Kata orang penyesalan selalu datang terlambat dan waktu tidak bisa diulang kembali. Apa yang sudah terjadi maka terjadilah. Kejadian yang terjadi kemarin tidak mungkin diubah dan akan selamanya seperti itu.
Sebanyak apa pun air mata keluar untuk menangisinya, tidak akan mampu menghapus jejak kenangan menyakitkan tersebut.
Setelah menempuh kurang lebih dua puluh menit, Zidan tiba di kediaman Gibran. Ia pun memarkirkan mobil sembarangan dan bergegas melenggang masuk begitu saja.
Mendengar suara berdentum dari pintu masuk, Gibran yang tengah sibuk di ruang keluarga mengangkat kepalanya dan menatap datar kedatangan sang kakak. Ia tahu lambat laun Zidan akan menemuinya di rumah kedua orang tua mereka.
"Aku tidak menyangka Mas akan datang secepat ini. Baru sebulan, apa yang membuat Mas datang? Penasaran karena istri yang sudah kamu sia-siakan pergi begitu saja? Atau menyesal sudah membiarkannya menghilang. Apa-"
Belum sampat Gibran menyelesaikan ucapannya, Zidan memukul telak wajah tampan itu hingga membuat sang empunya menoleh ke samping.
Gibran menyeringai dan mengusap sudut bibirnya yang robek. Ia beranjak dan menatap nyalang saudaranya tersebut.
"Terima kasih atas ucapan selamat paginya," ujar Gibran dingin.
"Jangan basa-basi, selama ini kamu benar-benar mengincar kakak iparmu sendiri? Kamu mencintai Ayana, kan? Sampai mencarinya tanpa sepengetahuanku, apa kamu berniat merebutnya? Oh, atau selama ini kamu memang sudah ingin merebut Ayana dari kakakmu sendiri?"
"Dasar kamu adik tidak tahu diuntung. Kamu berani mengincar Ayana yang masih menjadi istri Mas?" kata Zidan nyalang.
Gibran mendengus kasar dan menyeringai lebar, "Apa Mas sudah selesai bicaranya? Selama ini Mas ke mana saja? Bukankah Mas sendiri yang telah menyia-nyiakan mbak Ayana? Tidak menganggapnya istri dan berselingkuh di depannya secara terang-terangan. Bahkan ... Mas sudah membunuh anak kandungmu sendiri."
"Di mana hari nurani mu, Mas? Sekarang di saat aku ingin membantu Mas mencari keberadaannya, Mas menuduhku yang tidak-tidak?"
"Baik, karena Mas yang mengatakannya sendiri, aku... akan merebut Mbak Ayana dari sisimu. Tidak peduli di manapun Mbak Ayana berada aku akan mencarinya. Meskipun harus ke ujung dunia sekalipun. Bukankah baru sebulan yang lalu Mas mengatakan jika Mbak Ayana barang tidak berharga? Maka aku yang akan mengambilnya dan membuat dia sangat berharga."
Zidan tidak berkutik, seluruh tubuhnya terdiam bak bongkahan es. Ia tidak menyangka jika semua yang dilakukan sang adik untuk kebaikannya. Namun, apalah daya nasi sudah menjadi bubur, perkataan yang tadi dan juga sebulan lalu ia sampaikan tidak bisa ditarik kembali.
"Bukankah aku sudah mengatakan untuk merebutnya dari sisimu, Mas? Maka sampai waktunya tiba aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya."
Baru kali ini Zidan melihat kesungguhan dari sorot mata adik kandungnya. Ia mengepalkan kedua tangan erat menyaksikan senyum mengejek di sana.
Pria yang empat tahun lebih muda darinya itu memberikan tatapan serius. Zidan tidak mengatakan apa pun dan terus diam.
Kedatangan seorang pria bertubuh kekar mengenakan jas serta kacamata hitam datang mengusik kebersamaan dua saudara tersebut.
Zidan dan Gibran menoleh kompak ke arah pintu masuk menyaksikan pria itu mengatur napasnya yang memburu. Sang pemilik rumah pun menautkan alis tidak mengerti.
"Apa yang terjadi, Dion? Kenapa kamu ngos-ngosan seperti itu?" tanya Gibran kemudian.
Pria bernama Dion itu pun menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Di rasa sudah lebih tenang ia berjalan mendekat dan menjulurkan amplop berukuran sedang ke hadapan sang tuan.
Tangannya yang gemetaran membuat Gibran dan Zidan mengerutkan kening. Tanpa berkata Gibran pun langsung menyambarnya cepat.
