Hari-hari terus berjalan, keadaan Daily semakin kacau. Gadis malang itu selalu mengurung diri di dalam kamarnya.
Jika di ajak bicara, ia akan menjawab seperlunya saja. Bayang-bayang menakutkan dan mengerikan yang di lakukan oleh Frans sungguh membuat dirinya trauma.
"Ai, makan dulu sayang.. Dari pagi kau belum makan," ucap Nek Lai sembari mendekati dan duduk di tepian ranjang cucunya yang malang.
"Ai indak pengen makan nasi, nek," kata Daily pada neneknya itu.
"Lalu, Ai ingin makan apa? Biar nenek buatkan," tawar Nek Lai. Wanita tua renta itu mengusap-usap kepala Daily.
"Ai ingin jeruk asam yang ada di belakang, ada buahnya indak ya, nek?" tanya Daily pada Nek Lai dengan air liur yang seakan ingin menetes.
Mendengar permintaan Daily, Nek Lai terdiam. Mengandung kah cucunya itu? Jika memang benar mengandung, bagaimana nasipnya? Mengandung tanpa suami, bahkan rupa pria itu saja Nek Lai tidak tahu.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" batin Nek Lai meratap sedih.
"Nenek lihat dulu, ya. Barangkali jeruknya berbuah," kata Nek Lai pada Daily.
"Maafkan Ai ya, nek. Sudah sebulan belakangan ini Ai selalu saja merepotkan nenek. Ai indak bantu nenek sama sekali," ucap Daily dengan mata berkaca-kaca. "Ai selalu menjadi beban nenek dari kecil hingga sekarang." Lolos sudah airmata itu, membasahi pipi putih Daily yang memucat.
"Ai, jangan menangis terus," ucap Nek Lai. Wanita renta itu mengusap airmata cucunya. "Ai indak pernah merepotkan nenek, Ai bukan beban. Ai adalah anugerah dari Tuhan yang nenek miliki dan harus nenek jaga, tolong maafkan nenek yang sudah lalai menjaga Ai hingga terjadi peristiwa buruk pada Ai seperti ini."
Nek Lai begitu menyayangkan semua yang telah terjadi pada cucunya. Ia sudah menjadi orangtua yang gagal, gagal menjaga cucunya yang begitu baik, lembut dan penyayang.
"Ai tunggu dulu sebentar ya, biar nenek lihat dulu jeruknya. Jangan menangis lagi," kata Nek Lai sembari menyeka kembali airmata cucunya.
"Iya, nek," Daily memaksakan senyumannya kepada neneknya itu. Setelah neneknya keluar dari kamar, gadis itu kembali berbaring di ranjangnya.
Akhir-akhir ini, Daily kerap kali merasa mengantuk dan lemas. Tak hanya itu, ia menjadi begitu tidak suka jika melihat nasi dan mencium aroma masakan. Perutnya akan terasa begitu mual, tetapi anehnya jika makanan dan masakan itu di singkirkan mual yang ia rasakan segera hilang.
"Wajahnya begitu tampan, tapi mata itu menyiratkan kebencian yang begitu besar. Seakan mata hatinya tertutup oleh dendam." tiba-tiba saja, Daily teringat akan pria yang telah menodainya bahkan menyiksanya dengan tidak berhati.
.
.
.
Sudah hampir sebulan sejak terjadinya pemukulan yang di lakukan Pras pada Frans. Sejak saat itu pula, Frans kerap kali murung. Ia selalu berangkat pagi dan kembali saat hari sudah sore.
"Kemana aku harus mencari gadis itu?" guman Frans. "Kenapa semua orang tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku? Mereka tidak tahu dan tidak mengenal wanita itu atau hanya pura-pura saja?" Frans begitu heran.
Sudah banyak tempat yang ia datangi untuk mencari keberadaan Daily, bahkan tempat dirinya menculik Daily dan area sekitarnya sudah ia kunjungi dan menanyakan pada orang-orang yang tinggal di area komplek itu. Tapi, tidak satu pun yang tahu ataupun mengenal Daily.
Untuk warga komplek CISALAK sendiri, mereka memang menyembunyikan keadaan Daily dari orang luar yang tidak di kenal. Jadi, pantas saja Frans tidak dapat menemukan keberadaan Daily di komplek itu.
"Kemana kamu, Nona? Tolong maafkan aku yang sudah salah menyakiti orang," ucap Frans sembari memeluk sprai yang yang menjadi alas ranjang tempatnya melakukan hal buruk dan sadis pada Daily. Tentunya, spai itu sudah di cuci dangan bersih.
"Aku berjanji akan menebus segalanya dan akan menikahi dirimu, jika aki berhasil menemukan dirimu." Frans berbicara dengan begitu yakin.
"Jangan, Tuan. Saya Daily bukan Daisy, saya mohon jangan lakukan!" pekikan gadis malang itu selalu menghantui pikiran Frans.
Tak sadar, airmata menetes dari pelupuk mata Frans. Lama pemuda itu menyepi di apartemennya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Sang Kakak yang mengatarkan Daily pulang.
.
.
.
Saat sampai di rumah, Frans segera mendorong pintu kakaknya dengan kasar.
Brak!
"Apa yang kau lakukan?" Pras menatap adiknya dengan wajah terkejutnya.
"Katakan pada Frans, bang. Di mana rumah gadis itu? Aku sudah mencari kesana kemari tapi tidak menemukan gadis itu, bahkan jejaknya sekalipun." Frans menjambak rambutnya dengan begitu Frustasi.
"Kau lelaki kan? Jadi cari sendiri hingga ketemu, bukankah kau menjamah dan menodai gadis malang itu sendirian?" Pras tersenyum simpul pada adiknya itu. "Jadi, jangan pernah meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah yang sedang kau hadapi.
Bukan tidak kasihan pada Frans, hanya saja Pras sengaja agar adiknya itu dapat belajar bertanggung jawab dan berpikir lebih dulu sebelum melakukan sesuatu. Maka dari itu, Pras sengaja tidak memberi tahu, padahal ia tahu betul dimana Daily tinggal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
s
aku*
2024-07-11
0
Dara Muhtar
Kasian Daily pasti dia Hamidun...moga Frans yang ngerasain ngidamnya
2023-02-01
1
Sri Wahyuni
seandainya Daily hamil 🥺🥺 biar frans yang ngidam😡😡 biar dia tau rasa😡😡
2022-10-24
5