Awan kelabu masih setia membingkai indahnya langit, bahkan sang raja malam enggan untuk keluar. Tidak ada sedikit pun cahaya menemani kelamnya cakrawala, gelap disertai angin kencang memberikan cuaca buruk.
Di salah satu rumah sakit besar di ibu kota, seorang pianis terkenal tengah berbaring tidak berdaya. Selang infus menancap di pergelangan tangan kanannya. Tetes demi tetes cairan itu pun memasuki tubuh lemahnya.
Semalam kondisi Zidan drop dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sang adik yang masih berkutat dengan duka terkejut saat mendapati panggilan dari dokter pribadinya.
Dokter bernama Abizar itu kembali ke kediaman Zidan kala merasakan firasat tidak mengenakan. Pria paruh baya tersebut terkejut saat mendapatkan sang pemilik rumah sudah dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Saya pikir, wanita yang tinggal bersamanya tidak memerhatikan Tuan Muda dengan baik. Saat saya kembali ke rumahnya wanita itu sedang tidak ada," jelas Abizar seraya melipat tangan di depan dada yang tengah berdiri di sebelah Gibran.
Anak kedua sang pengusaha itu duduk di kursi tunggal sambil menatap lekat kakaknya. "Wanita itu istri kedua Mas Zidan. Dia memang bukan wanita yang baik-baik. Aku tahu cepat atau lambat kejadian ini pasti terjadi. Terima kasih Dok sudah menemukan dia."
"Apa? Istri kedua Tuan Muda?" Dokter Abizar berdehem pelan menetralkan rasa terkejutnya. "Em, itu sudah menjadi tugas saya, Tuan muda kedua. Kondisi Tuan Zidan drop dan bahkan sempat mengigau beberapa kali sebelum saya menghubungi Anda. Kemungkinan besar Tuan Zidan mengalami mimpi buruk." Gibran hanya mengangguk-anggukan kepala menimpalinya.
"Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi saya permisi dulu. Jika ada sesuatu di tengah malam hubungi saya." Setelah itu Abizar meninggalkan ruang inap VVIP tersebut menyisakan Gibran seorang diri.
Tatapan pria berusia dua puluh enam tersebut mengunci pada sang kakak. Kedua tangan saling mengepal mengetahui kondisinya. Ia menghela napas kasar kala sudah mengetahui jika kejadian ini akan terjadi.
"Apa penyesalan itu sudah mendatangimu, Mas? Aku harap kamu bisa menikmatinya dan jangan pernah menyalahkan keadaan," geramnya.
Jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Beberapa saat lalu Gibran pergi untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Namun, di tengah kesendirian itu sang penghuni kamar inap terbangun. Kedua matanya terbelalak lebar dengan napas naik turun.
Dadanya terasa pengap seolah seseorang tengah mencekik lehernya kuat. Zidan sadar dan menahan napas seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak jangan ... aku mohon lepaskan. A-Ayana aku bersalah ... aku mohon ampun. ARKHHH!" Ia pun berteriak kencang sampai membuat tubuh tegapnya terjatuh.
Selang infus tercabut paksa membuat darah berceceran. Ia pun menggigil ketakutan sembari memeluk kedua lututnya.
Tidak lama berselang pihak medis datang bersama Gibran di belakang. Ia tidak menyangka melihat kondisi sang kakak semakin parah.
Pria angkuh itu histeris bahkan sampai mengamuk melayangkan benda-benda di sekitar pada beberapa perawat. Ia juga selalu mengatakan kata yang sama, yaitu maaf.
"Maafkan aku ... aku tidak bersalah. Aku minta maaf," lirihnya masih melakukan hal yang sama.
Gibran yang berdiri di ambang pintu menatapnya datar. Ia tahu apa yang tengah terjadi pada kakak pertamanya.
"Mas mengalami halusinasi," benaknya.
...***...
Selesai diberikan obat bius Zidan kembali tidak sadarkan diri. Ia terbaring lemah di atas ranjang dengan selang infus menancap lagi. Wajah tampannya begitu pucat seolah tidak dialiri darah.
Bibir kemerahannya yang selalu berucap angkuh terlihat pias dan sedikit membiru. Keringat dingin masih bermunculan di pelipisnya.
Setelah yakin jika Zidan sudah tenang, Gibran pun menutup pintu dan berjalan di lorong. Ia kembali bertemu dengan Dokter Abizar dan mereka memutuskan untuk berbicara.
