Melihat neneknya adu mulut dengan kakaknya, Daily menangis dan berteriak.
"Sudah, Nek. Jangan marahi Kak Daisy lagi, dia baru saja pulang," kata Daily dengan air matanya yang mengalir dengan deras. "Anggap ini semua sudah takdir Daily, nek. Jangan nenek salahkan kakak." tambah gadis malang itu.
Andai Nek Lai dan Daily tahu, bahwa nasip Daisy selama ini jauh lebih malang dan menyedihkan. Mungkin Nek Lai tidak akan lagi menyalahkan Daisy atas apa yang Daisy lakukan selama ini.
"Jangan menangis," ucap Daisy dengan pelan tanpa menatap ataupun melirik adiknya yang menangis terisak. "Maaf sudah menamparmu tadi." tambahnya sembari keluar dari kamar adiknya.
Gadis liar itu kembali meninggalkan rumah, ia mengendarai mobilnya menuju jalan lintas. Entah kemana arah tujuan gadis itu.
"Nak, Kak Sy pergi lagi," ucap Daily dengan sedih.
Gadis malang itu begitu rindu dengan kakaknya, rindu kebersamaan mereka seperti tiga tahun yang lalu. Dimana kakaknya itu akan menyempatkan diri untuk pulang seminggu sekali hanya untuk menjenguk dirinya dan juga sang nenek.
"Ai rindu sekali dengan kakak, Ai sangat rindu, nek." Daily memeluk erat tubuh neneknya yang sudah tua renta.
Daisy yang pergi, ternyata tidak lama. Gadis itu kembali dengan bungkusan plastik besar di tangannya. Rupanya gadis itu pergi ke toko dan membelikan adiknya itu susu, serta makanan untuk ibu hamil.
"Daily indak butuh semua ini!" Nek Lai menyingkirkan bungkusan plastik besar yang di letakan Daisy di sudut ranjang Daily dengan kasar.
"Daily memang tidak, tapi kandungannya butuh gizi," Daisy mencela perkataan nenek nya. "Makanlah, aku jamin semua ini halal dan bukan hasilku menjual diri. Tadi di perjalanan kemari, ada orang yang menumpang mobilku dan memberi aku uang." Daisy berkata jujur pada adiknya sembari membukakan sebungkus roti untuk adiknya.
"Kakak.." lirih Daily.
Daisy tersenyum, senyuman yang selama ini tidak pernah terlihat lagi oleh mata Daily dan Nek Lai, akhirnya kini kembali terlihat.
"Makan lah, aku suapi," kata Daisy. "Setelah ini, cerita kan semua yang terjadi, agar kakak bisa mencari orang itu!"
Mendengar perkataan Daisy, Nek Lai pun pergi meninggalkan kedua cucunya dan membiarkan mereka berbicara.
"Pria itu tampan sekali, kak. Tempat tinggalnya juga begitu luas," kata Daily sembari menatap wajah kakaknya. "Namanya Frans.. Dia menculik Ai, karena mengira kalau Ai adalah kakak. Katanya kakak telah mempermalukan dia di depan orang banyak." jelas gadis itu pada kakanya.
"Frans Nicolas maksudmu?" tanya Daisy memastikan.
"Indak tau, Ai hanya tau kalau namanya Frans. Pria itu kasar sekali, Ai hampir mati di cekik olehnya. Ai berharap, Ai tidak akan pernah lagi bertemu dengannya,"
Tampaknya, Daily benar-benar trauma dan ketakutan karena pelecehan itu.
"Lalu? Jika tidak bertemu dengannya, bagaimana dengan anakmu? Kau akan mengurusnya sendiri?" tanya Daisy.
"Indak tau, yang pasti Ai indak akan membuang bayi ini. Setelah keadaan Ai membaik nanti, Ai akan mencoba meminta bantuan pada Bang Anton agar mau mempekerjakan Ai di kebun teh milik orang tuanya." terang Daily.
Daisy termagu, begitu tegar adiknya menghadapi semua ujian itu. Bahkan, ia menerima semuanya dengan ikhlas. Padahal, semua akar malapetaka itu berawal dari dirinya. Dirinya lah yang telah membuat adiknya itu menderita.
"Kau indak perlu bekerja, kakak akan bekerja dan menjaga dirimu seperti dulu lagi. Kakak janji akan meninggalkan pekerjaan buruk itu dan mencari pekerjaan yang lebih baik lagi." Daisy tersenyum kecil pada adiknya lalu memeluk tubuh itu dengan erat.
