Malam yang penuh kesyahduan berganti malapetaka. Keharmonisan yang baru saja dikecap berubah menjadi empedu menyebarkan kepahitan.
Mimpi hanyalah sebuah angan tidak bisa digapai. Keharmonisan sebuah keluarga di depan mata hancur berantakan. Pelangi hampir hadir dan kembali menghilang kala kenyataan menamparnya kuat.
"Anda... mengalami keguguran. Janin dalam rahim Anda harus segera dikeluarkan," jelas sang dokter.
Bak petir menyambar, berita tersebut menamparnya kuat mengalirkan air mata tak berkesudahan. Ayana tidak menyangka kehilangan calon anaknya yang masih berkembang.
Ia menangis tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tepat kala matahari terbit, saat itu pula ia harus mengeluarkan sang buah hati.
Sakit lagi-lagi harus dikecapnya. Ia kehilangan satu-satunya harapan dan harta paling berharga dalam hidup.
Waktu berlalu, kejadian mengerikan sudah dilalui. Pengeluaran janin pun berlangsung lancar, Ayana tidak beraksi apa pun hanya memandang lurus ke depan. Di mana langit-langit ruang inap seolah mengejeknya.
Tidak lama berselang pintu terbuka, bola matanya bergulir melihat sang suami dan madunya datang. Ia bangkit dari berbaring lalu menangis lagi tepat di depan Zidan.
"Aku... bayi kita sudah tidak ada," jelasnya sambil tersedu.
Perkataan yang keluar dari mulutnya sendiri bagaikan belati menyayat-nyayat perasaan. Ayana mencengkram selimut rumah sakit kuat tidak kuasa membendung kesedihan.
"Apa? Bagaimana bisa? Kamu tidak becus menjaga anak kita. Kamu tidak pantas menjadi istri maupun ibu. Kamu tidak layak menjadi seorang ibu, menjaga kandungan saja tidak becus! Dasar wanita buruk!" murka Zidan.
Mendengar kata-kata penuh duri kembali menumpahkan luka pada hati menganga. Luka dulu yang belum sembuh kini ditimpa lagi.
Sakit, satu kata mewakili segalanya. Ayana tercengang dengan mulut pucat sedikit terbuka, dirinya tidak percaya sang suami mengatainya buruk.
Seharusnya saat ini ia ditenangkan dengan kata-kata hangat nan mendamaikan. Namun, yang didapat Ayana adalah sebaliknya.
"Do-dokter mengatakan alasannya, jika aktivitas malam yang berlebihan bisa menyebabkan keguguran. Apalagi kehamilan di trimester pertama, kandunganku lemah itu sebabnya ki-kita kehilangan anak ini," cicit Ayana berusaha menjelaskan.
"Jadi maksudmu... kamu menyalahkan aku yang melakukan hubungan intim berlebihan?" gertak Zidan.
Ayana mengangguk pelan seraya terus menunduk menyembunyikan air mata tidak sanggup melihat kilatan amarah sang suami.
Zidan mengusap wajah gusar sambil menggeram. "Kamunya saja yang tidak becus menjaga kandungan itu dengan baik. Buktinya kandungan mu lemah, itu semua salahmu. SALAHMU!" teriaknya lalu pergi dari ruang inap.
Sepeninggalan Zidan, Bella yang sedari tadi terus melihat adegan mendebarkan di depannya hanya bisa menyunggingkan senyum seraya melipat tangan di depan dada.
Ia yang tengah bersandar di tembok perlahan mulai mendekati ranjang Ayana. Wanita berhijab yang baru saja kehilangan bayinya pun mendongak dan seketika tatapan mereka bertemu.
Bella semakin mendekat dan berdiri tepat di sebelahnya lalu menunduk sambil meletakan tangan di bahu kanan Ayana.
"Bukankah sangat menyakitkan kehilangan bayimu? Aku turut berduka."
Setelah mengatakan hal tersebut Bella menarik dirinya lagi dan menyunggingkan senyum manis. Tidak lama berselang ia pergi dari sana menyisakan ketidakberdayaan Ayana.
Sungguh ia tidak menyangka dan menduga sang suami bisa bertindak berlebihan. Ia bagaikan ditimpa air panas tepat di atas kepala. Ia mendidih, gemetar, serta lemah kehilangan harta yang paling berharga dalam hidup.
