Berdiam diri di ruangan berbau cat menjadi candu kala kesedihan menerjang. Kesendirian serta kehampaan yang terus menyapa diri tanpa henti berdatangan. Air mata tidak mengering seiring berjalannya waktu.
Ayana mencoba bertahan dari kenyataan jika suaminya telah mendua. Ia melarikan diri ke dunianya sendiri, jari jemarinya terus menari di atas kanvas menuangkan gambar abstrak.
Studio yang berada di paling ujung dalam bangunan megah itu menjadi satu-satunya tempat bagi ia berkeluh kesah. Selama tinggal di sana, Ayana sering menghabiskan waktu dengan melukis untuk mencurahkan perasaan.
"Sampai kapan kamu terus berada di sini? Sudah jam satu malam, apa kamu tidak akan tidur?"
Suara yang sudah sangat ia hapal menyadarkan, Ayana mengusap air mata perlahan meninggalkan cat merah di pipi. Ia lalu membalikan badan menatap ke dalam manik sang suami.
"Apa ada yang ingin Mas katakan? Maaf mungkin?" tanya balik Ayana.
Zidan mendengus, kedua tangan berada di saku celananya. Ia bersikap pongah dan berjalan mendekat. Bola mata Ayana terus mengikuti ke mana suaminya pergi, sampai mereka saling berhadapan.
Bibir menawan Zidan melebar sempurna, ia menarik kedua tangan dan meletakkannya di atas dudukan kanvas. Manik jelaganya terus memandangi sang istri yang tengah mendongak.
"Maaf kamu bilang? Tidak ada yang perlu aku katakan padamu, Ayana," ucapnya dingin.
Ayana melebarkan mata terkejut, sebegitu tidak pentingnya kah keberadaan ia di mata sang suami? Sekuat tenaga ia menahan rasa sakit teramat kuat dalam dada dengan mengepalkan tangan erat.
"Kenapa? Kenapa Mas melakukan semua ini padaku? Apa yang sudah aku lakukan sampai Mas tega menduakan pernikahan kita? Apa aku melakukan kesalahan?" cerca Ayana merundung nya dengan pertanyaan.
"Iya, keberadaan mu memang sebuah kesalahan," sambar Zidan cepat.
Ayana kembali terpaku atas jawaban yang diberikan. Ia beranjak dari duduk lalu menggelengkan kepala tercengang.
"Kenapa?" Satu kata mewakili segalanya.
"Karena keberadaan mu mengubur semua mimpiku. Ayah, ibu, bahkan adikku sangat menyukaimu bahkan mereka memberikan separuh hartanya padamu. Aku tidak bisa menikahi Bella secara resmi karena adanya dirimu. Kedatangan mu di dalam hidupku seperti benalu, parasit yang terus merugikan apa yang ingin dicapai. Bisakah... bisakah kamu menghilang saja di dunia ini?"
Kata demi kata yang ditorehkan dari bibir kemerahan itu menimbulkan luka satu persatu. Sayatannya menganga seiring berjalannya dentingan jam di dinding.
Ayana tidak bisa mengatakan sepatah kata pun untuk menjawab ucapan sang suami. Begitu kuat dan besar rasa cinta yang ia miliki untuk Zidan. Ia tidak menyangka jika di tahun keenam pernikahannya diberikan hadiah paling mengerikan.
"Apa Mas lupa hari ini hari apa? Hari ini adalah hari jadi pernikahan kita yang keenam. Terima kasih atas hadiah yang Mas berikan, aku sangat menghargainya dan-" Ayana memutus ucapannya lalu berjalan beberapa ke belakang menarik kain putih yang menutupi salah satu lukisannya.
"Ini hadiah yang ingin aku berikan. Selamat atas penghargaan keenam yang Mas raih sebagai pianis terkenal. Aku... turut bangga," lanjutnya mencoba tersenyum dengan air mata mengalir.
Setelah mengatakan itu ia angkat kaki dari hadapan suaminya menyisakan kekosongan di studio.
Kedua iris Zidan terpaku pada lukisan di depannya. Ayana menggambar sosoknya yang tengah bermain piano di atas awan.
Gradasi gambar bercampur cat minyak begitu indah menusuk pandangan. Bagaikan tersedot ke dalamnya Zidan diam beberapa saat terpesona atas lukisan yang istrinya berikan.
Ia berjalan mendekat dan melihat jelas tulisan kecil di pojok bawah yang berbunyi, "Selamat jadi pernikahan kita yang keenam. Semoga kamu menjadi seorang pianis yang bisa menginspirasi banyak orang, aku mencintaimu: Ayana."
Zidan mendengus lalu menjatuhkan lukisan tersebut dengan posisi tengkurap.
