Malam harinya, di kediaman Nek Lai. Daily sedang bertanya pada Nenek dan juga kakaknya mengenai Frans yang akan bertanggung jawab dan akan menikahinya.
"Bagaimana, Nek? Ai bingung sekali harus bagaimana? Ai masih takut sekali dengan Tuan Frans." Daily bingung, ia terima atau menolak dan lebih memilih mengandung, melahirkan serta mengurus anaknya sendirian.
"Mantapkan hatimu, Ai. Kalau dari yang nenek lihat dan juga cerita yang nenek dengar dari Dokter Pras, ayah dari bayi yang kau kandung itu sudah banyak berubah. Dia indak seperti dulu lagi," kata Nek Lai.
"Iya, Ai. Dari yang sering kakak lihat dulu, Frans sudah jauh berbeda sekarang. Dia dulu adalah pria yang kasar dan arogan, tapi yang kakak lihat sekarang dia tidak malu bersimpuh di kaki nenek hanya untuk mendapatkan permohonan maaf. Bahkan dia menangis, Ai. Menangisi dirimu dan juga bayi yang kau kandung." jelas Daisy pula.
"Ai juga melihat perubahannya, kak. Dulu dia begitu tampan dan perlakuannya kasar sekali. Tapi sekarang, dia kurus, jelek dan lembut jika berbicara. Dia indak seperti dulu lagi." terang Daily.
Sungguh gadis hamil itu begitu dilema dengan perasaannya. Tidak dapat di pungkiri, ada ketenangan di dalam hatinya saat Frans mengusap perutnya siang tadi, ia begitu merasa nyaman. Tapi, untuk menikah sekarang, Daily juga masih begitu takut kala mengingat Frans yang menyakitinya secara fisik maupun mental.
.
.
.
Keesokan harinya, pada pukul 03:47 subuh. Frans sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar ibunya.
"Bu, tolongin Frans dong!" pemuda itu terus mengetuk pintu kamar ibunya.
Bu Aida yang masih tertidur lelap akhirnya terjaga karena terganggu oleh suara ketukan pintu kamarnya.
"Ada apa, Frans?" Bu Aida bertanya pada putranya yang baru semalam ia ajak bicara dan peluk setelah setengah tahun mendiamkan putranya itu.
"Bu, tolong beri tahu Frans. Apa yang harus Frans bawa untuk Lily dan calon anak Frans?" tanya balik Frans pada ibunya. Pemuda itu sudah begitu tidak sabaran untuk bertemu dengan Daily.
Sepertinya, hati Sang Casanova itu sudah benar-benar terpikat pada Daily. Gadis pertama yang masih polos dan suci saat ia gagahi, tidak seperti wanita-wanita bayaran yang pernah naik ke atas ranjangnya yang hanya sekali pakai saja setiap ia membawa wanita-wanita itu ke apartemennya.
"Tidak usah repot begitu, semua sudah di urus abang dan adikmu semalam setelah kau tidur," jawab Bu Aida.
Memang benar, barang seserahan yang akan di berikan kepada keluarga Daily sudah di siapkan semua oleh Pras dan juga Dinda, Frans tidak tahu lantaran pemuda itu sudah pergi ke kamarnya setelah membuat ibunya kembali menangis semalam.
"Lalu, apa yang harus Frans persiapkan?" tanya Frans.
"Rapikan wajahmu, jika perlu setrika biar tidak kusut seperti ini!" Bu Aida meremas wajah putranya yang di tumbuhi jambang halus dan sudah hampir brewokan itu. "Rambut gondrong, muka buluk dan brewokan. Jorok banget!" cetus Bu Aida kepada putranya.
"Kalau masalah bulu-bulu ini gampang, bu. Tapi masalahnya apakah Frans bisa langsung membawa Lily pulang atau tidak?" kecemasan begitu tampak di wajah Frans.
Sepertinya pemuda itu berpikir bahwa ia akan di nikahkan dengan Daily hari itu juga. Padahal, Pras dan Bu Aida hanya ingin memastikan tanggal pernikahannya dulu.
Frans pasti akan kecewa jika mengetahui bahwa ia dan Daily belum akan di nikahkan hari itu.
"Ibu tidak tahu akan hal itu, sebaiknya kau rapikan dulu tampilan wajah serta tubuhmu, Frans. Agar enak di lihat, tidak seperti buronan kriminal seperti ini," kata Bu Aida. Wanita berhijab itu meminta putranya untuk membersihkan dan merapikan diri.
"Oke lah!" Frans pun berbalik badan dan meninggalkan ibunya yang berdiri di ambang pintu kamar.
Pemuda itu kembali ke kamarnya dan segera pergi menuju kamar mandi. Dengan perasaan yang begitu senang, Frans pun mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di area wajahnya.
"Benar kata ibu, wajahku jelek jika di tumbuhi jambang halus," guman Frans pada dirinya sendiri. "Kalau begini, wajah buleku terlihat sempurna lagi!" dengan bangga, pemuda itu memuji ketampanannya sendiri.
Selama menjelajah rasa, Frans sama sekali tidak pernah berpacaran. Ia hanya membeli jasa saja tanpa terikat suatu hubungan. Tapi dengan Daily, ia bukan membeli tetapi memaksakan kehendak, merenggut paksa dan juga menyakiti gadis itu. Menikahi Daily dan bertanggung jawab, apakah ia hanya kasihan dan merasa bersalah? Atau memang ia memiliki perasaan yang berbeda pada Daily? Untuk perasaan, hanya Frans dan Tuhan lah yang tahu dengan persis seperti apa.
Setelah selesai membersihkan wajahnya, Frans beralih pada rambutnya yang gondrong. Pemuda yang sudah terbiasa mengurus rambutnya sendiri, akhirnya memotong rambut itu hingga pendek dan terlihat rapi.
"Nah kan! Tampan sekali putra Pak Aslan Nicolas," ucapnya sembari tersenyum kecil.
Wajah sudah bersih, rambut sudah rapi. Kini tinggal mandi saja dan berganti pakaian dengan pakaian yang rapi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
shadowone
🤣🤣🤣🤣🤣
2023-07-05
0
Dara Muhtar
Setrika aja' tuhh muka Frans biar rapi kata Bu Aida 🤣🤣
2023-02-01
0
Amelia
saking ngga sabarnya hari masih mau menjelang subuhpun frans udah semangat KL mau nikahi daily,padahal cuma dilamar kan hahaha
2023-01-21
0