Layaknya kaca dijatuhkan secara sengaja, hatinya hancur berkeping-keping menjadi bagian terkecil. Sakit memang sakit, perih memang perih, pedih, kecewa menerima semua kenyataan yang terus menerus menimpa hidupnya.
Ayana tidak pernah berpikir sedikitpun jika suaminya akan tega melakukan hal tidak bermoral seperti ini. Namun, apalah daya semua sudah terjadi dan ia benar-benar kehilangan calon buah hati oleh ayahnya sendiri.
"Maafkan Mamah, Sayang. Mamah tidak bisa menjagamu dengan benar. Mamah minta maaf dan terima kasih sudah hadir dalam kehidupan Mamah meskipun hanya sesaat. Semoga kamu tenang di sana, Mamah menyayangimu, Sayang. Maaf... maafkan Mamah," gumam Ayana terus mengatakan maaf.
Di balik hangatnya mentari pagi ini ia harus mendapatkan awan mendung dan hujan deras di balik matanya.
Ia menangis dan terus menangis seorang diri tanpa ada seorang pun di sisinya. Hatinya begitu sakit dan perih menerima kenyataan yang kembali menamparnya kuat.
Ia seharusnya sadar jika dirinya sama sekali tidak berharga dalam kehidupan Zidan. Namun, ia terlalu terlena dengan kasih sayang palsu yang suaminya berikan. Sampai penyesalan itu datang membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mamah minta maaf," lirihnya dan sedetik kemudian teriakan hati istri tersakiti itu pun bergema di ruangan.
...***...
Zidan duduk terdiam di sofa ruang keluarga. Jari jemari saling bertautan begitu erat dengan perhatian terus memandangi lantai marmer di bawahnya. Deru napas masih memburu setibanya dari rumah sakit, ia terus membungkam mulut tidak mengatakan sepatah kata pun.
Tidak lama berselang Bella datang dan duduk di sebelahnya. Ia merangkul bahu kekar sang suami hangat lalu mengusapnya pelan.
"Mas tidak bersalah. Semuanya salah Ayana, dia tidak bisa menjaga kandungannya sendiri," ucapnya mencoba menghibur.
"Aku tidak memikirkan apa-apa. Inilah yang aku inginkan... dari awal aku memang tidak mau memiliki anak darinya. Aku hanya menginginkan anak darimu, Sayang." Ia melepaskan tangan Bella dan seketika menghamburkan diri memeluknya.
Bella mengulas senyum simpul dan mengeratkan pelukan mereka. Ia tahu meskipun Zidan berkata seperti tadi, jauh dari lubuk hatinya paling dalam kehilangan itu menyapa. Ia merasakan bahu tegap sang terkasih bergetar pelan.
"Tidak apa-apa aku mengerti, semua akan baik-baik saja," ucap Bella halus.
Zidan hanya mengangguk singkat dan menyamankan posisi dalam pelukan istri kedua. Mereka larut dalam dekapan hangat tubuh masing-masing melupakan kepedihan seorang Ayana.
Tidak lama kemudian, di saat mereka masih menikmati kesyahduan kedatangan seseorang mengusik kebersamaan.
Zidan ditarik paksa melepaskan pelukan Bella dan tanpa diduga pukulan telak mendarat di pipinya. Ia jatuh tersungkur dengan bibir mengeluarkan darah segar.
"Gibran? Apa yang kamu lakukan?" teriak Bella terkejut melihat sang adik ipar.
Zidan mengusap darah pelan dan bangkit dibantu sang istri. "Kenapa kamu memukul Mas, hah?" geramnya.
"Karena Mas memang layak menerimanya. Apa yang kalian lakukan sampai Mbak Ayana kehilangan bayinya? Aku tahu kalian sudah berkhianat di belakang kami, Mas sudah salah menikahi wanita ini. Dia sama sekali tidak mencintaimu. Lihat saja suatu hari nanti Mas akan menyesal."
Gibran pun kembali memukulnya tanpa memberikan Zidan kesempatan berbicara. Tanpa mengindahkan apa pun lagi ia pergi dari sana menyisakan amarah dalam dada sang kakak.
"Ma-Mas, kamu tidak usah memikirkan ucapannya. Aku yakin dia hanya memprovokasi mu saja," ucap Bella cemas.
Zidan hanya mengangguk pelan dan menatap kepergian sang adik. Manik jelaganya terus mengikuti ke mana sosok itu menghilang.
"Dia... selalu saja ikut campur," gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments