"Kamu sudah bangun?"
Pertanyaan itu terus berdengung dalam pendengaran. Kata-kata yang tidak ingin ia dengar kembali harus menyapa. Hal tersebut mengingatkan ia pada hari di mana sang jabang bayi harus dikeluarkan.
Kenangan menyakitkan kembali hadir membuat Ayana terdiam dalam tangis. Ia tidak bisa menahan sesak dalam dada kala bayangan menyakitkan itu harus datang lagi.
Dokter Danieal Arsyad masih memperhatikannya seraya melipat tangan di depan dada. Perlahan ia pun mendekat dan duduk di kursi sebelah ranjang pasien.
"Jika memang terlalu berat, menangislah. Menangis bisa membuat perasaan menjadi lebih baik, air mata bisa mengeluarkan racun yang dapat membangkitkan sesak dalam dada," tutur Danieal.
Ayana terpaku mendengar kalimat tersebut, darahnya berdesir hebat dan tiba-tiba saja emosi meningkat tak tertahankan.
Ia menggeram dan seketika mencabut selang infus di tangannya hingga darah pun menetes menodai baju pasien. Ia bangkit dari berbaring dan langsung mengamuk tidak bisa dikendalikan.
Ia berteriak dan membanting semua barang-barang yang ada di ruangan. Rasa sakit di dalam hati seketika memuncak tidak bisa dikendalikan. Ayana meraung, menangis, dan menjambak kepalanya yang terbungkus hijab.
Dokter Danieal memanggil beberapa perawat untuk membantunya menangani Ayana. Dua perawat pun datang dan seketika memegang kedua lengan sang pasien.
Ayana berontak berusaha melepaskan mereka. Kepalanya berkali-kali menggeleng dan memandangi para perawat itu dengan pandangan mengiba.
"Lepaskan, saya mohon lepaskan. Jangan sakiti saya ... kembalikan anak saya. Saya mau anak saya kembali. Saya sangat menyayanginya ... SAYA INGIN ANAK SAYA. KALIAN DENGAR KEMBALIKAN DIA!" Ayana terus berteriak dan berontak.
Dokter Danieal memerhatikan dan mengawasinya dalam diam. Setelah beberapa saat ia mengeluarkan jarum suntik yang sudah diberi cairan obat bius.
"Tenang yah, kamu pasti bisa melewatinya," ujarnya seraya berjalan mendekat.
"TIDAK! KALIAN SAMA SAJA ... SEMUA ORANG JAHAT PADAKU. PRIA BRENGSEK ITU BAHKAN SAMPAI MAU MELECEHKANKU. AKU KOTOR ... tubuhku sudah tidak berguna lagi. LEBIH BAIK AKU MATI!" teriakannya menggema di ruang inap.
Danieal yang mendengar itu melebarkan mata tidak percaya dan langsung menggenggam pergelangannya kuat.
"Bismillah," ucapnya lalu menyuntikan obat tersebut.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menyuntik-" Ayana pun kembali tidak sadarkan diri.
"Pindahkan dia ke ruangan atas," titah sang dokter.
Kedua perawat itu mengangguk mengiyakan dan bergegas membaringkan Ayana di atas brankar dan mendorongnya keluar.
...***...
Gibran untuk kesekian kalinya melabrak sang kakak. Ia datang dengan napas naik turun menahan amarah.
Ia terus berjalan menelusuri bangunan megah tempat tinggal Zidan. Kedua kaki jenjang itu melangkah tegap mendekati ruang kerjanya.
Ia mendobrak pintu kasar membuat sang penghuni berjengkit kaget dan mengakhiri aktivitasnya.
"Astaghfirullah hal adzim, dasar orang-orang tidak berperasaan. Kalian bisa-bisanya bercumbu di siang hari terlebih di balik luka seseorang!" geram Gibran sambil mengepalkan kedua tangan.
"Apa yang kamu lakukan? Datang marah-marah di mana sopan santunmu?" teriak Zidan sambil membersihkan sudut bibir sang istri yang masih duduk di pangkuannya.
Gibran berdecak dan berjalan mendekat lalu menarik Bella dari kakaknya. Wanita itu pun terpekik kaget dengan tubuh sintalnya terpental.
"Kyaaa, apa yang kamu lakukan?" Bella berusaha melepaskan pegangan tangan adik iparnya yang begitu kuat.
Gibran langsung menghempaskannya tanpa sekalipun menatap sang empunya. Bella memegang pergelangan tangan dan mengusapnya secara perlahan.
"Bisa-bisanya kamu membanting kakak iparmu sendiri?" Zidan geram seraya beranjak dari kursi kebesarannya.