Di ruangan itu keduanya saling berhadapan. Selain bekerja sebagai dokter pribadi keluarga Ashraf, Abizar pun menjadi wakil direktur di rumah sakit.
"Saya harus menyampaikan berita tidak mengenakan ini. Tuan muda Zidan-"
"Apa yang terjadi dengan mas Zidan? Dia mengalami halusinasi?"
Tanpa diduga Abizar menganggukkan kepala dan menautkan tangan di atas meja.
"Kondisi yang dialami tuan muda mempengaruhi mentalnya. Keadaan tersebut jika dibiarkan begitu saja bisa berbahaya. Kita harus melakukan konseling dengan psikolog untuk menyembuhkannya."
Gibran mendengus lalu bersandar ke kepala kursi. "Jadi dia benar-benar mengalami halusinasi dan mentalnya terganggu? Itu tidak sebanding dengan apa yang dilakukannya pada mbak Ayana," lirihnya.
Abizar mendengar perkataan tuan muda kedua di depannya. Sedikitnya ia tahu mengenai permasalahan keluarga Ashraf, terutama Zidan.
"Mungkin setelah meninggalnya nyonya muda, tuan Zidan belum bisa sepenuhnya merelakan almarhumah. Karena bagaimanapun mereka sudah hidup bersama bertahun-tahun."
"Iya, itu sebabnya tidak sebanding atas apa yang mbak Ayana alami. Dokter mau melakukan apa pun terserah, aku sudah tidak mau berurusan dengan dia lagi." Gibran bangkit dari duduk memandangi sang dokter.
Abizar tersenyum lembut dan membetulkan letak kacamatanya. "Saya tahu jauh di dasar hati paling dalam, tuan muda kedua peduli dengan tuan Zidan. Saya akan berusaha menyembuhkannya dan menghilangkan halusinasi tersebut."
Gibran terperangah dan mendengus kasar. Tanpa mengatakan sepatah kata ia pun pergi begitu saja.
Pagi menjelang, hujan pun kembali datang, udara dingin menerjang ibu kota. Angin kencang berhembus membuat beberapa pohon tumbang menghalangi jalan.
Kengerian tersebut menyadarkan Zidan dari tidur panjang. Kelopak mata itu kembali terbuka memandangi langit-langit ruangan.
Tanpa ada pergerakan berarti ia terus diam menatap lurus ke depan. Ia hanya bernapas tidak ada niatan untuk melakukan apa pun.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan digeser seseorang. Zidan pun masih anteng dengan posisinya sampai orang lain duduk di sebelahnya.
"Bagaimana keadaan Tuan saat ini?" Suara lembut nan dalam menyapa.
Zidan menggeser bola matanya ke samping melihat seorang pria berjas putih tengah tersenyum. Selung pipit di pipinya terlihat begitu dalam menambah ketampanan.
"Saya Haikal Abizar, putra dari Dokter Abizar. Saya seorang psikolog yang akan membantu Anda," jelasnya.
Mendengar hal tersebut Zidan terkekeh sampai membuat tubuhnya bergetar. "Psikolog? Apa aku sudah gila?" gumamnya.
"Kita tidak bisa mengabaikan kondisi mental dan psikis seseorang. Meskipun secara fisik kita terlihat baik-baik saja, tetapi bagaimana kondisi di dalamnya? Tuan tahu apa yang saya maksud."
Zidan kembali memandang ke depan, langit-langit ruangan itu terasa mengejek dan menertawakannya. Pandangan itu kosong dengan pikiran berkecamuk mengenai apa yang sudah terjadi.
"Bisakah ... bisakah saya bertemu dengan seseorang yang sudah pergi dari dunia ini? Saya melihatnya dari kemarin," ujar Zidan memulai.
Haikal mengangguk dan menegakan tubuh. Ini kesempatan sempurna baginya jika sang pasien sudah mulai terbuka.
"Kehilangan seseorang memang tidak mudah untuk bisa kita terima. Namun, keberadaannya terkadang kita sia-siakan."
Mendengar itu Zidan terkejut dan terdiam kaku. Kedua tangannya mengepal kuat membenarkan perkataan Haikal. Ia sudah kehilangan seseorang yang benar-benar peduli padanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, air mata mengalir begitu saja. Zidan menangis dalam diam membuat dokter muda itu pun tersenyum.
"Baiklah kita lanjutkan konselingnya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments