Hujan mengguyur ibu kota sejak dini hari. Langit berkabung dengan awan kelabu bergumpal-gumpal di atas sana. Sesekali guntur saling bersahutan dengan angin bertiup kencang.
Hari ini tepat di usia Ayana yang kedua puluh sembilan tahun, ia harus pergi untuk selama-lamanya. Pemakaman pun dilakukan di tanah keluarga pihak Zidan, banyak rekan sejawat Lina dan Arshan pun yang berdatangan.
Mereka turut memberikan ucapan bela sungkawa atas kepergian sang menantu. Di balik guyuran air hujan, Zidan masih mematung di samping gundukan tanah yang masih merah.
Ia tidak peduli jika sepatu bermereknya terkena lumpur, ia hanya ingin berada di sana untuk beberapa saat. Kedua mata yang terbingkai kacamata hitam masih mengalirkan buliran bening. Ia menangis dalam diam menyaksikan taburan bunga yang menghiasi pemakaman sang istri.
"Mas, ayo pergi." Bella datang dan menggandeng lengannya kuat. Ia mencoba mengajak sang suami pergi, tetapi tidak bisa.
"Kenapa badannya seperti batu?" benaknya dalam diam.
"Lepaskan, biarkan aku sendiri. Kamu pergi saja jangan ganggu aku," lirihnya sambil melepaskan tangan yang melingkar di lengan.
Bella mendongak melihat wajah memerah sang suami. "Baiklah kalau begitu aku pulang duluan." Seraya membawa payung wanita itu melangkah pergi.
Seketika air dari langit tumpah membasahi tubuh kekarnya. Zidan masih menangis dan menangis tidak mempedulikan bajunya sudah basah kuyup dan udara dingin sekalipun. Ia terus berdiri di sana sambil berbisik maaf berulang kali.
Di balik kaca mobil Gibran memandangi sang kakak, jauh dari lubuk hatinya paling dalam ia tidak tega melihat hal itu. Namun, ia juga sadar jika Zidan harus merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang begitu baik.
"Kita pergi saja, Pak," titahnya pada supir.
Mobil pun melaju dari meninggalkan area pemakaman, di balik kaca Gibran mendongak melihat awan hitam yang masih setia bergumpal di sana.
"Selamat jalan, mbak Ayana. Semoga mbak bisa mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Aku minta maaf tidak menjaga mbak dengan baik. Semoga mbak juga bisa memaafkan mas Zidan," monolognya dalam diam.
Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam, Zidan pun pada akhirnya pulang dengan pakaian masih basah. Tanpa mempedulikan apa pun ia langsung masuk ke dalam kamar dan memandangi ruangan dalam diam.
Senyum menyayat perasaan pun hadir di wajah pucatnya. Zaidan menyapu kamar yang pernah di tempati Ayana dalam diam. Senyum getir hadir menggambarkan kepiluan dalam dada.
"Kamu biasanya suka wangi lavender, aku siapkan dulu lilin aromatherapynya." Zidan berjalan ke arah nakas dan membuka laci kedua.
"Ini dia, aku harus segera menyalakannya agar Ayana bisa tidur nyenyak," katanya sambil mencari-cari pemantik api.
Di setiap sudut, di setiap laci yang berada di kamar, ia terus membuka dan mengobrak-abrik semua barang-barang yang ada di sana. Namun, benda yang ia cari sama sekali tidak bisa ditemukan.
Zidan terpaku dan sadar jika sang istri sudah pergi. Sekuat tenaga ia membanting lilin aromatherapy dengan wadah gelas kaca itu ke meja rias.
Suara benda pecah terdengar nyaring, kaca itu pun memantulkan bayangannya yang tidak sempurna.
Zidan memandangi dirinya di sana, begitu menyedihkan dengan wajah tampannya bengkak karena terus menerus menangis.
"Arghh!" Ia berteriak seraya menjambak rambutnya frustasi.
Ia lalu jatuh bersimpuh di hadapan pecahan kaca yang sudah menjadi bagian-bagian kecil. Ia menangis dan menangis tidak peduli jika tubuhnya sudah menggigil.
...***...
Tengah malam Zidan mengigau, di dalam mimpinya ia bertemu Ayana yang meminta bantuan. Ia terus memanggil-manggil namanya yang sama sekali tidak dihiraukan.
