Zidan terus melakukan pengobatan untuk menghilangkan halusinasi. Namun, semua itu tidak semudah membalikan telapak tangan.
Ia akan kembali menjerit, mengucapkan maaf atas rasa bersalahnya pada sosok yang tidak bisa dilihat siapa pun. Keadaannya tersebut membuat Lina dan Arshan khawatir, bagaimanapun Zidan masih anak kandung mereka.
Sebejad apa pun kelakuan seorang anak, orang tua tetap mencemaskan jika sesuatu terjadi pada dirinya. Sesekali baik Lina maupun Arshan menjenguk Zidan di rumah sakit.
Namun, setelah satu bulan berlalu kondisinya masih tetap sama dan tidak ada perubahan signifikan. Haikal sebagai psikolog pribadinya pun tidak menyangka menangani pasien seperti Zidan.
"Baiklah kita akan menggunakan metode hipnotis. Sekarang silakan Anda berbaring dan pejamkan mata," kata Haikal ketika mereka melakukan terapi.
Tanpa mengatakan apa pun Zidan menuruti suruhannya. Kedua manik itu tersembunyi di balik kelopak dengan kedua tangan terlipat di atas perut.
"Bayangkan jika Anda sedang berada di sebuah danau yang sangat indah. Apa yang Anda lihat di sana?" tanyanya kemudian.
Lama Zidan tidak merespon membuat Haikal menatap wajah pucat di hadapannya. Sampai, "Aku melihat ... aku melihat bayangan putih.
"Bayangan seperti apa?"
"Seperti ... seorang wanita mengenakan gaun panjang dan menggendong seorang bayi."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Mereka hanya diam dan tersenyum sambil menatap lurus ke depan."
"Baik, lalu apa yang akan Anda lakukan pada mereka."
Di sesi ini Zidan mengepalkan tangan kuat, Haikal melihat itu dan kembali berkata, "jangan gegabah dan membuat mereka takut. Sapa dan berikan respon positif."
Terlihat Zidan mengangguk dalam berbaring mencoba melakukan apa yang dikatakan Haikal. Beberapa detik hanya ada keheningan membuat dokter psikolog itu mengerutkan kening saat menyadari jika ada air mata mengalir.
"Kenapa Anda menangis?"
"Aku minta maaf ... aku benar-benar minta maaf," kata Zaidan lirih dan sekuat tenaga menahan pertahanan.
"Apa yang dikatakannya?" tanya Haikal mencoba memfokuskan diri Zidan kembali.
"Dia pergi ... dia pergi tanpa mengatakan apa pun. Dia hanya melihatku dengan sinis dan pergi begitu saja. Tunggu ... Ayana, tunggu aku. AKU MINTA MAAF ... AKU BENAR-BENAR MINTA MAAF." Seketika Zidan terbangun dan berteriak dengan tangan seolah menggapai sesuatu.
Haikal beranjak dari duduk dan mencengkram kedua bahunya kuat. Ia takut jika Zidan akan kembali mengamuk seperti hari-hari lain.
"Tenang itu hanya emosi Anda saja. Ayana ... tidak ada di sini," jelasnya.
Mendengar hal tersebut Zidan terdiam kaku dengan buliran bening meluncur tak tertahankan. Ia sepenuhnya sadar jika wanita yang menjadi istri pertamanya sudah meninggal.
Sosok itu sudah menghilang tidak bisa ia gapai lagi. Pukulan telak telah ia terima, kejadian yang telah berlalu tidak bisa kembali.
Waktu akan terus berjalan sebagaimana mestinya, roda kehidupan akan berputar selayaknya masa memberi kesempatan.
Wanita sebaik, setulus, dan penyayang seperti Ayana telah pergi untuk selamanya. Kini yang tersisa hanyalah kenangan tak bisa diulang kembali.
Penyesalan, hanya penyesalan yang bisa ia terima. Waktu bisa saja memberikan balasan atas apa yang sudah diperbuat. Zidan terus menerus mengeluarkan air mata menangisi perbuatannya sendiri.
...***...
Tiga bulan berlalu begitu cepat, hari-hari terberat telah dilalui penuh perjuangan. Setiap hari Zidan melakukan pengobatan guna meredakan halusinasinya.
Namun, selama itu pula memori kebersamaannya dengan Ayana terus berputar. Kadang kala ia masih membayangkan sosok putih yang diyakini sebagai istrinya datang menghantui.
