Dua hari kemudian, Daisy masih tidak masuk bekerja ke pabrik. Hingga membuat mandor pabrik itu menanyakan Daisy pada Mila.
"Mila.." panggil pria yang kisaran berumur 27 tahun. Sebut saja namanya Herman.
"Iya, pak? Ada apa?" Tanya Mila pada Herman.
"Daisy mana? Kenapa sudah dua hari tidak masuk bekerja?" tanya Herman sembari mendekati Mila.
"Ada di kostan, pak. Dia sedang sakit," jawab Mila pada Herman sang mandor pabrik minyak itu.
"Kalau begitu, kamu lanjutkan pekerjaan. Saya mau menjenguk Daisy," kata Herman yang memang dekat dengan Daisy. Tapi sayang, pria 27 tahun itu sudah memiliki istri.
.
.
.
Tok.. Tok.. Tok..
Herman mengetuk pintu kostan Daisy dan Mila dengan perlahan.
"Permisi!" panggil Herman dengan tangan yang terus mengetuk pintu kostan itu.
"Sebentar!" sahut Daisy dari dalam, gadis itu membukakan pintu. "Mas Herman.." Lirih Daisy dengan wajah tertunduk.
Sejak awal, Daisy memang menyukai Herman yang begitu tampan menurutnya. Tapi Daisy sadar, bahwa Herman sudah memiliki istri dan tidak mungkin dapat di gapai olehnya. Begitu pula dengan Herman, jika sejak awal sudah di pertemukan dengan Daisy mungkin Daisy lah yang akan menjadi istrinya.
"Daisy, wajah kamu pucat sekali?" Herman melangkah masuk ke dalam kostan itu seiring dengan langkah mundur Daisy.
"Sy indak kenapa-kenapa kok, mas. Cuman sakit biasa aja," jawab Daisy dengan pelan.
"Kamu gak bisa bohong sama, mas. Mas paham betul gimana kamu," kata Herman sembari memepet tubuh Daisy hingga menempel pada tembok kostan itu. "Cerita sama mas, siapa tahu mas bisa bantu kamu." tambahnya.
"Hiks.. Mas Herman," Daisy memeluk tubuh Herman dengan begitu erat hingga membuat Herman begitu terkejut.
"Sy, kamu kenapa? Ada apa?" Herman membalas dekapan gadis itu, gadis yang sudah lama membuatnya tertarik.
"Aku adalah perempuan kotor, mas. Aku perempuan kotor.." Daisy semakin terisak di dalam dekapan Herman.
"Maksud kamu apa? Mas gak ngerti,"
"Aku di perkosa mas, mereka udah paksa aku. Tolongin aku buat balas mereka semua," ucap Daisy dengan begitu memelas pada Herman.
"Katakan sama, mas. Siapa yang udah lakukan ini sama kamu?" wajah Herman memerah, ia benar-benar tidak menyangka bahwa gadis baik-baik seperti Daisy bisa di perlakuan dengan buruk di tempat itu.
"Mereka, mas. Sy takut, mereka mengancam Daisy.."
"Jangan takut, ada mas yang akan temani kamu. Sekarang kamu istirahat, tidur yang nyenyak. Biar mas temani," kata Herman. Daisy pun mengangguk pelan, gadis malang itu merasa nyaman berdekatan dengan Herman.
Herman pun mengantarkan gadis itu menuju kamarnya dan menemani gadis itu tidur. Jujur saja, Herman memang kerap jajan di luar tapi dirinya juga bukanlah pria pemaksa seperti Toni, Riyanto dan juga Budi. Pria itu benar-benar menunggu Daisy terlelap, setelah gadis itu benar-benar terlelap barulah dirinya kembali ke pabrik minyak tempatnya bekerja.
Belum lama Herman pergi, salah satu dari pelaku pelecehan itu datang kembali dan masuk ke dalam kostan Daisy dan Mila tanpa izin.
"Sayang.." Riyanto yang datang dan masuk langsung membangunkan Daisy yang terlelap.
"Ka-ka-kamu! Mau apa kamu?" tunjuk Daisy sembari beringsut dari posisinya.
Lagi-lagi, pelecehan itu terus berlanjut hingga ke pada akhirnya Daisy tidak tahan lagi dengan penderitaan itu.
"Aku akan membunuh kalian semua! Akan aku pastikan kalian akan membayar semua ini!" teriak Daisy dengan begitu histeris.
.
.
.
Pada minggu kedua, Daisy menjadi lebih berani berdekatan dengan Herman. Yang di inginkan gadis itu dari Herman adalah bantuan, bantuan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang dengan banyak dalam waktu yang sekejap.
"Mas.. Bantu Daisy cari pekerjaan yang bisa dapatkan uang banyak, dong." pinta Daisy sembari beringsut dari posisinya dan mendekati Herman yang duduk di sudut ranjang.
"Untuk apa uang yang banyak? Kalau kamu malas bekerja lagi di pabrik, baiknya kita menikah. Mas begitu menyukai kamu sejak awal kita bertemu," kata Herman dengan begitu bersungguh-sungguh.
"Kalau kita menikah, maka akan menyakiti hati istri dan anakmu, mas. Tapi kalau kita.." Daisy menyentuh dada pria itu dengan lembut sembari menatap wajahnya dengan tatapan matanya sendu.
"Kamu mau?" tanya Herman dengan hatinya yang mulai bergemuruh. Perasaan hatinya sudah begitu sulit di kendalikan.
"Aku mau uang yang banyak, mas. Aku mau membalas mereka dengan uang yang aku miliki," lirih Daisy sembari memeluk erat tubuh Herman dan menyembunyikan wajahnya di dada pria yang begitu ia cintai itu.
