Ckit!
Mobil Pras yang di kendarai oleh Frans dengan kecepatan tinggi, akhirnya berhenti di depan rumah berlantai dua milik orang tua Pras dan juga Frans.
Brak!
Pemuda itu keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil itu dengan cara membantingnya.
"Bujang lapuk sial!" maki Frans sembari menendang ban mobil abangnya.
Ckit!
Pras yang mengendarai mobil Daisy tiba dan menghentikan mobil itu di samping mobilnya yang terparkir.
"Kau mengendarai mobil pela cur itu?" tunjuk Frans dengan wajah kesal.
"Tutup mulut mu, Frans. Semua orang punya masa lalu masing-masing, kau sendiri pun punya masa yang buruk bukan? Daisy memang pela cur, tapi kau sendiri sering membeli dan memakai jasa seorang pela cur kan?" ejek Pras pada adiknya yang ia begitu ketahui bahwa adiknya utu suka mencelupkan permennya ke dalam mulut siapapun.
"Diam!" bentak Frans. "Lagi pula bukan urusanmu!" cetus Frans pada abangnya.
"Yakin? Kalau begitu, besok kau datang saja sendiri untuk menikahi Daily. Aku dan ibu tidak akan ikut campur, karena bukan urusan kami, kan?" Pras tersenyum licik di dalam kegelapan malam itu.
Mendengar ancaman abangnya, nyali Frans langsung menciut. Pemuda itu langsung berbicara lembut pada abangnya.
"Jangan begitu lah, Bang. Tolong Frans ya, cuman abang dan ibu yang bisa meyakinkan Nenek tua renta itu untuk menikahkan Frans dengan Lily," ucap Frans nada yang di buat selembut dan sesedih mungkin.
"Tidak! Kau sendiri yang bilang kalau semua itu tidak ada urusannya denganku, kan?" Pras berbicara sembari melangkah memasuki rumah berlantai dua itu.
"Frans ralat, bang. Frans butuh abang dan ibu, semua masalah Frans adalah bagian dari urusan kalian." Frans berlari mengejar abangnya, bahkan dengan tidak tahu malunya pemuda itu bergelayut di kaki Pras.
"Lepaskan, Frans!" tegas Pras yang kesulitan menyeret kakinya.
"Gak akan, bang. Berjanji dulu untuk membantu Frans besok," ucap Frans.
Pras terus-terusan menyeret kakinya yang di dekap oleh Frans yang memiliki otak sedikit geser.
"Ada apa ini? Kenapa kalian seperti orang bodoh?" Bu Aida yang duduk di ruang tengah rumah itu bersama dengan anak gadisnya, langsung menghampiri kedua putranya.
Wanita separuh baya itu merasa heran melihat kedua putranya seperti anak-anak.
"Bu, Frans akan menikah besok. Dengan gadis yang mengandung cucu ibu, tapi Kak Pras mau menikungnya dan meminta Lily menikah dengannya!" Frans mengadu pada ibunya yang hampir setengah tahun ini mendiamkannya.
"Bohong, bu. Lagi pula ibu tau kan, kalau Pras suka bercanda," kata Pras. "Mana mungkin Pras mau menikung calon adik ipar sendiri. Lagi pula, kalau Pras benar-benar mau menikahi Daily, sudah Pras nikahi sedari Pras mengurusnya saat dia hamil muda dulu." jelas pria yang berstatus sebagai dokter itu.
"Bang, kau!" tunjuk Frans sembari bangkit dari lantai rumah itu.
"Kami semua sengaja, agar kau tau bagaimana rasanya berjuang dan bertahan," kata Pras sembari tersenyum sinis.
"Setengah tahun aku mencari, bahkan bolak balik ke komplek itu. Ternyata kalian semua menyembunyikan Lily, kejam sekali!" kesal Frans dengan wajah memerah.
"Kami kejam? Lalu di saat kau memaksa, menodai, mencekik, bahkan mengurung Daily sampai 10 hari lamanya, apakah itu tidak kejam?" tanya Pras pada adiknya. "Pelajaran yang kami berikan untukmu itu sebenarnya belum cukup, Frans. Harusnya kau kami jebloskan ke dalam penjara!" terang Pras. Kini kakak kandung dari Frans itu berbicara dengan begitu serius.
"A-a-aku khilaf," lirih Frans dengan wajah tertunduk. "Ibu, apakah ibu masih belum memaafkan Frans?" suara itu terdengar begitu menyedihkan dan membuat hati Bu Aida kembali terasa sakit.
"Ibu tidak pernah marah, ibu tidak pernah membenci, Frans. Ibu hanya kecewa, kecewa padamu dan juga pada diri ibu sendiri. Ibu sudah gagal mendidik mu menjadi anak yang berguna, menjadi anak yang baik, menjadi anak yang dekat DENGAN-NYA. Perasaan ibu begitu sedih, Frans. Ibu menjadi seorang ibu yang gagal," ucap Bu Aida dengan air mata yang menganak sungai.
"Maafkan Frans, bu. Setelah ini Frans berjanji akan memperbaiki diri, Frans akan mulai semuanya dari awal," ucap Frans sembari berjalan mendekati ibunya dan bersimpuh di kaki sang ibu memohon ampunan dan maaf dari wanita yang telah melahirkannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Akhirnya Frans sadar juga
2023-02-01
0