Hari demi hari kondisi Zidan berangsur-angsur membaik. Ia mulai bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala dan perlahan melupakan rasa sakit yang terus menggerogoti hati.
Bangunan berlantai dua tersebut mengalirkan lantunan musik lembut bergema di setiap ruangan. Tuts demi tuts piano dimainkan begitu indah menghasilkan suara halus nan mendayu.
Perasaan seorang pianis tengah bermain di sana, kedua mata tertutup rapat menikmati lantunan lagu. Di tengah permainan hentakan sepatu pantofel mengimbangi piano. Zidan membuka mata melihat dokter pribadi berdiri tepat di hadapannya
Pria dengan tinggi seratus delapan puluh dua sentimeter tersenyum hangat seraya mengulurkan sebuah pamflet. Zidan menautkan kedua alis tajam dan menghentikan jari jemari di atas piano.
"Apa ini? Apa yang sedang kamu lakukan, Haikal?" tanyanya.
Haikal Abizar, psikolog pribadinya tersenyum manis. Selama tiga bulan ini ia sudah bersama-sama dengan Zidan untuk mengatasi permasalahan yang menimpanya.
Berkat ketekunan serta kesabaran yang dimilikinya, Haikal berhasil membuat Zidan keluar dari rasa bersalah. Namun, setelah kedekatan itu terjalin sang ayah memintanya untuk menjadi asisten sekaligus dokter pribadi yang setiap saat selalu ada di samping Zidan. Mau tidak mau pria berusia tiga puluh tahun itu pun mengiyakan permintaan ayahnya.
Karena bagaimanapun juga keluarga Ashraf sudah banyak membantu, mereka bahkan menyekolahkan Haikal ke perguruan tinggi ternama. Sebagai balas budi ia akan melakukan apa pun untuk sang tuan muda.
"Ini pamflet festival musik, perencana di sana mengundangmu untuk tampil," jelasnya.
Zidan mengambil dan melihatnya dengan seksama. Pamflet itu memperlihatkan gambar berbagai alat musik klasik salah satunya piano.
"Festival musik klasik? Kenapa mereka mengundangku dan kenapa kamu memberiku ini?" tanyanya beruntun.
"Sudah saatnya kamu untuk bangkit lagi. Berapa banyak penggemar di luar sana yang menunggu perfoma mu? Jangan kecewakan mereka dan jangan menyianyiakan bakat yang sudah Tuhan berikan padamu," tegas Haikal sembari melipat tangan di depan dada.
Zidan mendesah pelan meletakan pamflet itu di atas piano. "Aku tidak tahu, apa ... aku masih bisa bermain di atas panggung?" ujarnya sendu.
"Zidan Ashraf, itulah nama kamu. Seorang pianis muda berbakat yang namanya sudah terdengar ke berbagai negara. Meskipun saat ini kamu merasa tidak percaya diri, tetapi bakat tetaplah bakat. Kamu masih menjadi bintang bersinar di atas sana," ujar Haikal membangun kepercayaan dirinya.
Zidan tersenyum simpul seraya terus memandangi selembaran itu. "Baiklah, karena kamu sudah mengatakannya maka aturlah sesukamu."
"Itulah jawaban yang ingin aku dengar."
Zidan mengangguk singkat dan berdiri dari kursi meninggalkan psikolog itu sendirian. Ia berjalan dengan kedua tangan berada di saku celana.
Haikal terus memperhatikannya hingga sosok itu menghilang ke lantai dua. "Setidaknya saat ini kamu mencoba untuk bangkit lagi dan itu sudah sangat baik."
Zidan berdiam diri di salah satu kamar menyapu segala penjuru yang ada di sana. Ruangan itu terawat dengan baik meskipun penghuninya sudah lama pergi.
Tiga bulan lamanya, selama itu kamar milik Ayana tidak ditempati oleh siapa pun. Banyak sekali kenangan yang terjadi di sana membuat Zidan mengulas senyum masam.
"Bagaimana kabarmu di sana, Ayana?" bisiknya lirih.
"Kamu tahu, di sini ... di sini aku sangat merindukanmu," lanjutnya lagi.
Ia lalu berjalan ke arah jendela besar memandangi langit malam bertabur bintang. Cahaya bulan bersinar begitu terang, Zidan menengadah menikmati indahnya pemandangan dalam gelap tersebut.
"Aku harap di sana kamu sudah memaafkanku," katanya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Asti
terlambat 🥹
2023-10-03
0