...***...
Semalaman Ayana berpikir untuk tidak menyerah dalam rumah tangganya yang diterpa badai. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun merusak pernikahannya yang diharapkan terjadi sekali seumur hidup. Ia harus bertahan dan menjadikan Zidan sebagai miliknya seutuhnya. Meskipun ia harus bertaruh dengan Bella, teman semasa sekolah.
Waktu itu mereka berada di kelas yang sama, tetapi keduanya tidak bisa berteman akrab. Karena Ayana yang dari kalangan kurang berada tidak sebanding dengan Bella anak dari musisi terkenal. Kasta mereka berbeda dan Ayana mengerti itu. Namun, ada satu masa membuat Ayana harus mengulurkan tangan membantu Bella.
Melupakan masa lalu, seperti biasa setelah melaksanakan kewajibannya, Ayana menyiapkan sarapan untuk sang suami. Dapur sudah seperti teman kedua baginya, di sana ia mengekspresikan perasaan lagi dan menuangkan pada masakan.
Berbagai makanan tersaji di meja, semua makanan itu adalah favoritnya ZIdan. Sudah enam tahun mereka tinggal bersama, Ayana hapal semua kesukaan dan tidak suaminya.
"Wow, kamu yang memasak ini semua? Kenapa repot-repot menyiapkan sarapan? Toh, aku dan suami kita tidak akan memakannya."
Suara anggun menyapa, Ayana membalikan badan melihat Bella berdiri di depan meja makan. Senyum mengejek begitu kentara diberikan.
"Aku tidak memasak semua ini untukmu. Aku membuatnya untuk mas Zidan, suamiku!" tegasnya.
Bella tergelak dan melipat tangan di depan dada. "Sampai kapan kamu mau bertahan di pernikahan tidak sehat ini? Bukankah sudah aku katakan jika... aku kembali maka mas Zidan akan menjadi milikku."
"Kita lihat saja siapa yang menang," jawab Ayana tidak mau kalah.
Tidak lama berselang sosok pria yang dibicarakan pun datang. Aroma maskulin menyapa penciuman mereka. Ayana melengkungkan bulan sabit sempurna dan berjalan mendekat.
"Biar aku pasangkan dasinya, Mas," ucapnya seraya hendak mengambil dasi yang tengah Zidan teng-teng.
Namun, Bella langsung menyambarnya cepat tanpa memberikan kesempatan.
"Kamu tidak usah susah payah membantu, biarkan Bella yang melakukannya," kata Zidan kemudian.
Bella tersenyum puas dan memunggungi Ayana untuk memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya.
Melihat pemandangan itu bagaikan tersayat sembilu, Ayana tidak kuasa menyaksikan adegan romantis tepat di hadapannya. Ia melarikan diri dengan melanjutkan memasak.
"Sayang, bagaimana jika hari ini kita sarapan di luar? Sudah lama aku tidak memakan makanan negara kita," ajak Bella.
"Aku memang sudah memikirkannya. Aku ingin mengajakmu makan di luar... aku bosan terus memakan makanan rumahan," jawab Zidan.
Mendengar penuturan tersebut Ayana menghentikan pergerakannya. Ia membalikan badan lagi melihat pandangan penuh cinta dari kedua sosok itu.
"Tapi Mas, aku sudah buat makanan kesukaanmu," ujarnya menyadarkan.
Zidan menoleh sekilas ke arah meja lalu menatapnya lekat. "Mulai hari ini makanan itu bukan makanan kesukaanku lagi. Aku sangat membencinya, terlebih kamu yang membuatnya."
Bak kaca pecah hatinya terkoyak seketika. Ayana diam mematung atas sikap dingin sang suami berikan.
"Ayo Sayang kita pergi," ajak Zidan seraya melingkarkan tangan di pinggang ramping Bella.
Wanita itu tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Ayana. Tanpa perasaan keduanya pun meninggalkan rumah begitu saja.
Lagi dan lagi air mata mengalir tak tertahankan. Ayana menjatuhkan spatula dan membiarkan dirinya terduduk di atas marmer yang dingin.
Ia menangis semua usahanya dari tadi terbuang percuma. Suaminya benar-benar berubah, ia semakin dingin dan tidak berperasaan. Tanpa hati, Zidan terang-terangan menorehkan luka tak kasat mata.
"Apa aku benar-benar sudah tidak berharga di matamu, mas? Apa yang sudah aku lakukan? Aku hanya mencintaimu saja... aku sangat mencintaimu," lirihnya.
Cinta kadang kala bisa membuat seseorang gelap mata dan tidak berpikir rasional.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Echy Aurelia
semangat ayana mari kita singkirkan ulet bulu itu
2023-01-25
0