Ia berjalan sambil merangkul Bella mesra meninggalkan Ayana yang tengah diseret oleh tangan hitam. Suaranya yang meminta tolong begitu lirih dan sarat akan kesakitan.
Zidan menulikan pendengaran dan terus berjalan menjauh. Sampai suara dentuman keras menyadarkannya.
Ia berbalik dan melihat tubuh Ayana terpental lalu berguling-guling mendekatinya. Tubuh serta wajahnya yang sudah berlumuran darah menatapnya lekat.
Di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal Ayana mengatakan, "To-long ak-u, selamatkan bay-i ki-ta. Kamu pembunuh ... kamu seorang pembunuh. KAMU PEMBUNUH!"
"Arrgghh!" Zidan bangun dari tidur panjangnya dan duduk begitu saja di tempat tidur. Keringat dingin bercucuran dengan tubuh gemetar hebat.
"Sayang kenapa kamu berteriak?" Bella yang berada di sebelahnya mengucek mata lalu menyipitkan pandangan menatap sang suami.
"Aku bukan pembunuh ... aku tidak membunuh siapa pun," racaunya.
Mendengar itu Bella mengerutkan kening dan beranjak dari berbaring. "Hei, Sayang. Apa yang kamu katakan?"
"Jangan sentuh aku ... AKU BUKAN PEMBUNUH," teriaknya kencang saat Bella meletakan tangan di bahunya.
"Apa yang kamu katakan? Siapa yang mengataimu pembunuh? Sudah tidak apa-apa." Bella menepuk-nepuk pelan bahu suaminya pelan.
"Ini masih jam setengah tiga, kita tidur lagi saja," ajaknya dan membaringkan tubuh suaminya kembali.
Dalam diam Zidan menerawang langit-langit kamar. Mimpi yang baru saja ia alami masih segar dalam ingatan. Lagi dan lagi ia menangis dalam diam berusaha tidak mengeluarkan isakan.
Ia membalikan tubuhnya memunggungi Bella seraya masih mengeluarkan air mata.
"Ayana," bisiknya dalam hati.
Keesokan harinya, Zidan mengalami demam parah. Tubuhnya panas dan menggigil, Bella pun segera menghubungi dokter keluarga.
Tidak lama berselang dokter pun datang dan memeriksa keadaannya. Bella yang menunggu di luar mendekati pria berjas putih itu menanyakan keadaan sang suami.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Tuan Muda mengalami demam parah, jika panasnya tidak turun sampai sore nanti, lebih baik bawa Tuan ke rumah sakit. Saya khawatir keadaannya semakin memburuk, apalagi setelah kepergian nyonya muda pasti meninggalkan kenangan yang menyakitkan. Saya takut tuan muda mengalami depresi. Kalau begitu saya permisi."
Bella mengangguk mengerti dan mempersilakannya. Setelah kepergian sang dokter, ia pun masuk ke dalam kamar melihat Zidan di infus.
Ia berdiri tidak jauh dari tempat tidur seraya berdecak sebal. "Sakit segala, bikin repot orang saja. Apa yang dia pikirkan sampai hujan-hujanan seperti itu? Begini kan akhirnya? Aku tidak mau tahu ... aku tidak sudi mengurusinya. Yang aku inginkan itu kemampuan dia untuk mengimbangi permainanku saja," celotehnya pelan.
Di hadapannya sang suami tengah menahan rasa panas yang menjalar di sekujur tubuh. Napasnya naik turun dengan suhu yang begitu tinggi.
Kepalanya bergerak gelisah seolah tengah menghindari sesuatu. Tanpa rasa cemas dan khawatir, Bella mencebikkan bibir dan berlalu.
"Lebih baik aku belanja saja," gumamnya.
"Ayana ... Ayana ... Ayana. Aku mohon jangan pergi ... jangan tinggalkan aku ... aku minta maaf sudah membuat anak kita meninggal. Aku menyesal ... aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf," racaunya.
Tanpa ada siapa pun di sisinya, Zidan begitu merindukan keberadaan sang istri pertama. Di saat demam seperti itu biasanya Ayana akan datang dan mengurusinya dengan baik. Namun, sekarang semua itu hanyalah kenangan.
Ia sudah membuat Ayana pergi dan tidak untuk kembali. Perkataannya waktu itu kini sudah terwujud dan ia sangat menyesalinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments