita dengan baik setelah kamu hadir?" Ia terus berceloteh dengan sang jabang bayi mengenai kegundahannya.
Beberapa saat kemudian ia pun memberanikan diri untuk melangkah masuk. Pintu jati besar terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah sang suami bersama istri barunya.
Bella sudah menjadi madunya selama dua bulan. Rutinitas itu bagaikan candu yang mengaduk perasaan. Sakit, keduanya tidak punya hati sering mengumbar kemesraan tepat di depan matanya.
"Mas." Panggil Ayana pelan.
Zidan yang tengah menerima suapan buah anggur dari Bella pun menoleh singkat.
"Iya?" jawabnya.
"Malam ini... malam ini bisakah kamu tidur bersamaku? Sudah lama sekali kita tidak menghabiskan waktu bersama. Ada sesuatu yang ingin aku katakan juga," jelasnya kemudian.
Ayana tidak menyangka jika permintaannya dikabulkan sang suami.
"Baiklah, aku hanya akan melakukan kewajiban sebagai suamimu saja," jawab Zidan acuh tak acuh.
Ayana tersenyum sekilas dan melangkahkan kaki dari hadapan mereka. Terlalu lama ia berdiri di sana sama saja memberikan santapan duri tajam pada hatinya. Ia berusaha tenang untuk tidak memikirkan keberadaan Bella. Saat ini ada sang jabang bayi yang harus ia pikirkan baik-baik.
"Kenapa Mas menyetujui permintaannya? Nanti malam aku tidur sendirian... aku tidak mau," keluh Bella dengan mengerucutkan bibir.
"Sayang, jangan merajuk seperti itu nanti cantiknya hilang. Aku hanya menemaninya sampai tertidur dan akan kembali padamu. Tunggu aku jangan sampai kamu tidur duluan," balas Zidan lalu mencubit dagunya gemas.
Bella mengangguk senang dan bersandar di dada bidang sang suami. Kebersamaan mereka merupakan gambaran pasangan suami istri yang saling mengasihi. Di balik itu ada isak tangis dari bunga air mata yang setiap malam tersedu.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Sedari tadi Ayana terus menunggu suaminya di tempat tidur dengan gelisah.
Berkali-kali ia memikirkan apa yang harus dilakukannya mengenai kabar membahagiakan tersebut. Ia tidak yakin jika Zidan merasakan hal yang sama.
Di tengah kebimbangannya pintu kamar terbuka, Zidan masuk menggunakan piyama yang sama dengan miliknya.
Lengkungan bulan sabit pun terpancar, perasaan Ayana menghangat melihat sang suami berjalan mendekat. Setibanya di hadapannya Zidan menunduk memberikan kecupan singkat di dahi lebarnya.
Ayana mematung dengan manik melebar sempurna. Ia semakin yakin untuk memberitahukan berita menggembirakan tadi siang.
"Apa yang ingin kamu katakan, hm?" Zidan bersikap sangat manis malam ini.
Ayana tidak kuasa membendung kebahagiaan dan menggenggam kedua tangannya erat.
"Aku hamil, Mas. Aku mengandung anakmu," jelasnya cepat.
Seketika itu juga kedua manik jelaga Zidan melebar, tidak menyangka apa yang dikatakan Ayana. Melihat sang suami diam, ia pun membawa surat di atas nakas dan diberikannya pada sang kepala keluarga.
Zidan membukanya dan melihat dengan jelas jika di dalam selembar kertas itu Ayana benar-benar tengah mengandung.
"Kamu hamil tiga minggu? Bagaimana bisa? Bukankah selama dua bulan ini kita tidak berhubungan?" tanya Zidan beruntun.
"Apa Mas lupa? Tiga minggu lalu kita berhubungan? Mas masuk ke dalam kamar ini dan tidur bersamaku," jelas Ayana tidak kalah sengit.
Zidan beranjak dari duduk mengusap wajah gusar. Ia tidak menyangka keletihannya setelah bekerja malam itu membuatnya melakukan kesalahan.
Ia lupa jika Ayana masih tidur di kamar utama. Ia kembali menoleh melihat senyum mengembang di wajah cantik sang istri.
"Apa yang harus aku lakukan?" cicitnya pelan.
Ayana menautkan kedua alis tidak mengerti. "Bukankah sudah jelas kita akan membesarkannya bersama? Atau ... malam itu Mas mengira aku adalah Bella?"
Raut muka Zidan berubah, keseriusan pun tercetak di sana. Tanpa rasa bersalah ia mengangguk tanpa ragu.
"Apa Mas menginginkan anak ini hadir di rahim Bella? Bukankah sudah enam tahun kita menantikan buah hati?" tanya Ayana menggebu.
Zidan menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Ia membalikan badan memunggungi Ayana yang menuntut jawaban.
"Kenapa Mas diam saja? Jawab aku, apa Mas ingin Bella yang hamil dan-"
"Iya, aku ingin Bella yang mengandung dan bukan kamu. Kenapa semua kejadian yang aku inginkan harus terjadi padamu? KENAPA?" teriak Zidan membuat Ayana terpaku.
Bibir kemerahannya bergetar menahan perih, ia tidak menyangka jika sikap manisnya beberapa menit lalu berganti kepahitan.
Sesak dalam dada memuncak hingga ke kerongkongan. Ayana menundukkan kepala tidak kuasa melihat sorot mata kebencian dari suaminya.
"Anak ini tidak salah, dia berhak hadir dan melengkapi keluarga kita," lirih Ayana.
"Dalam mimpimu, bagaimanapun pernikahan ini, kehadiranmu adalah sebuah kesalahan."
Zidan pergi setelah menorehkan luka baru tersayat di hatinya. Ayana menangis sesenggukan mencoba meredam rasa sakit di dada.
Namun, ia tidak bisa menahannya dan seketika isak tangis pun teredam di ruangan. Bunga tidak selama memperlihatkan keindahan.
Mawar, meskipun menebar keharuman dan melambangkan cinta, tetapi terdapat duri tajam yang mampu menimbulkan luka.
Bunga air mata, menggambarkan pernikahan seorang Ayana. Ia hanyalah seorang wanita yang mempunyai cinta tulus kepada suaminya, Zidan.
Perasaan itu terus tumbuh seiring berjalannya waktu, tetapi ketulusan selama enam tahun berbuah kesengsaraan. Ia sangat mencintai dan menyayangi sang suami, dirinya rela dipermainkan serta tidak dianggap keberadaannya. Namun, hanya satu yang ia inginkan... anak ini harus diakui oleh Zidan bagaimanapun caranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments