Klub Malam Butterfly Kota B.
"Ayolah, Baby!" teriak seorang wanita muda pada pria yang memeluk pinggulnya dengan erat sembari mencumbu wajah serta lehernya.
"Baiknya kita kembali saja ke penginapan, Sayang. Kamu udah mulai gak terkendali," kata pria itu sembari menciumi wajah wanitanya.
"Kita pulang.. Kita pulang, hore!" Racau wanita muda ber-penampilan yang begitu seksi dengan dres mini yang di kenakannya. Dialah Daisy, kakak kembar dari Daily yang bekerja sebagai wanita malam demi untuk memenuhi gaya hidupnya mewah.
"Frans, lihatlah itu Daisy!" tunjuk Jonathan pada Daisy yang sedang bercumbu di tengah-tengah keramaian klub malam itu.
"Sial! Bagaimana bisa perempuan ja lang itu bisa ada di sini?" geram Frans, pria 27 tahun itu hendak menghampiri dan berniat untuk memberi Daisy pelajaran.
"Jangan Frans, ini tempat ramai. Bagaimana jika dirinya malah berteriak dan mengadukan kita pada polisi?" cegah Jonathan pada Frans.
Entah kenapa? Rasa kesal itu menjadi begitu besar di hati Frans. Dengan perasaan dongkol, pria itu keluar dan pergi dari klub butterfly itu.
Pria itu segera melajukan mobilnya ke Apartemen tempat dirinya mengurung Daily. Niat pria itu pulang, hanya untuk melampiaskan emosinya pada barang-barang yang ada di rumah itu. Tapi, saat tiba di rumah ia mendapati pintu yang masih terkunci.
Buru-buru Frans membuka pintu Apartemen itu dan masuk ke dalamnya. Pintu kamar pun masih terkunci, ia membuka pintu itu dengan perlahan.
Termagu, itulah yang terjadi pada Frans saat melihat Daily yang ada di dalam kamar. Gadis itu masih di posisi yang sama saat di tinggalkan Frans sore tadi. Duduk di sudut ruangan dengan tatapan matanya yang kosong.
"Daisy!" panggil Frans.
"Namaku bukan Daisy, Tuan. Namaku Daily," kata Daily dengan datar. Tidak ada ekspresi apapun dari gadis malang itu.
"Cih! Siapa yang mau pada pria sepertimu. Mobil butut dan dompet tipis, kurasa seorang wanita jelek saja tidak mau memiliki hubungan bersama dirimu." perkataan Daisy kala itu membuat perasaan iba yang baru timbul di hati Frans langsung lebur seketika.
"Aku tidak perduli, wanita ini harus menderita. Aku tidak akan iba padanya, mungkin saja dia berpura-pura polos dan bodoh. Dan mungkin saja, dia yang berada di klub tadi langsung pulang setelah melihat ada diriku di sana!" guman Frans.
Mata hati pria itu sudah tertutup dengan dendam yang selalu ia pupuk selama ini. Jika di pikir pakai logika dan akal yang sehat, mana mungkin gadis ringkih dan tidak berdaya itu bisa pergi dari apartemen yang jauh dari pusat kota itu dalam waktu yang begitu singkat dan juga kembali dalam waktu yang singkat pula.
Dering ponsel Frans membuyarkan lamunannya.
"[Hallo, bagaimana? Apakah gadis itu ada?]" pertanyaan di lontarkan Jonathan dari seberang telpon.
"[Pintar sekali dia, sampai lebih dulu di tempat ini sebelum aku,]" kata Frans.
"[Apa maksudmu, Frans? Wanita ini masih ada disini bersama prianya,]" ucap Jonathan dengan heran.
"[Lalu yang di sini Setan? Begitu maksudmu?]" kesal Frans. Pria itu pun mengubah panggilan suara itu menjadi panggilan video dan memperlihatkan Daily yang duduk dengan menekuk lututnya di sudut ruangan.
"[Dia bukan Daisy, Frans. Kita salah menangkap dan menculik orang!]" terang Jonathan. "[Ternyata selama ini dia jujur.]"
Mendengar semua perkataan Jonathan, Frans segera membanting ponselnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Buru-buru Frans mengangkat tubuh Daily ke atas ranjangnya. "Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa semua jadi begini?" guman Frans.
.
.
.
Keesokan harinya, seperti biasa Frans akan berangkat ke kantor. Meninggalkan Daily di dalam kamar, hanya saja kali ini Frans tidak lagi mengunci pintu kamar itu. Ia membiarkan Daily untuk keluar dari kamar. Hanya saja, untuk membiarkan Daily keluar dari Apartemen, Frans masih belum siap. Karena bibirnya masih begitu sulit untuk meminta maaf pada gadis yang sudah ia nodai dan sakiti itu.
Siang harinya, seseorang datang ke Apartemen itu dan membuka pintu Apartemen itu dari luar.
"Frans, kau ada di dalam? Kenapa kau tidak pernah pulang? Ibu selalu mencari mu," kata suara itu sembari memasuki Apartemen.
"Frans!" Orang itu melangkah menuju pintu kamar yang sedikit terbuka. "Astagfirullah!" begitu terkejut orang itu yang ternyata adalah kakak dari Frans Nicolas. Dialah Prasetya Nicolas, kakak kandung dari Frans.
"Nona!" Pras menyentuh lengan Daily dengan pelan.
"Aku ingin pulang, Tuan. Nenekku pasti begitu cemas," kata Daily tanpa ekspresi.
"Apa yang terjadi? Apa yang sudah di lakukan Frans padamu?" tanya Pras pada Daily. Akan tetapi, Daily tidak menjawab. Gadis itu hanya diam.
"Nona, apa yang sudah di lakukan adikku padamu?" Pras mengguncangkan bahu Daily dengan keras, hingga membuat Daily kembali menangis terisak. "Pria sialan! Akan aku beri dia pelajaran setelah ini!" geram Pras.
"Di mana rumahmu? Akan aku antarkan pulang," kata Pras dengan pelan pada Daily.
"Di kompleks Cisalak," kata Daily. Ia begitu ingat di mana dirinya tinggal, karena ia sudah tinggal di tempat itu sedari dirinya masih kecil.
Pras pun mengantarkan Daily pulang, sesuai permintaan Daily. Pras mengantarkan Daily tidak jauh dari persimpangan tempat tinggalnya dan Nek Lai.
"Terimakasih, Tuan." wajah sembab itu sungguh membuat Pras merasa sedih. "Sungguh Pras tidak menyangka dengan perlakuan adiknya yang durjana dan begitu keji.
"Aku antar sampai rumah mu, bagaimana?" tawar Pras.
"Tidak usah, nanti tetangga akan menghakimi Tuan yang baik dan tidak bersalah," kata Daily.
Sungguh perduli gadis itu pada orang lain, hingga dalam keadaannya yang seperti itu saja dia masih memikirkan keadaan Pras yang akan menjadi amukan masa kompleks tempatnya tinggal.
Setelah mengantarkan Daily, Pras langsung pulang dan mengadukan perbuatan bejat adiknya pada Sang Ibu.
Ibu dari Pras dan Frans begitu syok mendengarnya.
"Hubungi Frans, pinta dia untuk cepat pulang!" wanita separuh baya yang mengenakan hijab syar'i itu menangis sedih. Ia tidak menyangka atas semua perbuatan keji dan bejat yang telah di lakukan oleh anak tengahnya itu.
"Jangan menangis, Ibu. Pras pastikan bahwa Frans akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya pada gadis itu," kata Pras. "Pras akan hubungi Frans sekarang."
Pras pun segera menghubungi adiknya yang sedang berada di Kantor.
"[Hallo, ada apa, bang?]" suara dari seberang telpon.
"[Ibu meminta mu pulang sekarang juga,]" kata Pras. Setelah berbicara singkat, pria 29 tahun itu segera memutuskan sambungan telpon itu.
Pras sungguh muak dengan kelakuan bejat adiknya yang tidak pernah berubah. Bukan sekali dua kali Pras menasehati Frans agar berubah. Apalagi, Pras dan Frans sendiri memiliki seorang adik perempuan yang juga masih lajang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Alhamdulillah... ternyata masih ada Kakaknya yang berhati manusia
2023-02-01
1
Amelia
pingin kali rasanya ku getok tuh pala Frans,dah jelas2 suka celap celup tuh burungnyaasa ngga bisa bedain mana barang bekas dan barang segelan hiii gerem dehh
2023-01-21
0
irendunk
keren
2022-12-05
0