"Apa ini?" tanyanya seraya membuka penutup amplop tersebut.
"Anak buah saya menemukan seseorang yang mirip dengan Nyonya Ayana, ta-tapi dia mengatakan. Jika Nyonya Ayana... Nyonya Ayana-"
"CEPAT KATAKAN DENGAN JELAS!" Zidan sudah tidak sabar dan meninggikan nada bicara.
"Nyonya Ayana sudah meninggal dunia."
Bak bumi hancur berkeping-keping, berita mendebarkan tersebut tersampaikan dan masuk ke dalam indera pendengaran. Zidan semakin mengepalkan kedua tangan erat dan berjalan cepat menuju Dion.
Ia mencengkram kerah kemejanya kencang dengan mata terbelalak lebar.
"Jangan berkata yang tidak-tidak. Ayana tidak mungkin meninggal, kamu pasti bercanda, kan? Apa kamu mau tidak bisa melihat hari besok, hm?" Ancamnya dengan nada kesal.
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya hanya melakukan apa yang disuruh saja dan... anak buah saya menemukan beberapa bukti," katanya.
Tidak lama berselang suara benda jatuh menarik atensi keduanya. Zidan melepaskan cengkraman pada Dion membuat sang empunya terbatuk beberapa kali.
Zidan lalu menoleh ke belakang mendapati wajah pucat Gibran. Kedua matanya kemudian beralih ke bawah di mana di sana berserakan beberapa foto dan juga memori card.
Zidan berjalan pelan dan seketika manik jelaganya membola sempurna kala menyaksikan foto yang memperlihatkan keadaan seorang wanita.
Ia berjongkok tepat di depannya dengan tangan terulur mengambil salah satu foto. Jari jemarinya seketika gemetar hebat kala melihat sosok wanita berhijab hitam menutup mata erat.
Wajah yang sudah tidak terbentuk itu pun memperlihatkan landing di pipi sebelah kanan membuat pertahannya runtuh. Zidan sangat hapal mengenai letak tahi lalat yang dimiliki sang istri.
Darah yang menghiasi mukanya tidak menyurutkan pengetahuan Zidan mengenai Ayana.
Mereka sudah hidup bersama selama enam tahun, meskipun dirinya tidak mempedulikan keberadaan Ayana, tetapi ia tahu bagaimana rupa istrinya.
"Ti-tidak mungkin... ba-bagaimana bisa? Bagaimana bisa jadi seperti ini? INI TIDAK MUNGKIN." Zidan berteriak seraya meremas foto di tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa foto-foto Mbak Ayana seperti itu? Kamu yakin dia-" Perkataan Gibran tercekat di tenggorokan kala tangis mencuat ke permukaan.
Ia tidak kuasa membendung kesedihan dalam dada dan menangis begitu saja. Ia lalu membalikan badan menahan kepedihan yang terus merangsek keluar.
"Dari laporan yang saya terima, foto-foto tersebut di ambil dari desa selatan. Desa itu terletak sangat jauh dari ibu kota, membutuhkan waktu seharian untuk tiba di sana. Salah satu anak buah saya menemukan seorang wanita tergeletak di bawah tebing di hulu sungai dengan kondisi mengenaskan."
"Setelah saya mengirimkan foto Nyonya Ayana, mereka mencocokkannya dan hasilnya... hasilnya seperti yang kita ketahui sekarang."
"Apa kamu sudah melakukan tes DNA? Apa benar itu istriku?" dambar Zidan sambil menunjuk foto yang masih berserakan di lantai.
"Kami tidak bisa melakukan tes DNA karena jenazah yang belum diketahui identitasnya. Dokter forensik juga mengatakan jika jenazah akan dibawa ke rumah sakit besar untuk dilakukan visum. Keadaannya juga sudah membiru dan membengkak, kemungkinan sebelum meninggal... jenazah hanyut di sungai dan tersangkut di bebatuan," jelas Dion semakin menambah sesak di hati Gibran.
Zidan tidak bisa berkata-kata dan tidak menyangka mendapatkan informasi mengejutkan dari orang suruhan adiknya. Ayana sudah pergi, istrinya telah meninggal dan tidak mungkin bisa kembali.
Bayangan saat hari-hari terakhir hinggap dalam ingatan. Sebelum pergi Ayana sempat menghubunginya dan ia memberikan kata-kata pedas.
Zidan berharap Ayana tidak usah kembali, dan sekarang perkataannya terkabul. Ayana sudah pergi untuk selamanya.
"Arghh!" Zidan menggeram seraya menjambak rambutnya frustasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments