Awan kelabu datang memberikan peringatan jika sebentar lagi hujan turun. Satu persatu tetes air jatuh dari langit menyuguhkan udara dingin.
Seharusnya ada kehangatan yang Ayana rasakan saat bersama suami tercinta, tetapi hanya sedingin es menyapa dirinya cepat.
Pagi ini mereka tengah makan bersama menikmati hidangan yang sudah Ayana masak. Ia harus menelan pil pahit untuk kesekian kali kala menyaksikan Zidan tengah bermesraan dengan madunya, Bella.
Tanpa mengindahkan keberadaannya, mereka berdua saling suap. Dalam diam Ayana meredam kekesalan mencoba bersabar dengan keadaan di sana.
Namun, tidak lama berselang morning sickness nya datang. Buru-buru Ayana menuju wastafel dan memuntahkan isi perut.
Pemandangan itu sontak membuat keduanya terkejut, Bella melemparkan sendok kasar ke atas piring menghasilkan bunyi nyaring.
"Ayana, kamu tidak sopan sekali. Kami sedang makan, kenapa kamu muntah seperti itu? Apa jangan-jangan kamu hamil?" geram Bella sambil bangkit dari duduk.
Ayana yang masih membersihkan sudut bibir terdiam, belum sempat dirinya berbalik sang suami menjawab pertanyaan Bella.
"Iya, Ayana memang sedang hamil," tegasnya.
"APA? Mas, kenapa kamu bisa membuat dia hamil? A-apa itu anakmu?" tanya Bella terkejut dan duduk kembali di kursi.
Tanpa mengelak Zidan mengangguk membuat bulir bulir bening merembes di manik istri kedua. Buru-buru ia menangkup pipi kemerahan Bella dan mengusap air mata menggunakan ibu jari.
Perlakuan lembut nan manis itu seketika tertangkap pandangan Ayana. Ia kembali disuguhkan pemandangan menyayat perasaan.
"Kamu tidak usah menangis, Sayang. Meskipun Ayana mengandung anakku... dia tidak akan pernah menggantikan posisimu di hatiku. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, baik itu dulu dan sekarang," ungkap Zidan.
Sorot mata hangat sarat kasih sayang terpancar di bola matanya. Senyum pun mengembang di bibir ranum Bella. Tanpa mengindahkan keberadaan Ayana, ia menerjang tubuh tegap sang suami erat.
Aroma menguar membuat Bella nyaman berada dekat bersama pujaan hatinya. Dari arah depan Ayana hanya bisa tersenyum sendu menyaksikan keharmonisan mereka.
Tanpa mengatakan sepatah kata Ayana melarikan diri dari sana didampingi air mata turut membasuh sanubari.
Kata bahagia mungkin sudah hilang dalam kamus kehidupan seorang Ayana. Seharusnya di tengah kelimpahan rahmat yang Allah berikan dalam dirinya, ia bisa menjalaninya dengan penuh suka cita bersama sang suami.
Namun, hanya ada derai air mata yang kerap kali mendampingi. Sakit, tetapi tidak ada luka menganga yang terlihat. Keberadaannya tak kasat mata menimbulkan perih dalam dada.
Tidak ada yang tahu bagaimana lubang itu tumbuh membentuk kepedihan terus membayang. Ia mencintai dan menyayangi suaminya tulus dan ikhlas, tetapi dusta menari indah di balik kebahagiaannya.
Ia pikir jika sudah adanya ikatan pernikahan maka Zidan akan mencintainya kembali. Enam tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah tumbuh di hatinya, hanya Bella wanita yang paling istimewa di sisi sang pianis.
"Sayang, Mamah akan selalu ada untukmu. Meskipun Ayah tidak menginginkan kehadiranmu, tapi Mamah akan tetap menyayangi dan menjagamu, sepenuh jiwa raga. Tidak akan ada siapa pun yang bisa menyakitimu, Nak," celotehnya pada sang jabang bayi yang belum genap satu bulan.
...***...
Hari-hari terberat harus Ayana lalui seorang diri. Gejala morning sickness yang kerap kali datang begitu menyiksa.
Tanpa didampingi sang suami, Ayana berusaha tegar dan kuat menjalani perannya sebagai ibu baru. Ia berusaha tegar menjalani semuanya, terutama saat melihat pria yang dicintainya lebih memilih menghabiskan sebagian besar waktu bersama Bella.