Seandainya dulu Daisy menerima cinta Herman yang notabennya adalah suami orang. Mungkin hanya Herman seorang yang akan menjamah serta menikmati keindahan tubuhnya, meskipun hanya berstatus istri siri. Jelasnya mereka bersatu dalam hubungan yang SAH dimata Tuhan, bukan? Sayang sungguh sayang, semua itu tidak terjadi lantaran kehidupan Daisy di rusak oleh ketiga pria bejat yang tidak berhati.
"Nanti bahas uang, semua itu bisa kita atur setelah milik mas tuntas," ucap Herman dengan lirih. Daisy tersenyum kecil sembari mencium wajah Herman dengan singkat.
Begitu indah jika melakukan semua itu dengan cinta, cinta buta yang di miliki Herman untuk Daisy. Begitu pula Daisy yang mencintai suami orang.
Sejak hari itu hingga setengah bulan kemudian, Daisy dan Herman selalu menghabiskan waktu bersama. Bahkan Daisy sudah melupakan perasaan istri dan juga anak dari Herman yang katanya akan sakit jika mengetahui semua itu.
"Kita gugurkan saja bayi ini, mas. Daisy gak mau mengandungnya," ucap Daisy pada Herman.
"Kenapa?" tanya Herman.
"Bapak anak ini gak jelas, kalau bapaknya udah jelas kamu seorang dengan senang hati aku terima, mas. Bahkan bakal aku cintai seperti aku mencintai kamu," terang Daisy dengan air mata berderai.
Herman terdiam, pria itu bingung harus berbuat apa. Memang benar janin yang di kandung oleh Daisy tidak jelas anak siapa, karena ada tiga pria lain yang menjamah tubuh gadis itu sebelum dirinya.
"Setelah janin ini keluar, mas bawa Daisy ke tempat kerja itu ya. Daisy udah gak mau kerja di pabrik dan selalu ketemu sama mereka," kata Daily.
"Iya," dengan pasrah pria itu menginyakan pemintaan Daisy.
Sebulan kemudian.
Herman benar-benar membantu Daisy dan pergi membawa kekasihnya itu menuju club malam dan merekomendasikan gadis itu pada pemilik club meskipun ada rasa tidak rela di hatinya.
"Nah, sekarang kamu kerja disini. Setiap jum'at dan Sabtu kamu tetap milik mas," kata Herman. "Inget ya! Dia tetep punya aku, Jhon!" tunjuk Herman pada temannya, sang pemilik club.
"Sip lah!" pemilik club itu tersenyum pada Herman.
Di tempat itulah Daisy benar-benar menjadi wanita liar. Menjadi pecandu alkohol dan juga rokok, bahkan berganti-ganti pasangan setiap malamnya.
Hasil yang di dapatkan Daisy terbilang begitu wah di club itu lantaran tubuhnya memang indah dan wajahnya yang begitu cantik. Hingga membuat dirinya menjadi bintang di club terkenal di kalangan penjelajah rasa di kota besar itu. Bahkan dalam waktu yang singkat, ia dan Herman dapat meraup uang hingga ratusan juta rupiah.
"Kalau lu berani cabut nyawa ini tiga setan, gue bayar lu 120 juta. Tapi jangan di beri ampun, beneran lu bunuh aja!" terang Daisy sembari melenparkan dua lembar foto pada salah satu kenalan Jhon. "Gue tambah servise seminggu gratis!" tambahnya sembari menghampiri Herman yang sudah menunggunya.
.
.
.
Daisy akhirnya lega, karena Riyanto, Budi dan Toni sudah berhasil di singkirkan tanpa jejak. Ketiga pria itu meregang nyawa dengan cara yang mengerikan, entah apa yang di lakukan oleh pria bayaran yang di tugaskan olehnya. Yang pasti ketiga bajingan itu telah mati.
Niat hati Daisy ingin berhenti dari club itu dan hidup bahagia bersama dengan Herman meskipun dengan cara merusak kebahagian wanita lain. Tapi nyatanya takdir berkata lain, prianya, lelakinya, cintanya dan juga penolongnya di temukan telah meninggal dunia di dalam mobil sedan yang memang kerap di kendarai pria itu.
Segala tes dan pemeriksaan sudah di lakukan, bahkan beberapa kali jenazah itu di autopsi untuk memastikan penyebab kematian pria itu. Tapi, hasil tes tetap sama, bahwa kematian Herman di sebabkan oleh kebakaran jantung akibat overdosis obat yang di konsumsinya.
Dunia Daisy kembali terasa runtuh, bayang-bayang bahagia dirinya dan Herman lenyap sudah. Kepergian Herman membuat perasaan gadis itu terasa mati dan membeku, di sanalah dia merasa bahwa Tuhan benar-benar tidak adil padanya. Setelah semua kehidupan pahit yang di alami olehnya, Daisy benar-benar tidak lagi percaya pada kebaikan serta kebajikan.
Rupanya setan benar-benar telah berhasil menyesatkan hati, jiwa serta perasaan Daisy. Hingga membuat gadis itu lupa akan perintah serta larangan Tuhan-nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Moga secepatnya Desy di beri Hidayah... Tuhan itu Maha Adil Desy,, jangan pernah menyalahkan Tuhan dari Takdir yang Qt dapat karena itu hanya ujian buat Qt para hambanya.... jangan berburuk sangka atas takdirmu
2023-02-01
0
Amelia
kamu salah dasy,KL Allah,itu ngga ngga adil sama km padahal sebenarnya Allah,itu menguji hambanya karna dia maha mengetahui.seharusnya km lebih berani dan melapor ke polisi kan pasti di tindak
2023-01-21
0
pembaca setia
ketinggalan cerita nih,,
2022-11-07
0