Lagi dan lagi Gibran berdecak kemudian mendengus sebal. "Aku tidak punya kakak ipar wanita licik seperti dia. Mas harus tahu dia mendekatimu hanya memanfaatkanmu saja untuk kepentingannya."
"Jaga bicara kamu! Jangan menuduh orang sembarangan." Zidan menunjuk sang adik tepat di depan wajahnya.
"Kita lihat saja siapa yang benar dan siapa yang salah. Sampai waktunya tiba Mas jangan menyesal, karena sudah membuat mbak Ayana pergi dari sini. Aku datang ke sini hanya ingin memberi tahu jika mbak Ayana pergi dan-"
"Iya aku sudah tahu, beberapa hari lalu dia menghubungiku dan ... Mas mengatakan jika dia tidak perlu repot-repot datang kembali." Dengan pongahnya Zidan berjalan mengitari meja dan mendekati Bella lalu merangkul pinggangnya posesif.
Gibran yang menyaksikan adegan tersebut seketika mual dan hendak melayangkan pukulan ke wajah sang kakak lagi. Namun, pergerakannya terbaca oleh Zidan dan langsung mencengkram pergelangan adik kandungnya kuat.
"Aku tidak akan membiarkan kamu memukul wajah tampanku lagi." Seringaian hadir, Gibran pun menarik tangannya dan memberikan tatapan tajam.
"Aku datang ke sini hanya ingin mengatakan jika mbak Ayana benar-benar menghilang. Ponselnya sudah tidak aktif dan sulit mencari tahu keberadaannya, tapi-"
"Oh itu sangat bagus, dia benar-benar tidak akan kembali ke sini," potong Zidan, senyum pun hadir membuat Gibran kembali emosi.
"Aku sudah salah datang ke sini dan memberitahumu." Gibran pun melangkahkan kaki hendak keluar dari ruangan tersebut.
Namun, sebelum benar-benar pergi suara Zidan kembali membuatnya terdiam. "Jika kamu memang peduli pada kakak iparmu ... kenapa tidak cari saja sampai ke ujung dunia dan lindungi dia? Oh, atau kamu juga boleh menikahinya. Karena dia barang yang tidak berguna."
Mendengar kata-kata kurang ajar tersebut Gibran berbalik dan secepat kilat memberikan pukulan keras di wajahnya. Ia lalu membetulkan jas kerjanya dan memberikan tatapan tajam.
"Maka wanita yang bersamamu sekarang adalah sampah yang tidak berguna sama sekali." Setelah mengatakan itu ia pun benar-benar pergi.
Bella mengepalkan kedua tangan erat mendengar kata-kata itu mengarah padanya. "Kurang ajar, awas saja aku pasti akan membuatmu menderita. Tidak peduli kamu adiknya atau bukan, aku akan memberikan perhitungan," geramnya dalam benak.
Zidan berdesis kala tulang pipinya terasa remuk. Ia pun mengusap darah dari sudut bibirnya yang belum sembuh setelah tempo hari. "Pukulan anak itu tidak main-main. Dia belajar dari siapa?" ocehnya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bella menangkup wajah tampan sang suami dan memperhatikannya. "Adikmu memang sangat kurang ajar. Dia datang dan pergi seenaknya, aku yakin dia sebenarnya menyukai Ayana," ujarnya memprovokasi.
Zidan hanya mengangguk mengiyakan dan terus memandang ke arah pintu di mana sosok adiknya sudah menghilang.
Gibran yang sudah keluar dari rumah sang kakak menghentikan langkah kala menerima sebuah pesan masuk dari salah satu orang yang dipekerjakan guna mencari Ayana.
Pesan itu berbunyi, "Tuan, sepertinya Nyonya Ayana benar-benar menghilang. Kami menemukan ini di sebuah desa terpencil." Terdapat foto yang memperlihatkan ponsel dan juga barang bawaan Ayana.
Genggaman di ponsel seketika mengerat, Gibran tidak percaya mendapatkan kabar kurang mengenakan mengenai kakak iparnya. Sudah hampir dua minggu berlalu sejak Ayana pergi, tetapi sampai detik ini wanita itu tidak memberikannya kabar.
"Mbak Ayana, ke mana kamu pergi? Aku tahu sangat sulit bagimu menjalankan pernikahan dengan kakakku yang brengsek itu. Aku harap dia menyesal sudah melepaskan wanita sebaik dan setulusmu, mbak," celotehnya.
Ia lalu mendongak melihat ke atas langit yang memperlihatkan awan putih. "Ya Allah jagalah mbak Ayana di manapun dia berada," lirihnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments