Melihat Frans hilang kesadaran dalam keadaan terluka, Daily mengalihkan tatapan matanya pada Nek Lai.
"Nenek.. Macam mana ini?" tanya Daily dengan lirih. Ketakutan dan kasihan bercampur menjadi satu dalam hati gadis malang itu.
"Daisy, tolong ambilkan tas kerja dan juga obat-obatan di dalam mobilku," pinta Pras pada Daisy. Daisy pun mengangguk lalu segera bergegas keluar rumah.
"Tolong bantu saya," pinta Pras pada warga yang hadir di dalam rumah Nek Lai untuk mengangkat adiknya yang tidak sadarkan diri.
Tak ada satu pun dari orang-orang itu yang beranjak dari posisi mereka. Terutama Anton yang membuat Frans tidak sadarkan diri.
Pras hanya dapat menghela napas pelan, pria itu segera mendekati adiknya dan mencoba mengangkat tubuh itu. Dengan begitu hati-hati, Pras memapah tubuh adiknya memasuki kamar Daily.
"Hei! Kenapa kau bawa pria sampah itu ke dalam kamar Daily!" teriak Anton dengan begitu tidak suka.
"Nenek.." Daily kembali menatap wajah tua nenek nya. "Ai ingin sekali melihat wajahnya!" tunjuk Daily pada Pras. Sebenarnya bukan pada Pras, tetapi pada Frans yang dibawa oleh Pras.
"Kau indak takut?" tanya Nek Lai.
"Indak, kan ada Tuan Pras, ada Kak Sy, Nenek dan juga Bang Anton," jawab Daily.
Entah kenapa? Daily begitu ingin mendekati Frans yang tidak sadarkan diri. Apakah gadis malang itu telah memaafkan perbuatan bejat Frans padanya? Atau hanya reaksi spontan saja yang berasal dari janin yang ada di dalam kandungannya?
Mendengar permintaan Daily, Nek Lai pun menuntun Daily memasuki kamar itu dan mendudukkan Daily di ujung kaki Frans.
"Tuan Pras, kenapa dia jadi jelek begini?" tanya Daily tiba-tiba sembari menunjuk pada wajah Frans yang babak belur.
"Apakah saat kau pertama kali melihatnya, dia tampan?" tanya balik Pras pada Daily. Daily pun menanggapi dengan anggukan kepala, hingga Pras tersenyum kecil di buatnya.
Rupanya, saat di lecehkan oleh Frans. Daily begitu memperhatikan wajah itu. Wajah adiknya yang putih bersih, beralis tebal dan juga berhidung bengir serta tubuhnya yang atletis. Sungguh ciptaan Tuhan yang begitu sempurna, tapi sungguh sayang kesempurnaan tubuh manusia belum tentu mencerminkan sikap dan hati seseorang. Tubuh serta fisik yang begitu sempurna, nyatanya di gunakan Frans untuk berperilaku tercela dan tidak terpuji.
"Kau tahu penyebab dia menjadi jelek, kurus dan dekil karena apa?" Pras melirik Daily dengan ekor matanya sembari melepaskan sepatu yang melekat di kaki adiknya. "Dia seperti ini karena dirimu yang menghilang." tambah Pras sembari mengulas senyum.
"Kenapa seperti itu, Tuan?" tanya Daily dengan begitu penasaran.
"Tuan Pras, ini obatnya," kata Daisy yang baru saja masuk ke dalam kamar adiknya.
"Letakan saja di sana!" tunjuk Pras. "Nanti saya ambil sendiri." tambahnya.
Pras pun kembali mengobrol pada Daily, ia mengajak gadis hamil itu berinteraksi dengan santai dan menjelaskan sedikit demi sedikit perubahan Frans pada gadis itu. Obrolan Pras dan Daily pun tidak pernah lepas dari perhatian dan pendengaran Nek Lai juga Daisy. Kedua orang itu terus menyimak cerita yang keluar dari mulut Pras.
"Kau tau Daily, dia begitu merasa kehilangan," ucap Pras. "Bukan hanya kehilangan dirimu, tapi juga kehilangan aku, ibu serta adik perempuan kami. Dia selalu kami kucilkan jika berada di dekat kami, bahkan hingga kini ibu pun belum mau menegur atau membalas sapaan Frans." tambahnya, hingga membuat Daily termagu pada posisinya.