"Benar? Kakak akan kembali untuk Ai dan nenek?" Daily yang memang rapuh sejak kecil kembali menangis. Bukan menangis sedih, tetapi tangis bahagia.
.
.
.
Hari-hari terus berlalu, Daisy benar-benar tidak kembali lagi ke club malam tempatnya bekerja. Kini gadis itu membuka warung kecil di depan rumah neneknya, agar bisa menjaga adiknya di rumah.
Di cibir, di hina dan di cemooh oleh warga komplek, sama sekali tidak membuat mental serta nyali Daisy menciut. Gadis itu tetap pada jalannya, toh cibiran tetangga tidak akan membuat dirinya miskin apalagi kaya. Benar begitu kan? Lama-lama juga, warga komplek itu akan diam dan kembali menerima kehadirannya di komplek itu.
"Daily, jangan keluar!" tegur Daisy saat melihat adiknya itu hendak keluar rumah.
"Ai ingin membeli rendang, kak. Ai lapar," kata Daily pada kakaknya.
"Baik beli online saja, pergi masuk!" usir Daisy pada adiknya itu. Gadis bolong itu memerintahkan adiknya untuk masuk kembali ke dalam rumah.
.
.
.
Di rumah Bu Aida, yaitu ibu dari Pras dan Frans. Tampak, Frans sedang memaksa abangnya untuk mengatakan di mana Daily berada.
"Katakan, Bang! Di mana gadis itu berada?" teriak Frans dengan frustasi. "Ini sudah beberapa bulan berlalu, bang. Jika memang dia mengandung, pastilah anakku sudah tumbuh besar di rahimnya." Frans menangis dan bersimpuh di kaki abangnya. Hingga membuat Pras menjadi tidak tega.
Sudah hampir setengah tahun sejak terjadinya pecahan itu, tetapi Frans tidak juga dapat menemukan Daily. Bahkan, pria itu sudah membayar orang untuk mencari keberadaan Daily sampai keluar kota. Tapi gadis itu bagai hilang di telan alam.
Bagaimana akan ketemu, jika gadis itu sengaja di sembunyikan oleh warga dan memang tidak pernah di izinkan keluar rumah kecuali berjalan-jalan di belakang rumah yang memang luas tetapi di pagar tembok keliling.
Hidup Daily saat ini bagaikan burung yang berada dalam sangkar, jika dulu kemauannya sendiri untuk mengurung diri dan berdiam di dalam rumah. Kini malah dirinya di paksa untuk diam dan tidak di perbolehkan keluar kemanapun.
"Ayolah, bang. Aku mohon aku akan lakukan apapun asal aku bisa bertemu dengan gadis itu," ucap Frans.
Penampilannya begitu acak-acakan dengan rambut yang mulai gondrong, bahkan jambang halus yang tumbuh di area wajahnya. Membuat pemuda itu terlihat tua dan tidak terurus.
Tidak di anggap oleh keluarga sendiri, nyatanya begitu menyakitkan untuknya. Rasa penyesalan itu semakin menggerogoti jiwanya, ia benar-benar menyesal dan ingin menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan.
"Ganti pakaian mu, nanti akan aku antarkan ke rumah nenek Daily dan Daisy," kata Pras pada adiknya.
Melihat keadaannya adiknya semakin kacau, nyatanya hati Pras tersentuh dan menjadi tidak tega untuk menghukum adiknya itu lebih lama lagi.
"Benar kah, bang?" Frans bangkit dan memeluk erat tubuh abangnya.
"Aku hanya mengantar, selebihnya akan menjadi urusanmu," timbal Pras.
Pras sudah mengetahui semuanya, bahkan pria itu sudah mengenal Daisy. Karena sebulan sekali, Pria itu selalu mendatangi rumah Nek Lai hanya untuk memastikan kesehatan Daily dan kandungannya.
Dengan cepat, Frans menuju kamarnya dan membersihkan diri. Pemuda itu benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu dan meminta maaf pada Daily yang telah ia sakiti dan lukai fisik serta batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Bagus banget Pras kakaknya Frans
2023-02-01
0
@C͜͡R7🍾⃝ᴀͩnᷞnͧiᷠsͣa✰͜͡w⃠࿈⃟ࣧ
ternyata Pras sering ke rumah nya daily tah
2022-10-29
0