Wanita yang dari awal sudah mengisi hari-hari Zidan kembali menyuguhkan kepiluan dalam diri Ayana. Ia sadar jika selama ini hanya menjadi penghalang kebahagiaan mereka. Namun, meskipun begitu ia sudah terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama.
Perasaan itu tidak bisa terelakan dan terus tumbuh seiring berjalannya waktu.
"Sepertinya aku sudah tamak berharap Mas Zidan mencintaiku kembali. Aku-" gumaman itu pun terputus saat pintu kamar terbuka.
Zidan melebarkan senyum manis, penampilan kasual nya menyuguhkan pemandangan menyilaukan bagi Ayana.
Wanita yang tengah berbadan dua tersebut beranjak dari berbaring menyambut kedatangan sang suami.
"Mas." Panggilnya.
Zidan berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelahnya kemudian membelai puncak kepala Ayana. Sang empunya tertegun tidak mengerti sekaligus takjub. Perasaan gamang yang dirasakannya beberapa saat lalu hilang entah ke mana.
Sorot mata hangat menyapa, seakan mendamba Ayana melemparkan diri memeluk erat tubuh tegap sang suami. Aroma citrus menguar menambah ketenangan, mungkin jabang bayi senang bisa merasakan keberadaan sang ayah.
"Aku mencintaimu."
Kata cinta terlontar membuat darahnya berdesir, Ayana tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Ia melonggarkan pelukan kemudian mendongak kembali menatap manik cokelat Zidan.
Bibir menawannya melengkung sempurna memancarkan keseriusan.
"A-apa yang Mas katakan?" cicit Ayana masih tidak percaya.
"Aku bilang... aku mencintaimu."
Tegas nan jelas pernyataan cinta kembali diucapkan. Ayana tidak sanggup berkata-kata dan hanya air mata menjelaskan perasaannya.
Ia pun kembali memeluk sang suami erat membenamkan wajah berair nya di sana. Zidan mengusap puncak kepalanya pelan dan sesekali memberikan kecupan.
Seketika itu juga Ayana melupakan apa yang sudah dilakukan Zidan. Gerakan impulsif itu sudah cukup menutupi luka di hatinya.
Ia hanya membutuhkan cinta dan kasih sayang dari sang suami. Sampai ia pun terlena akan pesona yang diberikan Zidan.
"Sayang, semoga ini awal baik bagi kehidupan kita. Masalah Tante Bella, tidak usah kita hiraukan lagi. Kita do'akan semoga Ayah memutuskan mana yang terbaik," batin Ayana mencoba berinteraksi dengan sang jabang bayi.
Kini giliran Zidan melepaskan pelukan. Kepala bersurai hitam legam itu menunduk tepat di depan perut rata Ayana.
Ia pun mendekatkan daun telinga mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana.
"Sayang, apa bayi kita sedang tidur? Kenapa aku tidak mendengar apa pun?" tanyanya hangat.
Ayana tidak bisa menahan senyum. Ia pun mengangkat tangannya dan mengusap rambut halus suaminya.
"Sayang, bayi kita masih sangat kecil. Jadi, tidak mungkin kamu mendengar suaranya," jelas Ayana.
Zidan menarik diri lagi dan menangkup pipi bulat Ayana. Rona merah merambat membuatnya panas.
Sepersekian detik keduanya saling mendekat mengikuti insting masing-masing. Penyatuan pun berlangsung, Ayana tidak kuasa membendung kebahagiaan. Air mata itu tumpah seiring tautan yang mereka lakukan.
Malam ini ia merasa berada di atas awan, kesakitan serta kepedihan tidak dihiraukan. Semuanya bagaikan angin lalu, layaknya debu yang kehadirannya tidak diinginkan.
Hanya ada kebahagiaan serta kelegaan dalam dada Ayana. Ia berharap sikap manis dan baik Zidan bisa berlangsung selamanya.
Dalam diam ia berjanji untuk bisa membahagiakan suami berserta calon buah hati mereka seutuhnya. Apa pun yang terjadi ia akan berada di samping keluarganya. Karena itu satu-satunya cita-cita yang dimiliki Ayana. Sampai kapan pun keluarga harmonis selalu ia dambakan, sebab dirinya tidak pernah mendapatkan hal itu sedari kecil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Fitri Yani
his bikin emosi aja Ni Ayana, laki2 kex gitu koc masih dipertahanin tinggal pergi aja
2024-11-11
0
Me Ta
Ayana bodoh😡😡
2023-07-06
1