"Oiya, selama mengandung apa kau mengalami masa mengidam yang sulit dan juga berat?" tanya Pras sembari mengoleskan obat pada wajah adiknya.
Pria lajang yang berstatus sebagai dokter itu bercerita sembari melangkah kesana kemari untuk mengurus serta mengobati adiknya.
"Ebggak, Ai jarang sekali mengidam. Bahkan Indak pernah mengidam yang aneh-aneh," terang Daily.
"Hahaha.. Masa mengidam itu sudah di tanggung oleh pria bodoh ini!" Pras tertawa, bahkan tangan pria itu memukul kening adiknya dengan pelan. "Dia mendapatkan karma dari Tuhan, kehamilan mu sudah membuat dia tidak suka makan, tidak dapat tidur bahkan selalu mengalami mual, muntah dan pusing setiap pagi dan menjelang malam. Kejadian itu berlangsung lama, bahkan sampai saat ini!" jelas Pras panjang lebar.
Sungguh sayang, lama menjelaskan tapi sepertinya Daily hanya mendengar cerita itu sebagian. Karena gadis hamil itu sudah meringkuk dan ketiduran di ujung kaki Frans.
"Dia tidur!" tunjuk Pras yang menyadari diamnya Daily. "Kenapa nenek tidak bilang? Lelah saja aku bercerita dan menjelaskan." Pras beralih pada Nek Lai dan Daisy yang sedari tadi menyimak.
"Dia belum lama tertidur, dia tertidur setelah menjawab pertanyaan mu tadi," kata Nek Lai. "Dia benar-benar adikmu?" tanya Nek Lai pada Pras.
"Ya, nek. Nenek pasti bilang kenapa kami tidak mirip, bukan?" Pras menebak apa yang ada di pikiran Nek Lai. "Dia adikku, nek. Bahkan kandung, tapi wajahnya menuruni mendiang ayah yang bule. Karena mendiang ayah adalah orang Jerman, sedangkan ibu asli Palembang. Harusnya aku yang seperti bule, tapi malah bocah bandel yang sulit di atur ini!" Pras yang otaknya sedikit geser malah memukul wajah adiknya yang terluka.
"Sifat kalian begitu jauh berbeda," kata Nek Lai. Wanita tua renta itu begitu tidak menyangka dengan pengakuan Pras yang mengatakan bahwa kedua pria itu adalah adik kakak bahkan kandung.
.
.
.
Setelah cukup lama, Pras mengajak Nek Lai dan Daisy keluar dari dalam kamar Daily.
"Mari, nek. Biarkan mereka berdua beristirahat,' kata Pras.
"Bagaimana jika Daily kembali mengamuk setelah melihat wajah Frans?" tanya Nek Lai dengan wajah yang khawatir.
"Aku berani jamin, Daily tidak akan kembali mengamuk," jawab Pras meyakinkan. "Tadi dia sudah berani menyentuh tangan Frans meskipun hanya sesaat."
Nek Lai dan Daisy pun keluar dari kamar itu. Meninggalkan Daily yang terlelap dan juga Frans yang masih pingsan di atas ranjang yang sama.
"Dimana Daily? Kenapa kalian tinggalkan bersama pria sampah itu?" pekik Anton yang sedari tadi menunggu di luar kamar.
"Daily sedang tidur, sedangkan Frans belum sadarkan diri," jawab Daisy.
"Mereka bersama di satu ruangan?" kesal Anton. Pemuda itu tidak dapat menahan rasa cemburunya pada Frans. "Bagaimana jika nanti di saat bangun, Daily kembali mengamuk?"
"Saya yang menjamin, Daily tidak akan mengamuk!" sahut Pras sembari mengulas senyum.
Dengan kesal, Anton pergi dan meninggalkan rumah Nek Lai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Duhh Anton kamu sama Daisy aja yahh 🤣
2023-02-01
0
@C͜͡R7🍾⃝ᴀͩnᷞnͧiᷠsͣa✰͜͡w⃠࿈⃟ࣧ
wah bang Anton ,takut nya nanti kl daily sama Frans bang Anton jadi pemarah
2022-10-31
1
bunda s'as
Duh bang Anton selow dong ..... andai nanti Daily sama frans sah2 ajah udah anak juga kan
2022-10-31
1