Sebelum pintu kamar adiknya terkunci, Daisy segera berlari masuk ke dalam kamar itu.
"Bang, aku akan ikut ma-" belum selesai Frans melanjutkan perkataannya, Nek Lai sudah menahan tubuhnya bahkan memotong perkataan pemuda itu.
"Mau kemana? Saya indak izinkan kau membuat keadaan cucuku semakin buruk," kata Nek Lai pada Frans.
"Tolong, nek. Izinkan Frans bicara pada Lily, Frans ingin mempertanggung jawabkan semua perbuatan keji yang sudah Frans lakukan padanya," ucap Frans sembari memohon pada Nek Lai.
"Tidak ada yang setimpal untuk membalas semuanya, selain memotong burung mu sampai habis!" tunjuk Nek Lai pada bagian bawah milik Frans. Hingga membuat Pras yang berada di belakang Frans menjadi mengulum senyum.
"Dokter Pras, tolong ambilkan parang!" pinta Nek Lai pada Pras.
"Baik, nek!" timbal Pras sembari melangkah sedikit dari belakang adiknya.
Sungguh! Reaksi dan Aksi Frans begitu tidak terduga, pemuda berwajah kusut itu duduk bersimpuh di kaki Nek Lai dan memohon ampun.
"Nek, ampun.. Tolong maafkan, Frans. Frans minta maaf, Frans janji akan memperbaiki diri dan akan bertanggung jawab pada Lily. Frans akan menikahi dan mengurus serta mencintai Lily, nek."
"Masalahnya saat ini, Ai indak mau melihat wajahmu, memaafkan dirimu dan juga menikah denganmu!" Nek Lai menarik kakinya yang di dekap oleh Frans.
"Biarkan Frans berusaha untuk melunakkan hatinya, nek. Tolong izinkan Frans berusaha," ucap Frans. "Selama hampir 6 bulan, Frans sudah berusaha mencari Lily. Bahkan menginjak halaman rumah ini pun sudah berkali-kali, tetapi kalian menyembunyikan Lily dengan begitu rapat." Frans semakin memelas pada Nek Lai. Hingga membuat Pras- sang kakak merasa begitu iba dan kasihan, tapi Pras tidak bisa berbuat apa-apa karena memang sudah resiko yang harus di terima oleh adiknya atas apa yang telah ia berbuat.
Nek Lai terdiam, ia menatap Frans yang bersimpuh di kakinya. Tampaknya pemuda itu benar-benar bersungguh-sungguh ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Di luar kamar itu, Frans sedang mohon-mohon pada Nek Lai. Sedangkan di dalam kamar, Daisy sedang menenangkan adiknya.
"Ai, lihat ini kakak!" Daisy mendekati dan menyentuh tangan adiknya dengan lembut.
"Ai indak mau melihat dia.. Dia jahat, kak," ucap Daily dengan air mata yang terus menetes.
"Semua orang pasti pernah berbuat salah, Ai. Termasuk kakak," kata Daisy. "Jadi coba bicara dengan laki-laki itu, siapa tahu semua ini adalah jalan terbaik untuk bayi yang kau kandung. Baik untuk masa depannya kelak." tambah Daisy.
Gadis itu sudah melihat perubahan pada Frans yang dulunya arogan dan sombong, mungkin kini Frans memang benar-benar berubah. Apalagi, Frans memiliki keluarga yang baik seperti Pras.
"Ai takut, kak. Ai takut sekali dengan dia, dia sudah menyakiti Ai. Bahkan memukuli Ai dengan kasar, pria itu begitu bengis." Daily benar-benar ketakutan.
Tak lama kemudian, terdengar suara keributan terjadi di luar kamar itu.
"Jadi kau, kau orang yang sudah merusak kehidupan Daily! Kau orangnya?" teriak seseorang dengan lantang.
Dialah Anton, pemuda itu buru-buru datang ke rumah Nek Lai setelah mendapat kabar dari salah satu warga komplek bahwa Dokter Pras datang membawa seorang pemuda ke rumah Nek Lai.
Buk.. Buk..
Anton memukul Frans dengan begitu membabi buta. Bahkan tidak memberi ruang pada Frans untuk bergerak apalagi menghindar.
"Aku akan membunuh mu!" pekik Anton dengan wajah memerah.
"Bunuh saja aku, bila dengan cara ini dapat membuat rasa sakit dan derita Lily sedikit berkurang," ucap Frans sembari tersenyum kecil.
Dalam keadaan babak belur saja, pemuda itu masih dapat tersenyum. Tidak sedikitpun Frans berniat untuk membalas pukulan Anton, tampaknya pemuda itu begitu pasrah dengan apa yang terjadi dengannya.
Anton terus-terusan melayangkan pukulan pada Frans hingga pemuda itu semakin tidak berdaya.
Pras, selaku kakak dari Frans begitu kasihan pada adiknya. Tapi, biarlah semua ini menjadi hukuman untuk adiknya. Jika keadaan memang benar-benar memburuk barulah pria itu akan turun tangan untuk membantu.
Sedangkan Nek Lai, dan juga beberapa tetangga yang masuk ke dalam rumah itu hanya menjadi penonton saja.
Buk!
Anton mengangkat tubuh Frans dan kembali melayangkan bogem mentah di wajah Frans yang di tumbuhi jambang-jambang halus dengan begitu keras.
"Bang Anton, jangan lagi!" teriak Daily yang baru saja keluar dari kamar. Gadis itu begitu terkejut saat melihat pria yang telah melecehkan dirinya beberapa bulan lalu sudah terkapar tidak berdaya di lantai rumah itu. "Sudah, bang. Jangan lagi."
Dengan gemetar dan ketakutan, Daily melangkah dengan begitu pelan menuju tempat Frans berada.
Gadis hamil itu duduk perlahan di samping Frans yang sudah babak belur, bahkan pelipis serta sudut bibir pemuda itu sudah berdarah-darah akibat pukulan yang diberikan Anton.
Frans yang sudah tidak berdaya, melempar senyum pada Daily yang berada di samping nya.
"Maafkan aku.." lirih Frans pada Daily yang kembali menitikan airmata di sampingnya. "Aku salah, aku berdosa, aku begitu hina."
Frans mengangkat tangan kanannya dan membuka telapak tangan itu di hadapan wajah Daily.
Daily semakin menangis saat melihat isi yang ada di dalam telapak tangan pria yang telah melecehkan dirinya. Sepasang cincin permata biru yang begitu indah di mata Daily. Tapi, baru saja Daily mengangkat tangannya dan hendak menyentuh telapak tangan Frans, pemuda itu hilang kesadaran dan membuat tangannya yang terangkat, terkulai lemah seketika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
shadowone
🤣🤣🤣🤣🤣 potong saja nek
2023-07-04
0
Dara Muhtar
Jangan meninggoy dong Frans kan kamu belum liat anak kamu
2023-02-01
0
@C͜͡R7🍾⃝ᴀͩnᷞnͧiᷠsͣa✰͜͡w⃠࿈⃟ࣧ
wah kenapa malah kena bogem Anton bukan di potong habis aja itu nya Frans
2022-10-30
1