Saat hari gelap sudah beranjak terang, Frans kembali menggangu ibu dan abangnya.
"Bu, ayo dong! Nanti kesiangan," teriak Frans dari ruang depan pada ibu dan abangnya serta adiknya yang masih sarapan. Bahkan ketiga orang itu belum ada yang mandi dan bersiap.
Karena tidak ada jawaban, Frans pun berjalan masuk ke ruang tengah rumah itu. Tak ada siapapun di sana, maka pemuda itu pergi menuju area dapur.
"Astaga, kalian belum ada yang mandi! Niat gak sih antar Frans ke rumah Nenek tua itu!" kesel Frans.
"Enggak!" sahut ketiga orang yang sedang sarapan itu.
"Kami tuh cuman kasian aja sama kamu, makanya semalam bilang mau mengantar dan menemani," kata Pras pada adiknya.
"Jahat banget," ucap Frans sembari menatap wajah sang ibu dengan tatapan sendunya.
"Ini masih pagi, Frans. Baru jam setengah 6," kata Bu Aida. "Mana ada orang datang bertamu pagi buta seperti ini!" tambah wanita berhijab syar'i itu pada putranya.
"Tuh, dengerin, bang. Kalau Dinda jadi kakak itu, Dinda gak akan sudi nerima orang yang gak sabaran kayak abang!" cetus Dinda, adik dari Pras dan Frans.
"Alah, kalau ketemu yang gak sudi kayak kamu. Ya abang paksa lah sampai sudi," kata Frans dengan gampangnya. Hingga membuat Bu Aida dan Pras bahkan Dinda sendiri mendelik lebar pada Casanova insyaf itu.
"Masih belum berubah, Frans?!" tegur Bu Aida.
"Kalau sampai mengulang, langsung kami coret nama kamu dari silsilah keluarga ASLAN NICOLAS!" Cetus Pras pada adiknya.
"Frans hanya bercanda, bu. Mana berani Frans mengulangi hal semacam itu lagi," ucap Frans. "Saat ini Frans hanya inginkan Lily dan anak yang di kandungnya." tambah pria itu.
Sungguh, mulut pemuda itu begitu ceplas-ceplos dan jika berbicara tidak pernah di filter.
.
.
.
Di rumah Nek Lai. Daisy sedang mencoba untuk membangunkan adiknya yang begitu sulit bangun di pagi hari itu, padahal jam sudah menujukan pukul 06:13 pagi. Yang artinya sudah hampir setengah 7.
"Ai, bangun.. Sudah siang," kata Daisy sembari mengguncangkan bahu adiknya dengan pelan.
"Ai masih ngantuk, kak. Rasanya enak kali tidur jam segini," guman Daily sembari mengeratkan pegangan tangannya pada selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
"Indak lama lagi keluarga ayah dari bayi yang kandung itu akan tiba. Bagaimana jadinya kalau mereka tahu bahwa kau belum bangun?" Daisy mencoba untuk mengingatkan adiknya itu, bahwa Frans akan datang untuk menetapkan tinggal pernikahan.
"Biarkan saja, kak. Kalau Tuan Frans dan keluarganya benar-benar serius ingin bertanggung jawab, mereka pasti tidak akan mempermasalahkan Ai yang bangun siang," ucap Daily.
Sejak kapan gadis hamil itu biasa bangun siang? Bukankah biasanya ia akan bangun lebih dulu sebelum kakak dan neneknya bangun. Tapi kenapa sekarang menjadi malas?
Mungkin semua ini akan menjadi ujian bagi Frans yang akan meladeni kemalasan Daily?
"Haih.. Terserah lah, yang penting kakak sudah membangunkan. Jadi kalau nanti kamu malu pada keluarga ayah dari bayi yang kau kandung, maka jangan salahkan kakak, ya!"
"Iya, sana kakak pergi saja. Ai masih begitu mengantuk," kata Daily.
Daisy hanya bisa geleng-geleng kepala, gadis bolong itu pun akhirnya keluar dari kamar adiknya dan membiarkan adiknya itu melanjutkan tidurnya.
"Mana Ai?" tanya Nek Lai pada Daisy.
"Indak mau bangun, nek. Sy sudah bangunkan tapi katanya dia masih begitu mengantuk," jawab Daisy pada Sang Nenek.
"Ya sudah, biarkan saja. Semalam saat nenek bangun, dia belum tidur," kata Nek Lai. "Jadi biarkan dia tidur lelap pagi ini."
"Tapi, nek. Hari sudah mulai siang dan sebentar lagi Tuan Pras dan ibunya akan datang kan?"
"Nenek tau, tapi biarlah. Mereka juga pasti memaklumi kondisi adikmu, apalagi Tuan Pras begitu paham akan kondisi mental dan kejiwaan adikmu setelah pelecehan yang di lakukan oleh adiknya."
Daisy pun mengangguk paham, gadis itu segera membantu neneknya menyelesaikan pekerjaan dapur dan menyiapkan sajian yang akan mereka hidangkan pada keluarga Frans nantinya.
"Ini mau di taruh dimana, nek?" tanya Daisy pada neneknya.
"Kau taruh saja di ujung meja sana!" tunjuk Nek Lai.
Daisy pun membawa serta meletakan sayur yang baru saja matang itu ke atas meja.
.
.
.
Kini, keluarga Frans sudah bersiap dan tinggal berangkat ke komplek Cisalak tempat Nek Lai tinggal.
"Dimana Jonathan? Kenapa lama sekali sampainya?" gerutu Frans sembari mondar-mandir tidak karuan di depan rumah itu.
"Ayo, Frans. Kau tunggu apa lagi?" tanya Pras. "Sejak tadi kau memburu-buru kami agar cepat, tapi sekarang kau meminta kami untuk menunggu!"
Bagaimana mana Pras tidak kesal? Sedari subuh adiknya itu mengganggu dan memburu-buru, tapi di saat sudah siap, adiknya itu malah meminta mereka semua menunggu.
"Nah itu dia!" tunjuk Frans pada mobil yang baru saja datang. "Dasar bodoh, di perintah membeli bunga dan perhiasan saja begitu lama!" maki Frans sembari menghampiri Jonathan yang datang dengan bucket bunga mawar di tangannya.
"Maaf lama," kata Jonathan. "Aku bingung harus membeli kalung yang seperti apa, jadi aku membelikan 2 buah kalung dengan model dan harga yang berbeda pula." terang Jonathan pada Frans.
"Ahhhh.. lama! Kemari kan, biar aku yang bawa," kata Frans dengan kasar. "Nanti kau yang bawa, pas sampai sana kau juga yang mengaku-ngaku!" cetusnya.
"Astaga! Mulutmu pedas nya tidak hilang-hilang," kata Jonathan sembari memberikan bucket bunga mawar dan kotak perhiasan itu pada Frans.
"Pinggirkan mobilmu, biar mobilku melaju lebih dulu!" Frans memerintah asisten sekaligus sahabat gilanya yang menjadi temannya menculik Daily waktu itu untuk memindahkan mobilnya.
Akhirnya, ketiga mobil itu melaju beriringan. Frans mengendarai mobilnya sendiri, Jonathan pula begitu. Sedangkan Pras mengendarai mobil Daisy yang ia bawa semalam dengan ibu dan adik perempuannya di dalamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Frans egonya indak hilang²
2023-02-01
0
Amelia
dasar si Frans,selalu saja mau menang sendiri
2023-01-21
0