Pada malam harinya, tepatnya pada jam 22:27 malam. Frans membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya, mata pria itu pun berhenti pada seprai ranjang tempat dirinya menggauli Daily pada waktu magrib menjelang malam tadi.
"Darah? Apa aku tidak salah lihat?" Berulang kali Frans mengucek matanya untuk memastikan noda darah yang sudah mengering di seprai putih itu. "Tidak, tidak salah lihat. Apa perempuan ja lang itu sedang datang tamu bulanan?" heran Frans.
Masa iya dia menggauli wanita yang sedang datang bulan? Menjijikan sekali. Tapi, saat ia mendesak adik kecilnya masuk ke dalam milik gadis yang ia kira adalah Daisy itu. Adik kecilnya memang begitu kesulitan, hingga membuat Frans menjadi keheranan.
"Ahh.. Perduli setan, yang pasti aku sudah berhasil membalas penolakan dan tipuannya waktu itu," guman Frans. "Kemana Ja lang itu?"
Frans pun menatap ke arah pintu, ia tersenyum puas setelah melihat keadaan Daily yang ia kira adalah Daisy tergeletak tak berdaya di depan pintu kamar yang tertutup.
"Jangan kau kira kau bisa keluar dari tempat ini dengan mudah," guman Frans. Pria 27 tahun itu bangkit dari atas ranjang itu tanpa memakai pakaiannya. Ia mengangkat tubuh Daily yang tidak sadarkan diri itu ke atas ranjang. Dengan tidak berhatinya, Frans kembali menggauli Daily dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.
"****! Kenapa milik Daisy membuatku ingin melakukannya terus menerus?" heran pria itu. Ia kembali mendesak miliknya memasuki milik Daily dengan paksa.
"Kenapa rasanya berbeda dengan ja lang yang pernah aku masuki sarangnya? Ahh.. Ayo baby!"
Di tengah-tengah kesakitannya, kesadaran Daily kembali. Gadis 22 tahun itu kembali menangis setelah melihat wajah pria yang berada di atas tubuhnya.
"To-to-tolong jangan lagi.. Bu-bu-bunuh saja aku.." lirihnya dengan air mata yang terus mengalir dengan deras.
"Kenapa kau tidak mend*sah indah? Jangan ditahan, jika memang ingin mengeluarkan suara itu." Frans mencium dan memagut bibir Daily yang terus bergumam itu dengan singkat.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, masih di Apartemen terkutuk milik Frans.
Frans yang pulang malam, membawa seorang ja-lang ke tempat itu. Membawa wanita liar itu ke dalam kamar yang mana di dalamnya ada Daily yang terkurung.
"Sabar Baby.. Biarkan aku yang memulai," kata Frans pada wanita yang ia booking malam itu. "Jangan sentuh dulu, biar dia bangkit dan bergerak sendiri." cegah Frans pada wanita malamnya.
"Aku sudah tidak tahan, Honey. Aroma tubuhmu sungguh membuat aku begitu ingin," ucap Wanita itu dengan nada manja.
Daily yang tidur meringkuk di lantai granit sudut ruangan itu akhirnya terbangun. Gadis itu menatap datar pada Frans dan wanita yang bercumbu di hadapannya dengan liar.
"Ahhh.. Baby, ayo sedikit lebih keras." pinta Frans pada ja langnya. Tapi, belum sempat wanita ja lang itu memuaskannya. Tatapan Frans tiba-tiba beralih pada Daily yang menatapnya dengan datar dan tanpa ekspresi.
"Hentikan!" pinta Frans tiba-tiba. Aku sudah tidak ingin." Frans mendorong tubuh wanita yang berada di atasnya dengan kasar.
"Kenapa, Honey?" tanya wanita itu dengan bibir cemberut.
"Enyahlah, aku sudah tidak ingin. Nanti Joe akan mentransfer sisa bayarannya!" terang Frans.
"Gak mau, aku mau puasin kamu dulu," kata Wanita ja lang pada Frans sembari bergelayut manja. Tidak malu sedikitpun dengan tubuhnya yang sudah nyaris polos.
"Pergilah!" bentak Frans.
Siapa yang tidak takut mendengar teriakan serta bentakan pria gila dan arogan seperti Frans. Buru-buru ja lang itu turun dari atas ranjang kamar Frans. Wanita itu berjalan keluar sembari membenarkan dresnya yang sudah nyaris terbuka.
Setelah wanita ja lang bayaran itu pergi, Frans tersenyum smirk sembari mendekati Daily yang ia kira adalah Daisy.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau menginginkan milikku ini memasuki milikmu lagi seperti semalam?" Frans menarik rambut Daily dengan kasar.
Di perlakukan kasar, Daily hanya diam saja. Gadis itu tidak memberikan reaksi apapun. Sepertinya hanya jiwanya saja yang masih tersisa, raganya sudah hilang entah kemana?
"Apa kau tuli? Kau tidak lagi mendengarkan perkataanku?" Frans menjadi geram, dengan kesal pria itu menanggalkan pakaian Daily dan kembali melakukan perbuatan bejat itu di lantai granit yang dingin.
"Ya Tuhan, hukuman apa yang kau berikan padaku? Kenapa hidupku kau buat seperti ini? Apa salah dan dosa yang telah aku lakukan? Jika semua ini adalah sebuah hukuman, tolong segera hentikan Ya Tuhan. Aku sudah tidak sanggup dan tidak tahan." Batin gadis malang itu menjerit.
Berhari-hari ia di kurung di tempat itu, di perlakukan dengan tidak pantas oleh Frans. Makanan yang di berikan Frans pun jarang sekali ia sentuh. Harapan yang ada pada diri Daily, semoga Tuhan segera mengambil nyawanya untuk menyusul ibu dan ayahnya yang sudah lebih dulu pergi menghadap Illahi.
.
.
.
Di kediaman Nek Lai, wanita tua itu terus-terusan meratapi nasib cucunya yang kini entah Di mana? Sudah berhari-hari anak cucunya itu tidak di temukan.
"Kemana kau, Ai? Kalau kau baik-baik saja kenapa tidak pulang? Kalau kau celaka dan mendapat kemalangan, di mana kau sekarang, sayang?" Nenek Lai memeluk foto Daily dengan erat. Tangis wanita tua renta itu tidak dapat ia bendung. Ia begitu kehilangan cucunya, cucu yang begitu ia sayangi lebih dari dirinya sendiri.
"Sabar, nek. Semoga Daily bisa cepat di temukan," kata Anton.
"Kapan? Sampai kapan nenek harus menunggu? Hari ini sudah tepat 10 hari Daily tidak pulang, Ton. Bagaimana Nenek tidak cemas dan takut?" Nek Lai menangis sedih.
Selama 10 hari ini, warga terus berdatangan untuk menemani dan menjaga Nek Lai yang sudah tua itu bergantian.
Beruntung lah, warga komplek itu memiliki jiwa sosial yang tinggi. Selalu perduli pada tetangga yang sedang kesusahan dan juga mendapatkan musibah seperti keluarga Nek Lai saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Lanjut.... bagaimana nanti keadaan nya Daily kasian 🥺🥺
2023-02-01
1
Uthie
Suka ceritanya 👍👍
2022-10-25
1
@C͜͡R7🍾⃝ᴀͩnᷞnͧiᷠsͣa✰͜͡w⃠࿈⃟ࣧ
wah udah 10 hari aja ya daily hilang
2022-10-23
2